My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Dinner



Nala tak membalas ejekan Dimas, namun di dalam hatinya dia merasa sangat geram dengan kelakuan pria tengil itu, 'Awas saja kamu Dimas, seenaknya kamu mengejekku. tunggu pembalasan ku, aku pastikan akan membalas mu nanti" batin Nala geram


Mereka tiba di parkiran, Dimas masuk ke dalam mobilnya jangan berpikir jika dia akan bersikap manis pada Nala dengan membukakannya pintu, No! Dimas menunggu sambil membunyikan klaksonnya.


Nala masuk masih dengan bibir bungkam, malas berbicara dengan orang tak jelas seperti Dimas yang memiliki ribuan cara untuk membuatnya kesal.


Dimas memecah kesunyian "Oh ya, Nanti jangan sampai lupa, berakting lah yang bagus di depan Mama,"


"Iya, aku tau." sahut Nala ketus


Belum Dimas melanjutkan kalimatnya, gadis itu sudah meliriknya tajam, " Tapi kamu jangan coba ambil kesempatan!"


"Maksudnya?"


Nala tak menjawab, gadis itu hanya menatap keluar jendela, merasa di kacangin Dimas semakin geram.


"Apa yang kamu maksud ini?" tanya Dimas yang secara tiba-tiba menghentikan mobilnya lalu menarik pinggang Nala.


Nala melotot, dia tidak menyangka jika bosnya akan melakukan hal itu, "Dan ini?" lagi Dimas merapatkan tubuh Mereka, Seringai nakal jelas tercetak di bibir pria muda itu, "apa kau ingin -"


"Lepas!!!" tolak Nala mendorong tubuh Dimas, pria itu melepas kan pelukannya, disertai senyuman remeh.


"Aku tau kau menginginkan nya bukan?"


"In your dream!" sahut Nala semakin kesal.


"Jangan galak-galak nanti jatuh cinta,"


"Dimasssss!!!!"


Dimas tergelak bahagia rasanya berhasil membuat gadis itu kesal, dan marah marah tak jelas.


Nala kemudian bergerak menjauh darinya, menyandarkan dirinya di pintu mobil, dia masih sangat takut dengan Dimas, di dalam hatinya gadis itu bergidik ngeri.


"Kenapa? takut?" lagi Dimas bertanya namun dengan nada mengejek.


"Tidak, tapi aku..."


"Hahaha... tenang saja aku tidak akan macam-macam karena kau bukan tipe ku, Aku janji."


Nala tak menyahut, dia sedikit tersinggung dengan ucapan terakhir Dimas.


Hingga memasuki pelataran rumah orangtuanya, tak satupun dari mereka berdua yang berbicaralah, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Nala turun, begitu juga dengan Dimas.


"Dimas," panggil ibunya menyambut kedatangan mereka berdua


"Nala apa kabar?" ucap wanita itu dengan senyum lebar,


"Alhamdulillah baik, tante apa kabar?" Nala maju dan mencium tangan calon mertuanya.


"Alhamdulillah Tante baik, masuk yuk. Jangan sungkan." sambut Miska mencium pipi kiri dan kanan Nala. Lalu menarik tangan Nala masuk ke dalam rumahnya.


Hati Miska menghangat melihat kelakuan Nala yang sangat manis menurutnya.


"Ma, " Dimas hendak protes, dia merasa di nomor duakan sekarang.Ibunya lebih menyayangi Nala daripada dirinya. Padahal dialah yang anak kandung Miska.


"Ma..." rengek Dimas


"Apa sih dim, diam disitu."


"oh ya, Mama pinjam Nala dulu," sahut sang bunda menanggapi Dimas


Miska menarik Nala ke dapur, ternyata dia sedang memasak. Seorang pelayan juga ada di sana membantunya.


Tanpa sungkan dan canggung Nala ikut bergabung dengan calon mertuanya itu.


"Tante mau masak ayam goreng? dan sayuran ini mau dibuat apa?"


"Tidak Nala, Tante mau buat ayam rica-rica, dan sayuran itu mau Tante buat capcay."


Nala mengambil alih ayang tersebut, mengambil tepung dan mulai menggoreng ayam.


"Kamu bisa masak?"


"Sedikit tante," sahutnya merasa malu.


Miska tentu saja merasa begitu senang dia sangat bahagia. selain cantik dan baik Nala juga pandai memasak. Mereka berdua asyik memasak hingga semua makanan selesai dah siap di hidangkan.


"beruntung sekali Dimas memiliki isteri yang jago masak, tante jadi merasa senang, karena tante yakin Dimas tidak akan sakit'"


"tante bisa Ja,"


"lainkali kita bisa masak cake bareng ya!"


"boleh Tante, tali Nala7,S,.yanyejjksjj