My Secretary Is My Wife

My Secretary Is My Wife
Calon Mantu Idaman



"turun,"


Nala terjaga dari lamunannya, gadis itu terlalu asyiknya melamun hingga tidak menyadari jika mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


Nala memutar kepalanya melirik pria yang duduk di sampingnya membuka pintu mobil lalu turun.


Nala tersadar dan memutuskan ikut turun, berjalan mengikuti pria itu yang sudah kalan lebih dulu.


Dimas masih betah membisu sampai mereka masuk ke dalam lift, sesekali Nala meliriknya namun sepertinya pria itu bersikap biasa saja.


"kamu ngapain, lirik-lirik saya, baru tahu kalau saya ganteng?" tanya Dimas dengan senyum remeh


Nala hanya bisa melongo mendengar kenarsisan calon suaminya.


Siapa sangka Dimas bisa bicara seperti itu padanya.


Tiiing pintu lift terbuka


Dimas balasan Allah lagi-lagi tersenyum karena berhasil membuat Nala kesal, aku yakin dia pasti setengah mati menahan kekesalannya.


Cklek...


Dimas membuka pintu ruang perawatan ibunya Nala. Bu Ranti menoleh, kemudian dia tersenyum lebar.


"Nak Dimas," ucapnya


"Nala..."


"Ibu,"


"Siang Bu, Bagaimana akan kabarnya?" Dimas maju kemudian meraih tangan wanita tua itu dan meletakkannya di kepalanya serta menciumnya, sekali lagi Nala terkejut melihat tingkah Dimas.


Dia terlihat begitu manis di depan ibunya.


Mata bu Ranti berkaca-kaca, dia sangat senang sekaligus terharu dengan sikap Dimas yang sangat manis.


"Alhamdulillah Ibu sudah merasa lebih baik, Terima kasih nak." sahutnya dengan senyum mengembang


"Nala, ini bos kamu kan?"


"Iya bu,"


"Manis sekali, silahkan duduk nak."


"Terima kasih bu, tapi tak usah repot-repot, saya cuma Sebentar ya kan sayang."


Bu Ranti tersedak dia terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhir gilang.


Nala melotot, sayangnya pria itu tersenyum manis padanya.


"Bu, ibu..minum dulu," cara menggambar gelas yang berada di meja dan memberikannya kepada ibunya. Bu Ranti pun meminumnya.


Setelah merasa sedikit lebih baik Bu Ranti menatap Dimas dan Nala secara bergantian, "maaf, apa ibu enggak salah dengar?"


"Sayang, apa kamu belum memberitahu ibumu tentang hubungan kita?"


Gantian Nala yang tersedak, dengan penuh perhatian Dimas menepuk-nepuk punggung lalu memberikan gelas berisi minuman yang ada di hadapannya.


Nala melirik sengit, Namun bukan Dimas namanya Jika dia merasa takut.


"Ibu..itu.."


"Sayang kamu gimana sih? kamu belum memberitahu ibumu tentang hubungan kita?"


"Nala ada apa ini, tolong jelaskan nak, jangan membuat ibu bingung."


"Begini bu, saya dan Pak Dimas.."


Sekali lagi bu Ranti merasa terkejut dia menatap putrinya yang kini tertunduk.


"Benarkah itu Nala?" tanya perempuan itu lirih


"Iya bu, saya mencintai putri ibu dan saya akan menikahinya segera." sambung Dimas


Nala sudah kehabisan kata-kata, dia tidak tahu lagi harus berkata apa kepada ibunya, Dimas benar-benar mengacaukan semuanya.


Pria itu dengan lantang mengatakan semuanya, tanpa memberitahu Nala terlebih dahulu. Bagaimana Nala tidak murka.


"Nala..."


"Ya..."


"Katakan Nak,"


"Sebenarnya, apa yang diucapkan oleh mas Dimas itu benar Ma," sahut Nala menekan kuat bibirnya, sakit rasanya karena telah membohongi ibunya, wanita yang telah melahirkan dan membesarkan nya dengan penuh cinta.


Nala menekan kuat rasa sakit itu dan kemudian tersenyum simpul, "Nala tidak memberitahu Ibu karena Nala takut Ibu khawatir, lagipula Ibu kan sedang sakit."


"Tapi Nak, bagaimana dengan keluarga mu, bukankah kamu tau perbedaan antara kita dengan mereka."


Nala memutuskan duduk dan menggenggam tangan ibunya, "Nala tau Bu, dan Nala juga sudah bertemu dengan keluarga Pak Aditya yang dulunya adalah bos Nala."


"Orang tua saya setuju bu, bahkan mereka yang meminta agar pernikahan ini di segerakan."


"Benarkah?"


"Iya Bu," lagi Nala meremas tangan ibunya, dia berusaha meyakinkan wanita itu jika keluarga Dimas menerimanya.


"Orangtua saya akan segera datang untuk melamar Nala bu," sambung Dimas.


"Benarkah?" anggukan Nala menciptakan senyum lebar di bibir keduanya.


Bu Ranti memeluk putri satu-satunya, dia sangat bahagia, mendengar apa yang dia katakan, "beruntung sekali nasibmu, nak" ucapnya memeluk Nala.


Nala menangis di pelukan ibunya, begitu Juga Ranti menangis bahagia mendengar kabar bahagia ini.


Nala dan Dimas berpamitan Lima belas menit kemudian, karena Dimas ada kegiatan lainnya.


Nala yang masih kesal memilih diam dan jalan di belakang Dimas. Hingga di pelataran parkir pun Nala masih enggan untuk bersuara, Sayangnya Dimas merasa kesal karena merasa di cuekin.


Pria itu sudah masuk ke dalam mobil, namun Nala memilih untuk berdiri diluar, lagi Dimas bertambah kesal.


"Masuk!"


"Maaf Pak, saya naik taksi saja,"


"Aku bilang masuk!" suara Dimas sudah sedikit lebih tinggi.


Nala mengabaikan ucapan Dimas, dan untuk menghindari kemarahan pria itu Nala memutuskan untuk berjalan menjauh.


Dimas semakin merasa kesal dengan sikap Nala tersebut, dia kemudian turun dan mengejar Nala. Tak sulit baginya mengejar gadis mungil itu, langkahnya yang lebar dan panjang memudahkan dirinya untuk mengejar Nala.


"Ayo" Dimas menarik tangan Nala kuat


"Aku tidak mau, aku mau pulang sendiri,"


"Jangan salahkan aku, " Dimas menarik paksa Nala, beberapa orang yang melintas menonton drama Korea tersebut sambil berbisik.


"Lepas Mas..."


"Diam atau kau akan menyesal," bisik Dimas menarik tangan gadis itu paksa.