My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 4 - Peran Utama



Diperhatikan,


Didukung,


Pusat perhatian.


Peran utama.


 


 


Musim Panas 2013


Cahaya masuk melalui jendela-jendela menyinari mimbar di depan. Aku menjadi salah satu orang yang duduk di kursi jemaat. Paduan suara mulai menarik suara, jemaat lainnya ikut bernyanyi. Aku membuka mulutku menyanyikan lagu yang sama sekali tidak pernah kudengar. Tentu saja, ini lagu bahasa Korea. Aku memang bukan jemaat gereja yang setia tapi aku masih memiliki keyakinan itu.


“Cut!” Seru Sutradara drama ini. Benar. Ini hanya mengambil footage untuk drama mendatang. Aku hanya figuran yang datang di gereja. Peran yang bahkan tidak akan dikenali. Aku menatap iri Sang Pemeran Utama. Bahkan pakaianku lebih bagus dari pakaian yang dikenakannya tapi aku hanya figuran.


Aku berjalan menghampiri Su Ryeon Unnie yang berdiri di belakang kamera. Wanita itu tersenyum menyambutku. Setelah Sang Pemeran Utama puas dengan hasilnya, semua orang saling membungkuk, dan berterima kasih termasuk aku serta Su Ryeon Unnie. Jika kebanyakan aktris akan difasilitasi mobil van oleh agensinya, mobilku adalah mobil Su Ryeon Unnie. Ucapan Go PD-nim memang benar, Purple Entertainment belum siap untuk mendebutkan seorang aktris. Aku tersenyum pahit mengingat itu.


Setelah syuting selesai, Su Ryeon Unnie mengajakku untuk makan malam di pertokoan dekat dorm. Kim Hyun Sik masuk ke dalam tempat makan saat aku menyantap ramen milikku. Su Ryeon Unnie menyapanya lalu mengajaknya bergabung di meja kami.


“Kau sendirian?” Tanya Su Ryeon Unnie saat Hyun Sik selesai memesan makanan.


“Member lainnya sudah tidur,” jawab Hyun Sik.


“Lalu kenapa kau belum tidur?” Tanya wanita di sebelahku ini sambil menyeruput ramen di mangkoknya.


“Aku menulis beberapa bar lirik lagu bersama Dae Ho-ssi,” jawab Hyun Sik lagi. Dari caranya bicara terlihat dia sedikit canggung, tidak seperti kemarin. Dae Ho, Ban Dae Ho adalah di pendiam, jika kalian lupa.


“Kau selalu menulis lirik lagu tapi tidak pernah memberikannya pada PD-nim,” komentar Su Ryeon Unnie dengan cemberut dibuat-buat. Hyun Sik terkekeh ringan kemudian menjawab, “aku rasa lirik yang aku tulis belum sempurna, aku ingin memberikan yang sempurna.”


“Ehm.” Su Ryeon Unnie berdehem sambil menatap Hyun Sik usil.


“Aku suka semangatmu, pertahankan!” puji Su Ryeon Unnie sekaligus menyemangati. Hyun Sik tersenyum malu sambil menunduk. Su Ryeon Unnie menyelesaikan makanannya lebih cepat kemudian memberikan kartu kepada Hyun Sik.


“Bayar lah dengan ini, kembalikan padaku besok!” Perintah Su Ryeon Unnie kemudian pergi tanpa kata lagi. Aku, dan Hyun Sik makan dalam diam. Kami berdua sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Setelah membayar, aku, dan Hyun Sik berjalan kembali ke dorm. Udara malam musim panas berhembus melewati siapapun. Jalanan menanjak membuat kami berjalan lebih lambat dari sebelumnya.


“Kudengar kalian akan debut,” ucapku memecah keheningan.


“Ya, aku akan memberitahumu jika tanggal pastinya sudah ditentukan,” jawab Hyun Sik. Pasti menyenangkan memiliki enam orang untuk diajak berjuang bersama, pikirku.


“Apakah syuting berjalan lancar, Nuna?” Tanya Hyun Sik.


“Ya, itu hanya peran yang sangat kecil,” jawabku.


“Apa kau ingin mendapat peran utama?” Tanya Hyun Sik lagi. Aku terdiam sesaat sebelum menjawabnya.


“Kurasa semua orang yang bekerja di jalan yang sama denganku pasti menginginkannya,” jawabku pada akhirnya.


“Kau benar, semua orang memiliki keinginan yang sama, tapi tidak semua dari mereka sukses.”


“Menurutmu mengapa tidak dari mereka semua sukses?” Tanyaku.


“Karena banyak yang memilih berhenti sebelum mendapatkan peran utama padahal peran utama itu sudah di depan mata,” jawab Hyun Sik yakin.


“Ya, orang seperti ini empat tahun lebih muda dariku, ini sangat tidak adil,” candaku. Hyun Sik mengendus geli kemudian ikut tertawa bersamaku. Setelah sampai di dorm kami berdua masuk ke dalam kamar masing-masing. Aku dapat mendengar suara berisik saat Hyun Sik membuka pintu. Mereka belum tidur ternyata, lantas mengapa Hyun Sik berkata mereka sudah tidur tadi? Entahlah. Aku kembali memikirkan percakapan kami tadi. Banyak orang yang menginginkan satu posisi yang sama, tapi banyak juga yang berhenti sebelum berhasil. Apa aku akan menjadi salah satu yang berhasil? Aku nyaris satu tahun debut namun aku belum pernah mendapatkan peran penting di sebuah drama. Aku berjalan ke kamar mandi bersiap untuk tidur.


Entah sudah berapa lama mataku terpejam, aku tetap tidak bisa tidur. Mataku kembali terbuka. Aku melihat jendela yang tertutup gorden. Di luar masih gelap. Aku melirik jam dinding. Ini masih jam 2 dini hari. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Punggungku sudah kaku karena berbaring sejak pukul sebelas. Aku memutuskan untuk bangun, dan pergi ke rooftop. Udara cukup dingin meskipun saat ini sudah musim panas, aku mengenakan jaket. Ada seseorang yang berdiri dengan bertumpu pada dinding pinggir gedung. Hanya dengan punggungnya saja, aku tahu bahwa dia adalah Hyun Sik.


“Aku tidak bisa tidur, Nuna sendiri?” jawabnya ditambah pertanyaan kemudian mendengus.


“Aku terbangun,” jawabku kemudian hening. Tidak ada kecanggungan seakan kami memang sudah terbiasa seperti ini.


“Nuna,” panggil Hyun Sik. Aku menoleh padanya kemudian, “ehm?”


“Apa kau takut?”


“Takut apa?”


“Jika tidak mendapatkan peran utama,”


“Bagaimana denganmu? Apa kau takut jika grup kalian tidak disukai?” Aku menjawabnya dengan pertanyaan karena kurasa jawabannya akan sama.


“Kurasa tidak, kami bertujuh. Kami tujuh kali lebih kuat,” jawab Hyun Sik kemudian menatap wajahku. Dia benar. Mereka bertujuh. Mereka berbagi peran yang sama. Mereka tidak akan berebut untuk menjadi pemeran utama.


“Mungkin ini aneh tapi sejak awal tujuanku ke Korea Selatan bukan untuk masuk ke industri ini, aku tidak sengaja masuk ke industri ini,” jawabku berusaha sejujur mungkin namun tidak mengungkit Auriga.


“Lalu apa tujuanmu ke Korea Selatan, Nuna?” Tanya Hyun Sik.


“Mencari jawaban,” jawabku kemudian menatap gedung-gedung tinggi.


“Semoga kau bisa menemukan jawabanmu, Nuna.” Hyun Sik menyemangatiku tanpa berusaha mengganggu privasiku. Aku tersenyum menatap Hyun Sik. Seandainya di dalam sana ada tempat kosong, aku pasti akan memberikannya pada Hyun Sik. Sekalipun dia empat tahun lebih muda, caranya berbicara sama sekali tidak kekanak-kanakan. Dia sangat dewasa.


Setiap cerita memiliki peran utama. Cerita tersebut akan fokus pada pemeran utamanya, dari awal hingga akhir cerita. Satu hal yang aku yakini, meskipun Hyun Sik sering muncul dalam kisahku, dia bukan pemeran utama kisahku. Dia hanya datang sebagai pemeran pembantu. Aku ingin tahu siapa yang akan menjadi pemeran utama dalam kisahku. Apakah itu Auriga? Atau pria lain? Siapapun dia aku berharap dia memerankan peran utama itu dengan baik.


MY OWN KOREAN DRAMA


“Hyun Sik -a, apa kau bisa minum?” Tanya Chris setengah berbisik.


“Ha? Aku belum cukup umur untuk membelinya,” jawab Hyun Sik.


“Kau lupa aku lebih tua empat tahun darimu?”


“Ah, benar juga,” jawab Hyun Sik sedikit malu-malu. Aku yakin Hyun Sik menjawab sambil menggosok kepalanya bagian belakang. Setelah mendengar jawaban Hyun Sik, Chris turun ke bawah untuk membeli minuman yang dimaksudnya. Kakiku mulai kram karena berjongkok di balik drum kosong.


“Hyung, keluarlah!” Teriak Hyun Sik. Jadi dari tadi dia tahu aku disini? Bocah kurang ajar! Aku berdiri kemudian berjalan menghampiri Hyun Sik dengan tertatih. Hyun Sik kemudian melemparkan diri ke atas dipan kayu yang memang selalu ada disini. Aku duduk di pinggiran dipan itu.


“Kau menyukai Chris Nuna?” Tanya Hyun Sik sambil mengamati bintang-bintang di atas.


“Apa aku terlihat seperti itu?” Tanyaku balik pada Hyun Sik sambil memijat kakiku.


“Tidak,” jawab Hyun Sik kemudian menghela nafas panjang. Hyun Sik meletakkan salah satu tangannya di belakang lehernya sebagai bantal kemudian berkata, “tidak akan ada yang menduga jika kau menaruh hati padanya, tapi ini nasihatku sebagai leader Gu Boy. Tolong fokus pada debut kita. Jika kau gagal, ada enam orang lainnya yang harus ikut menanggung. Aku berjanji padamu akan ikut menjaga Nuna selama kau belum bisa memilikinya, tapi jika pilihan Nuna adalah bersama laki-laki lain, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”


Aku mendengus mendengar ucapannya. Hyun Sik bahkan lebih dewasa ketimbang aku. Aku mendengus lalu menimpali ucapannya dengan pertanyaan, “bagaimana dengan nasehatmu sebagai teman?”


“Aku selalu mendukungmu, hyung, aku mengerti mengapa kau jatuh hati padanya, Nuna memang menarik, aku bahkan hampir jatuh hati padanya.” Belum sempat aku menjawab ucapan Hyun Sik, suara gaduh dari pintu terdengar, kurasa Chris tidak datang sendiri. Pintu terbuka, dan trio maknae* muncul bersama gadis itu.


 


trio maknae* : 95 line (Kim Il Hoon & Kim Jung  Seo), Min Wook Ok


*Maknae : adik paling muda