My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 7 - Reality hit me too much



Korea, akhir 2016


Tidak banyak yang terjadi sejak 2013. Aku terus melajang sejak saat itu. Sejujurnya aku tidak tahu kemana hatiku ingin berlabuh. Auriga, dan Min-wook sama-sama orang yang penting. Perasaanku untuk Min-wook semakin dalam seiring bergantinya tahun. Meskipun kami tidak secara resmi berkencan, kami sering menghabiskan waktu senggang bersama -tentu saya ditambah enam anggota Gu Boy lainnya. Gu Boy juga sudah mengerti hubungan apa yang terjadi antara aku dan Min-wook. Satu hal yang aku tahu pasti, aku nyaman bersama mereka. Aku nyaman untuk memperdebatkan tentang es krim mint choco atau mungkin cara makan dipper-pourer. Entahlah, mereka menyenangkan.


Seperti kebanyakan akhir tahun lainnya, selebritis akan sibuk dengan berbagai macam acara. Akhir tahunku kali ini berbeda. Biasanya aku akan kembali ke London untuk merayakan bersama keluarga tapi kali ini aku menunggu di backstage sebagai pembawa acara. Tempat tungguku tidak jauh dari tempat tunggu Gu Boy. Aku memutuskan mengunjungi anak-anak itu. Aku baru saja membuka pintu ruang tunggu, dan ketujuh laki-laki yang hendak aku kunjungi sudah berdiri di depanku. Aku tidak dapat berbuat apapun selain membiarkan tujuh laki-laki ini memenuhi ruang tunggu milikku.


“Makanlah!” Perintah Min-wook sambil menyodorkan roti lapis. Aku tersenyum lalu berjalan ke kursi yang berada di dekat jendela. Aku membuka kertas coklat yang membungkus roti lapis. Aku membalik kertas itu.


**Han River 02:02 **


Itu adalah ajakan untuk keluar bersama. Seperti tertulis di kertas, Sungai Han jam dua pagi. Aku mengangkat alis menatap Min-wook yang sedari tadi menatapku. Sikapnya sungguh berubah saat berhadapan denganku, dia benar-benar mendominasi hubungan kami. Min-wook seakan-akan menjadi sosok yang berbeda saat di depan kamera. Dia akan lucu, kekanakan, dan cerewet. Entah mengapa hal itu malah membuatku menaruh hati untuknya semakin dalam meskipun tidak ada status yang jelas di antara kami.


Setelah menutup acara ini, semua orang ‘berpesta’ di atas panggung. Seperti biasa Gu Boy akan bertingkah seakan-akan tidak ada yang melihat. Trio maknae bersama Min-wook menari mengikuti irama ceria lagu. Hyun Sik, Dae Ho, dan Eun Hyuk menatap rekan satu grup mereka sambil tertawa. Aku tersenyum melihat keceriaan panggung.


Seakan waktu melambat, sepasang mata menatapku dalam. Aku menikmati bagaimana matanya menatap mataku. Jantungku berdebar lebih kencang. Bukan, dia bukan Min-wook. Senyumku luntur. Lagu ceria tiba-tiba berhenti di telingaku. Aku seakan berdiri di dunia yang berbeda. Dia disana, menjadi penonton. Aku tidak tahu bahwa kami akan saling menatap kembali setelah lima tahun berlalu. Debaran ini masih sama, kupu-kupu yang berterbangan di perutku masih sama, bahkan rasa itu masih sama hanya saja kini bukan aku yang berdiri di sampingnya. Seorang wanita dewasa berdiri sambil menggandeng tangan pria itu mesra. Aku kembali menarik sebuah senyum dengan sekuat tenaga. Dadaku sakit seakan seseorang baru saja memukulnya keras. Jadi ini yang dinamakan patah hati. Aku baru tahu bahwa patah hati benar-benar sesakit ini.


Sungai Han terlihat ramai dari atas sini. Aku memasukkan kopi ke dalam tempat cangkir bening. Semoga saja Sungai Han sepi pada pukul dua nanti. Aku duduk di sofa sambil memeluk kedua kakiku. Jika aku tidak memilih industri ini, apakah aku akan menjadi wanita itu, dan berdiri di sebelah Auriga? Apakah tempat itu akan menjadi milikku? Jika lima tahun lalu aku tidak memilih Korea, apakah aku dan Auriga akan bersama? Apakah saat ini aku menyesal? Aku menyesap kopi perlahan. Aku meletakkan kepalaku pada sandara sofa membiarkan diriku istirahat sesaat.


Dering ponsel membangunkan diriku. Aku meraih ponsel yang berada di atas meja di depanku. Ini dari Min-wook. Aku menerima panggilan itu, “yeoboseyo?”


“Nuna ketiduran?” Tanya Min-wook di seberang sana. Aku terkekeh pelan kemudian menjawab, “aku akan segera kesana, tenang saja.” Setelah memutus panggilan, aku mengambil padding jacket kemudian keluar. Aku menatap sungai Han dari kamarku. Orang-orang sudah tidak sebanyak tadi. Aku, dan Min-wook duduk di salah satu kursi di pinggir sungai Han.


“Disini sangat dingin,” ucap Min-wook sambil berdiri dari kursi lantas menarik tanganku. Aku tidak banyak bicara, dan mengikutinya.


“Kau ingin pamer mobil baru?” Tanyaku saat sudah berada di dalam mobil.


“Bisa jadi,” jawab Min-wook sambil menyetir entah kemana. Aku menatap jalanan Seoul yang sepi. Tak ada percakapan di antara kami.


“Nuna sedang ada masalah?” Tanya Min-wook menyudahi keheningan. Aku menoleh menatap Min-wook yang menyetir.


“Aku melihat Auriga,” ucapku jujur. Pria di sebelahku menghembuskan nafas kasar.


“Nuna ingin es krim?” Tanya Min-wook lagi yang sepertinya berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Mint choco?” Tanyaku penuh harap.


“Ya! Mengapa kau sangat suka mint choco?!” Seru Min-wook kesal. Aku terbahak mendengar suaranya. Aku tak tahu bagaimana dia selalu saja tahu cara membangkitkan kembali tawaku. Aku menatapnya yang tertawa lebar. Aku selalu mengira akan menjadi orang Asia yang patuh pada tata krama. Berkencan sebelum pukul sembilan, pergi ke tempat ramai tapi kini aku mematahkan itu semua. Realita bahwa aku seorang yang sukses dan terkenal membuatku harus melompati semua itu.


Seoul, Januari 2017


Aku kembali pada pekerjaanku. Manajerku sudah bukan Su Ryeon Unnie. Kini kemanapun aku pergi, Ji Ah yang akan selalu menemaniku. Seperti hari ini, Ji Ah menemaniku untuk menandatangani kerjasama dengan clothing brand yang cukup terkenal, AAA (dibaca : tripel ei). Aku membaca ulang kontrak yang harus aku tanda tangani. Sebenarnya aku sudah membacanya kemarin tapi entah mengapa aku selalu membaca ini kontrak yang akan aku tandatangani kembali. Ji Ah memberikan pulpen serta cap stempel milikku. Kontrak ini akhirnya berlaku juga. Ada tanda tangan serta stempel di atasnya. Aku menyodorkan kembali kemudian tersenyum.


“Ah, sebenarnya CEO AAA ingin merayakan kerjasama ini dengan makan malam bersama, apakah bisa?” Tanya manajer AAA yang aku sendiri sudah lupa namanya.


“Anda bisa menentukan tanggalnya dengan manajerku,” ucapku lalu menatap Ji Ah. Aku keluar ruangan meninggalkan Ji Ah yang mulai membuka agenda. Aku memilih keluar berjalan-jalan melihat isi gedung AAA. Beberapa kali aku berhenti untuk sekedar berbincang dengan para pegawai yang ternyata merupakan penonton setiaku. Setiap mereka selalu menyarankan aku untuk pergi ke rooftop. Awalnya aku tidak terlalu tertarik namun kini aku menjadi penasaran seindah apa puncak gedung ini. Aku akhirnya membiarkan diriku mengikuti saran setiap orang. Pintu lift terbuka dan menampilkan puncak gedung AAA.


Sangat indah, itu yang aku pikiran begitu melihatnya. Tempat ini benar-benar indah. Tanaman ditutupi oleh salju putih. Lampu-lampu kecil dipasang di beberapa sudut. Aku tidak sabar melihat tempat ini di musim semi, pasti lebih indah. Aku berjalan melihat tempat ini lebih lagi. Aku mengambil ponselku mencoba mengabadikan keindahan tempat ini. Sebuah tangan menarik ponselku. Aku menengadah dengan kesal mencari pemilik tangan itu. Tubuhku kaku. Auriga berdiri di depan mataku kini. Dia masih sama seakan tidak ada yang berubah. Aku tidak tahu mengapa dan bagaimana air mataku bisa mengalir di pipiku.


“Chris! Ya!” Panggil Ji Ah menarikku untuk kembali pada realita. Setelah mampu meraih ponselku, aku segera menghapus air mataku kemudian menghampiri Ji Ah seakan-akan tak terjadi apa-apa.


“Kau mengenalnya?” Tanya Ji  Ah saat kami di dalam lift.


“Tidak,” jawabku sesantai mungkin. Ji Ah hanya mengangguk-angguk menanggapi jawabanku yang bohong besar.


“Jadi kapan kita akan menemui CEO tempat ini?” Tanyaku mengalihkan.


“Minggu depan jam 7,” jawab Ji Ah.


“Aku belum tahu siapa dia, tolong carikan aku informasi tentangnya,”


Aku baru sampai apartemen subuh. Sebuah kotak diletakkan di depan pintu apartemen. Kurasa ini dari Nenek. Aku mengambil kotak itu kemudian meletakkannya di samping meja pendek di depan sofa. Jendela menunjukkan sungai Han yang gelap. Aku melemparkan tubuh ke atas sofa. Aku membuka kotak kardus yang tadi kubawa masuk. Seperti biasa sayur mayur serta buah stroberi. Mataku beralih pada surat-surat yang masih tersegel sejak seminggu kemarin dari. Dengan setengah hati aku membuka amplop satu per satu. Tagihan kartu kredit. Undangan makan malam bersama Gu Boy, aku terkekeh menatap undangan tersebut. Glitter warna-warni berjatuhan saat aku menarik sisinya keluar. Serbuk kecil warna-warni ini pasti ulah Il Hoon sedangkan tulisan yang acak-acakan ulah Jung Seo. Aku memotret undangan mereka lalu mengirimkannya ke grup ‘PE Sepertinya Generasi Pertama’.


Christina McKenzie


(photo)


Aku yakin ini ulah Il Hoon dan Jung Seo


Eun Hyuk


Nuna akan datang bukan?


Wook Ok


Mereka sedang bertengkar


Christina McKenzie


Tentu…


Aku pasti datang


Kali ini apa penyebabnya?


Hyun Sik


Odeng Il Hoon lebih besar dari odeng Jung Seo


Tolong aku Nuna ㅠㅠ


Aku terbahak membaca laporan pertengkaran Gu Boy. Aku yakin Min-wook sedang mengomeli anak-anak itu saat ini. Lelahku seakan hilang saat membayangkan ketujuh anak laki-laki itu. Apa aku masih bisa menyebut mereka anak-anak? Kurasa tidak, aku bahkan berciuman dengan salah satu dari mereka. Aku tersenyum saat mengingat ciuman musim dingin 2013 itu. Entahlah, yang pasti aku sangat nyaman ketika memikirkan tujuh laki-laki itu. Mereka adalah salah satu saksi hidup perjuanganku di industri ini.


Wajah ceriaku tak bertahan lama. Surat terakhir memiliki nama Auriga di atasnya. Dikirim dari Korea. Auriga benar-benar di Korea saat ini. Seharusnya Auriga adalah alasan aku tersenyum, tapi aku salah. Selama ini aku salah. Aku selalu membayangkan hal-hal indah saat bertemu kembali dengan Auriga tapi kini nyatanya dia adalah alasan aku muram. Realitas tidak pernah seindah ekspektasi. Reality just hit me. Reality hit me too much, I think.


Seoul, 28 Desember 2016


Yang Terkasih


Christina McKenzie


Aku tidak pandai menulis surat kau tahu. Aku tidak tahu bagaimana mengawali ini. Aku harap ini tidak aneh saat kau membacanya.


Aku tak menyangka bahwa kau memilih ke Korea dan masuk industri hiburan. Aku cukup kaget saat salah satu pegawaiku mengajukan dirimu sebagai salah satu calon brand ambassador perusahaan. Disisi lain aku mensyukuri itu, akhirnya aku tahu bahwa kau baik-baik saja.


Aku akan pergi ke acara akhir tahun yang akan kau hadiri juga. Kuharap kau tidak terlalu terkejut karena aku membawa seseorang. Selama lima tahun kita berpisah, aku bertemu seseorang, kuharap kau juga.


Aku tidak tahu mengapa aku menulis surat ini, setelah berpikir setidaknya satu jam, aku sadar bahwa aku masih memiliki perasaan padamu. Kukira dengan hadirnya dia, aku dapat melupakanmu sepenuhnya.


Salam kasih,


.auriga


Auriga Walsh


Note : kuharap surat ini sampai dan kau baca sebelum acara itu.