
Air berjatuhan dari langit
Entah siapa yang akan berbagi payung bersamaku
Jika pundaknya lebih basah
Dia lebih mencintaiku ketimbang dirinya sendiri
Helaian rambut berwarna coklat berserakan di bawah meja rias. Peralatan untuk mengecat rambut juga berserakan di atas meja rias. Rambut coklatku telah menggelap. Rambut panjang itu kini juga tinggal sebahu. Ini adalah potongan paling pendek yang pernah aku buat. Aku menatap wajahku tanpa riasan. Pucat. Hanya kata itu yang dapat menggambarkan keadaanku. Tidak ada lagi wajah berseri-seri dengan bibir merona bahkan singlet abu yang aku kenakan menunjukan bekas luka di dada kiriku yang terlihat dengan jelas. Aku menatap Jacob dari pantulan cermin.
“Are you sure it’s gonna be worth it?” Tanya Jacob yang terlihat mencemaskan diriku. Cukup aneh memang Jacob tiba-tiba muncul di tengah buku ini sebagai orang yang sangat menyayangiku, tapi itulah adanya. Kami memang jarang berkomunikasi tapi aku tahu dimanapun diriku berada, Jacob akan tahu. Apapun yang sedang aku alami, Jacob juga akan tahu. Sepertinya dia sengaja menaruh beberapa orangnya di sekitarku yang tentu saja aku tidak tahu siapa.
“Honestly I still love him, I won’t ever stop loving him,” mulutku menyuarakan sebuah pengakuan yang selama ini aku tolak. Jacob berjalan mendekat padaku.
“Then, how about that boy?” Tanya Jacob lagi.
“I will always love him. I love him more,”
“But, you have to choose one!” Seru Jacob.
“For now, I choose my first love,”
“That’s not fair,”
“I know, love is never fair.” Aku kemudian mendongak menatap mata saudaraku. Jacob menyisir rambutnya ke belakang kemudian menghembus nafas berat sambil berjalan keluar kamarku. Aku kembali menatap diriku di kaca. Dia bukan Trine McKenzie. Gadis yang terpantul di sana adalah Christina Mackenzie. Kulitnya pucat dengan kantung mata yang terlihat jelas.
MY OWN KOREAN DRAMA
Aku pergi ke Jogja tidak bersama Auriga. Aku memesan penerbangan yang terpisah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku selama perjalanan tapi seharusnya orang-orang tidak dapat mengenali diriku lagi. Perjalanan London menuju Jogja terasa sangat lambat. Setiap detik yang berlalu seakan menjadi jarum yang menusuk sekujur tubuhku.
Setelah pesawat berada di udara, aku mengambil buku pemberian Su Ryeon Unnie. Aku membuka halaman pertama dan menuliskan bagaimana awal dari semua ini. Aku berpikir cukup lama untuk mencari pembuka dari kisah yang ingin kutulis. Aku mengetuk-ketuk meja kecil pesawat. Merasa buntu, aku hendak mengambil kotak yang berisi earphone. Bukannya mendapat yang aku inginkan, kotak kalung pemberian Min-wook muncul bersama tanganku yang keluar dari tas. Aku membukanya lagi. Aku masih tetap terpana melihat liontin kecil itu. Bunga Maehwa, kurasa itu pembuka yang bagus. Akhir musim semi bisa menjadi pembukaan yang bagus untuk memulai kisahku.
Tak banyak yang aku lakukan di hari pertama tiba di Jogja. Auriga menjemputku di bandara kemudian membawaku ke sebuah villa tepi laut. Aku diberi kamar sendiri di lantai atas sedangkan kamar Auriga ada di bawah. Aku segera menutup pintu setelah masuk ke kamar. Aku menuju ke balkon kamar. Pemandangan laut dengan matahari yang nyaris tenggelam menyambutku. Aku merogoh kantong jaket kemudian mengeluarkan kalung pemberian Min-wook. Aku membuka pengait kalung itu lalu mengenakannya pada leherku, aku merindukan Min-wook.
Ketukan di pintu kamar menarik diriku kembali dari perasaan rindu pada Min-wook. Aku mendekati pintu lalu membukanya perlahan. Auriga berada di depan pintu. Salah satu tangannya menyodorkan sebuah tas sambil berkata, “nanti malam akan ada makan malam dengan keluargaku, bersiaplah.”
MY OWN KOREAN DRAMA
Bau hujan merasuk ke penciumanku saat kakiku melangkah menuju mobil. Aku melempar pandang ke langit saat mobil melaju. Seluruhnya hitam di atas sana. Bulan memilih untuk bersembunyi di balik awan yang mungkin akan menurunkan hujan nanti.
Aku melirik ke Auriga yang rapi dengan kemeja merah marun. Dia tetap mempesona hanya saja pesona itu sudah tidak dapat mengganggu diriku lagi. Kurasa perasaanku pada Min-wook lebih mendominasi. Entahlah kapan pernyataan cinta itu akan kembali terucap. Bisa jadi, pernyataan itu tidak akan kembali terucap.
Aku melihat pantulan diriku di kaca mobil. Wajahku tidak pucat seperti saat aku tiba. Gaun sopan dengan warna senada dengan kemeja yang dikenakan Auriga. Kami terlihat seperti pasangan serasi.
Pemandangan pantai berganti dengan bangunan perkotaan. Cuaca cerah berganti dengan air yang berjatuhan dari langit. Benar saja dugaanku, hujan turun saat mobil berhenti di depan tempat makan. Auriga turun terlebih dahulu dengan payung di tangannya. Pintu mobil terbuka dengan payung Auriga di atasnya. Kami harus jalan cukup jauh untuk sampai di pondok kecil restoran ini. Pundak kanan, dan bagian bawah gaunku basah oleh air hujan. Begitu juga kemeja Auriga yang terlihat lebih gelap di pundak kirinya.
Tak lama setelah kami tiba, Nyonya Dilaeni dan Aquila datang. Aku spontan berdiri melihat mereka. Aquila menatapku dengan binar bahagia berbeda dengan ibunya yang menatapku dengan dahi berkerut. Makan malam berlangsung seperti makan malam pada umumnya kecuali tatapan Nyonya Dilaeni.
Bulan bersinar terang saat kami selesai makan. Aku berjalan kembali dari kamar mandi. Suasana taman di malam hari menahan langkahku kembali. Aku berdiri di taman sambil mengagumi bulan saat Nyonya Dilaeni menghampiriku. Wanita yang berada di akhir kepala lima berdiri tegap di sampingku. Auriga, dan Aquila bercakap-cakap sendiri di pondok kecil tempat kami makan tadi.
“Sepertinya tadi kau sedikit kehujanan saat tiba,” ucap Nyonya Dilaeni membuka percakapan. Nyonya Dilaeni ikut menatap bulan malam ini.
“Iya, tadi tiba-tiba turun hujan saat kami tiba,” jawabku basa-basi kemudian tersenyum. Tatapan Nyonya Dilaeni melembut, tidak seperti saat pertama kali melihatku tadi.
“Kalian berdua terikat tanpa perasaan bukan?” Tanya Nyonya Dilaeni tanpa ragu. Aku menunduk kemudian mengendus geli menjawabnya. Bahkan tanpa kami mengatakannya orang disampingku ini mengetahuinya.
“Jika Auriga sangat mencintaimu seharusnya pundakmu tidak basah dia akan rela lebih basah terkena hujan, begitu sebaliknya,” jelasnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan jika kami sama-sama mencintai? Payungnya terlalu kecil jadi tidak mungkin kami sama sekali tidak kehujanan,”
“Banyak cara untuk tidak terkena air hujan, dan setiap pasangan memiliki caranya masing-masing, jika memang tidak suka ya tinggalkan saja dia,” jawabnya yang merupakan sebuah ungkapan yang berarti jika seseorang merasa tidak senang dengan cara pasangannya memperlakukan dirinya, tidak ada salahnya untuk meninggalkan pasangannya.
“Apa Anda mengatakan itu karena aku mantan pengawal putrimu?” Tanyaku sedikit kasar karena tersinggung dengan ucapannya.
“Apa kau bodoh? Kau kira aku tidak tahu bahwa kau anak Paul? Dirimu bahkan aktris terpandang di Korea, mana mungkin aku menolak menantu sepertimu, kau adalah menantu idaman,” Nyonya Dilaeni menjawab dengan sedikit menaikkan nadanya.
“Aku mengatakan ini karena aku tidak ingin kau menyesal dengan memaksa dirimu disampingnya begitu juga sebagai seorang ibu, aku tidak ingin putraku menyesal menahan seseorang yang tidak ingin ditahan,” jelas wanita paruh baya ini. Aku cukup tersentuh dengan penjelasannya. Sepertinya ada kisah yang melatarbelakangi setiap ucapannya.
“Menurut Anda mengapa Auriga menahan saya jika tidak memiliki perasaan itu?” Tanyaku yang mulai nyaman bercakap dengan Nyonya Dilaeni.
“Aku meninggalkannya saat dirinya hanya memiliki aku sebagai tempat pulang. Saat bertemu denganmu, dia merasa dirimulah rumahnya,”
“Pada intinya Auriga memiliki trauma karena ditinggalkan kemudian menjadi terobsesi padaku,” aku mencoba untuk menyimpulkan.
“Seperti itulah, aku sedikit merasa bersalah padamu,” ucap Nyonya Dilaeni kemudian tertunduk. Suasana mendadak sendu.
“Apa anakku merepotkanmu?” Tanya Nyonya Dilaeni saat mengangkat kepalanya kemudian menatapku dalam.
“Dia cukup merepotkan, dia menyebar privasiku, masa laluku, bahkan aku terpaksa memutuskan kekasihku karena dirinya,” jawabku diakhiri dengan senyuman yang siapapun akan tahu bahwa itu senyuman sarkasme.
“Jadi itu alasannya memintaku membuka cabang di Korea,” komentar Nyonya Dilaeni kemudian mendengus marah. Sebuah tangan meraih lenganku, itu tangan Nyonya Dilaeni.
“Bukankah dia sudah memiliki kekasih?” Tanyaku saat mengingat gadis yang berdiri di sebelahnya malam tahun baru 2017.
“Ya, itu kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasihnya. Aku sudah menduga bahwa dia akan tetap kembali padamu, Auriga tidak benar-benar mencintai gadis itu,” jawab Nyonya Dilaeni sambil menerawang ke langit.
“Anda sudah mendengar tentangku sebelumnya?” Tanyaku karena Nyonya Dilaeni mengatakan bahwa sudah menduga hal ini akan terjadi, berarti dia sudah pernah mendengar tentang aku dan Auriga sebelumnya.
“Aquila, dia menceritakan segalanya. Segala yang terjadi di Aquila Mansion. Bagaimana dia menyayangimu seperti kakak perempuannya sendiri, bagaimana tatap marah Auriga saat melihatmu terluka, saat itulah aku tahu bahwa putraku sudah jatuh cinta pada seorang gadis,” jawab Nyonya Dilaeni dengan senyum yang terus menghiasi kalimat.
“Dia adalah cinta pertamaku sekaligus luka pertamaku tapi aku tidak bisa disampingnya lagi karena ada orang lain yang bisa menyembuhkan luka itu,” ucapku sambil menunduk menatap tanah di bawahku.
“Tolong maafkan dia,” pinta Nyonya Dilaeni sambil terisak. Seorang ibu meminta pada seorang gadis untuk memaafkan putranya. Ini adalah permintaan yang tidak mungkin tidak aku penuhi. Aku menoleh pada wanita setengah baya di sebelahku kemudian mengelus punggungnya pelan.
“Aku masih mencintai Auriga hanya saja aku tidak ingin menghabiskan hariku bersamanya lagi,” ucapku menenangkan.
“Apa ada yang sudah hancur karena tingkahnya?” Tanya Nyonya Dilaeni lagi. Hatiku, hatiku sudah hancur, jawabku dalam hati.
“Aku memilih kembali kepadanya walaupun itu terpaksa setidaknya sesuatu yang lebih berharga tidak hancur,” jawabku berusaha menenangkan.
“Terima kasih telah mencintai putraku,” ucap Nyonya Dilaeni di tengah isakannya. Salah satu tangan Nyonya Dilaeni meraih pipiku lalu dengan penuh kesungguhan berkata, “kini pergilah mengejar apa atau siapapun yang kau inginkan, biar kali ini aku yang menghadapi anakku. Carilah laki-laki yang tak masalah pundaknya basah demi pundak kering milikmu.”
MY OWN KOREAN DRAMA
Malam ini aku menatap langit lebih ringan ketimbang hari-hari sebelumnya. Rasanya beban di pundakku telah diangkat sepenuhnya. Ini adalah hari pertama, dan terakhirku tinggal satu atap bersama Auriga. Setelah pulang dari restoran tadi, Auriga dan Nyonya Dilaeni terlibat percakapan serius di ruang kerja Auriga. Aku sendiri bergegas masuk ke kamar sepulang dari makan malam tadi.
Mungkin kalian bingung mengapa aku meninggalkan Min-wook, dan kembali pada Auriga yang jelas-jelas berusaha menjatuhkanku. Aku bersyukur mengambil keputusan untuk memenuhi keinginan Auriga ke Indonesia, setidaknya tidak ada skandal lagi yang diterbitkan terkait masa laluku itu. Jika saja aku keras kepala bertahan di samping Min-wook, mungkin masalah menjadi lebih panjang. Satu fakta baru yang aku ketahui, R, rekan kerjaku dahulu saat masih bekerja di Aquila Mansion adalah manajer Arsen, pria yang aku idolakan. Dunia ini sangat sempit, sesempit payung yang membuat pundak seseorang menjadi basah karena mencintai orang lain. Saat ini satu-satunya masalahku adalah perasaanku sendiri, ego di dalam diriku. Aku yang memberikan titik ke dalam kalimat untuk kisahku dan Min-wook. Apakah masih ada api di dalam diriku untuk kembali melanjutkan kisah diantara kami?
Aku meletakkan punggungku pada sandaran kursi balkon yang menghadap ke laut lepas. Kembali aku mengambil buku pemberian Su Ryeon Unnie. Tanganku kembali menggoreskan tinta menyambung kalimat demi kalimat menuliskan bagaimana hari itu berjalan. Keduanya sama-sama memegang payung tapi keduanya mengambil keputusan yang berbeda.
MY OWN KOREAN DRAMA
Akhir Musim Panas 2012
Seperti kebanyakan akhir musim panas, hujan akan lebih sering turun mengguyur tanah yang panas. Dari atas bus aku dapat melihat bagaimana hujan membasahi bumi tanpa ampun. Beberapa orang yang tidak membawa payung berlarian menuju tempat beratap. Aku baru pulang dari tempat Nenek. Aku naik bus untuk kembali ke dorm.
Aku turun dari bus sedikit terburu. Hujan sore ini mengguyur Seoul cukup deras. Bus kembali melaju meninggalkan aku dan beberapa orang lainnya di halte. Aku duduk di bangku kayu yang sedikit membuatku sedikit terkejut saat pertama kali duduk karena dingin. Beberapa orang yang tidak membawa payung ikut menunggu hujan reda di bawah atap halte. Jika saja hujan tidak sederas ini aku akan berlari menuju dorm.
“Nuna! Nuna!” Suara itu menarik diriku dari lamunan. Aku mendongak mencari sumber suara itu. Aku tersenyum menatap enam orang laki-laki berpayung di seberang jalan. Setelah sekian banyak anak silih berganti masuk ke line debut ini, kini mereka berenam, Jung Seo bergabung bulan Maret lalu. Hyun Sik, dan Dae Ho berbagi payung sedangkan Eun hyuk, Wook Ok, dan Jung Seo menjadi satu di payung yang cukup besar. Min-wook berjalan paling belakang dengan payung untuk dirinya sendiri. Lima orang lainnya berbelok menuju dorm sedangkan Min-wook menyeberang di garis putih.
“Akhir-akhir ini sering hujan, mengapa Nuna tidak membawa payung?” Tanya Min-wook. Tidak-tidak, Min-wook tidak bertanya dengan nadanya mengomeli adik-adiknya. Min-wook bertanya dengan penuh kelembutan. Aku bangkit dari kursi kemudian bergabung di bawah payung yang digunakan Min-wook lalu menjawab, “untunglah kau datang saat aku tidak membawa payung.”
Aku dapat merasakan bahwa Min-wook memiringkan payungnya agar tubuhku tak basah. Kemudian aku dan Min-wook berjalan berdampingan di bawah satu payung menuju dorm. Aku dapat melihat bahwa pundak Min-wook mulai basah. Aku menggenggam tiang payung di atas genggaman Min-wook agar pundak Min-wook tertutupi payung.
“Tidak apa-apa, Nuna, ini adalah resiko memiliki pundak lebar,” ucap Min-wook sambil kembali memiringkan payungnya ke arahku. Aku terkikik geli mendengar jawabannya. Langkah kaki kami akhirnya berhenti di depan pintu dorm masing-masing. Hingga saat ini aku masih tinggal sendiri. Tidak ada satupun trainee yang ditempatkan bersamaku.
Awan di luar terus menurunkan air hujan tanpa jeda. Sepertinya hujan akan berlangsung hingga subuh. Aku mengaduk kembali kimchi jjigae di dalam panci. Porsi ini bukan untuk diriku seorang. Aku akan membagikannya pada enam anak laki-laki di kamar sebelah, khususnya Min-wook karena dia sedikit kehujanan tadi.
Hujan berhenti saat jam makan malam datang. Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk makan di rooftop. Setelah mengeringkan dipan kayu, kami semua memulai makan malam bersama. Meski kini nyaris pukul delapan malam, langit masih terlihat terang. Saat musim panas, matahari memang akan terbenam lebih lambat. Setiap kami memegang mangkuk yang berisi nasi. Makan malam kali ini dihiasi dengan pertengkaran Min-wook dan Wook Ok. Kedua laki-laki itu mempermasalahkan siapa yang lebih berhak menghabiskan kimchi jjigae buatanku. Entah mengapa aku sangat menikmati pertengkaran dua orang itu. Aku pasti akan merindukan hal-hal sepele seperti ini. Jika Min-wook membiarkan pundaknya basah agar pundakku kering maka aku akan memberikan kimchi jjigae untuk menghangatkan tubuhnya. Begitulah peraturan tidak tertulis yang ada diantara kami. Tidak ada perjanjian, tidak ada pembicaraan sebelumnya. Aku harap Min-wook akan selalu ada di setiap hujan deras yang turun sehingga aku dapat memberikan semangkuk kimchi jjigae padanya.