My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 8 - Biarkan Kenangan Tetap Menjadi Kenangan



Ponselku berdering nyaring menarikku dari surat Auriga. Nama Min-wook tertera di sana. Kukira dia sedang mengomeli adik-adiknya. Aku menghapus air mata kemudian menerima panggilannya.


“Yeoboseyo?” ucapku. Tak ada jawaban balik, hanya ada suara napas.


“Min-wook? Kenapa?” Tanyaku lagi karena tak mendapat jawaban.


“Nuna di apartemen? Aku kesana sekarang,” Min-wook bersuara. Aku melirik jam dinding, kini pukul tiga pagi.


“Ini sudah….” ucapku terpotong. Min-wook menutup panggilannya. Aku menghembus nafas berat. Aku tiduran di atas sofa sambil menatap surat dari Auriga. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jelas-jelas hatiku tidak lagi memilihnya. Kenangan itu indah namun tidak untuk kembali dilanjutkan.


Perjalanan Min-wook dari dorm-nya ke apartemenku memakan waktu setidaknya setengah jam, waktu yang cukup untuk membuat segelas kopi untuknya. Aku menuju dapur merebus air. Bel pintu  depan berbunyi. Min-wook datang lebih cepat dari dugaanku. Belum aku sampai pintu, suara seseorang menekan sandi terdengar. Pintu terbuka menunjukan Ji Ah dengan wajah kusutnya. Gadis ini tak bicara apapun. Ji Ah dengan kusutnya menghampiriku memberikan sebuah map kemudian pergi. Sedikit aneh tapi aku tidak berbuat apa-apa. Teko yang dipanaskan berbunyi, aku meletakkan map ke atas meja makan lalu mematikan kompor. Suara sandi ditekan kembali terdengar. Kali ini pasti Min-wook. Pintu terbuka memunculkan Min-wook dengan hoodie abu.


“Nuna ingin jalan-jalan?” Tanya Min-wook langsung.


“Aku baru saja membuat kopi, kau mau?” Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya. Min-wook menatapku tegas.


“Nuna baru saja menangis? Nuna baik-baik saja?” Tanya Min-wook sambil berjalan menuju sofa. Aku membuat dua gelas kopi tanpa menjawab pertanyaannya. Alasan aku memilih Min-wook adalah ini, dia berusaha untuk selalu ada. Selalu berusaha menjadi tempat aku dapat menyandarkan kepala yang terlalu berat.


“Auriga datang ke acara tahun baru kemarin, dan aku bertemu lagi saat tanda tangan kontrak siang tadi, dia juga mengirimiku surat, katanya dia sudah memiliki seseorang,” ucapku sambil menyerahkan cangkir berisi kopi.


“Nuna masih mengharapkannya?” Tanya Min-wook. Tanpa perlu dijelaskan, aku tahu betapa perihnya hati Min-wook saat menanyakan pertanyaan itu.


“Entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri,” ucapku jujur.


“Nuna tahu, aku selalu disini.” Min-wook menenangkanku. Aku meletakkan cangkirku ke meja kemudian duduk di sebelah Min-wook. Aku menghembuskan nafas berat. Pria di sebelahku merangkulkan tangannya kemudian menarikku ke pelukannya.


“Kapan kita bisa benar-benar berkencan?” Tanya Min-wook. Entah sudah berapa kali kami membahasnya. Aku tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan jadi setiap kali dia menanyakannya, aku akan diam. Aku selalu belum siap untuk benar-benar berkencan. Sesaat aku merasa jahat. Empat tahun sudah aku membiarkan Min-wook berjuang tanpa jawaban.


“Apa kau akan tetap seperti ini saat kita berkencan?” Kali ini aku angkat suara. Min-wook berdehem mengiyakan.


“Kalau begitu, ayo, ayo kita berkencan,” ucapku keluar dari pelukannya.


“Apa kau begini karena patah hati?” Tanya Min-wook khawatir. Aku mengerti mengapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Dia juga seorang pria yang memiliki perasaan.


“Tidak, aku hanya mulai membiarkan kenangan tetap menjadi kenangan,” ucapku yakin. Min-wook tersenyum lalu kembali menarikku ke pelukannya sambil bertanya, “kita harus kemana untuk kencan pertama?”


“Entahlah, aku tidak pernah berkencan sebelumnya,” jawabku masih di dalam pelukannya.


“Uuu, aku yang pertama. Baiklah pacarku, aku akan membuat kencan pertama terbaik yang pernah ada di dunia,”


“Pacarku?” Tanyaku geli.


“Nuna tidak suka? Nuna ingin langsung menjadi istri? Ah, itu sulit, kita harus ke Inggris untuk bertemu orangtua Nuna dahulu,” jawab Min-wook yang membuatku tertawa. Aku bangkit dari pelukannya kemudian menatapnya penuh cinta.


“Aku tidak perlu kencan yang mewah, cukup hanya ada aku, dan kamu. Itu cukup.”


MY OWN KOREAN DRAMA


Kembali pada hari Senin. Aku dan Min-wook benar-benar pergi untuk kencan pertama. Kali ini kami bertemu di pagi hari. Benar-benar pagi. Kami berdua meninggalkan apartemenku pukul empat pagi. Aku tidak tahu kemana Min-wook akan membawaku hari ini. Sepertinya dia sama sekali tidak ingin membicarakan rencananya. Entah apa yang ada di kepalanya saat ini, satu hal yang aku tahu, kami pergi meninggalkan Seoul.


Setelah setidaknya empat jam perjalanan, akhirnya aku bisa merenggangkan tubuh. Udara di luar sangat sejuk meski dapat membuatku beku. Aku turun dari mobil membawa ransel, begitu pula Min-wook. Sepertinya pria itu berencana menghabiskan hari ini di tengah pepohonan bermahkotakan salju. Min-wook menghampiriku kemudian memasangkan topi hitam ke kepalaku. Melindungi identitas sangatlah penting saat berkencan. Tangan Min-wook turun ke pipiku mengusapnya lama. Kami bertatapan beberapa lama sebelum akhirnya berjalan menyusuri jalur pendakian.


“Aku tidak menduga bahwa kau memilih tempat ini,” ucapku.


“Dua tahun yang lalu, aku kemari untuk syuting Winter Package, dan disini sangat indah. Orang pertama yang terpikirkan adalah Nuna, jadi aku berpikir akan membawa Nuna kesini,” ucap Min-wook bercerita.


“Kau senang? Akhirnya bisa membawaku kesini?” Tanyaku centil.


“Aku senang, kencan impian Nuna seperti apa?” jawab Min-wook dengan pertanyaan di akhir.


“Entahlah, aku sepertinya terlalu banyak berkencan di drama, aku jadi tidak tahu mana yang ingin aku lakukan dulu,” jawabku sambil memandang langit.


“Pikirkan yang paling Nuna inginkan, aku akan mengabulkannya,” ucap Min-wook kemudian menggandeng tanganku.


“Uh, tangan Nuna sangat dingin, apa kita harus kembali ke mobil? Mencari tempat hangat?” Min-wook khawatir.


“Tidak, ada dirimu, kurasa itu cukup,” ucapku menggodanya kemudian tersenyum tak berdosa. Min-wook tersenyum, “ya! Seharusnya aku yang merayu Nuna!” seru Min-wook dengan gaya ‘pria yang mempermasalahkan apapun’. Aku merapat ke tubuhnya kemudian memeluk tangannya yang menggandeng tanganku. Aku jinjit kemudian mencium pipinya gemas. Min-wook menoleh lalu mengecup bibirku sekilas, kami berdua terkikik setelahnya. Ternyata inilah yang disebut kasmaran. Ini perasaan baru untukku, aku tidak pernah merasakan ini saat bersama Auriga. Jika ditanya apakah aku akan tetap menjalani masa lalu bersama Auriga, aku akan tetap menjalani masa lalu bersama Auriga karena dia akan menjadi sebuah kenangan yang memberitahuku apa yang sebenarnya aku butuhkan dari seorang pria.


Salju perlahan turun. Bahkan kami belum jauh dari parkiran. Sepertinya kencan di tengah hutan bersalju harus dibatalkan. Aku, dan Min-wook berlari kecil kembali ke parkiran sebelum salju turun dengan lebat.


Mobil terasa sangat hangat saat kami masuk. Aku melihat pantulan diriku di kaca, pipiku memerah kedinginan. Aku tidak pernah melihat pipiku semerah ini, biasanya make up akan menutupi warna kulit asliku. Salju mulai menutupi jalanan. Min-wook segera membawa mobil pergi dari parkiran.


“Kita akan kemana?” Tanyaku lagi.


“Tempat kita bisa memarkirkan mobil,” jawab Min-wook.


“Kita tidak kembali ke Seoul?” Tanyaku lagi.


“Perlu waktu empat jam untuk sampai disini, dan kita pergi karena salju? Yang benar saja?!” Seru Min-wook Mengomel. Aku terkekeh mendengarnya.


Benar saja, Min-wook kemudian berhenti di tanah kosong dekat jalan besar. Aku baru tahu bahwa ransel yang digendongnya tadi berisi kotak bekal. Dia benar-benar merencanakan kencan yang sempurna. Aroma makanan langsung menyerbu penciumanku saat Min-wook membuka kotak bekalnya.


“Eomuk?” Tanyaku heran. Kotak bekal itu berisi eomuk tang. 


“Kita makan ini saat pertama kali bertemu, kau lupa? Kedai dekat dorm lama,” jelas Min-wook. Aku tersenyum mengingat kenangan itu. Aku mulai menggigit makanan berbahan ikan ini. Rasanya sungguh enak, kurasa ini eomuk tang paling enak yang pernah kumakan.


“Kau membelinya dimana?” Tanyaku di sela-sela kunyahan.


“Aku memasaknya sendiri,” jawab Min-wook yang membuatku tersedak. Aku mengedipkan mata beberapa kali.


“Kau lupa aku terkenal sebagai koki Gu Boy,”


“Benarkah? Aku tidak tahu,”


“Kau tidak pernah membaca berita?”


“Kau tahu aku kesulitan membaca hangeul,”


“Lalu bagaimana caramu membaca naskah?”


“Aplikasi,” cicitku. Min-wook kemudian menghembus nafas sambil mengangguk-angguk. Aku terkikik melihatnya. Kami berdua menikmati eomuk tang di tengah salju yang turun. Aku tidak menyangka ini akan menjadi kencan yang menyenangkan. Dalam benakku bertanya apakah suatu hari nanti aku akan membiarkan saat ini menjadi kenangan atau melanjutkannya sebagai sebuah kisah tanpa akhir.


“Tunggu, tanggal berapa ini?” Tanya Min-wook di sela-sela makannya.


“Ini 16 Januari,” ucapku sambil menatap layar ponselku.


“Aku perlu mengingatnya,”


“Untuk apa?” Tanyaku bingung.


“Ini hari pertama kita!” Seru Min-wook. Aku terbahak mendengarnya. Min-wook ingin hubungan ini seperti hubungan pada umumnya. Memiliki tanggal-tanggal yang tidak terlupakan. Semoga cerita hari ini tidak sekedar menjadi kenangan di masa depan.


MY OWN KOREAN DRAMA


Seperti cerita drama kebanyakan, setelah memiliki adegan manis, pemeran utama harus kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Kurasa drama benar-benar berasal dari kehidupan nyata. Kini aku berhadapan dengan lawan mainku di tengah salju yang siap untuk membuat siapa saja membeku. Matahari akan terbit sebentar lagi, aku harus menyelesaikan adegan ini sebelum itu terjadi.


“Baiklah, kita putus saja!” Seru lawan mainku. Aku hanya mematung di hadapannya. Tatapanku kubuat sekosong mungkin kemudian air mata mulai menetes dari sudut mataku.


“Cut!” Seru sutradara drama ini. Suasana tenang kembali gaduh. Kru segera menghampiriku. Aku berkedip beberapa kali mencegah air mata kembali turun. Aku menghampiri kru lain untuk mengecek penampilanku.


“Aku puas dengan hasilnya, bagaimana menurutmu Trine-ssi?” Sutradara meminta pendapatku. Aku mengangguk kemudian menjawab, “aku juga puas dengan hasilnya.”


“Baiklah, cukup untuk hari ini, terima kasih!” Seru sutradara kemudian membungkuk memberi salam ke setiap kru.


“Aku ada jadwal lagi?” Tanyaku saat sudah di dalam mobil.


“Sore nanti kau ada janji temu dengan CEO AAA,” jawab Ji Ah.


“Kau sudah mencari informasi tentangnya?” Tanyaku sambil memejamkan mata.


“Jangan bilang kau belum membacanya,” ucap Ji Ah  menyelidik. Aku mengerutkan dahi. Ah iya! Map yang diberikannya tempo hari.


“Aku akan membacanya nanti,” jawabku tidak ingin memperpanjang. Aku mengubah posisi duduk menghadap ke jendela luar. Salju masih menutupi sebagian besar daratan. Pasti dingin berjalan di luar sana. Aku menutup tirai jendela kemudian tidur.


Aku langsung mencari map saat tiba di apartemen. Seharusnya ada di ruang kerjaku meskipun aku menaruhnya sembarangan, Bibi yang membersihkan apartemenku selalu meletakkan semua dokumen ke meja kerja. Benar saja, map itu berada di bawah tumpukan surat di atas meja, Aku menghembuskan nafas kasar saat membaca namanya. Auriga Walsh. Itu sangat menjelaskan mengapa aku bertemu dengannya di rooftop tempo hari. Aku duduk di kursi lemas. Aku melempar map ke atas meja lalu menatapnya pasrah. Aku benar-benar frustasi.


Cukup lama aku mematut diri pada cermin sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari walk in closet. Gaun hitam dengan panjang hingga betis. Sepatu hak tinggi hitam. Aku tidak bisa datang kembali ke hadapan Auriga sebagai Christina 21 tahun, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama kembali.


“Aku akan masuk sendiri ke dalam, kalian bisa pulang lebih cepat hari ini,” ucapku di dalam perjalanan menuju tempat janji temu.


“Bagaimana kau pulang nanti?” Tanya Ji Ah.


“Aku bisa memanggil taksi,” jawabku.


“Baiklah,”


Aku turun begitu tiba di restoran Jepang. Aku memang jarang ke tempat ini tapi satu hal yang aku yakin, makanan di tempat ini mahal, berharga lebih dari seratus ribu won per porsinya. Aku berjalan masuk ke dalam. Seorang pelayan menghampiriku menanyakan apakah aku sudah memesan meja sebelumnya.


“Auriga Walsh,” ucapku pada pelayan itu. Setelahnya pelayan lain datang untuk menyimpan coat yang kugunakan. Pelayan pertama tadi menggiringku melalui lorong. Sudah kuduga Auriga akan memesan ruangan pribadi.


Auriga menatapku gelap saat aku memasuki ruang. Jas ditambah kemeja hitam yang dikenakannya menambah aura gelap pada dirinya. Aku duduk berhadapan dengan Auriga. Setelah pelayan mengambil pesanan kami, suasana semakin menegangkan. Aku tak berminat untuk membuka pembicaraan. Aku mengalihkan pandangan ke interior ruangan otentik Jepang yang menambah suasana tegang.


“Jadi ini jalan yang kau pilih,” Auriga membuka suara.


“Saya datang sebagai Trine McKenzie, brand ambassador perusahaan Anda. Saya datang kesini bukan sebagai Christina Mackenzie, mantan pengawal keluarga Anda,” balasku menghentikan pembahasan lebih lanjut mengenai masa lalu. Aku sudah bulat untuk tak membahas masa lalu itu lagi sehingga kenangan akan tetap menjadi kenangan.


“Bisakah kau menjadi Chris yang kukenal? Setidaknya selama lima menit?” Tanya Auriga memelas.


“Tidak. Biarkan kenangan tetap menjadi kenangan,” ucapku tegas. Aku dapat melihat dari mata Auriga bahwa dia sangat terluka.


“Kau benar, seharusnya kenangan tetap menjadi kenangan.” Auriga mengulang perkataanku. Pria di depanku ini menghembuskan nafas kasar kemudian duduk bersandar pada kursinya. Aku dapat menangkap raut kecewa pada wajahnya.


“Ehm…” Aku hendak membuka suara namun pelayan mengetuk pintu kemudian masuk membawa hidangan yang sudah Auriga pesan. Setelah pelayan keluar kami mulai makan satu per satu hidangan. Aku tidak tahu apa nama makanan yang ada di atas meja ini. Sepertinya Auriga memesan untuk semua makanan di keluarkan di saat bersamaan.


“Kau cocok menggunakan sumpit,” ucap Auriga saat aku menyuapkan makanan ke dalam mulutku.


MY OWN KOREAN DRAMA


Suara gaduh terdengar bahkan saat aku di depan pintu dorm Gu Boy. Aku menekan intercom kemudian Hyun Sik memunculkan wajah lelahnya mempersilahkan aku masuk. Il Hoon dan Jung Seo. Dua laki-laki yang selalu mencairkan suasana. Kali ini mereka tidak bertengkar, mereka bermain sandiwara di dapur. Aku meletakkan kantong plastik putih ke atas meja dapur.


“Apa ini stroberi Halmoni?” Tanya Eun Hyuk entah pada siapa. Suara riangnya bertambah ketika mulai memakan buah merah itu. Dae Ho, si pendiam menghampiri meja dapur lalu ikut memakan stroberi.


“Kalian tidak mencucinya dahulu?!” Min-wook memperingatkan dengan nada tingginya. Aku tertawa melihat interaksi mereka. Min-wook mengambil sisa buah stroberi kemudian mencucinya. Aku tidak tahu bahwa setelah benar-benar berkencan, Min-wook akan menjadi dua pribadi yang berbeda. Min-wook lebih tenang dan dewasa saat hanya berdua denganku. Aku tetap menyukai Min-wook yang berisik sama banyaknya dengan Min-wook yang tenang.