My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 12 - Unhappy Birthday



Bab 11 akan menjadi kali terakhir Min-wook menulis.


Terima kasih Park Min-wook ssi sudah mau menuliskan sudut pandangmu untuk aku.


Aku mengambil alih kembali alur kisah ini untuk kalian.


27 Maret 2017


Musim dingin sudah benar-benar berlalu. Bunga Maehwa kembali bermekaran. Udara memang sudah tidak sedingin kemarin tapi juga tidak sehangat untuk mengenakan gaun musim panas. Aku mengambil mantel serta syal abu di lemari pakaian. Aku mencobanya di depan kaca. Mataku jatuh pada syal kuning mustard pemberian Nenek. Aku tersenyum mengingat bagaimana masa-masa awal aku tiba di Nonsan enam tahun yang lalu. Semuanya berlalu sangat cepat. Setelah puas dengan pantulan diriku di kaca, aku keluar menuju meja makan. Ada dua wadah yang cukup besar. Aku melihat melalui plastik bening di atas wadah itu. Kue tart coklat. Benar, ini hari ulang tahun Min-wook. Jadwal syuting drama sudah selesai semenjak minggu lalu. Aku sengaja mengosongkan jadwalku untuk merayakan ulang tahunnya walaupun aku tahu dia tidak mungkin dapat melakukan hal yang sama.


Aku keluar apartemen kemudian turun ke parkiran bawah. Hari ini aku akan menyetir mobilku sendiri. Jalanan menuju gedung PE cukup lenggang, mungkin karena bukan jam berangkat kerja. Entah mengapa aku selalu bahagia saat  musim semi datang. Bunga-bunga bermekaran menghiasi pinggiran jalan. Gedung PE terlihat cukup tinggi dari jauh. Aku membelokkan mobilku menuju parkiran bawah tanah gedung.


Aku tidak sendirian menyiapkan roti untuk Min-wook. Il Hoon keluar untuk membantuku memasang lilin di atasnya. Aku dan Il Hoon berjalan perlahan menuju studio tari yang mereka gunakan. Studio yang awalnya terang tiba-tiba menjadi gelap. Suara Wook Ok menggemakan lagu ulang tahun seiring ruangan kembali terang. Min-wook tersenyum malu kemudian menghampiriku yang berjalan perlahan membawa roti.


“Ya, kalian tidak perlu melakukan ini,” ucapnya dengan sedikit salah tingkah pada member lainnya. Min-wook memejamkan mata beberapa saat sebelum meniup kuenya. Kejutan berakhir. Setelahnya mereka kembali latihan untuk comeback mereka dua pekan lagi.


“Christina-ssi!” Panggil salah satu karyawan di PE.


“Ya?”


“Go PD-nim meminta Anda untuk menemuinya sekarang,” ucap karyawan itu. Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya melangkah menuju ruangan Go PD-nim.


“Kau belum melihat berita itu?” Tanya Go PD-nim.


“Apakah berita itu bertambah parah?” Tanyaku.


“Kami belum menemukan siapa yang ingin menjatuhkanmu. Sampai kapan kau akan bungkam, dan melanjutkan vakum mu itu?”


“Aku ingin berhenti,” ucapku penuh keyakinan sambil menatap kedua mata pemimpin perusahaan itu. Go PD-nim menatapku pasrah kemudian menghembuskan nafas lelah seakan dia sudah tahu bahwa berhenti adalah jalan yang aku pilih.


“Kau yakin?” Tanyanya lagi. Sekejap aku bimbang. Aku lelah menghadapi media tapi di dalam sana ada sebuah harapan dimana karirku dapat mendarat dengan sempurna.


“Kau bisa vakum untuk waktu yang tidak ditentukan, kau bisa kembali saat sudah siap,” ucap Go PD-nim memberi jalan keluar dari kegundahanku. Aku menunduk mendengar ucapannya. Apa aku akan siap untuk kembali setelah vakum itu?


“Apa artikel terakhir yang mereka rilis?” Tanyaku. Aku benar-benar menutup diri dari berita sejak berita kencan Min-wook keluar.


“Pekerjaanmu di masa lalu,” jawab Go PD-nim.


“Go PD-nim,” panggilku lemah. Pria itu menoleh padaku.


“Apakah menjadi seorang bodyguard adalah sebuah skandal?” Tanyaku.


“Tentu tidak!” Sahut atasanku itu.


“Apa memiliki bekas luka juga adalah sebuah aib?” Aku bertanya sekali lagi.


“Chris, pulanglah, istirahatlah. Percayakan semua ini padaku,”


MY OWN KOREAN DRAMA


Sepuluh April


Jam baru saja berubah. Ini hari ulang tahunku. Aku membuka sosial media yang aku punya. Trister terus mengisi layar kecilku. Ini bukan hal yang aneh mengingat aku sudah di industri ini cukup lama. Rasa hangat menyelip di dalam dada melihat bahwa di luar sana masih banyak yang mengingat hari aku dilahirkan. Aku selalu berterima kasih pada Trister yang selalu membuatku merasa istimewa. Aku membalas beberapa dari mereka. Aku tahu bagaimana rasanya dibalas oleh idola kita maka dari itu aku meninggalkan beberapa jejak di unggahan mereka. Mungkin saja ini dapat memperbaiki hari mereka yang berantakan.


Saat ini Gu Boy sedang berada di luar kota. Seminggu ini mereka tidak berada di Seoul. Mereka bertujuh baru saja comeback, dan seperti yang kalian tahu industri musik Korea Selatan selalu gencar untuk mempromosikan bintang mereka. Aku akui bahwa hatiku berharap Min-wook kembali ke Seoul mungkin hanya untuk sekedar melihatku di hari ulang tahun meskipun itu sangat tidak mungkin terjadi.


Kembali aku menatap jam yang berkedip di sebelah televisi. Kini hampir jam dua pagi. Aku menghembuskan nafas lelah. Aku tidak tahu apakah aku boleh marah. Di satu sisi aku tahu sejak awal tentang resiko ini tapi di sisi lain aku ingin diperlakukan layaknya kekasih lainnya. Aku berjalan malas menuju kamar. Aku membiarkan tubuhku terlentang di atas kasur yang perlahan tenggelam ke alam mimpi.


Jam menunjukan pukul sepuluh saat aku membuka mata. Aku meraih ponsel di atas nakas melihat notifikasi yang masuk. Grup obrolan ‘PE Mungkin Generasi Pertama’ cukup ramai. Aku membukanya berharap Min-wook mengucapkan sesuatu.


Kim Il Hoon


Nuna!!!!


Walaupun terlambat dua jam


Selamat ulang tahun


Aku yang pertama mengucapkan di PE


ㅋㅋㅋㅋㅋ


Aku mencintaimu!!


Kim Jung Seo


Selamat ulang tahun Nuna!!!


Aku kedua!


Min Wook Ok


Selamat ulang tahun Nuna!!


Aku akan mentraktir Nuna saat pulang nanti.


Kim Hyun Sik


(photo)


Aku dan Eun Hyuk berharap Nuna tidak jadi meninggalkan perusahaan


ㅠㅠ


Ban Dae Ho


Jadi ulang tahun Nuna adalah 10 April?


Kim Il Hoon


Dae Ho Hyung sangat tidak perhatian


Lee Eun Hyuk


Aku tidak terkejut akan hal itu


Kim Hyun Sik


Ini pukul 2 pagi jangan meramaikan obrolan grup ini!


Nuna bisa terbangun karena kalian!!


Aku cukup tersentuh bagaimana anggota Gu Boy memperhatikanku. Aku tersenyum kecut saat Min-wook tidak mengucapkan apapun. Tidak seperti tahun lainnya, tahun ini Gu Boy sedang promosi lagu terbaru mereka. Aku yakin saat mengetik ucapan itu mereka ada di dalam mobil van yang sedang membawa mereka kembali ke penginapan. Setelah menjawab ucapan dari Gu Boy, aku bangkit dari kasur kemudian ke ruang tengah.


Malam berlalu, kini aku mengamati Ji Ah yang sedang menata kiriman yang datang ke perusahaan. Ketimbang ikut Ji Ah menyusun itu semua, aku memilih untuk duduk sambil memeluk kakiku di depan dada. Tahun-tahun sebelumnya Gu Boy akan datang nanti malam kemudian kami akan siaran langsung sambil membuka beberapa kado. Tahun ini aku sendirian.


“Chris!” Panggil Ji Ah di ambang pintu. Aku mendongak menatapnya. Ji Ah mengangkat sebuah kotak. Dari bungkusnya saja aku tahu jika itu adalah es krim. Aku bangkit dari sofa menghampiri Ji Ah. Setelah kuletakkan di atas meja dapur, aku membuka pembungkusnya. Ada sebuah kartu ucapan. Dae Ho sangat menggemaskan.


Selamat ulang tahun, Chris Nuna. Aku tidak pandai membuat ucapan, maafkan aku.


-Ban Dae Ho


Christina Mackenzie


(photo)


Terima kasih Dae Ho ssi


Bagaimana kau bisa tidak pandai membuat ucapan sedangkan lagu kalian selalu mendapatkan penghargaan?


Aku membuka tutup es krim itu. Mint choco! Ini sangat lezat. Andai saja ada Hyun Sik, dia akan membantuku menghabiskan es krim ini. Lebih seru lagi jika ketujuh pria itu ada disini. Apa benar aku merindukan mereka bertujuh? Aku menatap es krim itu cukup lama hingga bagian atasnya mulai meleleh. Aku segera menutup wadah es krim lalu memasukannya ke dalam kulkas. Aku menatap kado-kado di depanku. Rasa bahagia itu ada tapi rasa sepi jauh lebih memenuhi dadaku. Aku merindukan Min-wook.


Kado-kado terus berdatangan hingga sore. Seharian ini aku hanya duduk manis di apartemen melihat kado yang terus datang satu demi satu. Seperti saat ini, aku sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi hangat. Saat menengok ke jendela besar, pemandangan Sungai Han masih sama seperti sore  lainnya. Beberapa orang berlarian, bersepeda, menikmati kencan sore hari, dan kurasa ada dari mereka yang berulang tahun hari ini. Ulang tahun para artis tidak seindah yang kalian bayangkan. Beberapa dari kami juga kesepian di apartemen sendirian. Banyak roti yang berdatangan. Berbagai macam lilin dapat kami tiup. Kado murah hingga mahal kami terima. Satu hal yang sulit didapatkan, menikmati hari spesial ini bersama orang yang dicintai. Tidak semua orang dapat merasakan itu. Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran sofa, dan perlahan aku tertidur dengan pemandangan terakhir Sungai Han sore hari.


Aku kembali terbangun karena petir yang menyambar cukup keras. Aku menatap jam. Ini sudah bukan hari ulang tahunku. Aku mengambil cangkir yang aku gunakan untuk minum kopi hangat tadi lalu meletakkannya ke bak cuci piring. Aku merenggangkan tubuh sambil berjalan hendak kembali ke alam mimpi. Langkahku terhenti oleh bel pintu yang dibunyikan seseorang. Hari ulang tahunku bahkan sudah lewat untuk mengirimkan kado. Aku berjalan perlahan menuju pintu depan  kemudian membukanya. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan siapa yang ada di depanku kini. Min-wook. Pria yang aku nanti-nantikan seharian. Poni rambutnya yang acak-acakan, topi baseball hitam, kemeja putih, disempurnakan oleh syal abu-abu yang aku berikan saat Gu Boy debut. Sebelum Min-wook mengucap sepatah kata, aku menariknya, memeluknya erat. Rasanya semua beban di pundakku hilang entah kemana. Kupu-kupu berterbangan di dalam perutku. Aku benar-benar bahagia. Bahkan saat aku debut menjadi pemeran utama, aku tidak sebahagia ini. Sesaat aku tersadar, seharusnya mencintai seseorang membuatku sebahagia ini saat menemuinya. Aku bersyukur mengambil tindakan yang benar saat menemui Auriga kemarin. Kau tahu aku sempat berpikir bahwa aku harus mengubah lagu Happy Birthday menjadi Unhappy Birthday karena 10 April yang aku lalui tahun ini jauh dari ekspektasi, tapi sekarang semua ini akan menjadi ulang tahun terbaik yang pernah aku alami. Aku terus menatap Min-wook yang sedang makan di depanku. Sup rumput laut, eomuk tang, serta makgeolli.


“Nuna!” Panggil Min-wook. Aku mendongak dari mangkuk kemudian menatapnya.


“Ambillah kotak yang aku bawa tadi!” Perintah Min-wook. Aku bangkit dari kursi kemudian berjalan menuju kulkas. Kotak ini terbungkus kain satin putih yang diikat lagi oleh pita berwarna ungu. Mungkin kue ulang tahun.


“Bukalah!” Min-wook memberi perintah lagi. Aku menarik pita yang membungkus kotak ini. Kain satin putih yang membungkusnya ikut turun seiring pita yang ditarik. Aku tertegun cukup lama melihat kotak bening. Kue yang terbuat dari es krim mint choco.


“Ya! Mengapa kau beli mint choco jika kau tak menyukainya?” Aku mulai basa-basi. Aku melihat kue itu. Kepalaku menunduk sambil tersenyum.


“Kemarin aku selesai pukul satu dini hari kemudian segera kembali ke Seoul. Sebenarnya aku sudah memesan kue di tempat lain tapi sayangnya tidak sesuai keinginanku jadi seharian aku keliling Seoul untuk mencari kue yang aku inginkan,” ucap Min-wook menceritakan harinya.


“Bagaimana dengan jadwal mu?” Tanyaku sedikit khawatir.


“Aku mengambil penerbangan pukul empat nanti, aku sangat ingin menghabiskan hari bersama Nuna,” jawabnya memelas. Aku mengelus pipinya yang sedang mengunyah.


“Kita masih bisa merayakannya tahun depan,” hiburku lalu memeluknya dari samping. Min-wook meletakkan sumpitnya.


“Apa Nuna ingin jalan-jalan?” Tanya Min-wook menatap mataku.


“Bukankah kau harus ke bandara pukul empat?” Aku balik bertanya.


“Sungai Han?” Aku tertawa mendengarnya.


“Selesaikan makanmu kemudian kita turun ke bawah,” ucapku sambil mengembalikan sumpit ke tangan Min-wook.


Setelah selesai dengan meja makan, aku bergandengan tangan dengan Min-wook menyusuri jalanan Sungai Han. Aku yakin semua ini akan lebih indah jika kami berdua tidak perlu memikirkan orang-orang yang berusaha mencuri momen kami ini. Aku sangat ingin berjalan seperti ini ditemani oleh senja sore.


Suara kembang api menarik diriku dari angan-angan itu. Tangan Min-wook menahan diriku seakan memintaku untuk berhenti berjalan. Aku menatap wajah Min-wook. Bibirnya terangkat kemudian matanya menyipit menatap langit di atas Sungai Han. Kembang api kembali menghiasi langit malam. Aku terpana dengan pola yang dibuatnya. Aku tersenyum menunggu kembang api lainnya meluncur. Luncuran api mulai melawan gravitasi, dan saat itulah Min-wook menarik wajahku kemudian menempelkan bibirnya ke bibirku. Kupu-kupu kembali berterbangan di perutku. Semua ini lebih dari cukup. Thank you Min-wook for turning my unhappy birthday into a happy birthday.