My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 14 - The Coldest Winter



Musim dingin selalu dingin


Tapi musim dingin kali ini


Menusuk hingga ke tulang.


Matahari masih di atas kepala saat aku tiba di Bandara London Heathrow. Kurasa ini cuaca paling cerah yang pernah aku alami di London. Musim dingin tidak pernah secerah ini.  Meski terlihat terang, udara sama sekali tidak bersahabat. Aku merapatkan kembali mantelku sambil menarik koperku keluar pintu utama. Rasa dingin itu tak bertahan lama. Rombongan media segera mengerubungiku. Aku kembali masuk ke dalam gedung bandara menghindari kerumunan media itu. Tak lama orang-orang berbadan besar membelah lautan manusia tadi. Mereka pasti orang-orang yang dikirim Daddy. Orang-orang ini memang dapat menghalangi udara untuk membuatku menggigil tapi entah mengapa satu tangan terakhir yang terulur di Bandara Incheon lima belas jam yang lalu lebih hangat ketimbang pengawal sebanyak ini.


Perjalanan menuju rumah memakan waktu cukup lama. Jalanan London sudah tidak sama ketika aku meninggalkan negara ini enam tahun yang lalu. Jalanan menjadi lebih besar ditambah bersalju. Salju menutupi hampir keseluruhan pinggir jalanan. Ada beberapa anak-anak yang bermain di depan rumah mereka. Sekilas aku melihat kerumunan anak laki-laki yang membuat boneka salju. Berbeda kumpulan dari yang sebelumnya, kumpulan anak di luar sana membangun dua benteng yang berhadapan kemudian mulai melempar bola-bola salju. Melihat tawa lepas anak-anak itu membuatku terlempar ke ingatan musim dingin pertama saat aku di Seoul.


MY OWN KOREAN DRAMA


Januari 2012


Matahari sudah menampakkan diri dari Timur. Aku bersama trainee lainnya berjalan kaki menuju gedung PE. Setelah libur musim dingin dari perusahaan habis, semua trainee PE kembali ke dorm. Kegiatan di PE mulai berjalan seperti biasa namun sekolahan belum kembali dibuka. Biasanya trainee yang masih bersekolah akan datang sepulang sekolah sehingga yang berangkat di pagi hari hanya beberapa orang tapi kali ini seluruh isi dorm berjalan bersama membelah dinginnya musim dingin. Dalam tiga bulan saja entah sudah berapa trainee yang keluar masuk PE, aku bahkan tidak dapat mengingat nama mereka. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Untunglah lima orang itu masih bertahan. PE memang jarang menerima trainee perempuan, atau jika mereka menerima trainee perempuan, kebanyakan dari mereka diletakkan di line penari latar, dan dorm mereka berbeda dari trainee yang masuk ke line debut. Ternyata aku cukup beruntung dapat langsung masuk ke line debut padahal jika aku mengamati gerakan serta suaraku, mereka jauh lebih baik.


Aku berjalan kedua dari belakang bersebelahan dengan Hyun Sik. Dae Ho, dan Eun Hyuk berjalan berdampingan di belakangku sedangkan Min-wook serta Wook Ok berada di urutan depan. Entah apa yang dipikirkannya, Wook Ok berlari mendahului trainee lainnya kemudian mengambil salju membentuknya bulat-bulat. Salju bulat itu kemudian mendarat di lengan atas Park Min-wook. Tak terima dirinya dilempari salju, hyung tertua itu mengambil salju sembarangan kemudian melemparkannya pada maknae nakal satu itu. Melihat pertempuran salju di depan, seluruh trainee yang berjalan menuju studio PE tertawa seakan diberi tontonan gratis. Aku ikut tertawa melihat tingkah laku dua laki-laki itu. Dingin pagi bersalju tahun ini tak terlalu menusuk melihat tontonan hangat seperti itu. Aku tidak tahu bahwa musim dingin tetap dapat terasa hangat saat menyaksikan dua orang berkelahi dengan salju.


Akhir Februari 2012


Trainee mulai berguguran lagi. Kini kembali tersisa lima orang seperti saat aku datang pertama kali kesini. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjalani evaluasi bulanan dengan pesaing sebanyak itu karena aku sendiri hanya menjalani evaluasi itu sebagai formalitas. Kembali aku menatap kelima laki-laki yang sedang bersandar pada dinding restoran menunggu makanan mereka datang.


“Kudengar kita akan kedatangan satu member baru lagi,” ucap Hyun Sik membuka percakapan.


“Hanya satu orang?” Tanya Wook Ok heran.


“Kali ini trainee baru akan pergi ke dorm penari latar, dorm untuk line debut akan benar-benar berisi trainee yang didebutkan,” Hyun Sik menjelaskan.


“Kudengar dia dari Daegu,” tambah Eun Hyuk.


“Dia satu daerah denganmu!” Seru Min-wook sambil menepuk pundak Dae Ho yang duduk di sebelahnya.


“Apa grup kita akan menjadi grup rap?” Tanya Wook Ok lagi.


“Mengapa begitu?” Tanyaku heran karena tidak semua dari mereka datang ke PE dengan bakat rapping.


“Aku, Dae Ho Hyung, dan Hyun Sik pernah menjadi grup rap undercover,” Eun Hyuk menjelaskan.


“Apa kalian masih melakukannya?” Tanyaku lagi.


“Tidak.” Kali ini Hyun Sik yang menjawab.


“Kurasa tidak menjadi grup rap karena memiliki member sebanyak ini, bayangkan saja kita dapat membuat novel dengan satu album.” Min-wook mulai dengan candaannya yang sebenarnya tidak lucu. Sesaat meja menjadi sunyi lagi akibat candaan Min-wook.


“Ya, Hyung! Hentikan candaan tidak lucu itu!” Seru Wook Ok.


MY OWN KOREAN DRAMA


Begitulah musim dingin pertamaku di di Seoul. Aku tak pernah merasakan dinginnya hembusan udara musim dingin Korea Selatan karena ada tujuh laki-laki yang dapat menghangatkan udara dingin itu dengan pertengkaran, candaan, bahkan senyum mereka. Belum sampai sehari aku meninggalkan Korea Selatan, aku sudah merindukannya kembali.


Bangunan yang kusebut rumah masih sama seperti terakhir kali aku pergi. Jacob, kakak laki-lakiku berdiri di ambang pintu. Pria di akhir kepala tiga itu menarikku ke pelukannya. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali bertemu dengannya. Jacob merangkul bahuku lalu membawaku ke ruang makan. Daddy membuka tangannya untuk sebuah pelukan selamat datang kembali. Setelah memberi sebuah pelukan hangat, aku duduk di kursiku. Seharusnya kursi sebelahku diisi oleh Mommy. Aku sangat merindukannya. Dia meninggal karena kanker saat aku berusia empat tahun.


“How’s South Korea?” Tanya Jacob dengan gelas wine di salah satu tangannya. Aku menghampirinya yang berdiri di depan kaca besar di ruang tengah tentunya dengan gelas mahal di tanganku.


“I’ve already miss them,” ucapku mengekspresikan isi hati.


“Them? I think I should see him,” balas Jacob lagi dengan protektif. Dia akan selalu menjadi kakak yang protektif untukku.


“Actually, we broke up, there’s something I should have done with my past,” ucapku lagi. Aku tidak terbiasa berterus terang tentang cerita.


“If that thing -what you called past- is done, will he get back with you?” Tanya Jacob. Aku baru menyadari itu kini. Apakah Min-wook akan kembali menerimaku. Aku berdiam cukup lama sambil melempar tatapan kosong keluar sana.


“You’re a great woman, don’t be sad ‘cause one of the men on this earth. There’s a lot of mens on your waiting list.” Jacob berusaha mengembalikan keceriaanku.


“Hey, kids! I’m at my room if you need me,” ucap Daddy sebelum akhirnya menghilang menaiki tangga.


“Is it Auriga?” Tanya Jacob blak-blakan. Aku menunduk kemudian menghembus nafas kasar.


“****! Leave him!” Seru Jacob tak suka.


“I broke up with Min-wook for getting back with that ****,” ucapku sarkas.


“You know where to find me if you need something right?” Setelahnya Jacob ikut menghilang ke lantai atas.


Aku menegak habis isi gelasku sebelum akhirnya ikut menaiki tangga untuk masuk ke kamarku. Ruangan ini masih sama. Saat membuka pintu pertama kali, sofa abu akan menyambut dengan hangat. Jika menghadap ke kiri barulah ditemukan kasur. Tempat ini seharusnya lebih dari nyaman tapi entah mengapa tidak ada kenyamanan yang aku temukan seperti di Seoul. Ngomong-ngomong soal Seoul, aku teringat paper bag yang diberikan Su Ryeon Unnie saat di bandara.


Aku duduk di sofa abu sambil membuka perlahan paper bag pemberian Su Ryeon Unniei. Aku terkekeh saat mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Beberapa photo card lama Gu Boy adalah yang pertama kali keluar. Tanganku kembali mencari barang yang masih ada. Beberapa kertas yang ternyata adalah resep membuat eomuk tang. Barang yang menjadi penutup adalah sebuah buku jurnal yang masih kosong dengan sebuah surat yang diselipkan diantara lembar kertas.


Tulislah kisahmu disini, bawalah saat kau kembali ke Seoul.


Aku tersenyum menatap barang-barang yang akan selalu mengingatkan diriku pada Seoul. Aku mengambil kembali ketujuh photo card yang berada di atas sofa.  Tanganku berhenti pada foto milik Min-wook. Dia sama sekali tak berubah sejak enam tahun yang lalu. Bahkan aku tidak dapat menemukan perbedaan tatapan di foto itu dengan tatapan terakhir kami di bandara. Aku merindukan Min-wook.


Matahari sudah tidak menampakkan diri di luar sana. Jendela yang tadinya mempersilahkan cahaya matahari masuk, berubah menjadi gelap. Kini aku duduk di meja kerja yang berada di dekat sofa. Aku membuka kembali macbook lama yang tidak pernah keluar dari rumah ini. Untunglah perangkat ini masih dapat menyala. Aku berseluncur di laman pencarian. Entah mengapa jariku mengetik beberapa kata kunci mengenai Trine, dan Gu Boy. Jariku berhenti pada kemenangan Gu Boy hari ini. Di penghujung tahun pun, Gu Boy kembali memperoleh penghargaan. Kali ini bukan sekedar penghargaan, Gu Boy mendapatkan daesang. Aku menatap layar di depanku cukup lama hingga aku sadar bahwa keputusanku kemarin akan aku sesali seumur hidupku. Air mengalir melalui sudut mataku.


MY OWN KOREAN DRAMA


Aku menatap diriku di kaca. Pantulan gadis di sana tidak memancarkan kehangatan. Gaun satin hitam yang menampilkan bentuk tubuhnya memancarkan aura kesedihan mengikuti raut gadis itu. Aku menunduk kemudian berjalan keluar kamar. Seperti pergantian tahun kebanyakan, Daddy mengadakan pesta yang mengundang beberapa kolega kerjanya. Aku menuruni tangga melingkar perlahan. Ruang pesta cukup ramai dengan beberapa tamu undangan yang sudah hadir. Aku berjalan perlahan menyapa tamu-tamu Daddy yang tentu saja aku tidak tahu namanya. Langkahku terhenti saat melihat Auriga dari kejauhan. Tatapan kami bertemu sepersekian detik. Auriga mulai melangkah ke arahku namun aku segera berbalik kemudian berjalan menjauh. Saat hampir menyentuh anak tangga, tanganku ditarik. Tatapan Auriga menjadi pemandangan pertamaku saat berbalik.


“Hey, Sis!” Seru Jacob yang cukup mengejutkan diriku. Syukurlah! Jacob datang di waktu yang tepat.


“Kita perlu bicara,” pinta Auriga masih memegang tanganku.


“I need my sister now, can you let her go?” Jacob kembali bersuara berusaha menyelamatkanku. Merasa kalah, Auriga melepas tanganku membiarkan diriku menaiki tangga bersama Jacob.


“Thank you,” ucapku pada Jacob saat tiba di dalam kamar.


“Are you okay?” Tanya Jacob khawatir.


“Did Daddy invite him?” Tanyaku tak suka.


“Daddy invite Dilaeni, she usually attend the party alone,” jawab Jacob dengan tatapan bersalah. Kamarku kemudian menjadi sunyi.


“Can I ask you something?” Jacob kembali memecah kesunyian. Aku mendongak menatapnya mengiyakan.


“Why are you falling for him?” Tanya Jacob yang membuatku mengendus geli.


“I was young and dumb, that’s all,” jawabku sarkas.


“Do you still love him?” Tanya Jacob lagi.


“Are you kidding me?” Jawabku dengan pertanyaan.


“No, I mean the boy from Korea,” jelas Jacob


“Min-wook?” Tanyaku heran. Aku tidak tahu Jacob akan mengungkit Min-wook.


“You still love him,” ucap Jacob. Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan, dan itu sangat menohokku. Aku mengucap putus saat aku masih sangat mencintainya.


“How about you? Why are you inviting your ex wife to this party?” Tanyaku balik. Sekedar memperjelas pertanyaanku, Jacob sudah menikah namun memutuskan untuk berpisah musim dingin tahun lalu. Alasannya sendiri aku tidak tahu, kurasa itu juga bukan hal untuk dibicarakan.


“Last December was the coldest winter ever. I didn’t want to feel the same wind,” jawab Jacob sedih.


“You still love her,” ucapku. Kurasa keluarga Mckenzie memang tidak pintar dalam urusan percintaan.


MY OWN KOREAN DRAMA


Aku memasang mantel pada pundakku sebelum keluar ke taman belakang. Udara yang bertiup jauh dari kata hangat. Lampu taman tidak seluruhnya menyala. Beberapa jalan kecil nyaris tak terlihat. Dari jauh aku melihat seseorang bertubuh kekar berjalan ke arahku. Dia pasti Auriga.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanyaku tanpa basa-basi.


“Kapan kau akan menyusulku?” Tanyanya tak mau kalah.


“Sudah kubilang setelah pergantian tahun,” jawabku dengan nada tinggi.


“Aku akan kembali tanggal tiga, ikutlah denganku,” ajak Auriga mendesak. Sebenarnya aku sama sekali tidak berencana menyusulnya. Aku berencana mengulur waktu selama mungkin sembari aku menyusun rencana untuk terlepas darinya.


“Mengapa kau sangat mendesakku?” Tanyaku tak suka.


“Kau tahu hidupku tak lama lagi.” Ada sedikit rasa sesak saat mendengarnya hanya saja caranya memintaku kembali sangat tidak berkenan di hati.


“Usia hubunganku juga tak lama karenamu! Kini kau memaksaku untuk kembali menerimamu setelah lima tahun aku membiarkan seseorang menanti tanpa kejelasan?!” Bentakku dengan nada semakin tinggi. Untuk beberapa saat Auriga terpaku di tempatnya dengan tatapan menyedihkan.


“Aku… aku hanya ingin menghabiskan hari-hari terakhirku dengan orang yang aku cintai tapi nyatanya dia memedulikan pria lain,” ucap Auriga sarkas. Amarah semakin membara di dalamku.


“Lalu dimana dirimu saat aku menghabiskan hari-hariku kehilangan arah, menapaki jalan yang tidak pernah kupikirkan, merintis karir, saat aku lelah, saat aku mulai menyerah, dimana dirimu?” Tanyaku dengan nada rendah namun sarkastik. Suara isakan Auriga mulai memecah dinginnya malam.


“Tidak bisakah dirimu kembali seperti dulu saat kau masih memilihku?” Tanya Auriga lagi dengan suara sengau.


“Sudah kubilang biarkan kenangan tetap menjadi kenangan,” tekanku.


“Jika kau tidak ingin menjadi kenangan itu, bisakah kita membuat kenangan lain?”


“Kau ingin aku bersandiwara untuk akhir hidupmu?” Tanyaku melembut. Bagaimanapun pria di depanku ini pernah menjadi alasan aku ingin segera kembali bertemu. Dia pernah menjadi alasan aku ingin segera pulih dari luka tembakan enam tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah benar-benar tega membiarkannya seperti ini.


“Jika itu diperlukan maka lakukanlah.” Dan ucapan Auriga dengan tatapan kosong yang seakan menjadi pelengkap musim salju terdingin yang terjadi dalam hidupku. Disusul oleh letusan bunga api di langit seakan memeteraikan perjanjian tak tertulis di antara kami. Inilah musim salju terdingin yang mungkin akan disusul oleh musim semi tersepi, musim panas paling kering hingga musim gugur paling sendu. Aku harap Min-wook dapat menantiku dengan sabar seperti enam tahun yang lalu.