
Pertengahan Mei 2017
“Nuna yakin dengan ini?” Tanya Min-wook sambil menatap lembaran yang sudah ditandatangani. Aku mengangguk kemudian tersenyum lemah. Apartemenku kembali hening. Artikel yang diterbitkan Rispact semakin menjadi-jadi. Aku sangat yakin ada orang di belakang penata rias itu. Keputusan ini sudah bulat. Aku tidak mungkin kembali ke layar kaca dengan artikel-artikel itu. Tidak setelah Rispact mempublikasikan kencanku bersama Min-wook.
“Kalau begitu kapan Nuna kembali?” Min-wook kembali bertanya. Aku menatap jari tangan yang tersimpul di atas pangkuanku. Aku mendongak, menatap Min-wook dalam. Pria di depanku ini bisa menjadi korban artikel-artikel itu, dan ini langkah yang aku ambil untuk menghindari artikel lainnya.
“Entahlah, vakum kali ini untuk waktu yang tidak ditentukan,” jawabku hati-hati. Dari wajahnya aku bisa melihat kekecewaan yang tidak terungkap. Min-wook menarikku ke dalam pelukannya kemudian tangisku pecah.
“Aku bisa mengunjungi Nuna saat hari liburku,” ucap Min-wook berusaha menenangkan. Aku menarik diri dari pelukan Min-wook kemudian mengecup bibirnya sekilas.
MY OWN KOREAN DRAMA
Kini aku mau membawa kalian pada akhir 2017. Waktu memang cepat berlalu. Seperti cerita kebanyakan lainnya, kejadian tidak penting tidak akan dituliskan. Tahun lalu aku menatap Auriga dari atas panggung sebagai pembawa acara tapi kali ini menatapnya duduk di restoran mewah di tengah sibuknya kota Seoul.
30 Desember 2017
Di dalam ruangan ini hanya ada aku, dan Auriga. Pemandangan kota Seoul di malam hari menjadi poin utama dibalik harga sewa ruangan yang tinggi. Aku memotong perlahan daging di depanku. Setelah menelannya, aku menyesap anggur beralkohol dari dalam gelas tinggi. Aku selalu suka dengan sensasi ini. Aku memejamkan mata sesaat menikmati rasa yang sangat memanjakan lidahku. Kombinasi ini selalu tepat. Aku mendongak menatap Auriga di depanku. Pria ini mengajakku bertemu sebelum dia kembali ke Yogyakarta. Aku menatapnya dalam. Aku juga akan meninggalkan Korea Selatan malam ini. Semua pekerjaan sudah aku selesaikan, dan aku ingin meninggalkan negara ini untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Itu bisa sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, atau kemungkinan terburuknya, selamanya. Aku kembali pada Auriga di depanku. Dia tidak tahu bahwa aku juga akan pergi.
“Selain itu, aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah putus dengan kekasihku kemarin, kami tidak menemukan titik terang untuk hubungan kami,” ucap Auriga kemudian kembali memotong dagingnya. Aku meletakkan gelas kemudian kembali memotong daging didepanku. Aku tak menghiraukan ucapannya.
“Sejujurnya aku putus karena aku belum bisa melupakanmu,” tambah Auriga kemudian mendengus. Aku tetap memotong daging kemudian memakannya, berusaha tidak menghiraukan ucapannya.
“Aku tidak ingin mengatakan ini tapi aku hanya dapat bertahan hidup selama enam bulan. Kanker hati stadium akhir.” Auriga seakan membuka kartu terakhirnya. Gerakan tanganku berhenti seketika. Aku menatap ke mata Auriga. Apa ini caranya mendapatkan aku kembali? Jika ya, dia berhasil. Hatiku kembali jatuh pada dirinya.
“Apa itu akal-akalan agar aku memperhatikanmu?” Tanyaku kasar.
“Meresmikan gedung kemarin adalah tugas terakhir yang aku lakukan. Setelah ini aku akan kembali ke Jogja dan menikmati tepi laut menunggu hari kematianku,” ucap Auriga lagi yang sangat mengiris hatiku. Aku menatap ke arah lain berusaha menahan air mata. Ini sungguh menyesakkan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada Min-wook setelah ini tapi satu hal pasti aku benar-benar ingin kembali pada Auriga kemudian mendekapnya erat berharap dia tidak akan meninggal.
“Apa kau melakukan pengobatan?” Tanyaku masih berusaha menahan tangisku.
“Untuk apa aku berusaha untuk sembuh, lebih baik aku menikmati hidup, minum penahan rasa sakit dua tahun sebelum kematian bukan hal yang sulit,” jawab Auriga santai masih menikmati makanannya. Aku menatap pria yang memiliki ciuman pertamaku. Cukup lama aku menatapnya hingga sebuah kenyataan menamparku, aku baru saja berselingkuh. Aku mendengus kemudian tersenyum sarkastik.
“Apa itu juga kau?” Tanyaku penuh sarkasme.
“Apa?” Tanya Auriga santai kemudian memasukkan sepotong daging ke mulutnya.
“Skandal kencan Min-wook, dan pekerjaan di masa lalu?” Tanyaku dengan nada lebih sarkas. Seketika tangan Auriga berhenti di depan mulutnya. Aku menatapnya lalu tertawa sinis.
“Setelah berusaha menjatuhkan karir dan kekasihku, kau ingin menjebakku?” Tanyaku lebih kasar. Auriga meletakkan garpu, dan pisaunya kemudian menatapku cukup lama.
“Matikan alat perekam itu!” Perintahku dengan nada rendah namun mengintimidasi. Sejak duduk di kursi ini aku sudah dapat melihat sinar merah dari dalam jasnya itu. Auriga merogoh saku kemeja lalu melempar benda hitam kecil itu ke atas meja.
“Bagian mana yang harus aku percaya, dan bagian mana yang merupakan tipu muslihatmu?” Tanyaku tanpa basa-basi lagi. Aku cukup kecewa pada diriku sendiri karena hampir jatuh pada lidahnya.
“Aku benar-benar terkena kanker, dan aku benar-benar hanya memiliki enam bulan,” jawabnya menatapku dengan tatapan marahnya.
“Mengapa kau melakukan semua itu?” Tanyaku lagi.
“Bukankah sudah jelas? Aku tidak mampu berpaling darimu,” jawab Auriga kemudian mengambil kasar gelasnya.
“Apa aku perlu mengeluarkan artikel yang lebih mengerikan?” Tanyanya setengah mengancam. Aku benci suasana ini. Aku benci bagaimana dia memutar-mutar isi gelasnya. Aku menelan ludah kemudian menjawab, “dan apa artikel itu?”
“Bahwa kau mengencani atasanmu? Mem-bully pegawai baru? Berusaha menutupi identitasmu saat bekerja di tempatku?” Auriga sungguh licik. Sial! Mengapa dulu aku jatuh dalam pesonanya? Auriga tidak salah, aku dan Auriga saat itu memang atasan dan bawahan saat itu. Mengapa dulu aku juga jahat pada R (baca : The Brightest of Aquila). Berita kencan, pekerjaan di masa lalu, bekas luka, dan kini mengencani atasan? Sialan! Aku tidak habis pikir apa yang sebenarnya sudah aku lakukan di masa lalu. Aku membuang muka ke pemandangan kota Seoul.
“Jika aku kembali padamu, lalu apa? Apa yang kau janjikan padaku?” Tanyaku lagi.
“Kenyamanan, tidak akan ada skandal yang terbit, apapun yang kau inginkan,” jawab Auriga masih memutar-mutar isi gelasnya. Aku mengendus kasar. Ini bukan pendaratan yang aku inginkan.
“Baiklah!” Seruku. Auriga menghentikan tangannya kemudian menatapku dengan salah satu alis terangkat.
MY OWN KOREAN DRAMA
Langkah kakiku menuju kembali ke lantai tempat aku tinggal. Suara ketukan heels mengisi sepanjang lorong ketika berjalan. Gaun selutut yang aku gunakan terasa menekan perutku berlebihan. Setelah sampai di depan pintu unit milikku, aku membuka kembali pintu utamanya kemudian melangkah masuk. Seluruh ruangan kosong. Aku kesini bukan untuk pulang. Aku hanya ingin melihat tempat yang pernah aku sebut rumah mungkin untuk terakhir kalinya karena aku tidak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Tempat ini masih sama seperti pertama kali aku datang. Ingatanku terlempar ke dua tahun lalu. Aku mendatangi tempat ini bersama Min-wook dan Hyun Sik. Kami bertiga langsung jatuh cinta saat pertama kali menginjakkan kaki di unit ini. Pemandangan Sungai Han yang terhampar luas ditambah langit-langit yang tinggi. Tempat ini sungguh sempurna untuk dijadikan rumah. Aku akan merindukan tempat ini.
Aku menghampiri jendela besar yang membuatku jatuh cinta pada unit ini. Langit di luar telah berubah menjadi gelap. Dari sini aku semakin mengerti mengapa Chris jatuh cinta pada tempat ini. Pemandangan orang-orang yang berlarian membuat pikiran yang kalang kabut menjadi lebih tenang. Aku berbalik menatap ruangan yang sudah kosong. Disini aku pernah merayakan daesang pertamaku, merayakan drama yang dibintangi mendapat rating tertinggi, bahkan disini aku berkencan. Aku terlarut pada ingatan yang pernah aku lalui di tempat ini. Terhitung mulai pukul 12 malam nanti, tempat ini bukan lagi milikku. Entah mengapa aku merasa begitu sedih karena harus berpisah dengan tempat ini.
Aku menutup kembali pintu dengan penuh rasa rindu. Langkahku kembali ke lantai bawah. Mobil perusahaan telah tiba, begitu juga Ji Ah. Mereka siap mengantarku untuk kembali ke asalku. Musim dingin terasa lebih dingin saat mengingat bahwa aku akan meninggalkan negara ini sebelum tahun berganti. Jalanan cukup padat mengingat besok adalah hari terakhir di tahun 2017. Salju menutupi tanaman-tanaman yang tumbuh di tepi jalan. Sesaat aku iri pada tanaman-tanaman itu karena akan terus berada di sana hingga mati.
Mobil berhenti di depan pintu masuk lantas tak lama pintuku terbuka. Aku menurunkan salah satu kaki lalu sebuah tangan terulur padaku. Aku mendongak mencari pemilik tangan itu. Park Min-wook, kekasihku. Aku tersenyum kemudian menerima uluran tangannya. Di seberang sana media yang sadar kedatanganku mulai gaduh. Min-wook terus menggenggam tanganku hingga kami mencapai pintu terakhir Min-wook dapat mengantarku. Dari tempatku berdiri, aku dapat melihat betapa kesusahannya para bodyguard menahan media untuk tidak mendekat. Aku memeluk member Gu Boy satu per satu. Dimulai dari Hyun Sik kemudian Dae Ho. Eun Hyuk sedikit mengeluarkan air mata saat aku memberikan pelukan padanya. Makna line memelukku secara bersamaan. Tangisku ikut pecah saat melihat Il Hoon berlinang air mata. Aku memeluk kembali Il Hoon hingga tenang.
“Nuna akan sering-sering menghubungimu,” usahaku menenangkan Il Hoon. Laki-laki satu ini memang memiliki hati paling lembut dari member lainnya.
“Aku akan membawakan Nuna es krim mint choco saat berkunjung,” ucap Dae Ho berusaha mencerahkan kembali suasana sendu.
“Jangan terburu untuk pulang, ambil waktu sebanyak yang kau inginkan setelah siap untuk kembali barulah temui aku,” ucap Ji Ah saat memelukku. Omong-omong tentang Ji Ah, dia akan menjadi asisten Jae Eon sementara. Aku melihat Su Ryeon Unnie dan Go PD-nim berjalan mendekat pada kami. Su Ryeon Unnie membawa sebuah paper bag yang cukup besar.
“Makanlah ini sangat merindukan Korea Selatan,” ucap Su Ryeon Unnie sambil menyodorkan paper bag yang dibawanya.
“Jaga dirimu baik-baik!” Go PD-nim memberi pesan. Aku tersenyum menanggapinya. Aku berbalik menatap Min-wook. Aku tersenyum menatapnya. Aku mengambil sebuah amplop dari dalam saku mantel.
“Bacalah ini saat kau sudah sampai di apartemen,” ucapku sambil memasukkan sebuah surat ke kantong mantelnya.
“Bukalah ini saat kau lepas landas,” ucap Min-wook sambil memasukan sebuah kotak ke dalam kantong mantelku. Aku tersenyum pahit mengingat isi suratku.
Aku berjalan ke gerbang terakhir mereka dapat mengantar. Aku melambaikan salah tangan pada mereka lalu berbalik melangkah dengan pasti seakan aku tidak akan kembali. Aku menatap wajah mereka satu per satu. Semuanya terlihat baik-baik saja. Aku sendiri juga baik-baik saja.
Seperti pesan Min-wook aku mengambil kotak dari kantong mantelku. Kotak ini berwarna ungu dengan pita merah muda. Aku menarik ikatan pitanya hingga terlepas. Penutup kotak kutarik hingga lepas. Sebuah kalung dengan liontin bunga maehwa putih. Aku mengambil kertas yang terletak di bawah kalung itu.
Dear Christina Mackenzie
Aku akan sangat merindukanmu. Gunakan kalung ini saat kembali ke Korea Selatan, itu akan menjadi pertanda bahwa kau juga merindukanku.
Park Min-wook.
Air mataku mulai mengalir. Rasa bersalah mulai menyebar ke seluruh hatiku. Dadaku seakan ditekan dengan keras sehingga oksigen sulit untuk masuk. Aku tersedu sendirian. Aku menggenggam kalung itu dengan penuh pilu. Jika aku tahu Min-wook akan memberikan ini, seharusnya jangan aku berikan surat itu. Aku tahu bagaimana rasanya saat membaca surat itu.
MY OWN KOREAN DRAMA
“Aku akan kembali padamu,” ucapku tegas yang membuat Auriga mengalihkan pandangannya kepadaku.
“Tiket akan…”
“Aku akan kembali ke London malam ini, dan berita itu akan dirilis satu jam sebelum aku ke bandara, aku akan menyusulmu ke Indonesia setelah pergantian tahun,” ucapku tak terbantahkan. Aku tidak akan terlena lagi. Setelah merelakan Min-wook, aku tidak ingin merelakan hal lain. Auriga mengangguk-angguk lalu meletakkan gelasnya.
“Baiklah sampai juga di tahun 2018.”
Setelah Auriga pergi, aku menuliskan surat terakhir untuk Min-wook. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan dengan cara seperti ini tapi aku juga tidak mungkin mengatakannya di hadapan member Gu Boy. Aku tidak akan mungkin tega melihat mata sedihnya selagi berjalan meninggalkan Korea Selatan. Jika kalian merasa bingung mengapa aku mengambil keputusan ini, mari ku jelaskan. Mungkin jika kalian membaca kisahku ini terasa biasa saja karena kalian mengambil pihakku dan Min-wook jadi saat Auriga kutinggalkan demi bersama Min-wook kalian akan bahagia. Cobalah ambil sisi lain. Orang yang tidak menyukai hubunganku dan Min-wook dapat menjadikan ini sebagai senjata untuk menjatuhkanku maupun Min-wook, dan jika Min-wook jatuh ingatlah masih ada enam orang lainnya yang terhubung padanya. Satu hal lagi yang perlu kalian tahu, hubungan antara atasan dan bawahan tidak dapat dipandang romantis, semua drama-drama yang kalian lihat hanyalah dramatisir pekerja seni.
Kepada Yang Terkasih
Park Min-wook
Ini Chris. Ada banyak cara untuk mengatakan ini tapi aku lebih memilih menuliskannya. Hubungan kita nyaris kita jalani selama satu tahun. Kau tahu ini memang menyedihkan. Ada berbagai macam penyebab kesedihan tapi kau tahu penyebab kesedihan paling dahsyat yang pernah kualami, perpisahan. A sadness called goodbye. Itu terdengar bagus untuk menjadi sebuah judul lagu. Miris rasanya untuk mengatakan ini tapi kita harus berpisah. Tolong jangan lagi hubungi aku. Pada intinya aku tidak bisa lagi bersamamu. Karir Gu Boy akan berada di ujung tanduk jika kita tetap bersama. Tolong sampaikan maafku pada Go PD-nim karena sudah membuat kerusuhan di gedung PE untuk kedua kalinya, Jika kita ditakdirkan bertemu kembali, tanyakanlah alasannya karena untuk saat ini aku tidak mampu melukai hatimu meskipun aku sudah melakukannya.
Christina Mackenzie.