
Lelah,
Menyakitkan,
Takut.
Blood, sweat, and tears.
Aku bersalaman setelah membubuhkan namaku di atas kertas. Kontrak ini berlangsung selama lima tahun. Aku tidak tahu apakah itu jangka waktu yang normal atau tidak yang terpenting kini aku resmi menjadi trainee di Purple Entertainment. Aku akan mulai latihan mulai pekan depan setelah pindah ke dorm. Go PD-nim tersenyum kepadaku kemudian mengantarku sampai depan pintu kantornya. Aku harap kelak tidak ada penyesalan yang tersisa.
Berbeda dari tempat tinggalku sebelumnya, tempat ini lebih besar dengan dua kamar. Memang jauh dari kata mewah tapi ini lebih baik. Aku membawa masuk koperku ke ruang tamu yang masih kosong.
“Apa aku akan tinggal disini sendirian?” Tanyaku pada Lee Su Ryeon yang menemaniku dari tadi.
“Jika ada trainee perempuan lain bergabung, mereka akan tinggal denganmu tapi untuk sementara sepertinya begitu, kau harus tinggal sendirian,” jawab wanita yang berada di akhir kepala tiga itu.
“Baiklah, Kwangjanim,” ucapku sambil membungkuk.
“Kau bisa memanggilku Unnie, perusahaan ini terlalu kecil untuk menerapkan panggilan seperti itu di luar gedung,” pinta Lee Su Ryeon lagi. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Oh, kamar sebelah juga trainee dari perusahaan kita, kau bisa pergi bersama mereka sesekali,” Su Ryeon Unnie memberi tahuku.
Aku menangguk kemudian tersenyum.
“Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik,”
“Aku akan mengantarmu ke bawah, Unnie,” ucapku dengan sedikit kaku saat mengucapkan unnie. Itu hal yang baru untukku. Lee Su Ryeon tersenyum saat aku mengatakan itu.
Ada dua orang laki-laki yang keluar dari kamar sebelah saat aku mengantar Su Ryeon Unnie turun. Mereka membungkuk memberi salam.
“Apa dia trainee perempuan baru itu, Nuna?” Tanya salah satu dari mereka yang menggunakan kacamata kotak. Tanpa perlu mengenal, laki-laki ini memiliki karisma yang kuat. Wajahnya tak setampan aktor ataupun idol yang kulihat di layar kaca namun aura yang dihasilkan seakan bicara siapa dirinya sebenarnya. Ternyata berita seperti ini cepat menyebar. Mereka bahkan tahu bahwa akan ada trainee baru di perusahaan mereka.
“Perkenalkan, ini Christina McKenzie,” kata Unnie. Aku membungkuk sambil tersenyum kepada mereka.
“Kim Hyun Sik,” kata laki-laki yang menggunakan kacamata kotak itu sambil sedikit membungkuk.
“Min Wook Ok,” ucap laki-laki yang lain. Berbeda dari Kim Hyun Sik, Min Wook Ok sepertinya lebih muda. Wajahnya kecil, dan manis. Meskipun tidak memiliki karisma seperti Kim Hyun Sik, Min Wook Ok memiliki aura misterius yang mampu membuat perempuan manapun terpikat. Sepertinya aku harus menghafalkan banyak nama setelah ini.
Aku kembali ke kamarku setelah mengantar Su Ryeon Unnie ke bawah. Aku duduk di tengah ruang tamu yang masih kosong. Tempat ini terasa sangat kosong. Pikiranku kembali berkenalan menemui Auriga. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan kini. Apa dia sudah makan? Dimana dia tinggal kini? Apa dia baik-baik saja tanpaku? Aku benci mengakui ini tapi aku merindukannya. Sebuah ketukan di pintu menarik anganku dari Auriga. Aku membuka pintu depan.
“Annyeong!” Sapa salah satu dari mereka sambil membungkuk. Laki-laki itu tersenyum lebar. Aku dapat merasakan aura ceria saat menatap wajahnya.
“Kami akan pergi makan, apa kau ingin ikut?” Tanya Kim Hyun Sik.
“Aku baru saja makan tapi apa aku boleh tetap ikut?” Tanyaku. Aku memang baru saja makan sebelum tiba di tempat ini tapi ikut keluar dari tempat ini bukan ide buruk sepertinya.
“Tentu!” Seru anak laki-laki yang menyapaku untuk pertama kali tadi.
Kami berenam berjalan menuju tempat makan yang katanya tak jauh dari dorm. Aku berjalan di samping Hyun Sik. Wook Ok berjalan di belakang bersama laki-laki yang belum aku kenal sedangkan anak laki-laki yang menyapaku pertama tadi berjalan di depanku bersama laki-laki yang sangat pendiam. Selama perjalanan aku, dan Hyun Sik membicarakan banyak hal. Dari bagaimana dirinya tertarik pada industri ini hingga caranya terdampar dengan empat member lainnya. Kelima laki-laki ini sedang dipersiapkan untuk debut tapi mereka tidak tahu kapan pastinya.
Setelah berjalan setidaknya sepuluh menit, kami tiba di sebuah tempat makan. Tiap member memesan satu porsi eomuk tang. Aku belum pernah makan ini sebelumnya jadi aku tidak berani ikut memesannya. Laki-laki yang menyapaku pertama tadi pindah duduk di sebelahku saat makanan tiba.
“Apa kau ingin mencicipinya, Nuna?” Tanya anak laki-laki ini.
“Kau bahkan belum kenal padanya, mengapa memanggilnya ‘nuna’, Eun Hyuk!” Seru laki-laki yang tadi berjalan di samping Wook Ok. Aku tertawa geli mendengar bagaimana mereka mulai berdebat.
“Namaku Christina McKenzie, kalian bisa memanggilku Chris,” ucapku mengenalkan diri memecah perdebatan mereka.
“Namaku Lee Eun Hyuk, aku kelahiran tahun 94,” ucap laki-laki yang menawarkan mangkuknya padaku tadi.
“Kukira tidak ada yang lebih tua dari Min-wook Hyung,” ucap Wook Ok di ujung meja. Laki-laki yang merasa namanya disebut langsung melotot, dan berseru tak terima.
“Aku kelahiran tahun 90,” ucapku.
“Benarkah? Kau tidak terlihat lebih tua dariku,” ucap laki-laki yang tadi kusebut pendiam. “Aku Ban Dae Ho,” aku tersenyum padanya sambil berkata, “senang berkenalan denganmu Ban Dae Ho -ssi.”
“Kau tidak perlu seformal itu, kita sudah menjadi satu perusahaan, dan tidak ada penyebutan seperti itu di perusahaan kami,” ucap Hyun Sik. Perkataannya persis seperti apa yang dikatakan Su Ryeon Unnie tadi.
“Aku belum terbiasa dengan itu, selama aku di Korea penyapaan terlihat sangat penting,” ucapku tak enak.
“Memang benar Chris penyapaan sangat penting bagi orang Korea tapi Seok Jung Hyung tidak menyukai itu, mereka sangat menikmati panggilan akrab dengan para karyawannya,” tambah laki-laki yang sedari tadi bertengkar dengan Wook Ok.
“Seok Jung, maksudmu PD-nim?” tanyaku tidak memastikan.
“Dia PD-nim, CEO Purple Entertainment, dan juga suami Su Ryeon Nuna, dan kami juga tidak mengerti mengapa dia mengijinkan kami memanggilnya ‘hyung’ di luar gedung,” tambah Eun Hyuk yang mulai menggigit eomuk miliknya.
“Ya! Eun Hyuk! Tadi kau membiarkan Nuna untuk mencicipinya mengapa kau sudah menggigitnya?!” Seru Min-wook . Laki-laki ini selalu mempermasalahkan apapun sepertinya. Aku terpingkal melihat bagaimana lima laki-laki ini berdebat. Entah bagaimana mereka dapat sedekat ini tapi satu hal yang aku sadari, aku iri akan kedekatan mereka. Aku juga ingin memiliki orang-orang yang selalu ada untukku seperti ini.
Setelah hari itu, aku semakin dekat dengan lima laki-laki itu. Setiap hari aku akan berangkat menuju studio bersama Hyun Sik, Eun Hyuk yang menawariku eomuk miliknya, Dae Ho si pendiam, dan Park Min-wook laki-laki yang selalu mempermasalahkan apapun. Wook Ok akan menyusul ke studio setelah pulang sekolah. Kini aku mengerti mengapa Wook Ok, dan Min-wook selalu bertengkar. Wook Ok adalah maknae di grup ini, dan Min-wook adalah maknae di keluarganya. Walau keadaan akan selalu gaduh saat mereka bertemu, aku tetap menyukai keduanya.
Tiga bulan berlalu. Aku masih dengan rutinitasku menjadi trainee di Purple Entertainment, dan aku masih tetap menjadi satu-satunya trainee perempuan di tempat itu. Kelas tari akan berakhir sebentar lagi. Aku menatap jam dinding yang terus berdetak. Aku benar-benar lelah. Tentu saja bukan hanya aku yang lelah disini. Aku dapat melihat lima laki-laki itu yang mulai menjadikan lantai sebagai kasur. Sebenarnya trainee di tempat ini tidak hanya kami. Kata Hyun Sik kami berenam adalah orang-orang yang dipilih untuk disebutkan di waktu dekat sedangkan lainnya bisa jadi akan dijadikan penari latar atau bahkan dibiarkan tanpa harapan. Industri ini sangat kejam.
Pintu studio terbuka menampilkan Su Ryeon Unnie. Wanita itu mengamati seluruh ruangan kemudian berhenti di aku, “Christina -ssi tolong pergi ke lantai atas setelah latihan hari ini selesai, Go PD-nim ingin bertemu denganmu.” Aku mengangguk sambil berkata, “Baik, Kwangjanim.”
“Kau tak akan dikeluarkan bukan?” ucap Eun Hyuk.
“Ya! Mana bisa begitu?! Aku akan maju jika Chris kita dikeluarkan!” Seru Min-wook tak terima. Aku tersenyum kecut memikirkan fakta bahwa aku bisa saja dikeluarkan hari ini.
Seorang laki-laki keluar dari ruangan Go PD-nim saat aku tiba di depan pintu. Mata laki-laki itu memerah, kurasa karena menangis. Aku menelan ludah berat. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Bulu kudukku meremang. Aku mengetuk pintu kemudian membukanya perlahan. Go PD-nim, dan Su Ryeon Unnie duduk di sofa panjang. Aku duduk di sofa seberang mereka setelah dipersilahkan. Keadaan sangat hening. Go PD-nim membaca map berwarna biru muda dengan seksama.
“Perkembanganmu selama tiga bulan terakhir sangat baik, ini luar biasa,” ucapnya kemudian tersenyum padaku. Aku sedikit lega dengan ucapan pembukaannya. Aku tersenyum penuh hormat menanggapi ucapannya.
“Permasalahannya, kami tidak mendebutkan girl group dalam waktu dekat,” Su Ryeon Unnie menimpali. Jantungku seakan berhenti beberapa saat.
“Orang sepertimu sangat sayang untuk menunggu terlalu lama disini, dirimu bahkan memiliki nilai sempurna.” Kali ini Go PD-nim yang kembali bersuara. Aku menelan ludah berat lagi. Aku kembali menelan rasa kecut.
“Aku kenal beberapa agensi yang sedang mencari orang untuk ditempatkan di debut line yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, tapi aku perlu suaramu untuk melakukan itu,” Go PD-nim masuk ke dalam pembicaraan utama kali ini. Aku menunduk. Aku sangat menyukai tempat ini. Walaupun fasilitas yang diberikan sangat jauh jika dibandingkan dengan agensi Big Three, aku tetap menyukai tempat ini. Aku tidak ingin meninggalkan tempat dimana aku berbagi lelah. Lima laki-laki itu adalah jawaban utama dari ketidak inginan ku pergi dari sini.
“Apa tidak ada pilihan selain meninggalkan Purple Entertainment?” Tanyaku ciut.
“Menjadi aktris,” timpal Su Ryeon Unnie santai.
“Ya! Kau sendiri tahu kita belum siap untuk itu!” Seru Go PD-nim tak terima. Aku mengangkat wajahku menatap dua orang dewasa di depanku ini.
“Apa yang akan terjadi jika aku memaksa untuk debut sebagai aktris di agensi ini?” Tanyaku hati-hati. Go PD-nim menghembuskan nafas kasar.
“Kau tidak akan mendapatkan fasilitas dengan maksimal,” ucap Go PD-nim dengan raut sedih.
“Baiklah,” ucapku. Go PD-nim mengangkat kepalanya kaget.
“Kau akan pindah agensi?” Tanya Su Ryeon Unnie sedih.
“Tidak, aku akan menjadi aktris,” ucapku yakin. Aku dapat melihat binar bahagia di mata Su Ryeon Unnie. Berbanding terbalik dari istrinya, Go PD-nim memancarkan tatapan sedih atau mungkin lebih ke menyesal.
Go PD-nim bukan orang jahat. Dia sangat baik. Tujuannya memintaku untuk pindah agensi adalah agar aku bisa debut secepatnya. Beliau sangat sadar bahwa agensinya belum mampu untuk mendebutkan aktris karena kurangnya dana, tapi aku mengambil resiko itu. Kurasa fasilitas tidak akan mempengaruhi kinerjaku. Daripada aku kehilangan tempat berbagi lelah, lebih baik aku kekurangan fasilitas. Aku memang tidak tahu bagaimana jalan di depanku tapi satu hal yang aku yakini, aku tidak ingin kembali kehilangan orang-orang yang pernah berbagi adegan kehidupan yang sama denganku.
Seperti drama di layar kaca kebanyakan, pemeran utama akan memulai sesuatu dari bawah. Dari segala kekurangan kemudian menjadi sukses. Ada hal-hal yang harus dikorbankan, dan dipertahankan. Akan banyak keringat yang keluar, air mata yang mengalir, bahkan darah yang menetes tapi itulah esensi perjuangan. Blood, sweat, and tears.