
Spesial,
Romantis,
Tak terlupakan.
First kiss.
Itulah yang kupikirkan saat mendengar kata first kiss. Maka dari itu aku ingin kembali bersama Auriga. Aku memaknai ciuman pertama sebagai suatu hal yang sangat spesial. Mengapa? Karena kita tidak akan dapat menghitung berapa kali kita berciuman saat kita sudah jatuh cinta maka dari itu ciuman pertama sangat spesial seperti apapun ciuman pertama itu sendiri.
Episode pertama drama ku hampir habis. Seharusnya sebentar lagi adegan itu muncul. Aku tersenyum kecil mengingat adegan ambigu itu. Ketujuh laki-laki itu benar-benar fokus menatap layar kaca. Aku tidak sabar melihat kekecewaan mereka. Saat adegan itu muncul, keadaan benar-benar senyap. Aku masih ingat bagaimana drone mondar-mandir mengambil gambarku, dan aktor itu. Aku menghitung mundur di dalam hati.
Lima
Empat
Tiga
Dua
Satu
Boom
“Ya!” Seru Il Hoon yang kemudian disusul anggota lainnya. Aku mengamati wajah kecewa mereka satu per satu. Tatapanku berhenti pada Min-wook yang malah menarik salah satu sudut bibirnya sambil menatap layar kaca.
“Aku sudah berharap melihat sesuatu yang lebih,” ucap Eun Hyuk pura-pura sedih. Aku tergelak melihat laki-laki ini pura-pura kecewa.
Aku mengantar mereka turun ke bawah untuk pulang ke dorm mereka. Aku berjalan di belakang bersama Min-wook. Aku merasa kecil saat berdiri di sebelahnya. Tinggi badanku tidak melebihi telinganya.
“Apa kau benar-benar berciuman di adegan itu?” Bisik Min-wook saat kami menuruni tangga. Aku mengendus geli lalu menjawab, “tunggulah episode selanjutnya.” Min-wook berdecak kecewa.
“Kurasa kau menamparnya di episode selanjutnya,” ucap Min-wook. Astaga, dia benar. Aku lawan mainku. Aku menyipitkan mataku kemudian membalas, “apa kau mengintip syuting kami?” kemudian kami berdua tergelak tawa.
“Dae Ho ya! Giringlah adik-adikmu kembali ke dorm, Hyung akan pergi minum bersama Nuna,” ucap Min-wook sambil menutup pintu taksi. Aku menatap Min-wook bingung. Dari tadi dia tidak membahas tentang minum denganku.
“Kita tidak membahas untuk pergi minum sedari tadi,” ucapku saat taksi sudah pergi. Min-wook tidak mengatakan apapun selain menarik coat yang kugunakan.
“Aku masih penasaran siapa dia,” ucapku saat Min-wook mulai menegak isi kalengnya.
“Kau akan segera tahu,” ucap Min-wook saat meletakkan kalengnya ke atas meja.
“Kau akan mengajaknya kencan?” Tanyaku penasaran.
“Tidak,” jawabnya yang tidak terlalu mengejutkanku.
“Kau tidak ingin membuat skandal? Dia juga selebritis?” Tanyaku menuntut.
“Nuna akan segera tahu,” jawabnya sendu. Aku semakin penasaran siapa gadis ini.
“Kau tahu, dalam drama pemerannya tidak selalu datang di awal, terkadang mereka muncul di pertengahan bahkan akhir cerita. Kau tak perlu muncul sekarang jika menurutmu itu hanya akan menimbulkan luka. Kau bisa muncul di pertengahan atau akhir,” ujarku memberinya nasihat.
“Aku juga berpikir begitu, tapi bagaimana jika dia memilih pria lain karena aku tidak menyatakan perasaanku?”
“Kalau begitu, biarkan takdir yang bekerja. Terkadang aku tidak mengerti mengapa penulis menciptakan akhir cerita yang jauh dari ekspektasi, setelah kupikirkan lagi ternyata itulah yang disebut takdir,”
MY OWN KOREAN DRAMA
“Kalau begitu, biarkan takdir yang bekerja. Terkadang aku tidak mengerti mengapa penulis menciptakan akhir cerita yang jauh dari ekspektasi, setelah kupikirkan lagi ternyata itulah yang disebut takdir,” jawab Chris yang sangat bijak sebenarnya hanya saja hatiku terlalu sakit untuk menerimanya.
“Takdir,” ucapku mengulangi ucapan Chris.
“Kau tahu, sejujurnya aku tidak sepenuhnya mempercayai takdir, sebaiknya kau lupakan apa yang aku katakan,” ucap Chris sedikit tergesa.
“Mengapa?” Tanyaku.
“Jangan sampai dirimu mempercayai takdir hingga takut mengambil resiko seperti aku. Aku penasaran apa yang akan terjadi jika hari itu aku memilih untuk tetap bersamanya, ikuti kata hatimu, takdir hanyalah kambing hitam kegagalan,” ucap Chris yang berbeda jauh dari ucapannya yang tadi. Aku tersenyum meresapi ucapan Chris.
“Ayo!” Ajakku sambil berdiri. Chris menatapku bingung. Aku menarik lengan coat yang dikenakannya sambil berkata “aku akan mengantarmu pulang.”
Aku mengantarnya sampai dengan pintu kamar apartemen. Keadaan sedikit canggung. Chris tersenyum sambil menekan sandi di pintu. Aku menarik tangannya saat pintu terbuka kemudian mengambil satu langkah besar sehingga Chris mundur juga satu langkah. Tanganku yang lain meraih rahangnya lalu aku menempelkan bibirku pada bibirnya. Aku memejamkan mata. Kugerakkan sedikit bibirku lalu menarik diri.
“Aku menyukaimu, Nuna.” ucapku. Chris membuka mata kemudian menunduk.
“Jadi gadis itu aku?” Tanya Chris masih tetap menunduk. Aku mendorong pelan dagunya agar menatap mataku lalu berkata “gadis itu adalah Nuna.”
“Ini sudah larut, sebaiknya kau segera pulang,” usir Chris halus. Aku menghembus nafas kasar lalu berkata, “aku baru saja ditolak.”
“Lalu mengapa kau menciumku sekarang?” Tanya Chris polos. Aku terkekeh kecil lalu menjawab, “agar aku tidak menyesal.” Chris kembali menunduk malu.
“Kau tahu bukan aku masih memiliki Auriga?” Tanya Chris lagi. Aku menatapnya sesaat kemudian menjawab, “aku akan merebut tempatnya itu.” Kemudian aku berbalik meninggalkan Chris. Aku tidak berbohong. Aku akan merebut tempat Auriga itu.
Setelah hari itu aku sama sekali tidak bertemu Chris. Aku sibuk dengan kegiatan dengan Gu Boy. Entah kapan aku akan bertemu lagi dengannya. Aku iri dengan Hyun Sik yang dapat menelpon Chris kapanpun dirinya membutuhkan Chris. Jujur saja aku merasa aneh jika harus menelpon Chris tanpa alasan.
Sebulan tidak melihat wajah Chris memunculkan sebuah perasaan aneh. Hari ini aku akan berangkat ke Amerika untuk promosi grup kami. Kini semua anggota berkumpul di studio bersiap berangkat ke bandara. Aku berharap Chris datang, setidaknya aku dapat melihat wajahnya sebentar sebelum aku pergi. Aku duduk di lantai sambil mengamati jam tangan. Sebentar lagi kami akan benar-benar pergi.
“Nuna!” Seru Il Hoon yang membuatku mendongak mencari wajah orang yang disebutnya. Dia disana. Chris diambang pintu memeluk trio maknae. Dia masih sama seperti terakhir kali kami bertemu. Dia masih sama meskipun aku telah menciumnya. Berbanding balik denganku yang kacau luar dalam. Chris memberikan syal ke setiap member Gu Boy termasuk aku. Syal ini terbuat dari wol berwarna abu. Setiap ujung syal memiliki inisial nama kami, seperti milikku : M-w. Aku tidak tahu bahwa Nuna bisa semanis ini.
Aku duduk manis di pesawat. Aku duduk di dekat jendela bersebelahan dengan Hyun Sik. Tiba-tiba aku teringat syal pemberian Chris. Aku membuka tas ransel yang sengaja tidak kumasukan ke kabin pesawat. Aku membuka lipatan syal, sebuah amplop berwarna kuning mustard jatuh. Aku mengambilnya kemudian membuka amplop itu.
Spesial,
Romantis,
Tak terlupakan.
First kiss.
Mungkin itu bukan ciuman pertamaku, tapi kurasa itu lebih spesial.
XChristina McKenzie
Sejujurnya ada rasa sakit di dadaku saat membaca kalimat terakhir. Itu bukan ciuman pertama Chris padahal aku sangat berharap itu pertama bagiku ataupun Chris. Entahlah ada sedikit rasa kecewa. Apa Chris menyesali ciuman pertamanya?
“Hyung!” Seru Hyun Sik sambil menutup mulutnya.
“Kau mencium Nuna?!” bisik Hyun Sik dengan nada teriak. Aku menyikut Hyun Sik kemudian memasukan kembali kertas ke dalam amplopnya.
“Tenang saja aku tidak berkencan, aku hanya menyatakan perasaanku,” ucapku menjawab kecemasan Hyun Sik.
Jika ada yang bertanya seberapa pentingnya ciuman pertama untukku, itu sangat penting. Aku sama sekali tidak menyarankan pada kalian untuk memberikan ciuman pertama pada orang yang tidak kalian nikahi. Meskipun begitu, aku tidak ingin menyesali ciuman pertamaku, setidaknya dia adalah orang yang aku cintai. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Bagaimana menurutmu? Seberapa penting ciuman pertama?