My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 19 - Sudut Pandang



April 2019


Hatiku cukup merindukan set syuting. Hari ini aku ditemani Ji Ah untuk membaca skrip dengan para pemain lainnya. Aku cukup gugup karena lawan mainku kali ini adalah Park Hae In. Dia cukup terkenal. Jung Seo juga mengenalnya cukup dekat.


Kembali pada hari ini, semangat itu kembali. Aku rasa hiatus memang perlu, lihatlah kini aku sangat bersemangat seperti pertama kali membintangi drama. Beberapa kali kami tertawa akibat nada yang dirasa aneh untuk dialog. Seseorang masuk ke dalam ruangan saat ruangan senyap. Dia Min-wook.


“Ya! Ini dia bintang kita!” Sambut produser drama ini.


“Annyeonghaseyo PD-nim” salam Min-wook sambil membungkukkan badan. Duniaku senyap sesaat melihat Min-wook yang tiba-tiba masuk ruangan. Aku sama sekali tidak tahu bahwa kami akan terlibat dalam satu proyek.


“Park Min-wook ssi adalah bintang dadakan,” ucap PD-nim kemudian tertawa kecil. “Dia akan mengisi karakter mata-mata tanpa nama.” Sambung PD-nim lagi. Isi kepalaku berkelana cukup lama sampai akhirnya menyadari bahwa Min-wook hanya menjadi figuran. Aku cukup lega menyadari itu, tapi disisi lain terselip rasa kecewa.


MY OWN KOREAN DRAMA


Bau harum stroberi berterbangan di sekitar saat aku turun dari van. Lee Ji Hyun tampak membungkuk beberapa kali kepada halmoni sebelum akhirnya menyadari kehadiranku. Aku memanggil halmoni lalu memeluknya.


“Aigoo, cucu nenek satu ini tetap seperti bayi,” ucap halmoni masih dengan aku di dalam pelukannya.


“Aku hanya akan diam sebentar disini sebelum aku syuting kembali,” ucapku


“Halmoni sangat yakin itu adalah keputusan terbaik!” Sahut halmoni sambil tersenyum.


“Terima kasih halmoni,” ucapku tulus kemudian memeluk halmoni lebih erat lagi.


Tak banyak yang aku lakukan disini. Aku menikmati makan malam bersama halmoni kemudian menonton televisi bersamanya. Ada beberapa saat aku merindukan momen ini, hidup layaknya orang lain tapi terkadang kehidupan seorang Trine McKenzie juga membuatku rindu. Halmoni masuk ke dalam kamarnya saat jam menunjukkan pukul delapan, sedangkan aku keluar menuju ke teras rumah yang menghadap langsung ke perkebunan. Cahaya bulan menyinariku, dan saat itulah Lee Ji Hyun menghampiriku.


“Bulan malam ini indah bukan?” Tanyaku basa-basi. Lee Ji Hyun mendengus geli.


“Christina-ssi, keindahan itu hanya sesaat.”


“Bukankah itu indah? Dia berani menampakkan dirinya dari balik awan,”


“Begitukah?” Tanyanya entah ke siapa.


“Ada yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku kali ini tanpa basa-basi.


“Apa maksudmu?” Tanyaku tak paham.


“Selama ini, aku adalah orang Auriga. Aku adalah mata-mata.”


“Bagaimana mungkin? Kau bahkan sudah disini jauh sebelum aku tiba disini,”


“Auriga adalah orang yang gila kontrol, begitu Auriga jatuh hati padamu, aku langsung diterbangkan kesini. Setiap minggu aku harus mengirimkan laporan ke Aquila Mansion.” Jawab Ji Hyun dengan tetap menatapku dalam. Aku terdiam tidak tahu harus bereaksi apa pada pengakuannya.


“Lalu mengapa kau mengakui semua itu sekarang?” Tanyaku.


“Hari ini aku mengundurkan diri setelah diperintah oleh Nyonya Dialeni. Aku hanya merasa kau perlu tahu itu, aku ingin memastikan perasaan Auriga benar-benar sampai padamu,” ucapnya.


“Aku tidak pernah menganggapnya jahat, hanya saja sudut pandang orang akan berbeda tentangnya tergantung dari sisi mana, bagiku dia akan tetap menjadi cinta pertama yang memiliki ruang tersendiri,” jelasku padanya. Benar, dari sudut pandangku Auriga akan selalu menjadi cinta pertama Christina McKenzie.


“Aku senang mendengarnya.” Ji Hyun menutup percakapan dengan senyum.


MY OWN KOREAN DRAMA


Aku masuk ke dalam kamar saat malam semakin larut. Aku menggelar kasur lipat tempatku beristirahat malam ini. Aku mengambil tasku. Sebuah kotak putih tertangkap indera penglihatan. Entah mengapa baru sekarang aku menyadari kotak itu masih disana. Album terbaru milik Gu Boy. Aku mengeluarkan kotak putih itu. Sebenarnya aku sudah memiliki satu di apartemen maka dari itu aku tidak terlalu antusias membuka saat Hyun Sik memberikannya padaku. Album ini sudah tidak tersegel. Aku membuka halaman depan lebih dahulu yang berisi urutan lagu Gu Boy di album ini. Rupanya album ini merupakan bagian kedua. Mataku terpaku pada lagu urutan keenam. Crisis. Tulisan itu dicoret lalu ditulis Love Poem di sampingnya menggunakan tinta biru tua. Sebuah amplop jatuh dari album itu. Amplop itu berwarna hitam. Min-wook Park. Nama itu tertera di atas amplop.


Aku terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Apa yang sebenarnya Min-wook inginkan. Perlahan aku membuka amplop itu kemudian mengeluarkan isinya. Sebuah kertas dan sebuah kartu akses apartemen.


Entah mengapa aku menuliskan ini. Aku hanya merasa kita tidak harus menjadi seperti ini. Aku merasa ada hal-hal yang belum selesai di antara kita. Jika memang berpisah adalah keputusan terbaik, maka mari lakukan. Jika tidak, datanglah padaku.


-Park Min-wook.


Surat ini sudah 8 bulan dituliskan. Entah apakah ini masih berlaku atau tidak. Surat ini membebani diriku. Ada beban rindu terselip di antara kata yang tertulis. Surat ini membuatku kembali mengalirkan sungai yang sudah lama surut. Hatiku tidak mampu berbohong lagi. Surat ini memang tidak ditulis oleh cinta pertamaku tapi surat ini mampu membangkitkan kembali hati yang dilukai cinta pertama.


Aku memeluk diriku sendiri dengan nafas terengah karena tangis. Aku tidak tahu bahwa ada kemungkinan ini. Delapan tahun yang lalu saat aku tiba di Daegu, tak terlintas sama sekali dalam benakku bahwa akan ada cinta baru yang datang menghampiriku. Semakin jauh aku pergi, sudut pandang baru akan terus berdatangan, dan saat itulah aku akan menyadari bahwa tidak ada hal yang pasti dalam hidup ini.


Sudut pandang Lee Ji Hyun tidak salah, dia hanya membela orang yang mempekerjakannya, dia hanya mendapatkan sudut pandang sebagai seorang mata-mata. Tempat aku melihat pun berbeda, aku menutup kisahku dengan Auriga, dan tanpa sengaja membuka lembaran baru bersama Min-wook. Setiap orang memiliki cerita mereka sendiri. Seseorang dapat menjadi pemeran utama di cerita seseorang namun dapat juga menjadi figuran di cerita yang lain. Satu hal yang pasti, keputusan akan diambil dari mana kita melihat sebuah kisah. Entah apakah orang lain setuju dengan keputusan itu atau tidak, kita adalah pemegang kekuasaan terbesar dalam cerita kita sendiri.