My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 16 - Setelah Hujan Berlalu



Pelangi


Entah mengapa semua orang berpikir hal itu setelah hujan


Tidak hanya pelangi yang muncul setelah hujan


Biar aku ceritakan milikku


Aquila, dan Nyonya Dilaeni mengantarku ke stasiun kereta pagi ini. Aku menyeret koper yang sama seperti saat aku tiba di negara ini. Auriga tidak diijinkan ikut. Nyonya Dilaeni benar-benar mengambil tongkat estafet untuk menjinakkan Auriga. Aku melepas pelukan Aquila untuk memeluk Nyonya Dilaeni.


“Terima kasih telah mengantarku,” ucapku saat melepaskan pelukan. Aku berjalan menjauh dari kedua orang itu. Aku menengok sekali sebelum akhirnya menghilang ke peron.


Hingga hari ini belum ada seorangpun mengenali diriku sebagai Trine McKenzie. Entah karena penampilanku atau karena aku dapat berbahasa Indonesia lancar. Aku mengangkat koperku ke dalam kereta sebelum akhirnya mencari tempat dudukku. Seorang gadis duduk di kursi dekat jendela tepat di sebelahku. Perawakannya kecil, rambut hitamnya menjuntai panjang. Kulitnya putih kekuningan. Gadis itu sibuk mengetik di laptop pangkuannya hingga tidak sadar kedatanganku. Kepala gadis itu mendongak saat aku duduk di sebelahnya. Bibir gadis itu melengkung menyambutku. Senyuman itu sungguh manis. Aku membalasnya dengan senyuman.


Aku menatap lembar tiket di tanganku. Semarang. Aku bahkan baru tahu nama kota itu saat memesan tiket kemarin malam. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku memilih kota itu. Aku menyelipkan tiket itu ke dalam jurnal yang kubawa.


“Orang Semarang juga?” Tanya gadis di sebelahku dengan logat yang menurutku baru. Gadis itu menutup laptopnya lalu memasukkan ke dalam tas ranselnya.


“Bukan, saya hanya berlibur,” jawabku kemudian diangguki gadis itu.


“Anda sendiri orang asli Semarang?” Tanyaku balik.


“Iya,” jawabnya sambil menatapku.


“Ada sedikit rekomendasi?” Pintaku.


“Ehm orang-orang biasanya datang ke Lawang Sewu, Kota Lama, jujur aja aku nggak terlalu ngerti tempat-tempat di kotaku sendiri. Aku kuliah di Singapura jadi ya… aku lebih tau Singapura,” jawabnya.


“Saya juga seperti Anda, saya lahir di London tapi saya lebih mengenal Seoul,” jawabku.


“Kamu kuliah di Korea? Oh! Kamu mirip dengan Trine!” Ucap gadis itu setengah berteriak. Aku meletakkan jari ke depan bibirku.


“Saya kesini untuk berlibur,” bisikku. Gadis itu mengerjapkan mata tak percaya.


“Ah, aku Calya, senang berbincang denganmu!” ucapnya tiba-tiba memperkenalkan diri. Aku dapat melihat kemurnian dalam mata gadis itu saat mengucapkannya. Percakapan kemudian mengalir dengan natural hingga kami tiba di Stasiun Tawang Semarang.


MY OWN KOREAN DRAMA


“Kamu dijemput?” Tanya Calya saat turun dari kereta.


“Tidak,” jawabku jujur.


“Kamu nginep dimana?” Tanyanya lagi.


“Belum tahu, mungkin di sekitar sini saja,” jawabku lagi.


“Jadi kamu nggak punya tujuan?” Tanya Calya lagi yang aku angguki.


“Tidur tempatku aja, aku tinggal sendirian,” ucapnya yang entah menawari atau menyuruhku. Aku berhenti berjalan kemudian menatapnya.


“Tenang, aku bukan sasaeng,” jawabnya seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan.


“Mengapa Anda begitu baik? Kita baru saja bertemu,” Tanyaku sedikit heran.


“Kau pergi ke kota lain tanpa manajer, tanpa jadwal, tanpa tujuan. Aku rasa ada sesuatu yang tidak bisa kau ceritakan pada orang lain, dan aku pernah ada di posisi itu. Aku hanya ingin kau tidak melalui hari-hari seperti itu sendirian,” jelas Calya. Aku tersenyum mendengar jawabannya.


MY OWN KOREAN DRAMA


Aku akhirnya benar-benar tinggal di apartemen Calya. Seakan lembaran baru terbuka semenjak aku tiba di Semarang. Kini orang yang mendominasi hariku adalah Calya. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke London atau ke Seoul, aku sangat nyaman tinggal disini. Bukan kota yang terlalu ramai tapi juga tipikal kota yang sepi. Kota ini sangat cocok untukku. Aku menatap langit malam lewat jendela ruang tamu.


“Kau suka tinggal disini?” Tanya Calya sembari memberikan segelas kopi. Berbeda dengan Korea Selatan yang penduduknya rata-rata penggemar americano, kopi satu ini lebih manis sehingga memanjakan lidah.


“Disini sunyi, berbeda dengan Seoul. Lagipula aku seakan hidup dengan identitas baru, tidak ada yang langsung mengenaliku,” jawabku. Suasana hening seketika setelahnya.


“Kopi apa ini?” Tanyaku kembali mengisi atmosfer sepi.


“Moccacino,” jawab Calya kemudian menyesap cangkirnya.


“Saya jarang meminumnya,” ujarku.


“Aku terlalu sering meminumnya, bahkan kisah hidupku terkadang terasa seperti moccacino,” ucapnya kemudian mengendus geli. Aku menatap isi cangkirku.


“Memang apa isi moccacino?”  Tanyaku masih menatap cangkir di tanganku.


“Kopi, cokelat, dan susu,”


“Pahit bertemu manis,” ujarku.


“Jadi Anda adalah penulis buku?” Tanyaku basa-basi. Calya menunduk memainkan gelasnya. Aku menyesap kembali cairan dari dalam gelasku.


“Apa kau ingin menjadi penulis?” Tanya Calya.


“Entahlah, aku bimbang, aku juga ingin berhenti dari industri hiburan Korea,” jawabku.


“Ada saatnya kau berhenti dari apa yang sudah kau mulai. Tidak ada salahnya kita meninggalkan hal besar yang sudah kita mulai. Bahkan Steve Jobs dipecat dari perusahaan yang dibangunnya sendiri, ada saatnya kita meninggalkan semua kenyamanan itu untuk mencari kenyamanan yang sebenarnya kita inginkan,”


“Anda pasti adalah penulis buku yang handal,” pujiku. Calya tersenyum mendengarnya.


“Kau sendiri tidak ingin mencoba menulis ceritamu?” Tanya Calya.


“Apa menurutmu akan ada orang yang membaca cerita itu?” Tanyaku balik.


“Sebenarnya jika kau mencantumkan namamu disitu, sudah pasti itu akan laku keras, tapi jika kau menggunakan nama pena yang benar-benar beda, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama,” jawab Calya bijak.


“Kurasa tidak ada salahnya mencoba.”


MY OWN KOREAN DRAMA


Setelah tinggal di Semarang beberapa waktu, aku mengetahui sebuah fakta baru. Tidak selamanya pelangi akan muncul setelah hujan, terkadang matahari lebih akan menggantikan posisi pelangi setelah hujan. Satu purnama berlalu, dan selama itulah aku tinggal di apartemen Calya. Selama itu juga aku mengetikkan satu per satu kata hingga menjadi sebuah cerita yang utuh yang tentu saja dibantu oleh Calya. Kini Calya menjadi salah satu orang yang penting dalam kisahku. Mungkin kami belum lama berkenalan, dan juga keberadaannya dalam kisahku tak sering muncul tapi aku tahu bahwa kami akan menjalin persahabatan yang baik. Seperti hari ini, dimana Calya mengantarku ke bandara untuk kembali ke Seoul. Sebenarnya aku sangat ingin tinggal di Semarang selamanya tapi kurasa aku harus segera kembali ke dunia nyata. Selain ancaman dari Auriga telah berhenti, aku sangat merindukan Min-wook.


Sebulan adalah waktu yang panjang karena aku tidak memiliki jadwal apapun. Selama itulah aku akan berpikir tentang apa yang aku inginkan dalam hidupku. Ternyata aku sudah membuang banyak waktu dengan hidup menggunakan identitas lain. Sudah saatnya aku kembali menjadi Christina Mackenzie.


Ji Ah menatapku sumringah ketika aku melangkahkan kaki ke arahnya. Tidak ada penjagaan ketat apalagi Gu Boy. Hanya ada Ji Ah, dan mobil van yang menunggu di parkiran. Sepertinya kepulanganku tidak diberitakan dimanapun. Aku menyandarkan punggungku saat mobil mulai melaju membelah ibukota Korea Selatan ini. Aku merogoh saku celanaku. Kalung dengan liontin bunga Maehwa.


“Sebenarnya mengapa kau tiba-tiba kembali ke Seoul? Baru sebulan kau pergi,” Ji Ah membuka percakapan.


“Aku akan berhenti menjadi artis.” Ucapku yakin masih menatap liontin pemberian Min-wook. Ya, alasan terbesar aku kembali ke Seoul adalah untuk berhenti menjalani kehidupan yang tidak aku inginkan, seperti saran Calya.


“Aku sudah tahu kau akan mengambil keputusan itu,” ucap Ji Ah.


“Aku ingin memulai karir sebagai penulis,” ujarku.


“Apa kau bertemu dengan seorang penulis?” Tanya Ji Ah yang seolah membaca pikiranku.


“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyaku heran.


“Aku sudah mengenalmu cukup lama,” jawabnya dari kursi depan. Aku melempar pandang keluar mobil yang terus membelah jalanan Incheon. Salju masih menutup sebagian besar jalanan.


“Apa berita itu sudah keluar?” Tanyaku memastikan. Selama di Indonesia aku sama sekali tidak berusaha mencari tahu berita apa yang sedang panas di Korea.


“Berita apa? Skandal kencanmu? Go PD-nim menutup seluruh media,” jawab Ji Ah santai.


“Mengapa Go PD-nim sangat baik?” Ucapku pada udara. Aku menjadi tidak enak hati untuk mengundurkan diri dari Purple Entertainment.


MY OWN KOREAN DRAMA


Setelah kembali ke Korea, aku kembali pada kehidupan seorang aktris. Tidak ada yang tahu alasan dibalik hiatus ku kecuali aku dan Auriga. Aku kembali syuting, tidak sulit bagiku mengambil kembali proyek drama. Seorang aktris tidak akan banyak terdampak saat diterpa skandal kencan namun tetap saja aku masih dapat melihat beberapa komentar buruk di sosial media Gu Boy. Komentar pedas itu sangat menyakiti hatiku.


Hari terus berlalu hingga tanpa terasa musim semi kembali bersamaan dengan bunga Maehwa bermekaran. Salju mencair bersamaan dengan aku yang terus menunggu untuk bertemu Gu Boy. Semenjak memenangkan daesang, Gu Boy menjadi lebih sibuk hingga berpapasan di gedung pun aku tidak pernah.


Agendaku hari ini adalah melihat ruang kerjaku di gedung perusahaan. Sebulan lalu akhirnya aku memberanikan diri untuk mengundurkan diri namun entah mengapa Go PD-nim malah menawarkanku sebuah ruangan untuk dapat fokus menulis. Hatiku semakin enggan untuk mengajukan penolakan.


Aku membuka pintu ruangan baruku. Ruangan gelap berubah menjadi terang disusul dengan confetti yang meletus. Aku terperanjat lalu menyadari bahwa pelakunya adalah mereka, Gu Boy. Tidak-tidak, mereka tidak full team. Menyadari tidak lengkapnya anggota yang hadir mencubit hatiku sesaat. Aku segera tersenyum lalu memarahi mereka.


“Sejak kapan kalian menjadi senakal ini?!” Omelku pada mereka. Maknae line hanya tertawa puas. Eun Hyuk berjalan ke arahku lalu memelukku sopan.


“We miss you so much, Nuna.” Ucap Eun Hyuk kemudian melepas pelukannya. Aku menatap keempat orang di depanku.


“Ah! Aku terlambat!” Ucap seseorang di belakangku. Dia Il Hoon yang membawa es krim choco-mint di tangannya. Di belakang Il Hoon ada Dae Ho yang menatapku datar seperti biasa. Ya, hanya mereka berenam.


“Selamat Nuna, aku sangat bahagia untukmu.” Ucap Dae Ho datar kemudian menuju sofa di ruanganku lalu menghempaskan dirinya untuk tidur.


“Apa kalian ingin makan?” Tanyaku.


“Apa kita bisa makan sambil menonton drama di apartemen Nuna?” Tanya Wook Ok.


“Tentu, ayo kita ke apartemenku, aku akan memesan makanan.”


M**Y OWN KOREAN DRAMA**


Hujan akan selalu turun, dan pelangi adalah hal yang pasti muncul setelahnya. Sejauh yang kuingat pelangi tidak selalu muncul dengan indah. Ada kalanya pelangi tidak terlalu terlihat karena langit masih bersedih. Ada kalanya juga matahari terlalu terik hingga keindahan pelangi tidak nampak. Hujan selalu berkonotasi kesedihan, dan pelangi adalah hasil indah dari kesedihan yang mampu dilewati, tetapi mengapa setelah hujan berlalu tidak ada pelangi di langitku?