My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 9 - True Love Will Never End



Cinta sejati,


Akhir sebuah kisah,


Realitas.


True love will never end.


Ini Min-wook lagi. Sekarang tanggal 20 Januari 2017. Hari Senin kemarin aku baru saja pergi kencan dengan Chris. Sejujurnya aku sangat senang saat akhirnya dia mau pergi untuk kencan pertama. Menunggu empat tahun setelah ciuman pertama sama sekali tidak mudah. Berdiam selama enam tahun setelah bertemu pertama kali membuatku seakan di neraka, tapi kini aku dapat bernafas lega karena semua itu sudah berhenti. Memang aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi aku akan berusaha yang terbaik.


Nama Gu Boy dipanggil untuk naik ke atas panggung. Jadwalku hari ini adalah promosi di acara musik, dan lagu kami dipertandingkan. Lawan kami adalah WU Clan, boy group yang debut dua tahun lebih dahulu ditambah mereka dari agensi besar. Aku tidak bisa terlalu berharap untuk memenangkannya penghargaan acara musik kali ini.


“Kita sudah bekerja keras.” Begitu ucapan Hyun Sik di setiap telinga member sambil menepuk pundak satu per satu saat menaiki panggung. Kami semua tahu bahwa tidak mungkin untuk mengalahkan tapi ada dua orang yang masih optimis. Dae Ho, dan Chris. Aku tidak tahu darimana mereka bisa berpikir bahwa masih ada kesempatan untuk menang.


Kami bertujuh berdiri sejajar dengan pembawa acara serta WU Clan. Penghitungan suara di layar mulai berjalan. Aku berusaha mempertahankan wajah agar keputusasaan tidak terlihat di layar. Angka WU Clan berhenti, tunggu, angka Gu Boy terus berjalan. Mataku membelalak saat menyadari bahwa Gu Boy menang. Aku menutup mulutku menggunakan tangan saking tak percayanya. Aku benar-benar terkejut. Akhirnya Gu Boy memenangkan acara musik! Setelah empat tahun! Lagu comeback Gu Boy kembali diputar. Hyun Sik sebagai leader grup menerima mic yang disodorkan oleh pembawa acara. Staf dari PE mulai memberikan kami mic untuk selebrasi kemenangan. Setelah pembawa acara menutup rentetan kegiatan, pengisi acara lainnya mulai turun dari panggung. Beberapa dari kami saling membungkuk memberi salam. Ada sebuah harapan dapat melihat Chris diantara penonton menyoraki kemenangan Gu Boy. Aku menunduk kemudian tersenyum sebelum akhirnya kembali loncat-loncat kegirangan dengan maknae line. 


Setelah acara musik selesai, kami semua, termasuk staf yang bertugas pergi untuk makan barbekyu arang di dekat gedung PE. Lee Jae Eon, Manajer Gu Boy memesan seluruh restoran untuk merayakan kemenangan kali ini. Hari ini adalah makan malam perusahaan pertama setelah aku debut. Senyum tak lepas dari setiap orang yang duduk. Aku dapat merasakan suasana bahagia di dalam ruangan ini. Setiap orang mengangkat gelas kecilnya kemudian mendentingkan dengan gelas lainnya. Aku tidak bisa makan hari ini, jam makan malamku sudah lewat, dan aku harus diet. Aku mengambil ponselku dari dalam saku. Lebih baik menunggu sambil bermain ponsel ketimbang harus melihat orang makan dengan lahap disaat aku harus diet.


Christina Mackenzie


Selamat!


(photo)


Aku tersenyum membaca pesan dari Chris. Itu adalah foto layar televisi di mobilnya. Di foto itu tampak Gu Boy dan WU Clan ditambah skor perolehan. Aku tersenyum melihat ponselku. Ternyata dia benar-benar Luv (fandom Gu Boy) sejati. Aku memotret keenam member yang sama sekali tidak sungkan untuk makan lahap di depanku.


Min-wook


Terima kasih, Nuna


Mereka makan dengan lahap saat aku harus menahan lapar  ㅠㅠ


(photo)


Christina Mackenzie


Min-wook-ku yang malang


Aku akan mentraktirmu saat program diet selesai


Fighting!


Kembali aku tersenyum menatap jawaban Chris. Membalas pesan saja dia sangat menggemaskan. Lagi-lagi aku merindukannya. Seandainya kami tidak bertemu di PE, aku sudah pasti menyeretnya jauh-jauh dari industri ini. Jika saja kami bertemu di luar, apakah kini kami sedang menghabiskan malam ditemani lilin-lilin cantik di pusat Seoul? Terkadang aku bertanya-tanya tentang aku bersama Chris di luar industri hiburan.


Min-wook


Aku tidak sabar untuk hari itu datang


Setelahnya Chris tidak lagi menjawab. Aku memasukan ponsel kembali ke dalam saku celana, dan mulai mengomel tentang bagaimana Wook Ok yang makan di hadapanku tanpa sungkan. Suasana sangat ceria malam ini seakan-akan besok masalah akan pergi dengan sendirinya. Semuanya seakan-akan kami sudah memegang dunia di tangan kami. Para staf berbicara satu dengan lain, member Gu Boy melahap setiap daging dengan lahap, dan aku duduk disini mengamati keceriaan semua ini.


MY OWN KOREAN DRAMA


“Bagaimana rasanya memenangkan sebuah penghargaan?” Tanya Chris di seberang sana. Aku menegak kembali bir dari kalengku.


“Ini penantian yang sangat panjang, kukira akan terasa hebat ternyata tidak sehebat itu,” jawabku jujur kemudian kembali menegak bir.


“Ehm….mungkin karena kau menunggu terlalu lama, jadi rasanya tidak memuaskan,”


“Nuna benar, aku selalu melihat teman-temanku yang seumuran denganku sudah mengoleksi banyak penghargaan, Gu Boy belum apa-apa.” Akhirnya aku menemukan jawaban dari sikapku.


“Aku pernah mendengar ini di suatu tempat, kemenangan bukanlah akhir bahagia karena setelah sebuah kemenangan pertama harus dilanjutkan kemenangan kedua begitu seterusnya hingga menutup mata, jadi kurasa tidak aneh jika kau tidak begitu bersemangat,” Chris kembali berkomentar mengenai sikapku.


“Apa yang Nuna lakukan saat mendapat penghargaan dulu?” Tanyaku.


“Makan malam perusahaan kemudian mentraktir kalian. Kau tahu kemenangan yang sebenarnya tidak akan berhenti sedangkan kemenangan ini hanya akan bertahan hari ini, besok kau akan bangun untuk kembali berjuang,” jawab Chris.


“Sepertinya kemenangan pertama memang harus dilanjutkan dengan kemenangan kedua, dan seterusnya,” ujarku mengulangi ucapan Chris.


“Apa yang kau lakukan besok Senin?” Tanya Chris setengah berbisik. Chris pasti mengharapkan kencan kembali. Aku menghembus nafas kasar mengingat industri ini tidak akan memberiku kehidupan selayaknya pasangan normal lainnya. Kata normal kami berbeda.


“Kau ada jadwal.” Chris tidak melempar pertanyaan, Chris membuat sebuah pernyataan. Dari hembusan nafasku saja Chris sangat paham.


“Maaf, Nuna,” ucapku penuh penyesalan.


“Hei, mengapa kau meminta maaf, kita berdua sudah tahu resiko ini sejak awal,” ucap Chris berusaha menghiburku. Aku tersenyum mengingat betapa pengertiannya Chris. Aku beruntung mendapatkan seseorang sepertinya.


“Kau benar, aku harus segera tidur,” jawab Chris pasrah kemudian menghembuskan nafas. Aku terkekeh kecil mendengar Chris yang enggan menutup telepon.


“Nuna tidurlah, aku akan mengirimkan kotak bekal untukmu besok,” ucapku membujuknya untuk segera tidur.


“Ada yang harus aku ceritakan,” ucap Nuna lagi, enggan menutup panggilan.


“Apakah semendesak itu?” Tanyaku. Chris berdehem mengiyakan.


“Baiklah ceritakan, aku siap mendengarkan,” jawabku halus selayaknya kekasih yang sangat pengertian.


“Aku bertemu Auriga untuk makan malam, aku menyelesaikan apapun yang ada di antara kami, dan memintanya hidup bahagia dengan wanita yang bersamanya saat ini,”


“Aku tidak tahu apakah aku benar-benar tidak menyesalinya, tapi yang aku yakini, aku tidak ingin lagi berhubungan dengan Auriga, kurasa kau perlu tahu ini,” Chris menyelesaikan ceritanya.


“Sepertinya Auriga cinta sejati Nuna,” ucapku dengan sedikit rasa perih di dalam sana. Aku sedikit meremas kaleng di tanganku hingga sedikit rusak.


“Dia cinta pertamaku, dan bisa jadi memang perasaanku untuknya tidak memiliki akhir, tapi tidak semua cinta sejati berakhir bahagia bukan? Aku lebih bahagia bersamamu ketimbang cinta sejatiku,” ucap Nuna menjelaskan. Meskipun di akhir ucapannya sedikit melegakan, hatiku tetap terasa perih. Ada rasa sesak yang tidak aku mengerti. Membayangkannya di pelukan laki-laki lain amat menyakitkan.


“Min-wook ssi, apa kau percaya padaku?” Tanya Chris menarik aku kembali ke realita.


“Apa aku  memiliki pilihan lain selain mempercayai Nuna?” Tanyaku balik sambil mendengus di akhir kalimat.


“Maafkan aku Min-wook ssi….”


“Nuna tidak salah, perasaan manusia tidak bisa dipaksakan,” ucapku memotong Chris. Suasana hening sesaat.


“Sebaiknya Nuna segera tidur,” ucapku lagi. Setelahnya, Chris pamit tidur, dan panggilan berakhir. Aku masuk ke dalam setelah menghabiskan isi kaleng di tanganku. Hyun Sik duduk di sofa saat aku masuk. Leader grup itu sedang bekerja dengan laptopnya. Aku melemparkan diri di sebelahnya.


“Sik-a,” panggilku sedikit frustasi.


“O?” Hyun Sik merespon.


“Apa kau pernah berpacaran?” Tanyaku. Hyun Sik langsung melepas headset yang digunakan lalu meletakkan perangkatnya itu ke atas meja.


“Hyung tidak putus dengan Nuna bukan?” Tanya Hyun Sik. Aku menghela nafas panjang lalu bersandar di sofa.


“Tidak, hanya saja kami sedikit renggang,” jawabku.


“Aku tidak terlalu tahu tentang hubungan, Hyung tahu sendiri aku terlalu sibuk bekerja, lebih baik tanyakan itu pada Il Hoon, dia lebih berpengalaman kurasa,” jawab Hyun Sik lalu kembali mengambil perangkatnya lantas bekerja lagi. Aku bangkit kemudian menuju kamar Il Hoon di ujung koridor. Tanpa basa-basi aku membuka pintu di depanku. Trio maknae sedang  bermain kartu di lantai kamar sedangkan Eun Hyuk bertelepon dengan seseorang.


“Il Hoon, ya!” Panggilku.


“O, Hyung?” Tanya Il Hoon masih bermain kartu.


“Ah, lupakanlah,” kataku sambil kembali menutup pintu kamarnya. Aku memutuskan kembali ke kamarku. Dae Ho, rekan kamarku tidak ada di tempat, pasti dia sedang di studio. Aku melempar diri ke kasurku kemudian menghembus nafas panjang.


“Chris,” ucapku lemah. Aku sangat merindukannya.


“Daripada kau seperti ini lebih baik Hyung menelponnya.” Sebuah suara mengejutkanku. Ternyata itu Dae Ho.


“Sejak kapan kau disana?!” Tanyaku sambil menjerit kaget hingga terduduk.


“Aku ada disini sejak pulang,” jawabnya dengan wajah datar.


“Kau tidak bergerak sama sekali sejak bersembunyi di bawah selimut itu?” Tanyaku tak percaya.


“Bisa jadi,” jawabnya dengan datar. Aku menganga menatapnya yang masih saja santai. Aku mengendus kemudian kembali tiduran.


“Aku serius, Hyung, teleponlah kekasihmu itu,” ucap Dae Ho sekali lagi.


“Aku baru saja menelponnya,”


“Kalau begitu pergilah ke tempatnya, kau seperti kucing yang mencari ibunya.” Dae Ho lagi-lagi bersuara. Aku memejamkan mataku sesaat berusaha untuk tidak menghiraukan Dae Ho. Sial! Pikiranku tidak bisa tenang. Aku bangkit dari kasur hendak keluar kamar.


“Hyung!” Panggil Dae Ho sekali lagi. Aku berbalik menatapnya.


“Aku tidak tahu apakah ini bisa meringankan bebanmu tapi aku pernah membaca sebuah kalimat true love will never end.” Dae Ho memberikan saran. Ucapannya seakan menjawab bebanku malam ini. Dae Ho benar, seharusnya cinta sejati tidak memiliki akhir. Bukan-bukan perasaan itu tidak pernah berakhir tapi kisah cinta sejati seharusnya tidak pernah berakhir. Hubungan yang memiliki cinta sejati seharusnya tetap berjalan apapun rintangannya.


Seakan baru saja tersadar, aku berlari menuju parkiran apartemen. Aku mengendarai mobilku menuju apartemen Chris. Malam ini semua penduduk Seoul seakan memihakku untuk cepat sampai ke tempat Chris. Entah mengapa jalanan sangat lenggang. Aku segera menuju parkiran bawah tanah apartemen Chris. Aku memarkirkan mobilku tepat di depan pintu menuju lantai atas. Aku menatap keluar sambil menelpon Chris.


“Min-wook?” Suara Chris terdengar.


“Aku di parkiran bawah tanah,” aku berucap. Aku dapat mendengar suara Chris terkesiap sebelum akhirnya menutup panggilan. Aku tidak tahu dia menutup panggilan karena bergegas turun atau tidak mau berbicara denganku. Aku menatap kosong pintu di depan sana. Aku tidak tahu apakah malam ini Chris akan muncul dari sana atau aku akan pulang sia-sia. Ada saatnya dimana hubungan dua orang yang saling mencintai menjadi kacau. Entah karena dua orang itu sendiri atau karena orang lain. Satu hal yang aku percaya jika mereka memang memiliki cinta yang sejati, kisah mereka tidak akan selesai karena true love will never end.