My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Bab 17 - Apakah Masih Boleh?



Terasa dingin


Hingga


Menusuk Tulang


Musim semi memang tidak sedingin musim dingin tapi bagiku, dingin musim semi lebih menusuk tulang akibat hujan yang turun membasahi pepohonan yang kembali hijau. Aku sangat ingin membenci musim semi, hanya saja bunga Maehwa selalu membuatku jatuh cinta pada musim semi kembali. Ingatan musim semi bertahun yang lalu terbesit di kepalaku. Janji tidak tertulis antara aku dan Min-wook kembali berlarian di kepalaku, “aku harap Min-wook akan selalu ada di setiap hujan deras yang turun sehingga aku dapat memberikan semangkuk kimchi jjigae padanya.” Kini aku mempertanyakan keberadaannya di hujan musim semi kali ini.


Aku menatap keluar apartemen. Hujan ikut mengguyur Sungai Han tanpa ampun. Tidak ada seorangpun terlihat di tepi sungai itu. Pasti sangat dingin berjalan di luar sana.


“Apa kalian ingin makan kimchi jjigae?” Tanyaku pada keenam member Gu Boy itu.


“Wah! Aku sangat merindukan kimchi jjigae di cuaca hujan seperti saat kita trainee dulu,” ucap Eun Hyuk sambil melempar pandang ke langit-langit seakan mengingat masa lalu. Aku tersenyum lalu mengambil ponselku untuk memesan kimchi jjigae.


“Nuna!” Panggil Il Hoon. Aku menoleh.


“Biar aku saja yang memesannya, aku mendapat potongan harga,” ucap Il Hoon lalu mengeluarkan ponselnya. Aku mendekati Il Hoon kemudian berbisik, “bisakah kau memesan porsi kecil satu lagi?”


“Tentu, Nuna!” Sahut Il Hoon sambil tersenyum. “Apa Nuna ingin yang beku? Nuna tinggal memanaskannya di microwave besok,”


“Apa itu lebih baik? Sebenarnya aku ingin memberikannya pada Min-wook,” ucapku yang membuat satu ruangan mendadak hening.


“Nuna yakin?” Tanya Il Hoon ragu. Pertanyaan Il Hoon seakan mengetahui bahwa Min-wook tidak ingin melihatku lagi.


“Mungkin kalian bisa memberikannya tanpa embel-embel namaku, kurasa itu lebih baik,” ucapku mencairkan kembali suasana yang hening. Aku tersenyum kaku lalu pergi ke dapur.


Il Hoon berdiri di sampingku saat tanganku mulai menyiapkan alat makan di atas kitchen island. Aku memfokuskan pikiranku pada keramik yang tanganku pindahkan dari lemari ke atas marmer putih.


“Min-wook hyung tidak semudah itu melupakan Nuna, dan aku yakin Nuna juga punya alasan sendiri hari itu. Aku rasa perasaan kalian berdua masih sama, dan jika aku benar lebih baik kalian membicarakannya berdua keitmbang saling diam seperti ini.” Il Hoon memberi saran dengan sangat lembut namun tegas.


“Aku harap aku bisa semudah itu untuk mengajaknya bertemu,”


“Apa yang menghalangi Nuna?”


“Aku sangat merasa bersalah atas tindakanku hari itu,”


“Aku yakin Min-wook hyung akan paham.” Ucap Il Hoon menutup pembicaraan kami.


Aku menatap langit-langit kamarku. Pikiranku melayang, aku sama sekali tidak mengantuk. Aku berguling menghadap ke jendela dengan pemandangan Sungai Han. aku rindu berjalan-jalan di sana pukul dua pagi. Aku bangkit dari kasurku mengambil syal dan mantel berwarna abu.


Sepatu botku menapaki jalanan sungai Han. Tidak ada orang berlalu lalang. Beberapa gedung juga terlihat gelap tanpa cahaya sedikitpun. Udara subuh berhembus membuatku menutup bagian depan mantelku. Pandanganku menyapu Sungai Han yang benar-benar tenang. Kini mataku berhenti pada sosok di depanku. Tidak-tidak. Dia tidak benar-benar tepat di depanku. Mungkin perlu beberapa langkah untuk benar-benar di depannya.


Punggung itu dibungkus mantel hitam namun aku masih dapat mengenalinya. Tanpa aba-aba punggung itu berbalik. Dia sama terkejutnya denganku. Min-wook ssi. Dia menunduk menatap tanah sebelum akhirnya kembali menatapku ditambah dengan langkah kaki yang terus mendekat. Jarak yang semakin habis membuat jantungku berdegup tak karuan.


MY OWN KOREAN DRAMA


“Min-wook a?” Panggilku.


“Ya, Nuna?” Jawabnya


“Apakah kau mau kimchi jjigae?”


“Tentu.” Jawabnya. “Kukira itu memang perjanjian kita selama ini. Kimchi jjigae di hujan musim semi.” Lanjutnya.


“Apakah kau menunggu kimchi jjigae di musim semi ini?” Tanyaku berhenti menyiapkan dapur.


“Apakah aku masih boleh menunggu itu?” Tanyanya. Pertanyaan itu menusuk hatiku. Apakah dia masih boleh? Aku sangat berharap dia masih menunggu itu tapi rasanya tidak adil saat aku sendiri masih bimbang.


“Aku tidak tahu.” Ucapku. Tanganku bergerak memanaskan kimchi jjigae di dalam microwave. Kesunyian menyelimuti dapur apartemenku. Aku berkelana pada pikiranku sendiri. Berkelana dalam rasa bersalah atas kepergianku yang begitu jahat musim dingin lalu. Denting microwave menarikku kembali.


“Apa mimpi Nuna saat ini?” Tanya Min-wook saat aku menyajikan kimchi jjigae. Aku terdiam sesaat. Aku mengingat apa yang aku lalui sebulan ini. Menginjakkan kaki kembali ke Seoul, kembali menjadi aktris.


“Entahlah, aku hanya ingin bahagia seperti saat aku tidak di Seoul tapi terkadang aku merindukan Trine McKenzie,” jawabku sambil menatap Min-wook.


“Apa Nuna ingin meninggalkan industri ini?” Tanya Min-wook lagi.


“Aku sangat ingin melakukannya saat aku terlalu lama menjalaninya.” Entah apakah Min-wook paham atau tidak, dia hanya diam.


“Katakan padaku, katakan padaku saat Nuna ingin meninggalkan industri ini, aku akan pergi bersama Nuna.” Ucap Min-wook


Setelah menghabiskan semangkuk kimchi jjigae, Min-wook menegak perlahan sekaleng bir dengan menatap Sungai Han dari jendela apartemenku. Aku mendekatinya sambil membawa sekaleng bir untuk kutenggak bersamanya. Kepala Min-wook menengok saat kakiku mendekat padanya.


“Mengapa kau tidak bertanya alasan kepergianku waktu itu?” Tanyaku.


“Karena aku percaya padamu,” jawab Min-wook tegas yang mampu mengiris hatiku. Aku terdiam menunduk, menatap lantai.


“Apa aku masih boleh kembali padamu, setelah semua ini?” Tanyaku dengan tatapan yang kabur karena air mata.


“Apakah masih boleh seperti itu?” Tanya Min-wook dengan nada sama hancurnya denganku.


MY OWN KOREAN DRAMA


Pertanyaan Min-wook terngiang di kepalaku berbulan-bulan. Setelah pertemuan terakhir, kami tak pernah berjumpa lagi. Mereka bertujuh sibuk dengan persiapan tur keliling dunia pertama sedangkan aku mulai menekuni dunia tulis menulis. Setidaknya ada satu hari dalam seminggu aku akan duduk tenang mengetikkan isi kepalaku.


Kembali pada pertanyaan Min-wook. Apakah masih boleh kami bersama? Hingga saat ini pertanyaan itu belum terjawab.