My Own Korean Drama

My Own Korean Drama
Epilog



Tiga belas anak manusia berkumpul di ruang ini. Tujuh pria dan enam wanita. Tidak semua dari mereka adalah pasangan. Ada yang sebatas rekan kerja. Ada yang sebatas teman masa kecil. Ada juga yang sebatas berbagai kenangan bersama.


Apapun pilihan mereka, sebuah kisah tidak akan berhenti karena mereka menjadi pasangan kekasih. Kisah mereka juga tidak akan berhenti karena mereka tidak memiliki pasangan. Hidup akan terus berjalan entah apakah itu hal baik atau tidak terjadi dalam hidup.


Park Hyun Sik duduk di pojok ruangan mengamati keenam anggotanya. Keenamnya berhadapan dengan gadis mereka masing-masing. Matanya berhenti pada seorang gadis dengan rambut coklat. Mata gadis itu bertatapan dengan pria di depannya. Keduanya bersenda gurau dengan lepas. Park Hyun Sik menatap gadis itu lebih dalam kemudian menarik salah satu bibirnya ke atas. Matanya berkaca-kaca. Park Hyun Sik menunduk kemudian menghapus air matanya. Dirinya tidak tahu apakah gadis yang dirinya sukai selama ini akhirnya mendapatkan pria yang mampu menjadi pundaknya. Dirinya tidak tahu apakah pria yang selama ini berjuang bersamanya akhirnya mampu menemukan akhir bahagia bersama gadis itu. Dirinya juga tidak tahu apakah waktu itu akan datang, waktu dimana akhirnya hatinya akan merelakan gadis yang disukainya kemudian membuka hati untuk gadis lain. Jadi apakah mereka berakhir bahagia? Tidak ada yang tahu. Masa depan masih terlalu jauh untuk dikatakan. Bahagia atau tidak hanyalah tipuan penulis.


Pilihan apapun, dan dipilih oleh siapapun adalah hal individu. Tidak ada seorangpun berhak untuk menghakimi itu, terlebih keputusan itu berkaitan dengan hati.


Jika memang pencarianmu belum membuahkan hasil, mungkin kau harus memutuskan sendiri mana yang kau anggap baik.


Musim Semi 2020


Saat tangisku mereda, Min-wook menarik dirinya lalu mundur selangkah membiarkan udara musim semi berhembus di antara kami. Min-wook menangkup wajahku seakan memeriksa setiap bagiannya masih tetap utuh. Jarinya mengusap sisa air mata yang mengalir di pipiku. Bibirnya tertarik ke atas seakan puas dengan wajahku yang kering tanpa air mata.


Min-wook melepas syal yang digunakannya. Syal yang kuberikan sebelum dia berangkat ke Amerika pada musim dingin 2013. Min-wook melipatnya dengan rapi kemudian mengambil tanganku lantas meletakkan syal itu ke atas tanganku lalu berkata, “suatu hari nanti jika kita dapat berjumpa kembali, dan Nuna siap untuk kembali jatuh cinta padaku, bawalah syal ini, kenakan pada leherku. Aku akan sangat menantikan hari itu datang, dan aku akan selalu menunggu itu.”


“Bagaimana jika hari itu tidak pernah datang?” Tanyaku tersedu. Entah darimana pertanyaan itu datang tapi aku mengatakannya dengan lantang.


“Maka aku akan berhenti menunggu semangkuk *kimchi*jjigae saat hujan musim panas datang.”


Lalu Min-wook maju selangkah kemudian menempelkan bibirnya pada dahiku. Saat itulah aku tersadar bahwa mungkin saja ini menjadi kecupan terakhir darinya.