
Melelahkan tapi ini seru
Run!
Orang-orang berlarian menggunakan padding jacket, tak satupun dari mereka berani melepas pakaian tebal itu. Sungai Han malam ini terlihat dingin, entah karena ini masih musim dingin atau karena suasana hatiku. Aku menghirup aroma kopi dari dalam cangkirku. Seharusnya aku segera tidur namun kepalaku masih dipenuhi dengan percakapan kami tadi. Aku tidak tahu apakah tindakanku memberitahu Min-wook benar atau salah. Ada rasa lega karena akhirnya Min-wook tahu tentang Auriga, dan aku tapi disisi lain hatiku gelisah jika saja dia tidak dapat menerima itu. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan Min-wook.
Aku menatap kembali cangkir di depanku. Kopi selalu menjadi temanku di malam hari. Kafein seakan tidak berpengaruh padaku. Aku menatap teko yang isinya hampir tandas. Aku menuang kembali isinya ke dalam cangkirku hingga isinya habis. Aku meluruskan punggung. Perutku mulai terasa sakit. Aku mengernyit sedikit merasakan rasa mual yang menyerang. Aku bangkit dari kursi lalu berjalan ke sofa. Pikiranku tak berniat untuk tidur sedikitpun. Ponselku kembali bergetar. Saat melihat nama Min-wook aku langsung terduduk.
“Min-wook?” ucapku pelan.
“Aku di parkiran bawah tanah.” Suara di ujung sana berucap. Aku sungguh terkejut. Aku sama sekali tidak mengira dia akan datang selarut ini. Aku segera mematikan panggilan lalu mengambil padding di walk in closet. Aku keluar kamar terseok sambil memegang perutku. Ini benar-benar menyakitkan. Aku turun ke parkiran bawah menggunakan lift. Aku bersandar pada dinding yang dingin menunggu benda besi ini sampai ke lantai bawah. Saat pintu lift terbuka pandanganku mulai kabur. Aku berusaha mencapai pintu kaca di depanku dengan terseok. Kakiku mulai lemah, dan siap untuk terjatuh. Aku sudah bersiap untuk merasakan dinginnya lantai, dan sakitnya benturan itu. Aku memejamkan mataku bersiap tapi lantai dingin itu tidak juga datang, yang ada rasa hangat memelukku. Aku membuka mataku, dan tatapanku langsung kepada mata seseorang yang aku khawatirkan sedari tadi. Min-wook berada di depanku saat ini. Dari tatapannya saja aku bisa memastikan ada rasa marah di dalamnya, aku memang pantas dimarahi. Aku tersenyum menyadarinya. Pria di depanku ini sudah terlalu sabar menghadapiku, biarlah aku dimarahi kali ini.
Min-wook kembali ke mobil setelah membeli beberapa obat untukku. Raut wajahnya masih sama seperti tadi. Aku masih dapat merasakan aura kesal, cemburu, dan khawatir yang bercampur aduk. Min-wook membuka kemasan obat beserta air botol yang dibelinya.
“Kau masih kesal padaku?” Tanyaku sambil menerima obat dari tangannya.
“Aku tidak kesal,” jawab Min-wook yang bertolak belakang dengan wajah serta intonasi suaranya. Bukan intonasi dingin penuh amarah. Intonasinya seperti anak kecil yang merajuk. Aku terkekeh pelan kemudian memasukkan obat ke dalam mulut. Min-wook memberikan botol ke tanganku.
“Mengapa kau ke apartemenku?” Tanyaku setelah menelan air.
“Ah, itu karena… ehm…” Min-wook mencari alasan. Aku mengambil tangannya lalu menggenggam tangan besar itu.
“Terkadang ada saatnya kita bertengkar, katakanlah jika kau memang tak suka,” ucapku sambil menatap tanganku yang menggenggam tangan Min-wook.
“Entahlah, aku kesal, aku ingin lari ke pria itu, dan mengajarnya,” ucap Min-wook yang terasa menggemaskan bagiku.
“Kita harus segera kembali, kau ada jadwal besok pagi bukan?”
“Bagaimana jika aku tidak ingin kembali? Aku masih ingin bersama Nuna,”
“Bagaimana jika kita melarikan diri saja? Aku juga masih ingin bersamamu,”
Jangan berpikir aneh-aneh tentang apa yang terjadi pada kami semalam. Min-wook mengantarku kembali ke apartemen setelah aku meminum obatku. Kami tetap menjalani rutinitas kami seperti biasa. Kini aku sedang dirias untuk adegan selanjutnya. Bicara soal Min-wook aku jadi teringat ucapannya semalam. Setelah kami berdua sampai di parkiran apartemen, aku membuka sabuk pengaman lalu mengecup pipi Min-wook sekilas.
“Nuna!” Panggil Min-wook saat aku menutup pintu.
“Ya?” Tanyaku di jendela mobil yang diturunkan.
“Jika kau ingin lari, katakan padaku, mari lari bersama,” ucap Min-wook sungguh-sungguh. Aku hanya mengendus lalu tersenyum penuh misteri. Aku melambaikan tangan padanya lalu masuk ke dalam kamar apartemenku.
Kini aku memikirkan kembali ucapannya. Apa mungkin aku berani mengambil tawaran itu suatu hari nanti? Berhadapan dengan peluru sepertinya lebih mudah ketimbang harus melarikan diri dari perusahaan. Aku tidak ingin melihat Su Ryeon Unnie kecewa. Namaku kembali disebut untuk segera kembali ke set syuting. Aku mematut diri di kaca sekali lagi. Kali ini pakaianku lebih terbuka dari sebelumnya. Aku mengelus dada kiriku. Riasan sangat hebat, bekas luka apapun akan tertutup. Seharusnya ada luka bekas tembakan enam tahun lalu di dada kiriku. Aku tersenyum menatap gadis di depanku. Aku melihat pantulan penata riasku di cermin. Ada seseorang di sebelah pantulan diriku di kaca, gadis itu adalah asisten penata rias utama Gu Boy. Dia yang meriasku hari ini. Aku berbalik kemudian membungkuk berterima kasih sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruang tunggu.
Setelah syuting selesai, semua kru serta pemain saling membungkuk memberi salam. Jika biasanya aku akan langsung pulang, hari ini semuanya berkumpul di sebuah tempat makan untuk merayakan hari terakhir syuting. Setelah ini aku memiliki seminggu libur sebelum akhirnya kembali ke depan kamera. Di depanku ada eomuk tang yang masih mengeluarkan uap. Baunya sangat harum menggugah nafsu makanku. Ingatanku kembali saat untuk pertama kalinya aku menyantap makanan khas Korea ini. Aku menunda makanku untuk mengambil foto.
Christina Mackenzie
(Photo)
Apa kita bisa makan ini saat kencan pekan depan?
Aku mengingatmu setiap menikmati eomuk tang.
Park Min-wook
Aku akan sangat menikmatinya.
Senin depan
Rumah Nuna
Aku tidak sabar
“Apa itu Min-wook ssi?” Bisik Ji Ah yang duduk di sampingku. Aku mengangguk malu seperti remaja yang kasmaran. Entah mengapa aku masih seperti itu setiap ada orang yang memergokiku padahal aku dan Min-wook sudah berada di usia matang.
“Kalian akan bertemu lagi Senin depan?” Tanya Ji Ah lagi. Aku kembali menganggukkan kepala mengiyakan. Ji Ah hanya diam sambil tersenyum jahil. Aku menunduk malu.
“Ngomong-ngomong aku tidak melihat asisten penata rias yang meriasku tadi,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Tadi aku mendengar dia berbicara dengan PD-nim bahwa dia sudah ada janji yang tidak bisa dibatalkan.” Ji Ah menjelaskan. Aku hanya mengangguk mengerti. Aku sangat ingin berterima kasih padanya karena sudah menutupi bekas lukaku.
MY OWN KOREAN DRAMA
Seperti cerita yang kalian dengar, semua yang bekerja di dunia hiburan Korea, kami sembunyi-sembunyi berkencan. Mencari tempat yang tidak mungkin dapat ditemukan orang lain. Aku duduk berhadapan dengan kekasihku di ruang tamu apartemenku. Udara musim dingin yang tadi terasa di kulit kami berganti dengan rasa hangat dari penghangat ruangan. Min-wook membuka tutup wadah yang dibawanya. Harum kaldu menyeruak saat tutup terbuka. Aku mengambil satu tusuk lalu menggigitnya sedikit. Aku memejamkan mata menikmati rasa ikan yang ada di dalamnya. Min-wook menatapku dengan salah satu sudut bibirnya ditarik.
“Nuna, aku akan membeli unit apartemen di sebelah milik Nuna,” ucap Min-wook yang membuatku berhenti mengunyah. Aku mengerjapkan beberapa kali mataku. Min-wook tertawa lalu mengambil eomuk tang dari tanganku.
“Sebenarnya aku sudah bisa membeli apartemen sendiri sejak tiga tahun yang lalu, hanya saja aku terlalu sibuk jadi apartemen itu akan menganggur sia-sia.” Kembali Min-wook menjelaskan.
“Jadi kita tidak perlu berkencan pukul dua pagi di Sungai Han?” Tanyaku. Min-wook terbahak sebelum akhirnya menjawab, “kita bisa berkencan di apartemenku.”
“Apa yang akan kau lakukan saat ulang tahun nanti?” Tanyaku saat kami berdua duduk di sofa sambil menikmati pemandangan Sungai Han.
“Entahlah, aku ada jadwal hari itu, mungkin aku akan merayakannya bersama Gu Boy lagi,” jawab Min-wook ringan. Aku hanya tersenyum pahit mengingat bahwa kami benar-benar tidak dapat merayakan hari spesial bersama.
“Kapan kita dapat merayakan hari spesial bersama?” Tanyaku yang menguap bersama salju musim dingin. Ponsel Min-wook berdering. Kekasihku ini mengambilnya dari saku celana lalu melihat siapa yang menelponnya. Lee Jae Eon, manajer Gu Boy. Min-wook bangkit dari sofa menerima panggilan itu.
Aku berbalik menatap Sungai Han yang mulai dipenuhi orang pasangan yang menikmati musim yang hendak berganti. Beberapa dari mereka mulai melepas padding jacket lalu membawanya di tangan. Musim berganti begitu cepat, kurasa baru kemarin aku melihat orang-orang berjalan setengah berlari menghindari udara dingin yang bisa membuat mereka terserang flu. Aku merasa terkurung disini, aku tidak bisa berlari layaknya orang-orang lainnya.
“Aku harus segera kembali ke dorm, ada briefing untuk jadwalku sebulan kedepan,” ucap Min-wook saat kembali. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya lalu bangkit dari sofa mengantarnya ke parkiran bawah.
MY OWN KOREAN DRAMA
Aku terbangun karena dering ponselku. Aku membuka mata kemudian meraih ponselku dengan mata yang masih setengah tertutup. Aku menatap nama di ponselku. Ini manajer ku, Ji Ah. Seharusnya aku masih libur hingga dua minggu lagi. Mengapa Ji Ah menelponku sepagi ini? Astaga! Ini bahkan masih pukul empat pagi! Aku mengangkat panggilan itu.
“Nuna! Kau belum lihat berita?!” Teriak Ji Ah tepat di telingaku. Aku tidak menjawab.
“Kabar kencan dengan Min-wook sudah dipublikasikan oleh Rispact!” Jerit Ji Ah sekali lagi. Mataku seketika terbuka. Jadi aku sudah terendus oleh Rispact.
“Apa perusahaan sudah memberi klarifikasi?” Tanyaku panik setengah mengantuk.
“Siang ini kau harus menemui Go PD-nim,” ucap Ji Ah. Aku menghembuskan nafas kasar. Aku harus berhadapan dengan pemimpin perusahaan karena berkencan. Ini hal yang konyol. Aku menutup mata mengiyakan Ji Ah kemudian panggilan terputus. Tak lama kemudian ponselku kembali berbunyi. Notifikasi pesan. Aku kembali menggapainya untuk melihat siapa yang mengirimiku pesan sepagi ini.
Park Min-wook
Nuna
Nuna baik-baik saja?
Christina Mackenzie
Nuna baik-baik saja
Park Min-wook
Baiklah
Sampai jumpa di perusahaan
MY OWN KOREAN DRAMA
Min-wook juga dipanggil untuk menemui Go PD-nim. Aku tidak mengerti mengapa negara ini mempermasalahkan kencan seseorang. Aku berjalan sesantai mungkin menuju lantai tempat Go PD-nim berada. Langkahku terhenti saat melihat Min-wook yang berada di dalam lift. Aku menatapnya sesaat sebelum ikut masuk ke dalam ruang besi ini.
“Aku harap ini tidak mempengaruhi performa Gu Boy,” ucapku sambil bersandar pada lengannya.
“Aku juga, semoga ini tidak mempengaruhi rating drama Nuna,” ucap Min-wook kemudian menghembuskan nafas kasar.
Go PD-nim duduk sambil membaca berkas di mejanya saat kami berdua masuk. Setelah mempersilahkan kami duduk, pembicaraan langsung masuk pada inti kami berkumpul.
“Kencan kalian sudah menjadi rahasia umum di PE, kurasa seharusnya ini tidak menjadi masalah besar, apa kalian ingin menanggapi berita ini?” Go PD-nim bicara dengan santai. Memang seluruh orang di perusahaan ini sudah tahu tentang kami.
“Aku hanya ingin tahu siapa orang di belakang semua ini,” ucap Min-wook yang cukup mengagetkanku. Dari tadi Min-wook tidak membicarakan apapun denganku.
“Penata rias Chris akhir-akhir ini,” ucap pria di depan kami tegas.
“Nona muda itu? Dia terlihat baik.” Aku cukup terkejut dengan hal itu.
“Seseorang membayar denda pelanggaran kontraknya, itu berarti ada seseorang di belakang ini semua,”
“Tapi siapa,” ucapku tak sadar. Min-wook meraih pundakku merangkulku erat.
“Jangan khawatir, perusahaan akan bekerja keras untuk melindungi kalian,” ucap pemimpin perusahaan itu optimis.
MY OWN KOREAN DRAMA
Kini aku bersama Min-wook duduk di salah satu kafe tersembunyi di daerah Gangnam. Jika kalian mendengar desas-desus pekerja industri hiburan berkencan di tempat terpencil, itu benar, kami membutuhkan privasi. Tolong mengerti itu. Aku menuliskan ini sebagai salah satu perwakilan dari banyak kepala. Orang-orang yang bekerja di industri ini sudah lelah menghibur jadi setidaknya biarkan kami duduk dengan tenang bersama orang yang kami cintai tanpa khawatir berita percintaan akan menjatuhkan apa yang telah kami bangun.
“Nuna ingin hal lain?” Tanya Min-wook sambil menggenggam tanganku di atas meja. Cangkir yang berisi coklat panas belum kusentuh sejak tadi, kontras dengan Min-wook yang tinggal setengah. Aku menatapnya sesaat sebelum akhirnya menggeleng lemah.
“Semua akan baik-baik saja Nuna,” ucap Min-wook berusaha menenangkan.
“Aku tidak masalah jika aku jatuh, tapi kamu, ada enam orang lainnya yang akan berbagi takdir denganmu.” Aku mulai membuka suara. Gu Boy sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Aku tahu seberapa besar cita-cita setiap mereka, dan saat ini bisa saja aku menjadi alasan mereka jatuh. Min-wook hanya terdiam, menunduk tidak menjawab apapun. Suasana berubah menjadi sunyi untuk beberapa saat.
“Ayo!” Ajakku lemah. Min-wook menatap kembali wajahku tak mengerti maksud ucapanku.
“Katamu aku bisa mengajakmu untuk lari jika aku menginginkannya, bisakah kita lari sekarang?”
Ada saatnya aku benar-benar ingin lari dari kenyataan yang ada. Ada saatnya aku harus benar-benar berlari, entah itu berlari menuju kesuksesan atau melarikan diri dari kesuksesan. Untuk kamu yang sedang lelah berlari mengejar kesuksesan, duduklah sebentar, dirimu perlu istirahat. Untuk kamu yang lelah karena kesuksesan, berlarilah sesaat, pergilah dari kenyataan. Saat hatimu sudah baik-baik saja, kembalilah lagi, hadapi apapun itu dengan keberanian.