
Musim Semi 2020
Lee Ji Ah, manajer sekaligus asisten pribadiku sudah sampai di lobby apartemen saat aku turun. Mobil van putih membawaku menyusuri jalanan Seoul, entah kemana hari ini aku akan pergi. Biasanya akan akan memejamkan mata kemudian tertidur namun tidak kali ini. Musim semi selalu menjadi musim favoritku. Aku tidak pernah ingin melewatkan awal musim semi.
“Dimana kita akan syuting hari ini?” Tanyaku sambil menatap keluar mobil.
“Itaewon,” jawab Ji Ah.
“Syuting makan?” Tanyaku sambil menoleh pada Ji Ah yang ternyata sedang sibuk membaca naskahku hari ini.
“Syuting makan, dan putus,” jawab Ji Ah kemudian memberikan naskahku. Aku membaca naskah drama lagi. Tentu saja aku sudah ingat apa yang harus aku ucapkan nanti hanya saja aku tidak tahu bahwa kedua adegan itu akan ada di tempat yang sama. Cukup miris mengetahui tempat bahagia, dan sedih berada di tempat yang sama.
Park Min-wook sudah berada di lokasi saat aku tiba, aku memberi salam kemudian masuk ke ruang tunggu. Para kru sedang menyiapkan set syuting saat aku dirias. Aku memejamkan mata, dan tak lama kemudian tertidur. Syuting sudah menjadi kehidupanku sejak delapan tahun yang lalu. Cerita cinta dengan berbagai latar belakang serta konflik sudah aku mainkan dengan sukses. Aku sendiri tidak tahu tepatnya sudah berapa karakter yang aku bawa ke dalam layar kaca. Setiap karakter memiliki keunikan mereka sendiri namun ada satu hal yang sama. Dari sekian banyak cerita yang dibuat penulis untuk aku perankan, tidak satupun cerita yang aku harap benar-benar terjadi pada kisah cintaku. Padahal dahulu alasan utamaku terjun ke industri ini adalah mencari cerita yang mirip dengan kenanganku.
Pada awal pembacaan naskah, kukira Min-wook akan menjadi figuran, ternyata aku salah, Min-wook menjadi pemegang peran penting namun baru mencolok di pertengahan cerita. Aku tetap memilih untuk mengambil peran ini meskipun tahu bahwa aku akan terus bertemu dengannya. Publik juga sempat heboh akan partisipasiku dan Min-wook dalam drama ini, dan aku rasa itu adalah salah satu faktor drama kali ini sukses besar ketimbang drama-dramaku sebelumnya.
Aku belum berbicara dengan Min-wook diluar masalah drama. Min-wook sendiri juga tidak pernah berusaha membahasnya. Terkadang aku penasaran apa yang dia pikirkan. Apakah dia menyerah padaku? Apakah dia ingin aku yang memperjuangkannya kini? Atau apa? Apa yang dia pikirkan?
“Besok adalah hari terakhir kita syuting,” ucapku basa-basi menunggu PD-nim memberi arahan pada para figuran.
“Apakah nuna ada urusan lusa?” Tanya Min-wook, membuatku gelagapan.
“Kurasa belum,” ucapku setengah yakin, berusaha mengingat agendaku sendiri.
“Apa kita bisa bertemu di Sungai Han? Pukul 2 pagi?” Tanya Min-wook lagi.
“Aku masih menyimpan kartu akses apartemen milikmu,” ucapku.
MY OWN KOREAN DRAMA
Aku menggunakan syal kuning mustard pemberian Halmoni. Kakiku berhenti di sebuah bangku kemudian duduk. Tak lama Min-wook datang. Syal abu yang telah memudar membalut lehernya menjadi kehangatan tubuhnya. Itu adalah syal pemberianku.
“Crisis, judul itu terlalu kasar untuk sebuah lagu cinta. Kurasa para Luv dan Trister juga sadar bahwa lagu itu ditulis oleh Park Min-wook untuk Christina McKenzie,” Min-wook bermonolog dengan tatapan kosong ke sungai Han.
“Mengapa kau mengubah judulnya?” Tanya menyalurkan rasa penasaranku sejak empat tahun yang lalu.
“Karena aku tahu suatu saat nanti perasaanku sendiri akan menjadi krisis terbesar dalam hidupku, aku berusaha bertahan dua tahun untuk mencintai Nuna, tapi itu terlalu berat.” Jawab Min-wook diakhiri isakan. Tanganku menepuk punggung Min-wook, mengelusnya lembut berusaha menenangkannya.
“Maaf, aku tidak ada saat kau membutuhkanku,” ucapku setengah terisak.
“Apa Nuna masih mencintaiku?” Tanya Min-wook lagi.
“Tentu!” Ucapku setengah teriak. Bagaimana mungkin dia meragukan itu. Tiba-tiba Min-wook bangkit kemudian berkata, “terima kasih Nuna, terima kasih masih tetap mencintaiku” lalu Min-wook melangkah pergi menjauh dariku. Tangisku pecah menatap pundak Min-wook menjauh. Apakah ini akhir dari kisahku?
Aku menunduk. Air mata terus mengalir. Setelah Auriga kini Min-wook? Apakah ini akhirnya? Aku selalu membenci akhir yang buruk. Aku selalu membenci perpisahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup akhirnya aku mengerti mengapa orang-orang di luar sana lebih suka menonton drama. Saat drama itu selesai mungkin saja kita akan terlarut dalam drama itu beberapa saat. Mungkin jika pasangan dalam drama itu tidak bersama orang-orang akan ikut sedih, namun itulah yang membuat kisah itu terasa nyata. Pada akhirnya drama itu akan dibicarakan dan mendapatkan banyak keuntungan.
Berbeda dari drama, akhir berpisah dalam kehidupan sungguh menyesakkan. Kenangan akan terus berputar di kepalaku. Aku bahkan masih belum melupakan tatapan Auriga malam dimana akhirnya kami berpisah, aku terluka, kami berciuman, bahkan terakhir kalinya di Jogja. Aku masih mengingat semua kenangan itu dengan jelas.
Entah apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin untuk saat ini perpisahan akan menyakitkan tapi menjadi yang terbaik untukku maupun Min-wook. Aku sadar bahwa aku terlalu jahat meninggalkan Min-wook di bandara hari itu. Suatu hari nanti kenangan ini akan muncul kembali dalam benakku. Bagaimana Min-wook mengajakku untuk kencan pertama, ciuman pertama kami, syal pemberianku yang selalu dikenakannya bahkan hingga kali terakhir kami bertemu.
Semua itu memberikan pengertian bahwa baik itu cinta pertama, kedua ataupun keberapa kalinya. Cinta tetaplah cinta. Dalam maupun dangkal itu tetaplah perasaan yang tak mungkin dilupakan. Jatuh cinta sekali, dua kali, berapa kali pun tidak akan cukup. Entah itu dengan orang yang sama atau berbeda. Jatuh cinta bukanlah sebuah kesalahan meskipun dalam pekerjaanku itu seakan sebuah kekejian dan dosa yang besar. Aku berharap jika aku harus kembali bertemu dengan Min-wook dan aku kembali jatuh cinta padanya, aku harap aku dapat jatuh cinta dengan bebas.
The End