
Pada hari minggu merupakan hari weekend untuk berkumpul dengan saudara atau teman atau sahabat. Kini Adele bersiap pergi untuk car free day bersama kedua temannya yang tengah duduk di ruang tamu dan sambil ditemani oleh Elena.
“Bagaimana Adele saat di sekolah? Apakah dia manja dengan kalian?”, tanya Elena dengan bertubi.
“Tidak aunty”, ucap Alia dengan senyum.
“Tapi dia suka bertengkar dengan Bella karena rebutan sang kapten basket di sekolah kami”, ucap Amanda dengan mengemil cookie yang di suguhkan.
“Apakah dia tampan”, tanya Elena.
Alia dan Amanda menganggukan kepala.
“Wahh, keponakanku itu sudah beranjak remaja. Aku harus berikan dia nasehat”, ucap Elena.
“Iya aunty harus itu. Biar Adele tidak kalah dengan Bella. Aunty harus membantu Adele untuk bisa mendapatkan sang kapten basket yang tampan nan rupawan”, celoteh Amanda.
“Apakah kalian tidak berpikir untuk ikut rebutan pria itu?”, tanya Elena.
Amanda menjawab dengan bergeleng kepala dan memberikan alasan, “aku sudah memiliki kekasih”.
“Kalau Alia?”, tanya Elena.
“Belum”, jawabnya dengan menggeleng kepala.
Ketika Keenan akan ikut bergabung bersama Adele, Keenan mendengar Elena sedang menanyakan soal memiliki kekasih. Kala itu hati Keenan menculas dan menunggu jawaban dari Alia. Alia menjawab dengan gelengan kepala. Setelah mendengar dan melihat gelengan kepala Alia hatinya lega. Keenan bisa memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Alia.
Lalu Adele datang mereka langsung pamit kepada uncle-nya.Keenan memberikan senyuman hangat.
“Aku pergi dulu ya uncle”, ucap Adele.
“Aku juga pergi dulu honey”, pamit Elena dengan mencium pipi kanannya.
“Ya, hati-hati di jalan”, ucap Keenan.
Usai mereka pamit, Keenan membereskan meja kotor lalu pergi untuk menikmati hari weekendnya dengan berenang sambil membayangkan cara bisa hidup dengan Alia.
Sementara Elena, Adele, Amanda, dan Alia sudah tidak kuat untuk memutari taman alun-alun pada akhirnya mereka istirahat di pinggir trotoar.
Setelah nafasnya mulai lega, mereka berjalan membeli air mineral.
Pada saat berjalan Adele, Amanda, Elena dan Alia bertemu dengan Daniel bersama Bams yang selalu mengikutinya. Lalu mereka saling menyapa.
“Hai Daniel!”, sapa Amanda.
“Hai Amanda!”, sapa Bams dengan senyum.
“Aku menyapa Daniel kenapa kamu yang malah menyapa”, ucap Amanda dengan kesal.
“Aku mewakili saja”, ucap Bams sekenanya.
“Daniel, kamu juga sering main ke sini”, tanya Adele.
“Iya, aku sering ke sini sebab tempat ini sebagai tempat tongkrongan yang paling asyik”, ucap Daniel.
Lalu Elena menyela obrolan mereka.
“Gaes! dari pada kita ngobrol di tengah jalan begini lebih baik kita duduk dekat warung minum itu”.
Mereka menoleh ke arah Elena yang tengah kikuk. Lalu Elena berjalan dahulu sebab tidak nyaman. Kemudian mereka mengikuti Elena berjalan bersama sambil mengobrol seputar sehari-hari mereka lalui saat weekend dan pulang sekolah hingga sampai ke warung.
“Del, wanita yang jalan duluan itu siapa?”, tanya Bams.
“Dia aunty ku”, jawab Adele.
“Oo”, ucap Bams.
“Sehari-hari kalian kalau pulang sekolah sering nongkrong dimana?”, tanya Daniel.
“Kami nongkrong di cafe kalau masih ada uang dan waktunya masih luang”, ucap Adele.
“Apakah kalian baru pertama car free day di alun-alun?’, tanya Bams.
“Iya, kami pertama ke sini tapi kalau bersama keluarga aku mah sering ke sini”, ucap Alia.
“Aku sama kekasihku”, ucap Amanda.
“Kalau kamu Del?”, tanya Bams yang kepo.
“Aku baru, soalnya aku anak rumahan”.
“Tidak apa-apa sayang. Di tahun ini kamu harus berani keluar bersama teman-teman kamu mumpung ada kesempatan sering keluar bareng dengan teman kamu sebelum lulus”, sela Elena.
“Iya Del, ini waktunya belum terlambat”, ucap Alia.
“Benar kata aunty mu, kamu memanfaatkan masa sekolah sebelum kamu pindah sekolah setelah lulus nanti”, uca Daniel.
“Tuh dengerin teman-temanmu”, ucap Elena.
“Iya aunty”, ucap Adele.
“Thanks ya semuanya”, ucap Adele.
“Ngomong-ngomong di sini ada si kapten basket gak?”, tanya Elena.
“Ada aunty”, jawab Bams.
“Siapa?”, tanya Elena kembali.
“Nih, orangnya ada di sebelahku”, ucap Bams dengan merangkul pundak Daniel. Lalu Elena beroh ria.
“Ini toh orangnya yang di sukai Adele. Dia sangat tampan juga dan penuh dengan kharisma. Adele benar-benar gak salah pilih”,kata hati Elena.
Beberapa jam kemudian mereka pulang bersama dengan naik angkutan umum untuk keseruan masing-masing sambil berteriak ketika angkutan itu masih sepi.
“Arghhhh!!”, seru Amanda dan diikuti oleh Adele dan Alia.
Daniel dan Bams harus meninggalkan mobilnya untuk menuruti kemauan ajakan dari Adele.
Sampainya di rumah Adele bersenandung bahagia dengan melewati ruang tamu. Elena yang mengikuti dari belakang menggeleng kepala.
...
Di rumah yang sederhana, Alia berjalan menuju adik laki-lakinya yang masih duduk di SMP yang tengah bermain playstation bersama tetangga sambil menyerahkan makanan cilok dan empek-empek yang dipesannya.
“Nih cilok dan pempek kamu titip”, ucap Alia.
“Thanks kakak cantik”, ucap Aldo.
Lalu pergi ke kamar membersihkan badan. Setelah itu merebahkan badannya sambil memainkan ponsel.
Sedangkan Keenan sedang memantau gadisnya di rumah sederhananya yang dia sambangi.
“Tunggu aku sweety”,monolog Keenan.
Kemudian pergi meninggalkan perkampungan itu dengan perasaan lega.
Keenan datang membawakan makanan titipan dari Elena yaitu soto kikil bersama gorengan.
Keenan ikut sarapan bersama Elena dan Adele dengan menikmati sate hati yang dibelinya.
Usai sarapan selesai, Keenan mengajak Elena ke dalam kamar dan membahas soal ingin menikah kembali.
“Elena!”, panggil Keenan.
“Humm”, deheman Elena yang tengah duduk di meja rias.
“Aku mau membicarakan kembali soal waktu malam itu”, ucap Keenan.
“Bahas apa baby”, ucap Elena.
“Bahas soal perihal menikah kembali”, ucap Keenan.
“Apa?!”
Elena terkejut dengan tatapan mata Keenan yang terlihat serius. Elena hanya bisa menghela nafas kasar. Elena mengira perkataan Keenan tidak serius nyatanya dia sangat serius.
“Bagaimana? Kamu merestuiku untuk menikah kembali tidak?”, tanya Keenan.
Elena berpikir dengan penuh pertimbangan meski hatinya sakit saat mendengar Keenan ingin menikah kembali dan Elena harus berbagi cintanya.
“Aku harus bagaimana? Jika aku tidak merestuinya pasti dia kecewa atau dia malah selingkuh dibelakangku. Namun jika aku merestui pernikahannya kembali aku harus membagi cinta dengan orang lain. Tapi kadang kala manusia ingin egois namun apalah daya. Aku tidak bisa lagi menahan kebahagiaan suamiku dengan perempuan lain sebab aku juga tak bisa memberikan keturunan untuknya”, kata hati Elena.
Lalu Elena menganggukkan kepala setelah mempertimbangkan. Elena hanya bisa memberikan restu untuknya sebab Elena juga menyadari bahwa selama menjalin rumah tangga dirinya belum memberikan kebahagiaan yang selama ini diidamkan oleh suaminya. Keenan merasa senang setelah mendengarkan perkataan Elena memberikan restu dengan anggukan.