My Love Is Shared With A Young Girl

My Love Is Shared With A Young Girl
Episode 10



Di ruang kerja yang begitu megah, Keenan di kejutkan oleh Angel yang tengah duduk di kursi kerjanya dengan tersenyum dan menyapa Keenan namun sapaan yang di lontarkan oleh Angel tidak di gubris.


“Hai Keenan”, sapa Angel dengan tangan melambai.


Angel mendapatkan tatapan sinis dari Keenan dan menyuruhnya pergi tetapi Angel malah mendekati dan merangkul ke leher milik Keenan membuat Keenan mendengus dan mendorong tubuh Angel hingga terjungkal ke belakang.


Angel tidak terima perlakuan Keenan. Angel mengungkit masa lalunya dengan menghampiri Keenan di tempat duduknya.


“Apakah kamu melupakan kenangan indah kita berdua?”, tanya Angel dengan ekspresi sedih.


“...”, Keenan hanya diam.


“Aku padahal ke sini merindukan kamu, honey”, dengan membelai pipi Keenan. Lalu Keenan menghempaskan tangan Angel.


‘Kamu ingat tidak, waktu kita masih kuliah dahulu. Ketika kita hujan-hujanan hingga canda tawa kita di tengah lebatnya hujan sampai suara klakson menggema gara-gara kita menghalangi mereka”, senyum Angel dengan mengingat-ingat masa lalu.


Keenan menyuruh Angel untuk keluar namun Angel bersikeras tetap bertahan di ruang kerja Keenan.


Keenan memanggil security untuk menyeret Angel.


“Hallo, pak tolong bawa wanita di ruang kerjaku bawa keluar kalau tidak mau gaji kalian kupotong. Segeralah bergegas datang”, ucap Keenan dengan tegas.


Security datang lalu menyeret Angel setelah mendapatkan kode.


Angel terus berteriak.


“Keenan!”


“Keenan!”


“Keenan!”


Keenan menghembuskan nafas panjangnya, “Ahhhhh!”


Keenan tidak dapat fokus bekerja sehingga ia melemparkan dokumen kerjanya sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Keenan menenangkan dirinya dengan meminum wine sambil melihat pemandangan jendela dari dalam.


Sementara Alia tengah mengerjakan kelompok bersama dua sahabatnya mengenai sejarah sambil bercerita dan saling sindir menyindir.


“Guys,lihatlah halaman selanjutnya ada gambar purbakala yang mirip dengan orang yang dekat dengan kita nih sebelum dilapisi plastik”, sindir Adele.


“Bukankah gambar ini mirip dengan orang yang saat ini ngomong sekenanya”,sindir Bella.


“Cobalah perhatikan ini pasti mirip dengan orang yang di seberang kita sebelum mereka dilaminating”, ucap Adele.


“Kalau kita perhatikan mirip yang di sebelah sana”, ucap Winda.


“Benar Win, benar banget”, ucap Bella dengan tertawa.


Sampai membuat bu Renata geram dengan suara berisik ke dua kelompok milik Alia dan Bella.


“Kalian berisik!”, geram bu Renata.


“Kalian keluar dan angkat kaki dari kelas saya ke lapangan dan berlari lima kali putaran. Jika protes saya akan tambah lagi”, ucap Bu Renata.


Akhirnya mereka terkena hukuman dengan mengerjakan dua kali lipat pekerjaan secara individu membuat mereka mengeluh dan saling menyalahkan.


“Ingat kalian mengerjakan tugas secara individual dan kerjakan dua kali lipat”, ucap Bu Renata.


“Yaah bu, ini semua yang duluan itu Adele, bu”,ucap Bella.


“Bukan bu, yang salah Bella duluan”, ucap Adele.


“Diam!!”, ucap Bu Renata dengan mata mendelik.


Sepulang sekolah Adele langsung ke kamar dengan merebahkan tubuhnya diatas ranjang lalu tertidur.


Sedangkan Alia setelah menyelesaikan ritual mandi, ia langsung mengerjakan tugas dari bu Renata. Sampai tengah malam.


Lalu Alia membuka ponsel sebentar untuk melihat pesan masuk. Mata Alia langsung tertuju dengan pesan dari Keenan.


Keenan:


Sweety, aku merindukan kamu.


Keenan:


Kamu sekarang sedang apa?


Keenan:


Jawab dong kalau sedang istirahat.


Keenan:


Sweety, I Love You.


Setelah membaca pesan masuk dari Keenan, Alia hanya terbaring dan beradu dengan isi pikiran dengan hatinya yang seperti ada rasa perih.


Kemudian Alia tidur dengan mengenyahkan isi andaikan dalam kepalanya dan perasaan sakitnya.


Keenan kembali karena perintah dari istrinya yang terus ngotot untuk memohon kepadanya agar dirinya pulang ke mansion sesuai dengan perjanjian dalam kontrak.


Mereka sedang melakukan hubungan di atas ranjang dan Elena terlelap tidur. Sementara Keenan tidak dapat tertidur karena memikirkan gadis kecilnya yang berada di apartemen.


“Sweety, malam ini kamu sedang apa? Aku merindukan kamu”, ucap isi hati Keenan dengan melihat langit malam dari blankon.


Keenan turun dari tangga dan menyapa keponakannya yang tengah bersenandung sambil tersenyum saat sedang membaca chattingan dari teman-temannya.


“Pagi Adele!”, sapa Keenan.


Lalu Adele menoleh ke arah Keenan.


“Pagi uncle!”, balas Adele dengan ekspresi bahagia.


Keenan duduk di bangku samping Elena. Mereka menikmati dan mengobrol untuk memberikan suasana nyaman.


“Kepo deh uncle”, ucap Adele.


Elena mengabari kepada Keenan bahwa ayahnya akan mampir ke mansion.


“Oh ya honey, daddy nanti siang katanya mau mampir ke rumah kita”, ucap Elena.


Keenan terkejut sebentar setelah mendengar kabar dari Elena. Lalu dia mengubah ekspresi netral dalam sekejap agar tidak membuat keponakannya curiga.


“Baiklah sweety, nanti kita sambut daddy kamu. Kita harus segera bersiap menyiapkan hidangan untuk daddymu”, ucap Keenan dengan ekspresi tidak terbaca.


“Tentu, aku sudah pesankan lewat kurir honey untuk di suguhkan kepada daddy”, ucap Elena.


“Itu bagus honey, kita tinggal menyambut daddy kamu saja”, ucap Keenan.


“Uncle, aunty, apakah grandpa akan ke sini?”, tanya Adele dengan ekspresi senang.


“Iya sayang”, ucap Elena.


“Wah, aku harus siap-siap menyambut grandpa. Siapa tahu di kasih angpao”, ucap Adele dengan pergi berlalu.


Sementara Alia mengajak adiknya pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan.


“Aldo, kita main time zone yuk”,ajak Alia.


“Baiklah, kita main capit jam dulu yuk kak. Siapa tahu kita dapat jam mahal”, ucap Aldo.


“Kamu kebanyakan mimpi Al”, ejek Alia.


“Enak saja, aku sudah pernah capit boneka untuk Gladis. Siapa tahu ini rezekiku kak”, ucap Aldo.


“Jadi, kamu sudah memiliki kekasih”, ucap Alia.


“Belum, cuman cinta monyet saja”, ucap Aldo dengan kekeh sambil menggaruk tengkuk tidak gatal.


Ketika tengah bersenang-senang bermain bersama adiknya. Alia bertemu Daniel secara tidak kebetulan. Daniel menyapa Alia.


“Hai Al, tidak nyangka kita bakal ketemu di sini”, sapa Daniel.


“I..iya”, senyum Alia.


Lalu Daniel mengajak Alia untuk bergabung dalam makan siang di restoran pusat perbelanjaan.


“Kalau begitu kita sama-sama jalan saja. Biar tambah ramai kalau tambah teman”, ucap Daniel menawarkan diri.


“Benar kata kak Daniel meski itu hanya modus kak Daniel saja”, kekeh Aldo.


“Bisa saja kamu Al”, ucap Daniel dengan pipi bersemu sambil mengusap kepala Aldo.


“Yuk kita makan dulu. Baru kita lanjut main”, ucap Daniel.


“Itu ide bagus. Perut Aldo sudah kosong nih”, sahut Aldo.


“Baiklah, yuk”, ucap Alia.


Setelah usai makan mereka berlanjut main dengan waktu panjang.


Usai puas bermain mereka pulang bersama setelah mendapatkan paksaan dari Daniel dan mendapatkan pesan dari Keenan.


Alia pulang ke rumah dan menyalami kedua orang tuanya.


“Assalamualaikum mah”,salam Alia.


“Wa’alaikum salam nak”,balas ibunya Alia.


“Mana Keenan?”, tanyanya.


Alia menjelaskan mengenai Keenan yang tak bisa ikut.


“Keenan gak bisa ikut karena ada pekerjaan di luar kota”, ucap Alia dengan bohong.


Anita menjawab dengan ber-oh ria.


Lalu ibu dan ayahnya mengerti kemudian Alia pergi ke kamar.


“Aku ke kamar dahulu ya mah”,pamit Alia.


“Ya nak, istirahatlah”, ucap Natalie.


Ibu Alia menyusul putrinya masuk ke dalam kamarnya.


“Alia! Mamah boleh masuk?!”, ucap Anita dengan bersuara keras.


“Masuk mah!”, teriak Alia.


Anita masuk dan menghampiri putrinya yang berada di ranjang.


“Al, apakah kamu tengah ada masalah dengan suami kamu?”, tanya Anita.


“Tidak mah”,jawab Alia.


“Mamah minta maaf tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu”,ucap Anita.


“Kata siapa Alia tidak bahagia. Alia selalu bahagia dilahirkan di keluarga sederhana nan hangat mah”, ucap Alia dengan membaringkan diri dalam pangkuan Anita.


“Mamah melakukan ini sebab kami sedang ada beberapa permasalahan di keluarga. Ayah kamu sebenarnya terus pergi ke luar kota dengan alasan pergi dinas itu sebab ayah mengalami batu ginjal dan jantungan”, ucap Anita dengan ekspresi sedih.


“Apa mah?!”, tanya Alia dengan mengeluarkan isak tangis sambil memeluk Anita. Lalu Anita ikut menangis sampai terhenti dan mereka tertawa.


Setelah menceritakan seluruh permasalahan keluarga, ibu Alia keluar dengan perasaan campur aduk.


“Makasih nak”,monolog Anita dengan bersandar di pintu kamar Alia sambil menghapus air mata.


Sementara Alia menangis dalam diam.


“Kenapa aku tidak mengetahui ini semua?Kenapa kalian harus menyembunyikan permasalahan ini semua?”, kata hati Alia.