
Paginya Adele menyapa Keenan dan Elena dengan senyuman ceria.
“Pagi uncle, aunty”, sapa Adele.
“Pagi sayang”, sapa Elena.
Lalu duduk di kursi dan mengambil roti yang sudah dihidangkan di atas meja.
Mereka sarapan sembari mengobrol yang sederhana.
“Bagaimana sekolah kamu?”, tanya Elena.
“Menyenangkan”, jawab Adele.
“Apakah akhir pekan nanti kamu pulang ke rumah kakek gak?”, tanya Keenan.
“Sepertinya tidak uncle, soalnya akhir pekan ini aku ingin jalan-jalan dengan sahabatku di alun-alun”, jawab Adele.
“Apa aunty bisa ikut bergabung?”, tanya Elena.
“Tentu, kalau ada aunty pasti akan dapat traktiran gratis”, ucap Adele.
“Bisa saja kamu”, ucap Elena.
Beberapa lama kemudian mereka berangkat pergi meninggalkan Elena di rumah yang sedang berkutat membersihkan meja makan.
“Aunty, Adele berangkat ke sekolah dulu takut telat”, pamit Adele.
“Aku juga sweety sekalian memberikan tumpangan untuk Adele”, ucap Keenan dengan pamit.
“Yaudah, kalian berdua hati-hati”, ucap Elena.
“Bye aunty!”, pamit Adele dengan melambaikan tangan sambil berjalan.
“Bye juga sayang!”, lambai balik Elena.
Keenan berangkat mengantarkan Adele ke sekolah.
Sampainya di depan gerbang pintu, Keenan melirik ke sana kemari untuk melihat gadis belia yang terus membayangi di pikiran dan benaknya.
Namun saat matanya sibuk Adele malah menyuruh uncle nya pergi tetapi Keenan masih betah berlama-lama untuk mencari gadis yang dirindukannya.
“Uncle, Adele pamit dulu”, ucap Adele dengan membuka pintu mobil dan mencium tangan Keenan.
“Bye uncle!”, pamit Adele.
“Ya”, ucap Keenan.
Beberapa menit Keenan tak kunjung pergi, Adele mengetuk pintu.
“Tok, tok, tok”.
Lalu Keenan membuka jendela.
“Ada apa?”, tanya Keenan.
“Uncle gak pergi-pergi?”, tanya Adele.
“Sebentar sayang, aku mau lihat kamu masuk melewati gerbang sekolah”, ucap Keenan dengan alasan.
“Uncle gak perlu lihat Adele masuk melewati gerbang sebab Adele masih mau menunggu teman-teman Adele”, ucap Adele.
“Kalau begitu uncle akan temani kamu sampai mereka datang”, ucap Keenan menawarkan diri.
Namun Adele bersikeras terus menyuruh Keenan untuk pergi dan akhirnya Keenan melewatkan kesempatan untuk melihat gadis belia itu.
“Gak usah! Uncle pergi saja. Nanti telat lho masuk kantornya”, usir Adele.
“Baiklah, uncle akan pergi. Selamat belajar sweety”, ucap Keenan.
“Bye uncle!”, teriak Adele dengan lambaian tangan.
“Uhhh, aku terpaksa pergi deh, tidak bisa lihat gadis yang selalu saja mengganggu pikiranku”, batin Keenan.
Beberapa saat setelah kepergian Keenan, Amanda dan Alia muncul dari belakang saat Adele memasuki pintu gerbang dengan mengagetkan.
“Ba!”, dengan menepuk punggung dua gadis itu dan mereka terkejut.
“Adele!”, kesal Amanda.
“Sorry”, ucap Adele dengan cengengesan sambil menggaruk tengkuk tidak gatal.
Mereka asyik berbincang sambil mengobrol dengan tawa sampai masuk kelas.
“Tadi tuh, uncle ku itu terlihat aneh”, ucap Adele.
“Aneh bagaimana? Orangnya saja tampan masa di bilang aneh”, ucap Amanda.
“Anehnya itu buka di wajahnya tapi sikap uncle. Tadi tuh uncle tak kunjung pergi hanya terus memandang ke arah pintu masuk gerbang”, ucap Adele.
“Terus anehnya dimana?”, tanya Alia.
“Anehnya itu saat diusir malah uncle Keenan tidak mau dengan berbagai alasan. Alasan ingin melihatku masuk gerbanglah, menemaniku untuk menunggu kalian datanglah, pokoknya begitu deh”, cerita Adele.
“Kamu jangan banyak suudzon deh. Mungkin uncle kamu ingin melihat ponakannya benar-benar masuk sekolah. Momen itu kan jarang dialami oleh uncle mu”, ucap Alia.
“Mungkin uncle kamu ingin cari istri muda kali”, ucap Amanda asal lalu tertawa.
“Bisa jadi, tapi aunty menerimanya gak ya?”, tanya Adele.
“Gak tahu”, ucap Amanda.
Sementara Elena memikirkan ucapan Keenan saat akan tidur.
Elena, seandainya aku menikah kembali..apa perasaan kamu sweety?
Elena ingin menghapus pikiran soal semalam namun terus teringat.
Saat melamun Agatha memanggil Elena.
“Bu Elena!”
“Bu Elena!”
“Bu Elena!”
Elena menoleh ke sumber suara.
“Ya, ada apa?”
“Ibu dari tadi melamun mulu. Saya ke sini membawa buku kas dan catatan belanjaan yang nantinya ibu pasok”, ucap Agatha.
“Kalau begitu saya permisi dulu”, pamit Agatha yang diangguki oleh Elena.
Sedangkan Keenan di dalam kantor sedang tersenyum sendiri dan belum mengerjakan sesuatu di depan mejanya.
Keenan seperti jatuh cinta saat pertama kali waktu menginjak usia muda.
Sampai dia dikagetkan oleh dua sahabatnya yaitu Adam dan Damien yang masih betah berlibur di Indonesia.
“I’m coming!”, teriak Damien.
“Kalian ngapain ke sini?”, tanya Keenan.
“Tentu saja main”, ucap Damien duduk di sofa.
“Kenapa kamu melamun? Pasti tengah mikirin nanti malam menggunakan gaya apa ya sama Elena?”, goda Damien.
“Sok tahu kamu”, ucap Keenan.
“Iya nih, lama-lama otaknya sengklek karena kebanyakan mes*m”, kekeh Adam.
...
Bel istirahat telah tiba, para siswa berhamburan ke kantin. Ketika Adele, Amanda, dan Alia berjalan bertemu dengan Bella yang sedang genit merangkul lengan milik Daniel membuat Adele dan Amanda merasa risih. Sedangkan Alia biasa saja.
Mereka berjalan dengan membuang muka sampai di kantin lalu mereka mengomel ketika melewatinya dengan rasa jijik.
“Itu cewek gatel amat. Apa-apa suka nempel kayak nyamuk”, omel Adele.
“Iya nih, aku saja sampai bergidik”, ucap Amanda.
“Daniel pasti lebih risih dengan kelakuan Bella”, ucap Adele.
“Benar, Daniel nanti habis pulang ke sekolah, dia mandi bunga tujuh rupa untuk menghilangkan bau nyamuk itu yang susah sekali dihempaskan”, ucap Amanda.
“Kayak Syahrini saja”, ucap Adele.
Sampai mereka kelupaan memesan makanan akibat mengoceh seputar Bella.
“Oh ya, kita lupa memesan makanan”, ucap Adele.
“Iya juga”, ucap Amanda.
“Sudah aku pesankan sesuai menu yang kalian biasa pesan”, ucap Alia.
“Thank you Alia”, seru dua sahabatnya.
Setelah menghabiskan makanan dengan tandas mereka mengucapkan syukur karena bersamaan bunyi bel masuk.
Pelajaran di mulai dengan pelajaran IPS milik bu Renata.
Di dalam kelas para murid merasa bosan dengan ocehan sejarah yang begitu monoton selama tiga jam pelajaran.
Sampai akhirnya selesai dan mereka berhamburan keluar dari kelas untuk istirahat kembali.
...
Di gedung yang menjulang tinggi di mana Keenan sebagai pemilik perusahaan PT Real Estate Jaya sedang mewawancarai beberapa calon karyawan untuk menjadikan sebagai asistennya yang baru.
Setelah dua jam, Keenan keluar dan membawa beberapa dokumen yang akan dipilihnya.
Sampai di meja kerjanya Keenan membuka amplop coklat yang berisi laporan informasi dari asisten pribadinya tentang Alia dengan jari menggesek ke bibirnya sambil memuji.
“Cantik”, gumamnya.
“Aku akan dapatkan kamu”, sambil membelai foto tersebut.
Keenan sangat senang melihat kepribadian gadis tersebut karena dia anak ramah dan selalu membantu orangtuanya terlebih lagi dia menjaga adiknya saat orang tuanya pergi dinas ke luar kota.