
Pagi pukul 08.00 Aliya baru bangun dari tidurnya. Keenan yang berada disebelahnya memperhatikan dia yang tengah mengulet merenggangkan otot-ototnya. Keenan tersenyum melihat betapa bahagianya dirinya memperhatikan gadis kecilnya bangun tidur. Aliya yang merasakan ada sosok yang memperhatikan dirinya membuat jantung miliknya berdebar seakan habis berlari marathon.
“Gawat, jika jantungku begini terus, bisa-bisa aku mati muda” batin Aliya.
Aliya mencoba menoleh ke arah Keenan dengan bertanya, “kenapa uncle senyum-senyum begitu?”
“Aku tersenyum begini karena merasa bahagia melihatmu bangun tidur” jawab Keenan.
“Emangnya, uncle gak pernah melihatku bangun tidur. Padahal kita selalu tidur bersama di satu ranjang” seru Aliya dengan kedua tangan bersedekap di dada sambil mengangkat alis sebelahnya seakan bertanya-tanya.
“Iya, aku selalu tidur di sebelahmu, namun setiap saat aku membuka mata” Keenan menatap ke dua bola mata gadisnya sambil bergumam, “cantik”, lalu Keenan melanjutkan ucapannya, “kamu seringkali tidak ada di sampingku. Kamu selalu bangun terlalu pagi sehingga aku tidak dapat melihat saat kamu bangun tidur”.
“Emang apa yang ingin uncle lihat?” tanya Aliya kembali.
“Aku ingin melihat istri kecilku saat bangun, apakah ia terlihat jelek atau cantik?” Keenan mengusap kepala Aliya dengan penuh kasih dan sayang.
“Menurutmu?” tanya Aliya sambil memoncongkan bibirnya.
“Menurutku...” Keenan lagi-lagi menjeda kalimat membuat Aliya gugup.
“Apa-apaan jantungku ini? Tiap kali pria ini melihatku jantungku selalu berdegup kencang. Suaranya keras bagai gendang dag dig dug seperti di diskotik jedag jedug jedag jedug. Oh Tuhan jauhkanlah hamba dari godaan terkutuk ini meskipun ia terlihat tampan diumurnya kepala empat” batin Aliya.
“Menurutku.., kamu jelek saat bangun tidur” ejek Keenan yang tak terdengar oleh Aliya. Aliya terbangun dari lamunan saat Keenan mengusap kepalanya. Keenan tak menyadari jika gadisnya itu tengah mengagumi ketampanannya.
“Mandilah, sarapan aku yang akan siapkan” ucap Keenan beranjak dari ranjang.
“Uncle! Bi..biar aku saja. Uncle yang lebih baik pergi bersihkan diri dahulu” kata Aliya.
“Baiklah” ucap Keenan berjalan pergi ke kamar mandi namun ketika melewati Aliya, Keenan menghampirinya dengan memberikan kecupan di dahi milik Aliya. Aliya terkejut membuat jantung miliknya bertalu. Aliya tak mampu bergerak. Ia hanya bisa menjadi patung. Kemudian Keenan melepaskan kecupan yang cukup lama di kening Aliya dengan senyum tipis lalu meninggalkan dia dengan memberikan usapan penuh kasih dan sayang.
Setelah Keenan pergi, Aliya dapat bernafas dengan lega dengan kakinya yang terasa lemas. Ia lalu duduk di pinggir ranjang sambil memegang dadanya yang terasa nyeri.
“Gawat, aku hampir jantungan”kata hati Aliya.
...
Di restoran sefood besar nan megah, Elena tengah di sibukkan data keuangan yang masuk. Ia tengah menghitung semua jumlah keuntungan yang ia dapatkan.
Saat sedang serius menghitung tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Elena yang tidak ingin di ganggu pun akhirnya menghentikan pekerjaannya dengan kalkulator sebentar lalu menyuruh orang yang di luar untuk masuk.
“Masuk!” suara keras Elena yang di dengar oleh anak buahnya.
Ia masuk setelah mendapatkan ijin dari Elena dengan sikap sopan.
“Ada apa?” tanya Elena dengan melepaskan kaca matanya.
“Ma..maaf bu mengganggu. Di luar ada yang..”
“Yang ingin bertemu dengan istri seorang Keenan Fernandes” sela Angel memotong ucapan karyawan Elena dengan berjalan ke arah sofa dan duduk tanpa ijin bahkan permisi. Ia duduk dengan gaya elegan sambil menompangkan kaki kanan ke kaki kiri lalu tersenyum.
“Kalau begitu saya permisi bu” ucap bawahannya.
“Jangan lupa tutup pintunya” perintah Elena.
Elena menghembuskan nafas kasar melihat Angel sang mantan pacar Keenan datang menemuinya.
“Aku bisa darah tinggi melihat dia. Dia ke sini pasti ingin mengadu domba”batin Elena.
“Akan aku lihat seberapa ingin menghancurkan kami”sinis Elena dalam hati.
Elena beranjak dari duduknya berpindah ke tempat dimana Angel berada. Elena langsung bertanya dengan to the point.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Ngapain ya? Tanya Angel balik dengan jari telunjuk menyentuh ke dagu dan bola matanya sedikit naikkan ke atas seperti seolah-olah tengah berfikir.
...............
Saat Elena tengah menghadapi mantan kekasihnya, Keenan malah sedang bersenang-senang bersama Aliya berliburan ke Bali. Ia mengajaknya sebagai momentum bulan madu meski ia belum saatnya untuk menyentuh gadis kecilnya. Ia mengajak hanya sekadar menghabiskan waktu berduaan.
“Uncle, aku hanya libur satu hari di tanggal merah. Bagaimana dengan besoknya? Aku harus sekolah” ucap Aliya dengan ekspresi khawatir.
“Aku yang akan meminta izin kepada gurumu. Sekarang nikmatilah liburan kita” senyum Keenan di sebelah duduk Aliya dengan memakai kacamata hitam.
“Tapi..”
“Ussst..” Keenan mencegah Aliya untuk tidak mengucapkan satu patah pun mengenai sekolahnya.
“Gak perlu khawatirkan itu. Aku akan minta izin gurumu selama dua atau tiga hari untuk tidak sekolah” ucap Keenan.
“Jangan ambil terlalu banyak libur uncle” protes Aliya.
“Terus, kamu ingin libur berapa hari?” tanya Keenan.
“Satu hari saja” jawab Aliya dengan lirih.
“What?!”
“Sweety, kamu perlu istirahat setelah berlibur dari Bali. Jadi kamu membutuhkan waktu tiga hari. Lalu untuk istirahat kamu memiliki waktu satu hari. Aku tidak mau liburan yang kita habiskan hanya sesingkat itu” protes Keenan.
“Tapi..”
“No, gak ada tapi-tapian” tolak Keenan dengan memotong ucapan Aliya. Keenan tak ingin mendengarkan pendapat Aliya. Karena ia ingin di kesempatan ia miliki bisa selalu bersamanya .
Aliya pun menyerah dengan ekspresi cemberut karena Keenan tak mau mendengarkan pendapatnya dahulu. Ia bersedekap untuk memperlihatkan kepadanya betapa ia kecewa dengan Keenan yang tidak mau mendengar hak suaranya.