
“Ahhhhh...akhirnya sampai”, seru Aliya sambil merenggangkan kedua lengan tangannya. Keenan mendengar suara Aliya begitu senang melihatnya kembali ceria. Keenan menghampiri Aliya. “Come on girl, kita menuju ke penginapan” rangkul Keenan dengan sedikit mendorong tubuh gadis kecilnya ke parkiran.
Sampai di depan mobil sedan berwarna hitam Keenan membukakan pintu dan menyuruh Aliya masuk. Aliya masih bingung dan kesadarannya masih belum tersadar karena ia terlalu mengagumi mobil mewah tersebut.
“Aliya, masuklah”, ucap Keenan dengan memberikan kode.
Aliya berjalan masuk setelah mengumpulkan kesadarannya. Aliya duduk sambil mengucapkan terima kasih dengan suara lirih.
Keenan mendengar ucapan terima kasih dari bibir ranum Aliya tersenyum tipis dengan menutup pintu mobil lalu beranjak ke pintu kemudi. Keenan masuk dengan memasang seat belt lalu menghidupkan mobilnya dan menancapkan gas. Dalam perjalanan Keenan membuka suara sambil tetap fokus menyetir.
“Sweety, apa kamu menyukai liburan ini?”
“Tentu, tapi..” Aliya menjeda ucapannya dengan kedua tangannya bersedekap di dada dan menatap Keenan.
“Tapi..?”Keenan mengangkat alis sebelahnya.
“Aku tidak menyukai uncle yang suka memaksa” keluh Aliya dengan menyandarkan punggungnya kembali.
“Maaf sweety, aku terlalu egois untuk memaksamu cuti sekolah cukup lama. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan waktu lama tanpa satu orang pun mengganggu kita” ucap Keenan.
“Tetap saja itu keterlaluan” ucap Aliya dengan besengut.
Keenan mendengar nada marah gadisnya, ia menepikan mobilnya dengan melepaska set beltnya, kemudian Keenan mencoba mendekatkan ke Aliya dengan jarak satu inci. Aliya terkejut dan merasakan nafas Keenan yang menyeruak dihidungnya membuatnya berdegup.
“A..apa ya..yang i..ingin un..uncle lakukan?” tanya Aliya dengan gugup sambil menelan salvina dengan kasar.
Keenan menjawab dengan senyum menyeringai sambil mendekatkan wajahnya dengan setengah inci lalu menempelkan bibirnya ke bibir ranum Aliya dengan beberapa menit.
“Bibirnya begitu lembut” ucap Keenan dalam hati.
Setelah beberapa menit Keenan bertahan dalam posisi tidak nyaman ia kembali duduk seperti semula dengan senyum miring. Sedangkan Aliya masih termangu sambil menenangkan jantungnya yang bertalu seperti habis lari maraton.
“Busyet, om-om ini tiba-tiba melakukan hal-hal yang bikin jantungku hampir copot” ucap Aliya sambil mencoba menarik nafas dalam-dalam.
Keenan yang berada di kemudi hanya mampu menahan tawa melihat ekspresi gadisnya yang menahan entah rasa kesal atau perasaan lainnya.
...
Aliya dan Keenan telah sampai di Vila setelah perjalanan cukup panjang. Keenan masuk ke dalam Vila dengan disapa oleh pak Suparmana yang sudah bekerja bertahun-tahun membersihkan villa pribadi miliknya.
Keenan menjawab dengan anggukan.
“Tolong bawakan barang-barang kami masuk!” perintah Keenan.
“Baik mister” ucap Suparman dengan berlalu pergi keluar.
Usai kepergian Suparman, Keenan mengajak Aliya berkeliling villa miliknya dengan menggandeng tangannya. Keenan menunjukkan semua keindahan interior rumahnya Aliya terus mengagumi semua sudut ruangan sampai perpaduan interior villa yang dimiliki Keenan.
Saat menikmati kebahagiaan bersama sang pujaan hati Keenan mendapatkan panggilan telepon dari ponsel genggamnya. Keenan mengeluarkan ponsel dari saku kanan. Keenan melihat nama yang tertera di depan layar ponselnya.
“Ayah mertua”, gumam Keenan.
Sebelum mengangkat panggilan dari ayah mertuanya, Keenan berpamitan kepada gadis kecilnya.
“Sweety, kamu kali ini menikmati sendiri, aku mau mengangkat telepon dulu”, ucap Keenan dengan memberikan kecupan dikening istri kecilnya.
Aliya mengangguk sebagai tanda mengerti.
Keenan pergi berlalu. Sementara Aliya menatap punggung suaminya yang tengah mengangkat telepon dari seseorang seberang sana.
Lalu Aliya melanjutkan berkeliling sendirian melewati kolam renang. Ia berjalan menyusuri tiap ruangan hingga menemukan sebuah rumah kaca yang menganggumkan untuknya.
Aliya berjalan masuk ke rumah kaca tersebut. Aliya kagum dengan tanaman bunga yang ada di rumah kaca. Aliya mencoba mencium bau harum bunga mawar sampai anggrek.
“Ternyata Keenan memiliki sisi yang manis”, gumam Aliya dengan senyum hangat.
Sementara Keenan sedang sibuk berbicara dengan ayah mertuanya di dalam ruang tengah sambil memandang halaman belakang lewat jendela besar.
“Keenan, kamu sudah semakin tua begitu juga Alena. Kamu harus segera membuat program bayi. Satu bayi pun lebih dari cukup untuk menemani kalian di hari tua. Kamu jangan terlalu sibuk mengurus pekerjaan. Papa harap kamu bisa memenuhi keinginanku. Aku juga sudah menegur Alena. Kalian pikirkan baik-baik sebelum aku pulang ke pangkuan Tuhan”, jelas Arland.
“Baiklah, kami akan pikirkan saran dari papa”, ucap Keenan sambil memijat keningnya yang sedikit pusing.
Usai selesai menerima telepon dari ayah mertuanya, Keenan pergi menemui Aliya. Keenan berjalan menyusuri setiap sudut hingga memasuki rumah kaca. Ia melihat istri kecilnya tengah mengagumi bunga-bunga warna warni penuh rasa bahagia. Keenan melihat ekspresi istri kecilnya ia ikut senang. Ia mencoba menghampiri istri kecilnya dengan memeluknya dari belakang. Aliya berjingat tiba-tiba mendapatkan pelukan dari Keenan. Keenan memeluk Aliya dengan erat.
“Sweety, aku sangat mencintaimu”, ucap Keenan.
Aliya menghela nafas sambil berkata dalam hati, “apakah aku mempercayai perkataanmu uncle. Aku selalu takut jika aku semakin jatuh dalam pelukan kamu maka aku yang akan tersakiti. Kamu pasti lebih memilih aunty Alena. Aku membayangkan saja membuat dadaku sesak dan ada rasa perih dalam hatiku.” Aliya hanya mampu tersenyum kecut dengan akan takdir yang ia miliki dalam hidupnya.