My Love Is Shared With A Young Girl

My Love Is Shared With A Young Girl
Episode 13



Elena di dalam kamar sedang mencoba menghubungi Keenan yang tengah asyik berduaan di teras belakang di bawah langit gelap. Di saat tengah asyik bercerita tiba-tiba ponsel milik Keenan berdering. Keenan mengambil ponsel diatas meja dan melihat nama di layar depan ponsel miliknya.


“Elena. Kenapa dia menghubungiku?” batin Keenan.


Keenan meminta izin kepada Aliya untuk mengangkat ponsel miliknya. Aliya menganggukkan kepala.


Lalu Keenan menggeser tanda hijau.


“Hallo Elen, ada apa?”


“Aku mau memberitahukan kepadamu bahwa besok papah mau datang ke rumah kita. Aku berharap kamu bisa kembali”.


“Besok?!” Ekspresi Keenan terkejut membuat Aliya menoleh ke arah Keenan.


“Iya. Kamu gak akan mengingkari apa yang kita sepakati kan?”


“Aku gak pernah mengingkari apa yang menjadi keputusan aku. Tapi, ini sangat mendadak”.


“Aku tahu Keenan..” sambil memijit pelipis yang terasa pusing, “ kamu pasti terkejut dan bahkan kamu masih ingin bersama istri kecilmu itu. Namun, mau bagaimana lagi, kamu tahu sikap papa mertuamu kan? Jika dia tahu..habislah sudah kebodohan kita akan membuat mala petaka di keluarga kita. Berilah pengertian untuk istri kecilmu. Kamu pasti mendapatkan izin darinya. Dia bukan gadis yang egois, dia pasti ngertiin posisi kita”, ucap Elena sambil berjalan menuju ranjang king size.


Keenan menarik nafas kasar yang terdengar oleh Elena, “baiklah, aku akan beritahukan kepadanya”.


“Oke, semoga malam ini kamu mendapatkan apa yang ingin kamu dapatkan darinya. Good night. Semoga malamu indah”, ucap Elena.


Keenan mematikan ponsel setelah berbicara dengan Elena. Keenan meletakkan ponsel diatas meja. Lalu menatap Aliya dengan tatapan sedih. Alia yang merasakan tatapan Keenan sedih ia bertanya.


“Uncle ada apa?”


“Sweety, I’m sorry”.


“What?! Sorry?” ekspresi bingung Aliya.


Keenan mendesah kasar sambil menutup mata untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk dengan menarik nafas dalam.


“Sweety, a..aku..” Keenan menjeda perkataannya. “Bagaiamana aku akan katakan untuknya? Aku gak mau mengingkari perjanjian ku dengan Elena. Namun di sisi lain aku gak tega meninggalkan gadis kecilku sendirian lagi. Aku sebenarnya tidak rela apabila dia sendirian lalu bersama pria lain. Aku benar-benar tak bisa berfikir untuk bisa bersamanya”.


Keenan beranjak dari kursi tersebut menghampiri Aliya lalu ia berjongkok membuat Aliya tertegun melihat sikap Keenan yang aneh.


“Uncle..” Aliya menggaruk tengkuk tidak gatal karena gugup melihat Keenan berjongkok di hadapannya sampai dirinya mengambil sikap posisi untuk nyaman namun kenyamanan yang ia cari tidak ada malahan membuat jantungnya bertalu cukup hebat.


Saat Aliya tengah bingung mengambil sikap akan beranjak oleh Keenan dicegah lalu ia mengambil dua tangan milik gadis kecilnya dan memberikan kecupan beberapa kali. Aliya malah tambah bingung.


“Ada apa uncle?”


“Maaf..”


“Maaf kenapa?” sambil mengerutkan dahinya.


“Maaf, membuatmu dalam posisi seperti ini”, ucap Keenan dengan memberikan kecupan di tangannya kembali.


Aliya hanya menatap dan tidak dapat membalas ucapan suaminya karena dia terlalu bingung atas posisinya sebagai istri kedua.


“Aku mungkin terlalu egois untuk memaksamu dalam posisi seperti ini. Padahal aku gak bisa membuatmu bahagia. Malah aku membuatmu selalu mengalah. Maafkan aku. Aku belum bisa memberikan posisi bahagia. Aku hanya bisa memberikan kamu posisi yang selalu terus dan terus mengertiin aku padahal aku..aku menyulitkan kamu”.


“Besok, aku harus kembali lagi ke Elena. Aku harus berada di sana karena Arland ayah dari Elena besok datang. Padahal aku sudah senang sekali bersamamu sweety”. Keenan kembali memberikan kecupan namun kali ini ciuman di tangannya cukup lama. Aliya mencoba mengusap kepala Keenan dengan ragu. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk mengusap kepala Keenan dengan menarik nafas panjang. Tangan mungilnya menyentuh kepala Keenan dengan memberikan usapan dengan pelan.


“Maaf”, ucap Keenan dengan ekspresi menyesal.


“Ya”, ucap Aliya.


.......


...


Pagi pukul 08.00 Aliya, Adele, dan semua teman kelas tiga tengah menghadapi ulangan harian sejarah. Suasana kelas sangat sunyi penuh mencengkam cuman hanya ada suara deheman beberapa kali entah tenggorokannya gatal atau sinyal meminta contekan dari temannya. Bu Renata guru yang paling menguasai dunia ilmu sosial, apalagi ia terlihat kejam dan galak ketika mendapati murid-muridnya menyontek, makanya suasana di kelas saat ini sangat mencengkam tanpa bisa menoleh ke belakang.


Teng teng teng


Bunyi pergantian jam pelajaran telah tiba. Bu Renata menyuruh seluruh muridnya mengumpulkan lembar jawaban.


“Ayo! Semuanya kumpulkan, tidak ada yang boleh mencontek, waktu telah habis!” tegas bu Renata.


Siswa siswi yang belum menyelesaikan harus mengumpulkan dengan seadanya sebelum bu Renata pergi. Mereka berburu-buru mengumpulkan. Usai terkumpul bu Renata pamit dengan senyuman menyeringai. Para murid merasa merinding di sekujur tubuhnya. Murid-murid yang merasa kacau sampai menarik rambutnya ada yang menyumpahi bu Renata dan ada pula sampai mengomel tentangnya juga ada yang mengatakan kalau suasananya menjadi lega setelah mencengkam.


“Aku begitu lega Al”, ucap Adele.


“Tadi suasananya sungguh memberatkan hati. Bikin nyawaku hampir lepas dari ragaku”, imbuh Adele.


“Emang sih, aku pun tenggorokan aku kering. Apalagi kita akan berjumpa dengan pak Hendra. Oh no”, seru Amanda.


“Hari ini benar-benar buruk”, ucap Adele.


“Sudahlah, kita lupakan yang lalu. Sekarang nikmati pelajaran dari bapak Hendra”, ucap Aliya.


Sementara Bella dengan geng nya sibuk menata riasan yang ada di wajahnya.


“Aduh Bel, sepertinya kening ku keriputan nih gara-gara banyak tugas. Coba kalau sekolah kita banyak belajar sambil bermain kan kita gak bakal timbul keriput deh”, ucap Ayu sambil bercermin dan menyentuh wajahnya yang sedikit terlihat kusam baginya.


“Iya nih, kenapa para guru itu memusingkan materi sih. Coba saja hidup dibuat santai dan gak banyak materi pasti hidup bagaikan surga tanpa adanya beban hidup deh”, ucap Winda yang mengkhayal.


“Kejauhan tuh khayalan kamu”, sindir Adele.


“Humm. Mungkin dunianya dia saja yang bisa kayak gitu tuh”, nimbrung Amanda.


“Lihatlah Bel, para cebong ikut-ikutan”, adu Ayu.


“Yah, mendingan mengkhayal dari pada banyak bac*t”, sarkas Bella.


“Benar sih”, ucap Winda.


“Kalau ngomong jangan kasar deh!”, seru Adele.


“Jika gak terima minta tolong aja sama jaksa. Siapa tahu bisa viral. Ya gak gaes”, ucap Bella.


“Benar Bell, seperti artis cari sensasional yang banyak nge drama dan sok! Banyak ngomong biasanya tong kosong. Banyak ikut campur itu namanya apa sih?”, ucap Winda dengan telapak tangannya menutupi wajah sebelahnya.


“Kayak kecebong kali!”, seru Ayu. Mereka tertawa terbahak membuat Adele gak terima. Ketika Adele akan ngelabrak Bella pak Hendra terlebih dulu datang dengan menggebrak meja membuat Adele mengurungkan diri sambil mengacungkan jari tengah kepada ke tiga mak lampir.