
Adele berjalan pelan-pelan untuk mengusili ibunya. Saat akan mengagetkan ibunya dari belakang tiba-tiba abah datang dan gagal mengusili bundanya.
“Adele”, panggil ayah. Lalu Mawar menoleh ke arah putrinya yang datang.
“Adele, sejak kapan kamu ada dibelakang umi?” tanya Mawar dengan mengangkat alis sebelahnya.
“Belum lama umi”, ucap Adele. Adele pergi berjalan menghampiri ayahnya dan uminya untuk memberikan salam.
“Kamu datang sendiri?” tanya Ayah.
“Iya yah, mereka sedang sibuk”, ucap Adele.
“Harusnya mereka menyempatkan diri ke sini”, sela kakek Arland.
“Belum ada waktunya pah. Bisnis mereka sedang lancar-lancarnya. Pekerjaan dan karyawan yang mereka emban itu besar. Nanti kalau sudah ada waktunya mereka pasti akan ke sini untuk menemuimu pah”, ucap Chandra dengan penuh kehati-hatian agar papahnya gak tersinggung.
“Baiklah. Adele, ayo ikut grandpa main catur”, ajak Arland.
“Siap grandpa”, ucap Adele.
Mereka pergi ke teras depan untuk bermain catur. Sembari bermain catur Arland terus mengajak ngobrol cucunya seputar rumah tangga Elena.
“Adele, bagaimana sekolahmu?”
“Baik grandpa”.
“Apakah ada sesuatu kesulitan dalam belajar maupun teman bermain kamu?”
“Ada, tapi Adele sering di bantu dua sahabatku jika ada mata pelajaran yang sulit. Mereka itu sangat pintar-pintar dalam studi pendidikan. Adele sebetulnya iri dengan otak encer kedua sahabatku. Tapi, Adele malah lebih bangga memiliki dua sahabat yang pintar, sebab jika ada yang sangat sulit aku kerjakan mereka siap siaga membantuku”, jelas Adele.
“Syukurlah. Grandpa sangat bangga memiliki cucu yang berpikiran dewasa”, ucap Arland. Adele tersenyum dengan unjuk gigi setelah mendapatkan pujian dari grandpanya.
Lalu Arland beralih ke topik seputar rumah tangga Elena.
“Selama kamu tinggal di rumah aunty nyaman gak?”
“Nyaman banget, karena aunty sering membawakan camilan, membuatkan jus, dibuatkan makanan enak, gituh deh grandpa”.
“Bagaimana dengan uncle Keenan?”
“Dia juga sama dengan aunty Elena suka buatkan Adele makanan, minuman, dan sering di bawakan oleh-oleh habis pulang kantor. Tapi..”
“Tapi, apa nak?”
“Uncle akhir-akhir ini lebih sibuk di bandingkan aunty”.
“Pantesan mereka gak di karunia anak. Mereka sering sibuk dengan urusan masing-masing. Aku harus ke rumahnya”, batin Arland.
“Yeay menang”, seru Adele saat Arland tengan melamun. Lalu mereka menghentikan permainannya.
...
Di apartemen Keenan sedang bermalas-malasan bersama Alia. Tiap kali Alia tengah menikmati siaran TV, Keenan sering kali menjahili dengan berbagai cara seperti mencolek pipi, mencium, sampai menggigit pundak Alia. Sampai Alia kesal.
“Uncle!”
Keenan malah ketawa melihat ekspresi kesal Alia. Lalu Alia pergi meninggalkan Keenan ke dalam kamar tidur. Keenan mengikuti istrinya ke kamar. Di sana Keenan di suguhkan aksi merajut Alia akibat kejahilan Keenan yang kelewatan. Keenan pergi menghampiri Alia yang berbaring di atas ranjang dengan menyelimuti diri sampai ke ujung kepala. Keenan menjadi merasa bersalah karena kejahilannya terhadap Alia kelewatan.
“Al”, panggil Keenan sambil mengusap kepala istrinya yang di tutupi selimut.
“Maaf kan aku yang kelewatan menjahilimu”, ucap Keenan dengan raut bersalah.
“Kamu jangan merajut ya sweety”, imbuh Keenan.
“Ayolah sweety. Jangan terlalu lama merajuk. Aku gak tahan melihatmu seperti ini. Aku janji tak akan mengulanginya”.
“Aku akan menerima hukuman darimu asalkan kamu menyudahi rajukan kamu”.
“Aku akan menebus kesalahanku dengan mengabulkan apa saja permintaanmu”.
Alia mendengar kata demi kata yang diucapkan Keenan dari balik selimut, Alia langsung membuka selimut tebal itu dengan hembusan nafas kasar. Keenan melihat Alia membuka diri dari balik selimut tersenyum lega.
“Apa kau mau memaafkan aku?”, tanya Keenan dengan ekspresi memohon sambil memegang tangan kanan Alia.
“Aku maafkan uncle, namun ada syarat”, ucap Alia.
“Syaratnya apa?” tanya Keenan.
“Uncle menebus dengan mengajakku menonton dan mentraktirku berbagai macam jajanan”, ucap Alia.
“Baiklah, mari kita siap-siap”, ajak Keenan dengan senyum hangat.
Alia turun dari ranjang untuk bersiap pergi bersama suaminya ke bioskop. Alia mengambil tas selempangnya lalu mengambil ponsel dan berangkat.
Mereka berjalan beriringan menuju area parkir. Kemudian Alia dan Keenan masuk ke mobil lalu menancapkan gas menuju ke gedung bioskop. Di perjalanan menuju ke gedung bioskop Keenan terus mengajak Alia mengobrol ringan mulai seputar sekolah, tentang Adele lalu menceritakan pekerjaan dirinya di kantor.
“Bagaimana sekolahmu akhir-akhir ini? Apakah ada hambatan di sekolah?”
“Akhir-akhir ini baik-baik saja. Kalau hambatan mungkin masalah tugas sekolah yang banyak apalagi persiapan ujian”.
“Jika nanti ada kesulitan dalam tugas, aku bisa membantumu”.
“Apakah uncle bisa?”
“Tentu, aku dulu juara satu sampai tingkat SMU dan kuliah pun aku lebih cepat lulus dibandingkan anak-anak lainnya”.
“Oh ya, aku amat terkagum”, ucap Ana sambil menutup mulutnya dan mata melotot. Lalu Ana mengubah ekspresi netral kembali dalam sekejap. “Namun pelajaran yang dipelajari uncle denganku pasti beda”.
“Beda, ah semua mata pelajaran itu sama baik di negaraku maupun negara lainnya”.
“Baiklah, nanti kalau ada soal yang sulit aku akan minta bantuan uncle untuk mengerjakan tugasku”.
“Terus, Bagaimana dengan Adele selama di sekolah?”
“Dia akhir-akhir ini sering sekali bertengkar dengan saingannya”.
“Saingan apa?”
“Saingan memperebutkan pria”.
“Apakah dia sangat tampan dan pintar?”
“Tentu”
“Apa dia lebih tampan dariku?”
Pertanyaan Keenan membuat Alia harus menoleh sambil memperhatikan wajah dan postur tubuh yang dimiliki suaminya.
“Tentu”, jawab Alia.
Jawaban yang di lontarkan Alia membuat Keenan tidak suka dan merasa kesal namun ia harus menahan rasa itu demi tidak menakuti istri belia nya. Lalu Keenan mengalihkan topik lain seputar cerita pekerjaannya di kantor.
“Al, apa kau tidak ingin menanyakan aku soal pekerjaanku di kantor?”
“Sebenarnya aku ingin bertanya, namun aku gak mau terlalu mengusik masalah kamu di kantor karena aku belum pantas untuk bertanya tentang itu”, ucap Alia.
“Aku tidak akan terusik kok. Aku malahan senang kalau kamu ingin mengetahui kehidupan sehari-hari suamimu di kantor”, ucap Keena dengan mengusap kepala Alia dengan lembut.
“Kalau begitu, cobalah kamu ceritakan masalah di kantor”.
“Baiklah sweety”.
“Aku harus mulai dari mana ya?” Keenan mengusap tengkuknya yang gatal.
“Aku akan mulai cerita dari masalah asistenku yang telah mengundurkan diri”, ucap Keenan dengan sesekali melirik ke arah Alia yang tengah menunggu Keenan bercerita. Namun Keenan tak kunjung bercerita sehingga Alia harus memancing cerita yang akan dimulai oleh Keenan dari masalah asistennya mengundurkan diri.
“Kenapa asisten uncle mengundurkan diri?”, tanya Alia.
“Ia tengah hamil empat bulan setelah pernikahannya berumur dua tahun”, ucap Keenan.
“Sebenarnya aku tidak ingin dia mengundurkan diri sebab ia asisten paling profesional dalam urusan pekerjaan dan prefeksionis dalam hal pekerjaan yang ia emban. Aku sangat sedih ia harus berhenti dan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga”, keluh Keenan.
“Terus uncle sudah mendapatkan pengganti untuk asisten barumu?”
“Aku sudah mencarinya, besok jadwal aku menginterview calon karyawanku”, jawab Keenan.
Lalu mereka keterusan mengobrol sampai tak terasa mereka sudah sampai ke tempat yang di tuju. Mereka menghentikan obrolannya kemudian turun dari mobil. Mereka pergi dengan saling beriringan.
Sampai di depan loket, Alia memilih film yang ingin di tontonnya. Lalu Alia memilih film bergenre horor dan komedi. Keenan kemudian membeli tiket setelah Alia menunjukkan film yang ingin dia tonton. Sedangkan Alia pergi memesan popcorn dan cola. Usai mendapatkan camilan dan minumannya. Alia pergi menghampiri Keenan yang berdiri di depan studio. Kemudian mengajaknya masuk. Mereka mendapatkan kursi no dua dari depan. Alia meletakkan dua minuman itu di tangan kursi khusus menaruh gelas dan mereka menikmati tayangan film.
Alia menikmati film-nya sampai tertawa pada saat adegan komedi muncul. Keenan yang berada di samping Alia memperhatikan tawa yang terpatri di wajahnya sambil menggumamkan kata cantik dengan lirih.
Beberapa lama kemudian film tersebut telah usai, para penonton bergegas pergi ke luar. Keenan yang sejak tadi menikmati wajah cantik Alia pun gak terasa bahwa film itu telah usai. Alia mengajak Keenan pergi ke pusat perbelanjaan. Keenan pun menuruti permintaan Alia yang kedua.
“Uncle, kamu harus siap-siap kartu ATM kamu akan terkuras habis”, ucap Alia.
“It’s not problem”, ucap Keenan.
“Baiklah, kita harus pergi ke daging dahulu nanti sisanya kita pergi ke bagian camilan”, ucap Alia.
Alia berjalan ke pusat daging, lalu ke bahan sayuran dengan diikuti oleh Keenan. Keenan terus memperhatikan gerak gerik istrinya dengan mengulas senyum. Beberapa lama kemudian Keenan membayar semua barang yang di pilih oleh Alia lalu ke tempat parkir menuju apartemen.
Ketika mereka asyik berjalan berdua, mereka tak menyadari ada sosok orang yang terus mengintai mereka. Wanita itu merupakan mantan kekasih Keenan. Ia belum menerima kenyataan kalau dia yang telah bersalah memutuskan hubungan dengan pria tersebut yang kini memiliki dua istri. Ia masih ingin mengganggu hubungan Keenan dengan dua istrinya dengan siasat yang ia rencanakan di balik pagar.
“Aku akan buat hidup kalian seperti neraka”, sambil tersenyum sinis.
...
Di tengah kemesraan Keenan bersama Alia, kini Elena tengah menikmati waktu kesendirian di rumah sambil menatap kolam renang dengan menikmati secangkir teh.
“Udaranya gak terlalu panas. Aku sangat menikmati hari liburku dengan menatap kolam dan langit yang cerah dengan pancaran sinar yang menyebar ke seluruh permukaan bumi”.
“Aku harusnya tidak bertindak seperti wanita yang egois. Aku harusnya menerima semua kenyataan dalam hidupku”, dengan tersenyum sinis.
“Aku sangat menyedihkan”.
Saat Elena akan menutup mata tiba-tiba Adele datang dengan teriakan memanggil namany membuat hati Elena yang tadinya sedih sekilas menjadi senang karena keponakannya telah kembali.
Adele pergi menghampiri Elena dengan membawa makanan yang dititipkan oleh umi-nya. Adele mengambil tempat di sisi Elena.
“Aunty, umi menitipkan oleh-oleh kepadaku untukmu. Ia bawakan berbagai macam makanan yang kamu sukai”
“Oh ya”, Elena mencoba membuka rantang besar lalu mencium bau harum masakan yang dibuat oleh Mawar sambil berkata, “rasanya sangat sedap”.
“Tentulah”, ucap Adele.
“Kalau begitu mari kita makan”, ajak Elena.
“Aku ambilkan sendok dan piringnya”, ucap Adele.
“Tolong ya sayang”, ucap Elena.
“Ok”, ucap Adele.
Adele pergi ke dapur mengambil piring dan sendok di rak. Lalu kembali ikut bergabung dengan Elena. Mereka menikmati masakan Mawar dengan lahap hingga tak kerasa makanan itu telah tandas. Mereka membaringkan diri di atas kursi dengan menepuk perutnya karena kekeyangan. Elena dan Adele saling melirik dan tertawa.
Saat suasana sedang mood, Adele memberitahukan kepada Elena kalau besok lusa Arland akan datang untuk menginap. Berita itu membuat Elena terkejut lalu mengubah ekspresi keterkejutannya dengan sikap tenang dalam sepintas.
“Ini yang akan aku khawatirkan suatu hari nanti. Semoga papa gak akan melakukan hal-hal macam”.