My Love Is Shared With A Young Girl

My Love Is Shared With A Young Girl
Episode 1



Pagi hari yang begitu terasa hangat sepasang suami istri menikmati di bawah alam mimpi dengan berpelukan dengan saling memberikan kehangatan. Pernikahan mereka sudah menginjak dua belas tahun meski belum di karuniai seorang anak. Tetapi kehidupan rumah tangga Elena dan Keenan masih begitu harmonis seperti layaknya orang berpacaran.


Elena bangun dari ranjang menyiapkan menu masakan pagi untuk suaminya yang sedang ke kamar mandi membersihkan badan.


Hidangan buatannya telah siap dan Elena menata hidangan tersebut di atas meja makan.


Keenan keluar dari persembunyian setelah berganti pakaian dan mencium pipi istrinya dan memuji masakan istrinya


“Morning sweety”, sapa Keenan.


“Uhmm masakan kamu harum sekali. Keharuman aroma masakan kamu tidak pernah berubah dan tidak ada bandingannya dengan kelezatan dalam sekian tahun ini”, puji Keenan dengan mencoba sesuap nasi sambil mengangkat dua jempol.


“Bisa aja kamu honey”, senggol Elena dengan siku.


“Bagaimana keadaan restoran kamu?”, tanya Keenan.


“Restorannya ramai apalagi pas malam minggu banyak sejoli yang reservasi ke restoran walau sekedar untuk keromantisan”, jawab Elena.


“Bagus sweety, berarti makanan yang kamu ciptakan banyak di sukai oleh banyak orang”, ucap Keenan.


“Makanan yang tersaji begitu enak itu, bukan hanya aku saja honey namun juga para chef di dapur”, ucap Elena.


“Iya sweety, aku bangga dengan kamu”, ucap Keenan mencium kening Elena.


Setelah selesai sarapan pagi Keenan berpamitan pada istrinya yang selalu memberikan senyuman hangat dan kecupan dibibirnya.


“Aku berangkat kerja dulu”, pamit Keenan.


“Hati-hati honey. Semangat!”, teriak Elena sambil melambaikan tangan.


Tatkala Keenan telah berangkat, saat ini Elena membersihkan badan lalu pergi ke restoran yang telah ia rintis bersama suaminya dari hasil kerja keras mereka.


Di kantor Keenan di suguhkan profil mengenai sekretaris baru di atas meja kerjanya.


Keenan melihat CV para calon karyawannya yang akan dia pilih untuk jadi asisten pribadi untuk menggantikan asisten lama yang akan mengundurkan diri dengan alasan setelah melahirkan dia akan bekerja sebagai ibu rumah tangga dan merawat suami juga anak-anaknya.


Keenan berkutat dengan sebuah dokumen pemasaran dan marketing dari setiap minggu yang ia pantau untuk meninjau hasil kerja keras karyawannya.


Lalu Sekretaris Keenan datang dengan mengetuk pintu dengan keras dan Keenan dari dalam memerintahkan ia masuk.


“Masuk!”, suruhnya.


“Mohon maaf pak, mengganggu”, ucap sekretaris tersebut.


“Ada apa?”, tanya Keenan dengan ekspresi dingin.


“Saya mau meminta tanda tangan anda mister. Mengenai laporan data keuangan”, ucap sekretaris tersebut


Sekretaris perwakilan pemasaran memberikan dokumen untuk mendapatkan tanda tangan.


Sebelum sekretaris perwakilan pemasaran pergi, dia memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan pesan kepada HRD untuk meminta jadwal pemilihan sekretaris yang baru dengan ekspresi dingin.


“Tolong sampaikan pesan saya kepada bagian HRD masalah interview kerja dan tolong minta kan jadwal untuk calon karyawan baru yang akan di interview”, perintah Keenan.


“Baik pak, akan segera saya sampaikan perintah anda”, ucap sekretaris tersebut.


“Apakah ada lagi yang ingin mister perintahkan kepada saya?”, tanya sekretaris tersebut.


“Sudah tidak ada. Nanti jika aku butuh akan aku hubungi lewat telepon”, jawab Keenan.


“Kalau begitu saya permisi dahulu”, pamit sekretaris tersebut.


Ia berjalan menyusuri tiap koridor untuk menuju ke tempat kerjanya. Ketika tengah berjalan melewati koridor sang sekretaris melihat salah satu karyawan bagian HRD yang ia kenal lalu memanggilnya.


“Franz!”


“Franz!”


“Franz!”


Franz berhenti saat ada suara memanggil namanya dan menoleh ke arah sumber suara.


Franz melihat seseorang yang berlari ke arahnya. Sekretaris itu mengambil nafas lalu menyampaikan perintah dari Keenan.


“Franz, tolong kamu buat jadwal untuk interview calon karyawan bapak Keenan. Dia memerintahku untuk menyampaikan itu kepada kamu”, ucapnya.


“Baik, nanti aku akan pergi ke ruangan mister Keenan”, ucap Franz.


“Baiklah, kalau begitu aku kembali ke ruanganku”, ucap sekretaris itu.


Pagi berganti siang, lalu siang berganti sore terus malam. Elena berjalan membuka pintu rumah yang belum menyala, ia membuka pintu lalu menghidupkan lampu agar terang sambil menghembuskan nafas lega.


“Huhh”, hembusan nafas dari bibir Elena.


“Akhirnya aku bisa istirahat sepuluh menit sebelum Keenan pulang”, gumam Elena dengan menjatuhkan diri diatas ranjang sambil menatap langit dan berandai-andai.


“Andai aku bisa memiliki seorang anak, pasti saat ini tidak akan kesepian.Namun takdir berkata lain..”, batin Elena.


“Aku akan coba untuk menghubungi orang tua Adele. Agar aku tidak kesepian begini”, gumamnya sambil beranjak dari ranjang.


Elena mendeal-up nomor Mawar sang kakak.


“Hallo kak!”, sapa Elena.


“Ada apa Elen?”, tanya Mawar.


“Aku ingin mengajak anak bontot kamu untuk menginap di mansion ku. Apakah kamu mengizinkan kak?”, ucap Elena.


“Tentu Elen, namun keputusan ada di tangan putriku”, ucapnya.


“Tolong tanyakan kak. Aku akan menunggu keputusan Adele”, ucap Elen.


“Sebentar ya Elen”, ucap Mawar.


“Ok kak”, ucap Elen.


Beberapa menit kemudian Mawar memberitahukan keputusan Adele setelah lima menit berlalu.


“Hallo Elen, kamu masih di sana?”, tanya Mawar.


“Iya kak, aku masih menunggu jawaban Adele kak”, ucap Elena.


“Dia memberitahuku bahwa dirinya mau”, ucap Mawar.


“Syukurlah, aku tidak kesepian apabila Adele datang dan menginap di mansionku”, ucap Elena.


“Iya Elen, tapi kamu jangan terlalu manjain dia. Ingat itu..”,ucap Mawar.


“Tenang saja kak, aku akan menjaganya seperti yang kakak katakan juga tidak akan manjakan dia”, ucap Elena.


“Kalau begitu aku tutup dulu ya kak. Aku harus bersihkan badanku dan menyiapkan makan malam untuk suamiku”, ucap Elena.


“Bye”, pamit Elena.


“Bye juga”, ucap Mawar.


Elena bergegas pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan langsung ke dapur memasakan makanan untuk suaminya.


Sebenarnya mereka memiliki pembantu namun dia belum kembali dari kampung sebab anaknya sedang sakit. Keenan sudah menyarankan untuk Elena memperkerjakan pembantu baru namun ia tolak. Soalnya Elena lebih nyaman dengan pembantu lamanya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Pada saat sedang makan malam Elena meminta izin untuk keponakannya yang sudah menginjak kelas tiga SMU untuk tinggal bersamanya sebab Elena merasa kesepian ketika Keenan ngelembur kerja.


“Honey”, panggilnya.


“Ya sweety”, ucap Keenan.


“Aku mau minta izin kepadamu”, ucap Elena.


“Mau izin apa?”, tanya Keenan.


“Aku mau membawa keponakanku menginap di mansion kita. Apakah boleh?”, ucap Elena.


“Tentu saja sweety. Masa aku melarang keponakan kita datang. Mereka sudah kita anggap seperti anak kita sweety”, ucap Keenan.


“Thank you honey”, ucap Elena.


“Kapan keponakan kamu ke sini?”, tanya Keenan.


“Dia akan ke sini lusa. Dia juga akan menginap sampai dia lulus untuk menemaniku di mansion ini”, jawab Elena.


“Baiklah, mari kita sambut keponakan kita”, ucap Keenan.


“Thank you”, ucap Elena mengecup pipi suaminya.


“Sama-sama”, senyum Keenan.


Lalu Keenan mengizinkan istrinya membawa ponakannya dari adik iparnya untuk menginap di mansion ini untuk menemani istrinya yang kesepian.