
Alia berangkat bersama Daniel dengan paksaan.
“Al, ayo kita berangkat bersama”, ajak Daniel saat bertemu di depan gang.
“Maaf Daniel, bukannya aku gak mau. Tapi,...”, ucap Alia dengan mencari alasan yang tepat untuk menghindari permusuhan dengan sahabatnya.
“Tapi apa Al? Aku kan cuman mengajak berangkat bersama saja. Aku tidak membawa kamu kemana-mana. Kecuali kalau kamu ingin mintanya mengajak bolos bersama. Aku pasti akan temani kamu”, ucap Daniel dengan kekeh.
“Uhmmm...”, dengan menggaruk tengkuk dan ekspresi bingung.
“Uhmmm?”, tanya Daniel.
“Ayolah Al, jangan banyak mikir nanti telat ke sekolahnya”, ucap Daniel dengan menyerahkan helm cadangan yang dibawanya. Tapi Alia malah menatap dengan bergelut pikirannya sendiri membuat Daniel menghembuskan nafas kasar dan turun dari motor mencoba memakaikan helmnya di kepala Alia lalu menarik tangan Alia untuk menyuruhnya segera naik dengan memperlihatkan waktu di tangannya hingga akhirnya Alia naik ke motor Daniel. Daniel tersenyum merekah dan menancapkan pedal melaju menuju ke sekolah.
Pada saat Keenan mengantarkan Adele sampai di depan pintu gerbang, Keenan melihat Alia berboncengan dengan pria lain membuat hati Keenan terbakar rasa cemburu.
“Alia!”,sebut Keenan dalam hati.
“Dia berboncengan dengan pria lain. Aishhh..****!”, umpat Keenan dalam hati.
“Aku malah menyia-nyiakan istri kecilku dengan pria lain. Aku memang bodoh. Harusnya aku yang mengantarkan istriku sampai di depan gerbang sekolah. Aku benar-benar pria yang tidak bisa tegas menghadapi situasi ini sekarang”,ucap Keenan dalam hati.
Keenan ingin menegurnya namun dia tidak bisa bersikap seperti anak kecil di depan keponakannya yang belum tahu perihal dirinya menikah dengan temannya.
Keenan harus menahan api kecemburuannya dengan menarik nafas lalu dihembuskan.
Suara nafas yang keluar dari bibir Keenan terdengar oleh keponakannya. Adele menoleh dengan bertanya.
“Uncle kenapa?”
“Kenapa apanya?”, tanya balik Keenan.
“Sudahlah, Adele pamit dulu masuk ke sekolah. Bye uncle”, ucap Adele dengan melambaikan tangan.
Setelah mengantar Adele dan melihat Alia berboncengan dengan pria lain, Keenan begitu marah dengan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa. Keenan melampiaskan kekesalannya dengan memukul tembok di ruang kerjanya.
Lalu melemparkan tubuhnya ke sofa sambil menghembuskan nafas kasar.
Pada saat suasana hati Keenan sedang tidak tentram, tiba-tiba Aslan datang tanpa mengetuk pintu. Tapi Aslan malah mendapatkan suguhan Keenan yang tengah kacau.
“Halo brother!”, teriak Aslan dengan ekspresi wajah ceria dengan menoleh di beberapa sudur ruang kerja Keenan dan melihat Keenan tengah kacau.
Aslan duduk di kursi dekat meja kerja Keenan dan bertanya.
“Keenan, kamu kenapa?”, tanya Aslan dengan menghampiri sahabatnya yang tengah tidur terlentang.
Keenan menceritakan kehidupannya dan Aslan memberikan saran untuknya.
“Aku saat ini sedang kacau”, ucap Keenan dengan mengeluh.
“Apa?! Seorang Keenan sedang kacau? Padahal hidupmu dikelilingi dua wanita yang cantik man”, ucap Aslan dengan tidak percaya.
“Meski aku memiliki dua istri namun tetap saja hidupku saat kacau. Aku sebagai pria yang payah. Di sisi sebagai seorang suami dengan dua istri. Aku merasa hidupku di rudung dengan rasa bersalah, menyedihkan, dan tidak bisa mengambil tindakan secara tegas terhadap yang lain. Pokoknya aku di dunia ini benar-benar terasa gelap ketika hidup baruku dengan dua istri”, ucap Keenan dengan nada frustrasi.
“Ayolah man, hidupmu itu tidak kacau. Kau hanya perlu waktu untuk beradaptasi menghadapi situasi ini. Aku tahu rasanya di posisi kamu. Makanya aku sering menganggapmu gila dengan menikah kembali apalagi dengan anak masih sekolah. Namun aku berpikir kembali bahwa jalan hidupmu memang begitu man. Kamu harus memberikan rasa keadilan untuk kedua istrimu. Kamu harus bertanggung jawab. Setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya. Tinggal kamu saja bagaimana menindak lanjuti situasi yang saat ini kamu hadapi man”, ucap Aslan.
Keenan kemudian berpikir sejenak tentang ucapan Aslan.
“Benar kata Aslan, aku tidak bisa hanya memikirkan keegoisanku saja. Tapi, aku juga harus memikirkan perasaan mereka tentang rasa keadilan yang harus kuberikan. Aku hanya butuh waktu untuk menghadapi situasi ini saja yang telah aku ciptakan sendiri. Aku harus mempertanggungjawabkan yang sudah aku ambil keputusan”, ucap hati Keenan.
Lalu Keenan mengucapkan terimakasih kepada Aslan.
“Thank’s bro”,ucap Keenan dan diangguki oleh Aslan.
...
Keenan kembali ke apartemen dengan langsung memeluk gadisnya yang sedang berada di dapur dengan menggigit pundaknya membuat Alia mengadu sakit dan kesal.
“Auch..!”
“Uncle!”, kesal Alia
“Uncle, kenapa kamu menggigitku?”, tanya Alia dengan ekspresi marah.
Keenan malah balik tanya.
“Kemarin saat pergi ke sekolah kamu kenapa berboncengan dengan laki-laki lain?”, tanyanya dengan gigi mengetat.
“Jawablah sweety!”, amarah Keenan dalam mode sedang.
“Alia, kamu harus ingat bahwa kamu sudah ada yang memiliki. Kamu sudah bersuami. Kamu berjalan bersama dengan pria lain itu tidak pantas. Kamu berdosa apabila kamu tidak minta izin dengan suamimu saat pergi main bersama dengan laki-laki lain!”, teriak Keenan dengan mendesis.
Alia tidak menanggapi Keenan yang tengah emosinya tidak stabil.
Alia pergi ke meja makan dan menawarkan Keenan untuk makan malam bersama.
“Uncle, apakah kamu lapar?”,tanya Alia tapi tidak di tanggapi oleh Keenan yang masih mode marahnya meluap-luap.
“Jika uncle lapar, mari kita makan bersama”,ajak Alia yang mengabaikan amarahnya Keenan yang meluap-luap.
Keenan akhirnya ikut makan bersama setelah beberapa menit menenangkan diri untuk meredakan emosi. Walaupun Keenan emosinya masih belum stabil. Ketika Alia memandang Keenan malah yang di dapat oleh Alia yaitu sorotan tajam dari Keenan dan membuat Alia gugup.
Usai makan Keenan mencurahkan isi hati dan kepalanya yang hampir meledak.
“Al..”,panggilnya.
“Maaf atas keegoisan aku dan amarah yang tidak bisa ku kendalikan. Maaf apabila membuatmu takut. Aku sebenarnya marah karena aku cemburu mengingat kamu berboncengan bareng bersama teman laki-lakimu. Hatiku terasa nyeri melihat kamu merangkul pinggangnya. Aku melihat itu pada saat aku mengantar Adele ke sekolah dan tidak sengaja aku melihatmu berboncengan dengan pria yang memberikan kamu tumpangan. Hatiku terasa panas dan nyeri. Hawa dalam diriku terasa sesak saat mengingat kamu berboncengan dengan pria lain. Maafkan aku yang terlalu egois ini. Aku sebagai pria juga tidak tahu diri. Hanya bisanya menyakitimu, memaksamu, dan menekanmu untuk terus di sisiku. Aku sebenarnya dalam hidup tidak ingin memiliki kehidupan seperti ini. Namun..mungkin ini jalan hidupku ataupun hidupmu. Kita dipertemukan dalam keadaan di posisi yang tidak adil. Maaf, aku bukan pria yang baik untuk kau temui dalam hidupmu. Tapi, aku berjanji akan membahagiakan kamu meski jalur hidup kita akan rumit”, ucap Keenan dengan ekspresi sedih.
Setelah mendengar curahan hati suaminya, Alia pergi ke kamar dan mengunci pintu lalu menangis dalam diam di depan pintu dengan punggung bersandar di pintu yang tertutup itu.
Keenan pun juga begitu dan mengusap wajahnya yang kasar karena merasa bersalah sudah membentak Alia yang tidak bersalah. Seharusnya Keenan menyalahkan dirinya karena semua kehidupannya yang semakin kacau itu adalah perbuatannya bukan gadis kecilnya.
Paginya, Alia memakan sarapan pagi sendirian. Sementara Keenan membersihkan diri dibawah shower dengan nafas kasar.
Lalu pergi keluar membuat kopi dan ikut bergabung sarapan dengan Alia namun gadis itu sudah menyelesaikan sarapan paginya.
Keenan menyusul ke ruang tengah dimana Alia sedang menonton televisi.
Keenan mematikan televisi dan menyuruh Alia untuk menatap matanya namun Alia malah tidak menggubris omongan Keenan yang kini tengah memegang kedua tangan miliknya.
Lalu Keenan memaksa Alia menatap dengan memindahkan tubuhnya dalam pangkuan dirinya dan mengangkat dagunya untuk menyuruhnya menatap matanya. Kemudian Keenan mengucapkan kata maaf kepada Alia.
Keenan memeluk tubuh Alia dengan menangis dan Alia membalas pelukan itu karena merasa kasihan.
Setelah mereka berbaikan Keenan mengajak Alia pergi jalan-jalan mumpung tanggal merah.
“Al, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan untuk menghilangkan rasa penat dalam diri kita?”, saran Keenan. Lalu Alia menjawab dengan anggukan kepala dan membuat Keenan tersenyum merekah setelah Alia memberikan jawaban yang diinginkan.
Mereka berjalan-jalan penuh canda dan tawa yang mereka obrolkan.
“Uncle”,panggil Alia.
“Ya sweety”, ucap Keenan.
“Uncle berumah tangga dengan aunty Elena berapa tahun?”, tanya Alia.
“Kami hidup berumah tangga sudah dua belas tahun”, jawab Keenan.
“Apakah uncle bahagia bersama aunty Elena?”, tanya Alia.
“Bahagia”, jawab Keenan.
“Kalau bahagia bersama aunty Elena, kenapa uncle Keenan menikah lagi denganku?”, tanya Alia.
“Uhmmm..,sebenarnya aku tidak pernah terpikir untuk menikah lagi dengan wanita manapun setelah menikahi Elena namun kenyataan aku menikah dengan gadis belia...”, jawab Keenan dengan senyum miring dan menarik tangan Alia untuk diajak duduk. Alia mengikuti Keenan pergi dan duduk bersama di bawah pohon di area taman.
“Kenapa aku bisa jatuh cinta kembali dengan gadis belia sepertimu?”, tanya Keenan sambil memegang kedua tangan Alia dan menatap kedua mata Alia penuh kasih sayang. Alia mengedikkan bahu dan menggeleng kepala.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepadamu”, ucap Keenan dengan menyibakkan rambut panjang Alia ke belakang.
“Aku hanya tahu kalau aku jatuh cinta kembali pada pandangan pertama dengan gadis yang belum pernah aku kenal. Detak jantungku berdetak dengan cepat. Aku selalu memikirkan mimik wajah yang tidak bisa aku lupakan. Sekalinya aku berusaha untuk menghapus ingatan malah sebaliknya aku selalu mengingatmu. Mungkin bisa dikatakan kalau ini takdir Tuhan”, ucap Keenan kembali dengan membelai pipi Alia. Alia yang tengah dibelai pipinya detak jantungnya berdebar seperti mau meledak. Sebelum jantungnya meledak, Alia mengalihkan pembicaraan dengan hal candaan.
“Oh ya uncle, di mata ada sesuatu deh”, ucap Alia.
“Ada apa?”,tanya Keenan dengan dahi berkerut.
“Coba aku bantu dengan kaos milik uncle”,ucap Alia dengan senyum penuh arti.
“Baiklah”, ucap Keenan.
“Coba uncle tutup matanya agar tidak sakit”, ucap Alia. Keenan menuruti ucapan istri kecilnya. Setelah Keenan menutup mata, Alia membersihkan dengan pura-pura lalu diam-diam pergi dengan tertawa terkikik dan terbahak. Keenan yang merasa dibohongi mengejar Alia yang berlari dan mereka tiba di air pancuran lalu basah-basahan dengan tawa penuh bahagia.
Sementara Elena pergi ke kafe untuk sekadar refreshing saat bersinggah Elena menemuka dua sahabatnya Kevin dan Danu secara kebetulan yang selama ini mendengarkan curahan hati dirinya.
“Hallo guys”, sapa Elena dengan mengambil posisi duduk dekat Kevin dan Danu.
“Hai Elen”, sapa Kevin.
“Kamu pergi dengan siapa?”, tanya Danu.
“Aku pergi sendiri karena lainnya sedang sibuk”, ucap Elena dengan senyum kecut.
Sedangkan Adele sedang pulang ke rumah kedua orang tuanya.
“I’m coming!!”, teriak Adele dengan disambut kakaknya yang telah lama tidak berjumpa.
“Hai Adele, apa kabarmu?”, tanya Stella.
“Baik kak”, jawab Adele.
“Kakak datang ke sini dengan siapa?”, tanya Adele.
“Aku datang dengan suamiku dong”, ucap Stella.
“Kemana semua orang pergi kak?”, tanya Adele.
“Bunda ada di dapur, ayah dan kakek berada di kebun bersama abang Rio”, jawab Stella.
“Ya udah, aku menghampiri bunda dulu. Bye”, ucap Adele dengan wajah berserinya.