
Di kantin Adele dan Amanda tengah menikmati bakso dan es teh yang mereka pesan sambil membahas Aliya yang tidak masuk sekolah.
“Aliya sudah dua hari tidak masuk kenapa ya?” tanya Adele sambil mengaduk es teh dengan serut.
“Mungkin dia sakit ya”, ucap Amanda dengan menimang-nimang.
Adele langsung menggebrak meja yang membuat Amanda terkejut.
“Apaan sih!”
“Bisa jadi. Apa kamu punya nomor keluarganya yang bisa dihubungi?”
“Gak punya”, jawab Adele sambil geleng kepala.
“Apa kita langsung ke rumahnya saja?” tanya Adele.
“Di rumahnya kosong”, sela Daniel.
“Yah”, ucap lesu kedua wanita tersebut. Adele menghebuskan nafas.
“Apa kalian gak hubungi nomor nya Aliya langsung saja?” tanya Bams dengan mengambil es teh.
“Nomornya gak bisa dihubungi”, ucap Amanda dan Adele bersamaan.
“Yah itu milikku”, seru Adele dengan ekspresi kesal dan merebut gelas teh miliknya.
“Maaf, habis haus sejak tadi pagi kami terus dapat pelajaran dari guru killer itu mulu”, adu Bams.
Adele dan Amanda kembali merenung sambil menikmati makanannya. Di suasana sepi Bams mengajukan ide kepada kedua wanita dan Daniel.
“Kenapa tidak tanya pada tetangganya atau adiknya. Kamu kan punya Niel?”
“Apa? Daniel punya? Apakah kalian dekat sejak dulu?” tanya Adele bertubi-tubi.
Daniel mengangguk sambil menggaruk tengkuk tidak gatal.
“Kenapa kalian tidak cerita sih?” seru Adele.
“Bagaimana Daniel mau cerita, kalian aja gak pernah tanya kepada mereka terutama teman dekatmu si Alia”, seru Bams.
“Kalau begitu sekarang ceritalah”, ucap Amanda sambil menghabiskan es teh yang akan habis.
“Uhhmm..aku mulai dari mana ya ceritanya?” tanya Daniel.
“Terserah kamu”, ucap Amanda.
“Ayolah Niel, ceritakan”, Adele memohon kepada Daniel untuk menceritakan perihal ia dekat dengan Alia.
Daniel mulai bercerita dari mereka bertemu sampai berteman hingga berpisah. Lalu bel masuk berbunyi bersamaan dengan selesainya cerita Daniel. Namun Adele dan Amanda masih belum puas dan mengeluh.
“Yahh, sudah masuk”, keluh Amanda.
“Padahal kami mau bertanya tentang masa lalu kalian”, keluh Adele.
...
Dalam Vila Alia tengah tertidur pulas dengan memeluk tubuh Kenan sehabis mereka bergadang melakukan madu kasih. Mereka masih berada dalam bawah mimpi.
Pukul 11.00 siang Kenan bangun dari tidurnya. Kenan tersenyum bahagia karena pertama kali ia bangun dari tidurnya yang di lihat adalah wanita yang ia amat dambakan. Kenan mengecup kening Alia cukup lama. Lalu ia bergegas pergi membersihkan diri sebelum wanita di sampingnya terbangun.
Tiga puluh menit kemudian Kenan keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambut dengan handuk. Kenan melihat Alia telah bangun dari tidurnya. Saat ini ia sedang bersandar di kepala ranjang. Kenan berjalan menghampiri dan melihat Alia tengah mengusap air mata.
“Sweety,..” Kenan mendekat dengan memberikan kecupan singkat di keningnya.
“Apakah ada yang ingin kamu ceritakan?” tanya Kenan sambil mengusap air mata dengan jari telunjuk.
Alia menggelengkan kepala. Kenan menghela nafas dengan jawaban Alia yang tidak ingin jujur. Kenan memberika. Pelukan dengan mengusap punggungnya. Alia merasakan nyaman. Alia mengeratkan pelukan Kenan. Kenan merasakan Alia sedang tertekan. Kenan mencoba berbicara untuk menenangkan hati Alia.
“Maafkan aku. Aku yang telah melibatkanmu dalam situasi yang tak seharusnya kamu rasakan dan hadapi ini”. Kenan melepaskan pelukannya lalu memegang kepala Alia dan menatap intens sorot bola mata yang hitam pekat itu dengan penuh ketulusan dalam hati. “Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Kita tetap akan selalu bersama”, Keenan memberikan kecupan pada keningnya sampai semua seluruh wajah Alia tanpa satu pun terlewatkan.
“Sekarang kamu bersihkan diri”, ucap Kenan.
“Aku akan bantu kamu sampai ruang kamar mandi”, sambungnya dengan langsung menggendong tubuh Alia sampai Alia memekik kaget dan refleks menutup bagian tubuhnya.
“Aku sudah melihat semuanya sweetheart”, senyum Kenan membuat Alia tersipu malu.
Sembari Alia berendam di bak mandi, Keenan memanggil pelayan untuk membersihkan kamanya dan meminta mengantarkan sarapan.
Sementara Alia tengah merenung sambil berendam di bak mandi.
“Mungkinkah hidupku akan berakhir setelah aku menyerahkan hak hidupku kepada pria yang sudah beristri itu. Meski aku istri kedua, aku merasakan merana dalam hidupku. Sungguh naas takdir yang ku jalani. Aku ingin memiliki dia seutuhnya namun aku gak boleh egois juga tidak memiliki hak untuk mengambil semua yang sudah menjadi milik aunty Elena. Aku jadi merasa bersalah dengan Adele sebab aku tidak bisa bercerita”, kata hati Alia.
“Tuhan bantu aku untuk tetap tegar menjalani takdirmu. Biarkan kami bertiga dan semuanya bahagia. Amin”, doa Alia dalam hati.
...
Alia dan Keenan pergi menaiki kapal persiar setelah makan siang. Keenan menyewa kapal tersebut untuk memberikan kebahagiaan, kenyamanan, dan pembuktian cintanya untuk Alia. Ia ingin Alia terus di sampingnya dan percaya kepada dirinya bahwa ia akan selalu mencintai lebih dari apapun.
Kini Kenan mengajak Alia di pojok persiar untuk menikmati angin sepoi-sepoi. Alia menikmati apa yang Keenan berikan sampai ia berteriak. Keenan berada dibelakangnya tersenyum bahagia melihat wanita kecilnya bahagia dan nyaman.
“You happy?”
“Ya, I’m happy.”
Keenan senang mendengar ucapan Alia. Kenan membalikkan badan Alia lalu mendekatkan wajahnya sampai setengah inci dan hembusan nafas terasa. Lalu mencium Alia. Alia menutup mata menikmati ciuman yang dilakukan oleh Keenan.
Sementara di restoran megah Elena menikmati kesendirian. Di tengah kesendirian tiba-tiba ada sebuah pesan masuk. Elena terkejut melihat foto-foto roman Keenan bersama istri keduanya membuat Elena sedikit cemburu. Ia mencoba mengontrol emosi untuk tidak terbawa situasi. “Tenanglah Elena. Kamu sudah tahu konsekuensi jika sudah mengikhlaskan Keenan untuk beristri kembali. Jangan sampai terbawa suasana yang membuat emosimu memuncah bahkan gara-gara foto yang di kirim oleh nomor yang tidak dikenal. Aku pasti bisa keluar dari situasi ini.”
Usai menenangkan diri Elena menghapus semua foto-foto roman Keenan bersama Alia untuk menghindari kemarahan atau kecemburuan. Elena membalikkan ponsel dan menikmati makanan dan minuman kembali yang sejak tadi sudah terhidangkan di depannya. Saat tengah menikmati hidangan tiba-tiba Adam datang mengetuk meja dengan jari telunjuknya.
Elena menegakkan kepala. “Adam..”
“Hai kenapa kamu melamun terus?” tanya Adam sambil menyilangkan kaki kanannya.
“Gak apa-apa”, ucap Elena berbohong.
“Kamu bisa ceritakan kepadaku Elen. Aku akan mendengarkan dengan baik”, tawar Adam.
Elena menghembuskan nafas dan berhenti makan.
“Sebenarnya aku tengah bimbang”, ucap Elen. Adam mengangkat alis sebelahnya.
“Ya, bimbang..”, ucap Elena kembali menyakinkan Adam.
“Iya, bimbang kenapa?”
“Uhmmm..”, Elena bingung untuk mengatakan kepada Adam.
“Katakanlah, sebisanya yang ingin kamu curahkan”, ucap Adam.
“Baiklah”, ucap Elena dengan menghembuskan nafas.
Elena mulai bercerita tentang risau hatinya dan rasa cemburunya terhadap Keenan bersama istri keduanya.
“Aku merasa sakit hati.” Elena menjeda ucapannya sambil menatap Adam. Adam mengangkat alis sebelahnya.
“A..a..ku sebenarnya masih belum menerima gadis yang dinikahi oleh Keenan.”
“Bukannya kamu suda merestui Keenan sejak awal dengan alasan kebahagiaan suamimu. Kenapa sekarang kamu tidak menerima gadis itu bahkan kamu yang mengantarkan Keenan sampai pelaminan?” Adam terbawa apa yang diucapkan Elenan dengan nada sedikit meninggi. Elena mendengar suara sedikit keras Adam merasa tidak nyaman bahkan egonya akan keluar namun ia tahan karena itu juga kesalahannya.
“Entahlah..” Elena menyudahi percakapan yang belum selesai dengan beranjak pergi agar tidak meluapkan ego dalam dirinya. Adam hanya menatap punggung Elena yang mulai menghilang.