
Teng teng teng
Bel pulang berbunyi, para siswa berhamburan keluar dengan saling dorong. Sementara Aliya, Adele, dan Amanda masih asyik di dalam kelas sambil menonton drama korea.
“Mereka tampan banget Del” komentar Amanda dengan lebay.
“Kalau tampan itu lebih tampan Daniel” ucap Adele.
“Dasar bucin” ejek Amanda.
“Biarin” balas Adele.
“Kalian jangan pada ribut deh, lihatlah drama nya nanti kita kelewatan dialog mereka kalau diulang lagi kan sayang” keluh Aliya.
“Baik bebeb” ucap Adele.
Mereka menikmati tontonan drama korea hingga selesai sampai tak terasa melewati waktu begitu panjang.
“Akhirnya selesai juga” lega Amanda sambil meregangkan otot-ototnya ke atas.
Amanda melihat waktu di tangannya.
“Guys, ternyata sudah sore. Padahal aku sudah janjian dengan my bebeb”ucap Amanda.
“Aku harus bergegas dulu ya guys, takut ia ngambek”, imbuh Amanda sambil memasukan alat-alat sekolahnya dan langsung beranjak pergi dengan terburu-buru sampai kesandung meja kakinya. Adele melihat kejadian itu langsung memberikan sarkas kepada Amanda, “nyahok tuh!”
Usai kepergian Amanda, Adele membereskan laptop dan speaker mini ke dalam tas dengan dibantu oleh Aliya.
“Al, thank’s” ucap Adele.
“Yuk, kita pulang bareng” ajak Adele.
“Yaudah, tapi gak ada barangnya yang ketinggalan kan?” tanya Aliya.
“Iya, gak ada kok” ucap Adele
Mereka pergi beriringan meninggalkan sekolah. Lalu mereka berpisah sampai di depan halte. Adele lebih dulu pergi dengan taxi sementara Aliya masih di halte tanpa menunggu apa pun. Aliya duduk sebentar lalu pergi meninggalkan halte dengan berjalan di pusat toko. Ketika menikmati kesendirian berjalan di trotoar pinggir toko tiba-tiba bertemu dengan Daniel secara tidak sengaja.
“Aliya!” teriak Daniel sambil melambaikan tangannya.
“Daniel” ucap Aliya.
“Kamu dari tadi belum pulang ke rumah?”
“I..iya” cengir Aliya.
“Kamu gak cariin bunda dan ayahmu?”
“Enggak. Aku udah ijin dengan mereka kalau aku pulang telat” bohong Aliya.
“Kalau begitu kita jalan-jalan bersama daripada menyendiri kayak orang ilang”ajak Daniel.
“Baiklah” ucap Aliya.
“Sebelum berjalan..” jeda Daniel dengan melepaskan hoodienya dan memakaikan ke tubuh Aliya sampai ia termangu dengan apa yang dilakukan oleh temannya.
“Kita bisa melanjutkan jalan-jalannya” ucap Daniel dengan senyum.
Aliya dan Daniel berjalan beriringan berkeliling sekitar pertokoan. Sementara Keenan sedang bersama ayah mertuanya di teras belakang usai makan malam sambil bermain bisak catur.
“Daniel, kamu sudah menikahi putriku begitu lama dan kalian belum momongan. Apakah kamu sudah memikirkan kembali untuk menjalani program bayi?” tanya Arland.
Keenan mendengar pertanyaan dari Arland membuat tengkuknya panas dingin sebab ia sudah lama tidak memikirkan akan memiliki seorang anak dari Elena. Ia lebih fokus bersama gadis kecilnya yang sudah mengisi penuh hatinya.
“Kami..berniat untuk hidup berdua setelah berusaha tentang seorang bayi” sela Elena dengan senyum kecut.
“Pantaskah kalian hanya membangung keluarga tanpa seorang anak? Di luar sana mereka berusaha terus agar mimpi memiliki penerus tapi kalian hanya ingin hidup berdua. Bagaimana dengan usaha kalian nantinya jika gak ada penerusnya?”
“Nanti kita pikirkan” ucap Elena dengan santai.
Arland menghela nafasnya mendengar keputusan putrinya.
“Terserah kalian, aku sudah lelah mengingatkan kalian. Aku pergi istirahat dahulu” kesal Arland dengan beranjak pergi.
Setelah kepergian Arland, Keenan dan Elena berada di teras berduaan dengan berbagai macam kalimat dalam pikiran mereka yang menumpuk untuk di keluarkan.
“Elen, bukankah kamu sedikit keterlaluan kepada ayahmu” ucap Keenan.
“Tentu, itu keterlaluan. Namun bagaimana lagi. Aku sudah tidak ingin memikirkan seorang anak. Lebih baik kamu fokus mendapatkan anak dari istri kecilmu itu jika ingin mendapatkan penerusmu suatu hari nanti” ucap Elena dengan sedikit sinis.
“Kenapa kamu jadi mengarah soal dia?” kesal Keenan.
“Aku kan hanya memberikan saran. Kenapa kamu jadi kesal sih” marah Elena dengan beranjak pergi meninggalkan Keenan.
Kini Keenan tengah menyendiri dengan menghela nafas yang tak beraturan. Lalu ia mengambil ponsel dari sakunya dan membuka galeri dimana istri kecilnya ada. Ia memandang dengan kelembutan.
“Aku merindukanmu sweetheart”.
“Kamu malam ini sedang apa?”
“Bersabarlah, kita bisa bersama dalam waktu cukup lama usai masalah ini mereda. Aku mencintaimu sweetheart”. Keenan mengecup foto Aliya di layar ponselnya.
...
Di apartemen, Aliya tengah berbaring mengerjakan tugas sekolah sambil mendengarkan lagu setelah pergi jalan-jalan dengan ditemani Daniel.
Ia mengerjakan tugas sampai tidak menyadari kalau waktu sudah berlalu sampai tengah malam. Lalu ia menutup buku dan memasukkan ke dalam tas. Kemudian berbaring kembali dengan mengangkat selimut sampai di dada dan menutup matanya.
Esok hari Aliya bersiap ke sekolah dengan berpakaian seragam yang sudah melelat di tubuhnya dan keluar dari kamar untuk sarapan pagi. Dia membuka lemari es mengambil susu dan roti tawar. Ia bawa ke meja makan. Ia memakannya tanpa diberikan olesan pada rotinya dalam kesendirian. Lalu bergegas pergi ke sekolah usai membereskan semua barang di meja makan.
Ia berjalan melewati tangga dan lift sampai di parkir apartemen tanpa menoleh kanan kiri.
Sementara Keenan tengah sarapan pagi dengan nuansa hening dan tak nyaman begitu yang di rasakan oleh Adele juga. Sampai tiba dimana Adele mulai membuka suara untuk pamit berangkat ke sekolah.
“Kakek, aku berangkat dahulu. Takut nanti telat” ucap Adele dengan beranjak untuk menyalimi kakeknya dan tantenya.
“Kalau begitu uncle akan mengantarmu sampai di sekolah sambil sekalian berangkat kerja” ucap Keenan.
“Ok uncle” ucap Adele dengan unjuk gigi.
“Pah, Elen, aku dan Adele pergi berangkat dulu” pamit Keenan.
Arland hanya memberikan suara deheman saja sedang Elena hanya menganggukkan kepala.
Adele dan Keenan pergi keluar rumah. Sampai di teras Adele mulai mengeluh tentang acara sarapan paginya.
"Uncle tadi di ruang makan itu sangat tidak nyaman sampai makan yang ku telan sangat sulit sampai tenggorokan aku hampir sakit. Uhh ~"
Keenan hanya tersenyum sambil menggeleng kepala mendengar keluhan keponakannya. Keenan menghentikannya dengan mengajak Adele untuk segera berangkat. Adele mengiyakan dengan mengikuti Keenan sampai di mobil.
Beberapa lama kemudian mereka telah tiba ada di depan gerbang sekolah. Mata Keenan tak sengaja melihat Aliya berboncengan kembali dengan pria yang membuat dirinya membenci.
"Kenapa, lagi-lagi aku melihatmu berboncengan dengan pria lain? " Sambil tangannya mengeratkan mengeratkan di kemudi.
Saat Keenan tengah memandang di luar, Adele menyadarkan Keenan dengan menepuk di tangan kokoh miliknya. Keenan menoleh ke arah Adele yang sejak tadi sudah menyodorkan tangannya. Keenan memberikan tangannya dan Adele menyaliminya sambil mengomel, "kenapa uncle melamun? Padahal sejak tadi tanganku lelah menunggu uncle menjulurkan tangannya untuk aku salimi. Kenapa kalian hari ini sangat murung sih?"
"Maaf" ucap Keenan.
"Yaudah, aku pamit keluar. Bye uncle" ucap Adele sambil menutup pintu mobil.