
Di Jakarta pukul 19.30
Adele tengah bercermin sambil bersenandung karena malam minggu ini Adele keluar bersama Alena sebab ia bisa berbelanja gratis sepuas hati tanpa adanya teguran dari kedua orang tuanya. Adele memutar tubuhnya untuk melihat penampilannya. Setelah puas dengan penampilannya ia turun dari kamarnya sambil berjalan dengan sedikit loncat-loncat layaknya anak kecil mendapatkan uang jajan lebih tapi yang di rasakan Adele tak bisa dipungkiri.
Adele berlari merangkul lengan Alena. “Ayo aunty, let’s go!” Adele tersenyum dengan menunjukkan gigi putihnya yang rapi.
“Baiklah tuan putri”, ucap Alena dengan senyum dan membola melihat tingkah keponakannya berekspresi ceria layaknya anak kecil.
Kini mereka meninggalkan perkarangan rumahnya. Mereka pergi menuju ke supermarket besar terlebih dulu sebelum ke alun-alun menikmati jajanan pinggiran dan lampu-lampu terang.
Dalam perjalanan Adele terus sibuk mengoceh, browsing, dan selfie saking bahagianya mendapatkan rezeki nomplok. Ia tak lupa mengirim caption kepada kedua sahabatnya untuk memamerkan apa yang ia dapatkan.
“Aunty, aku ingin membeli gaun dres brukat dengan lengan pendek dan ada lapisan brokat. Lihatlah aunty, ini sangat cantik jika ku pakai”, Adele menunjukkan gaun yang ia browsing dari internet.
“Bagus”, ucap Alena sambil fokus mengemudi.
“Aduh aunty, aku gak dapat memilih gaun yang ingin ku beli semuanya sangat cantik apalagi sepatu, dan tas nya. Omo omo~ semuanya bagus banget~”, seru Adele dengan mengepalkan tangannya karena gemas melihat barang-barang menarik di matanya sampai Alena menggeleng kepala melihat keponakannya yang tak bisa dikendalikan masalah hal-hal kemewahan.
Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di supermarket terbesar di Jakarta.
Mereka turun dari mobil dan melangkah memasuki area pusat perbelanjaan setelah memarkirkan mobil. Ketika melangkah masuk Adele melihat Daniel secara tak sengaja. Ia memanggil namanya. “Daniel! Daniel! Daniel!” Daniel menoleh ke belakang dimana sumber suara berada.
Adele melambaikan tangannya lalu pergi menghampirinya. Alena mengikuti keponakannya menghampiri kedua teman keponakannya.
“Hai Daniel”, sapa Adele.
“Hai juga Del”, sela Bams.
“Hai juga Bams”, sapa balik Adele dengan unjuk gigi.
“Kalian berdua ke sini hanya jalan-jalan atau..”
“Hemm”, dehem Alena dengan memotong perkataan Adele, “sebaiknya kita mencari tempat mengobrol deh. Gak enak kita berada di pintu masuk. Banyak pengunjung yang wara wiri”, senyum Alena.
“Baiklah, kita pergi ke restoran lantai atas saja”, ucap Bams.
Daniel mengangguk sebagai tanda setuju begitu juga Adele dan Alena. Mereka berjalan beriringan menuju eskalator untuk menuju ke lantai dua.
Usai sampai di lantai dua mereka mencari tempat yang pas dan gak terlalu ramai untuk mengobrol. Adele menemukan tempat yang pas.
“Guys, kita mampir di restoran donkatsu saja yuk”, ajak Adele.
“Kalau aunty ya ya aja. Gimana dengan pendapat kedua teman kamu?” tanya Alena.
“Baiklah”, ucap Daniel.
“Let’s go”, seru Bams berjalan dahulu dengan diikuti Alena, Daniel, dan Adele.
Mereka masuk mengambil tempat yang dekat dengan dinding. Lalu Alena memanggil pelayan. Sang pelayan yang berdiri pun menghampiri Alena dan lainnya dengan membawa daftar menu.
“Silakan, menu nya di pilih kak”, ucap sang pelayan dengan sopan dan senyum.
Mereka membaca menu dari atas sampai bawah. Setelah menemukan menu yang pas mereka memesan apa yang diinginkan.
“Mbak saya pesan tonkatsu ayam, sosis, dan minumnya lemontea”, ucap Adele.
“Saya tonkatsu ayam dan minumnya lemon tea aja”, ucap Alena.
“Saya samain saja dengan aunty Alena”, ucap Bams.
Setelah mereka memesan sang pelayan membacakan ulang untuk mengecek kebenaran apa yang ditulis olehnya. Lalu pergi meninggalkan keempat orang tersebut.
“Guys, kalian cuman jalan berdua?”, tanya Adele.
“Mereka tengah sibuk kencan”, jawab Bams.
“Bikin aku iri aja deh”, ucap Bams sedikit berekspresi kecewa.
“Kalian akan pergi ke pusat mana saja?” tanya Alena.
“Kami mau ke zona time zone dan pergi jalan-jalan saja”, jawab Daniel.
“Bagaimana kalian gabung sama kita”, ajak Adele.
Daniel dan Bams berfikir dengan ajakan Adele dengan saling melirik.
Alena mengetahui gelagat kedua pria yang bingung lalu Alena angkat bicara, “ jika kalian ingin bergabung aunty fine-fine aja”.
“Tuh aunty udah ngijinin. Gimana nih kalian?” tanya Adele.
“Maaf Del, bukannya kami gak ingin ikut gabung tapi kami sudah ada janji juga dengan anak-anak skateboard. Kami akan gabung lain kali saja. Maaf”, ucap Daniel.
“Baiklah”, ucap Adele sedikit kecewa.
Alena melihat ekspresi Adele yang kecewa mengusap kepalanya.
...
Bali
Kini Keenan tengah duduk di pinggir pantai bersama Aliya menikmati suasana romantis sambil diiringi dengan para violin dan alunan suara ombak.
“Apa malam ini kamu menyukainya?” tanya Keenan.
Aliya mengangguk dan tersenyum.
“Syukurlah”, ucap Keenan.
Mereka berdiam kembali untuk menikmati suasana yang tenang dengan angin sepoi-sepoi. Beberapa detik kemudian Keenan beranjak dari kursi lalu memutar tubuh Aliya menghadap dirinya. Aliya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Keenan. Keenan hanya diam dan menatap kedua bola mata hitam milik Alia dengan intens membuat Aliya gugup. Aliya gak bisa mengeluarkan suara seolah tercekat di sana.
“Aku sangat mencintaimu melebihi aku mencintai Alena waktu muda”, Keenan menatap reaksi Aliya.
“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu”, ucap Keenan.
“Begitu pun yang ku rasakan. Namun aku gak bisa memilikimu sepenuhnya. Maaf, aku gak bisa menerima perasaanmu yang terlalu jauh”, kata hati Aliya.
Keenan yang menatap begitu intens, ia mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat dan menempelkan bibirnya lalu memberikan kehangatan dengan lebih dalam tanpa penolakan dari Aliya membuat Keenan senang. Keenan menekan tengkuk Aliya untuk memperdalam ciuman. Lalu melepaskan saat paru-parunya membutuhkan oksigen begitupun dengan Aliya.