
Pada hari Minggu Adele bersiap pergi ke rumah Elena. Sebelum pergi, Adele berpamitan kepada ibunya dan ayahnya.
“Bunda, ayah, aku pamit ke rumah aunty Elena”, ucap Adele.
“Baik sayang, tapi kamu di sana tidak boleh terlalu malas dan manja banget “, ucap Mawar.
“Baik bun”, ucap Adele dan mendapatkan kecupan dari mawar.
“Kamu menginap di sana jangan sering ngerepotin aunty kamu. Mengerti!”, ucap ayahnya dengan menekan kata di akhir.
“Iya, aku ngerti ayah”, ucap Adele dengan mencium tangan ayahnya.
“Kalau begitu aku pamit dulu ya bun, yah”, ucap Adele berpamitan.
“Ya, hati-hati”, ucap Mawar.
“Ingat pesan ayah dan bunda ya nak”, teriak Mawar sambil melambaikan tangan.
Sementara Elena sedang menunggu ponakannya datang, ia menghilangkan rasa bosannya dengan melakukan kegiatan menyiram bunga sedangkan Keenan masih asyik bergelung sebab kemarin sabtu dia ngelembur kerja untuk persiapan meeting.
Satu jam lebih sepuluh menit suara bel rumah berbunyi, “ting tong__”, Elena yang sedang asyik membuat camilan di dapur mendengarkan suara bel lalu pergi keluar membukakan pintu dengan wajah senang karena ponakannya yang sudah di tunggu telah datang.
“Adele!”, teriak Elena dengan girang.
Elena memeluk Adele dan membantu Adele membawakan kopernya. Keenan yang baru selesai mandi setelah bergelung di ranjang cukup lama, ia menuruni tangga dan melihat istrinya menarik lengan seorang gadis yang tak lain adalah ponakannya.
Elena yang melihat Keenan di tangga menyuruhnya segera menyambut ponakannya yang tersayang itu.
Keenan menyapa dengan senyuman dan Adele membalas.
“Hai nak, sudah lama tidak berjumpa”, ucap Keenan.
“Hai uncle, baru bangun ya”, ucap Adele dan Keenan mengangguk.
Setelah menyapa, Keenan membantu membawakan barangnya ke ruang tengah.
Adele merasa senang disambut baik oleh tantenya dan pamannya.
“Duduk dulu sayang. Aunty buatkan minum untukmu”, ucap Elena dan diangguki oleh Adele.
Elena meninggalkan Adele bersama Keenan untuk mengobrol.
“Berapa lama uncle tidak berjumpa ya?”, tanya Keenan.
“Sudah lama sekali uncle. Waktu Adele baru menginjak kelas tiga atau empat ya. Lama banget pokoknya”, ucap Adele.
“Bagaimana sekolah kamu?”, tanya Keenan.
“Menyenangkan”, senyum Adele.
“Apakah ada pekerjaan rumah yang sulit untuk kau kerjakan?”, tanya Keenan.
“Ada, tapi aku sudah ada yang ngebantuku mengerjakan tugas sulit yang gak aku mengerti. Mereka adalah dua sahabat karibku yang selalu siap siaga”, senyum Adele kembali.
“Bagaimana keadaan bunda, ayah dan kakek kamu?”, tanya Keenan.
“Sehat uncle”, jawab Adele.
“Uncle jangan sibuk terus dong. Uncle main ke sana. Pasti kakek dan kakak akan sangat senang”, ucap Adele.
“Nanti uncle akan atur waktu”, ucap Keenan.
Lalu Elena datang membawa minuman dan camilan yang sudah disiapkan untuk keponakannya yang tersayang.
“Sayang, lihatlah aunty bawakan apa diatas nampan?”
“Wahh, camilannya banyak. Aunty paling ngerti aku deh”, seru Adele.
“Kalau begitu kita nikmati”, ucap Elena.
“Thank you aunty”, ucap Adele sambil mengambil camilan yang di sukainya dan jus yang dibuat oleh Elena. Elena ikut senang melihat keponakannya senang. Elena ikut makan dan bergabung dalam obrolan yang tadi mereka bahas.
“Kalian sedang mengobrolin apaan saat aku gak ada?”, tanya Elena yang baru bergabung.
“Kami hanya mengobrol biasa seputar sekolah dan orang-orang di rumah”, jawab Adele dengan mengambil sosis bakar.
“Aunty dan uncle seringin dong main ke rumah. Bunda aja kangen dengan kalian. Jangan sibuk terus”, ucap Adele.
“Nanti uncle dan aunty pasti kesana. Tapi, kami harus mengatur jadwal dahulu agar tidak bertabrakan dengan jadwal pekerjaan. Akhir-akhir ini aunty dan uncle sudah berusaha untuk mengatur namun apa daya sayang. Kami selalu disibukkan dengan pekerjaan. Nanti akan ada waktunya”, ucap Elena memberikan pengertian untuk keponakannya.
Malamnya Adele membuka group geng asoy untuk menceritakan pertama kali tinggal bersama tantenya.
Adele :
Hai gaes sedang apa kalian?
Adele:
P
Adele:
P
Adele:
P
Adele:
Kok sepi.
Hallo👋 pada kemana ini?
Alia:
Sorry Del, tadi aku habis keluar beli sate ama nasgor.
Adele:
Enak tuh, jadi kepengen makan itu semua.
Amanda:
Tinggal beli lewat online Del.
Adele:
Ini juga baru nongol.
Adele:
Kamu habis darimana sih?
Amanda:
Sorry, aku habis dari supermarket beli pembalut dan camilan Del.
Adele:
Oh lagi bocor nih.
Amanda:
Bukan aku yang lagi bocor namun mamaku.
Adele:
Aku kirain kamu.
Alia:
Ada apa Del?
Tumben kamu calling duluan.
Adele:
Aku mau bercerita nih.
Amanda:
Cerita apa?
Adele:
Aku sekarang tinggal di rumah aunty aku😘
Amanda:
Terus?
Adele:
Yah, terus aku senang. Soalnya ini kabar baik untuk kalian. Bahwa sahabat kamu ini terbebas dari pantauan bunda dan ayahku.
Adele :
Apa kalian gak senang?
Alia:
Senang kok
Amanda:
Selamat
Adele:
Kalian tahu gak, pertama aku tinggal dan baru tiba di rumah aunty aku?
Amanda:
Gak tahu.
Adele:
Ih ih kamu ngejawab mulu sih.
Alia:
😂😂😂
Adele:
Yang ini malah ketawa.
Amanda:
Lanjut, jangan baperan gitu.
Adele:
Jadi males
Amanda:
Adele:
Biarin.
Alia:
Ayo Del cerita.
Adele:
Aku masih baik akan aku ceritain.
Adele:
Aku pertama tinggal di rumah auntyku merasa senang. Soalnya di sini lebih banyak camilan dibanding di rumahku. Aku juga dapat uang saku lebih. Uang dari bunda dan uang dari auntyku. Bahagianya hidupku.
Amanda:
Syukurlah Del, besok traktir kita ya. Uangmu kan banyak.
Adele:
Tenang, aku akan traktir kalian tapi jangan terlalu mahal.
Amanda:
Yah...
Alia:
😂😂😂
Amanda:
Aku pamit dulu ya gaes. Soalnya momy-ku manggil aku nih.
Alia:
Aku juga Del.
Adele:
Yah, cuman sebentar saja kita ngobrol.
Alia:
Bisa di lanjut besok neng.
Amanda:
Bye.
Mereka membalas dengan berbagai candaan dan hingga larut tengah malam lalu tertidur.
Paginya Adele berangkat sekolah diantar oleh Elena. Setelah sampai gerbang Adele berpamitan lalu pergi melewati gerbang dan pos satpam. Saat berjalan menyusuri lorong koridor Adele melihat ke dua sahabatnya yang berjalan beriringan. Lalu Adele memiliki niat usil untuk kedua temannya. Kemudian ia mengagetkan dua temannya sampai Amanda latah dan ditertawai oleh Adele.
“Ba!!”
“Eh ayam!”, latah Amanda.
“Adele! Tumben kamu berangkat awal”, ucap Alia.
“Iyah nih, gak biasanya”, ucap Amanda.
“Iya, aku berangkat awal soalnya suasana kamarnya berbeda”, ucap Adele.
“Apa hubungannya dengan suasana kamar yang kamu tempati saat ini?”, tanya Amanda.
“Jelas bedalah, biasanya suasana kamarku berantakan. Tapi suasana kamar yang aku tempati bersih dan tidurnya lebih nyenyak dan nyaman dibandingkan suasana kamarku di rumah orang tuaku”, cerita Adele.
“Makanya, kalau punya kamar itu dibersihin bukan kayak kandang ayam”, ucap Amanda.
Adele mendengar nasehat Amanda cuman cengengesan sambil garuk tengkuk tidak gatal.
“Udah yuk, masuk!”, ajak Alia.
“Takut guru galak itu marah-marah ya?”, ucap Amanda.
“Diamlah, kita masuk dulu ke kelas saja”, ucap Adele menggandeng lengan Alia.
Bel istirahat telah tiba, Adele bersama ke dua sahabatnya pergi ke kantin untuk mengisi cacing yang kelaparan dalam perutnya.
“Gaes, yuk. Kita harus cepetan ke kantin. Aku takut kita dapat waktu makan cuman sebentar. Cacingku juga sudah meronta nih”, ucap Adele.
“Iya, ayo kita ke kantin”, ucap Alia.
“Wah, lumayan kita dapat traktiran dari Adele”, senyum Amanda.
“Iya, makanya cepetan keburu antriannya panjang”, ucap Adele.
“Yaudah kita jalannya harus cepetan biar kita dapat makan banyak”, ajak Amanda dengan merangkul lengan Adele. Adele geleng kepala lihat tingkah sahabatnya satu ini.
Sementara Keenan sedang berkutat sebuah tumpukan kertas dan dokumen untuk review ulang sebelum rapat di mulai. Kesibukannya membuat dirinya terkadang lupa jam makan siang yang terus ia lewatkan. Namun Keenan gak pedulikan itu.
...
Di sebuah gedung SMU Negeri Bhakti 2, banyak siswa yang berlalu lalang untuk keluar dari gerbang sekolah setelah usai semua pelajaran habis waktunya. Adele mengajak dua sahabatnya untuk bermain ke rumah tantenya namun salah satu sahabatnya tidak bisa dengan alasan sudah janjian dengan pacarnya. Lalu Adele hanya dapat mengajak Alia untuk ikut pulang ke rumah tantenya dengan paksa dan membuat alibi bahwa dia kesepian di rumah besar itu. Kemudian Alia terpaksa ikut namun dia harus meminta izin dahulu kepada orang tuanya. Adele menaganggukkan kepala.
Alia menekan tombol deal-up ibunya untuk meminta ijin pulang telat. Lalu setelah mendapatkan ijin, Alia menutup sambungan telepon kemudian mereka menaiki taxi yang sudah di pesan oleh Adele.
Adele begitu senang karena sahabatnya yang satu itu mau ikut ke rumah tante Elena dan mendapatkan ijin dari orang tuanya.
Sementara Elena kembali ke rumah dengan cepat sebab dia ingin menghabiskan waktu dengan ponakannya untuk seharian mengobrol dan bermain. Elena begitu merindukan masa itu saat dia menggendong dua anak dari kakaknya yang begitu menggemaskan. Namun masa itu telah berlalu, mereka telah beranjak remaja yang sudah mulai bisa untuk diajak mengobrol tentang masalah cinta dan lainnya.
Sebelum Adele pulang, Elena lebih dulu membuat camilan. Ia membuka lemari es mengambil bahan-bahan untuk membuat camilan sebagai teman mengobrol dirinya dan Adele. Lalu ia mulai berkutat tanpa memperhatikan sekelilingnya sampai ia dikagetkan oleh keusilan Adele. Elena berjingkat akibat ulah Adele dan untungnya Elena belum mulai menggoreng.
“Aunty kok sudah pulang?” tanya Adele sambil memeluk Elena dari belakang.
Elena tersenyum saat ponakannya tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Iya sayang, aunty ingin ada waktu bersamamu”.
“Tapi.. bukankah restoran lagi rame kalau jam segini”, ucap Adele.
“Iya sayang, tapi aunty sudah menitipkan kepada orang kepercayaan aunty. Jadi, aunty bisa pulang cepat dan menghabiskan waktu untuk keponakanku yang manja ini”, ucap Elena dengan mencubit pipi Adele.
“Aunty, aku ke sini bawa temanku lho. Yuk aku kenalkan dia dengan aunty”, ucap Adele dengan menarik tangan Elena.
“Baiklah sayang”, ucap Elena.
“Tapi, tunggu bentar. Aunty matikan kompor dulu biar kebakaran rumah”, imbuh Elena. Lalu Elena berjalan mengikuti Adele ke ruang tengah.
Kemudian Adele memperkenalkan temannya kepada Elena yang berada di belakangnya.
“Alia!”, panggil Adele.
“Kenalkan aunty ku ini. Dia aunty Elena dan aunty dia Alia sahabat karibku”, ucap Adele.
Elena menyapa dengan menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Alia dengan senyuman hangat sambil mencium tangannya seperti yang diajarkan oleh orang tuanya selama ini sebagai tanda kesopanan.
“Ayo, kalian duduk”, tawar Elena.
“Kalian ingin minum apa?”, tanya Elena.
“Apa saja”, jawab Alia dengan senyum.
“Baiklah, aunty ke dapur dulu”, ucap Elena.
“Biar aku bantu aunty”, tawar Adele.
“Gak perlu, kamu temeni temanmu aja. Aunty gak lama kok”, ucap Elena.
Lalu Elena kembali ke dapur mengambilkan minuman setelah menawarkan kepada dua gadis belia, Elena kembali ke dapur menggoreng camilan yang belum sempat digoreng.
Beberapa lama kemudian Elena ikut bergabung dengan membawa camilan yang ia buat.
“Camilannya datang!”, seru Elena dengan senyum hangat.
“Yeay, asyik”, ucap Adele.
“Ayo nak, silahkan dicicipi”, tawar Elena.
“Ya, aunty”, ucap Alia mengambil sosis goreng berbalut tepung.
“Bagaimana sekolah kalian hari ini? “, tanya Elena.
“Baik aunty”, ucap Alia.
“Meski ada insiden sedikit aunty”, sambung Adele.
“Insiden apa sayang?”, tanya Elena.
“Tadi aku berkelahi dengan Bela gara-gara...”, ucap Adele terpotong.
“Gara-gara apa?”, tanya Elena.
“Masalah pria aunty”, sambung Alia.
“Ouwh, pria”, ucap Elena.
“Yaampun sayang kamu benar-benar sudah jadi wanita remaja dan menyukai pria itu”, ucap Elena dengan mencubit pipi gembulnya.
“Sakit aunty!”, adu Adele.
“Siapa pria itu?”, tanya Elena.
“Pria itu kapten basket”, sela Alia.
Mereka mengobrol sampai lupa waktu. Tatkala mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba Keenan datang menyapa para wanita di ruang tengah.
“Hallo girls, lagi obrolin apa?”, tanya Keenan sambil menyapa.
Keenan lalu duduk di samping Elena setelah dipersilakan bergabung oleh Elena dengan memperkenalkan temannya Adele.
“Cuman obrolan percintaan keponakanku honey”, ucap Elena.
“Oh ya honey, kenalkan temannya Adele. Dia itu Alia sahabat Adele”, ucap Elena memperkenalkan sahabat Adele.
“Salam uncle, namaku Alia”, ucapnya dengan anggukan kepala.
“Salam juga nak”, ucap Keenan.
Setelah perkenalan, mereka mengobrol kembali dengan penuh canda dan tawa. Sedangkan Keenan yang berada di samping Elena terpaku melihat tawa gadis belia di depannya. Hati Keenan merasakan suatu kehangatan dengan detak jantung yang hampir copot.
Rasa yang sudah lama hilang sejak dua puluh satu tahun lalu mulai terisi kembali sebuah kehangatan dalam lubuk hati ketika terpaku melihat senyuman manis gadis di samping Adele.
Gadis itu sangat cantik dan manis. Kenapa jantungku dag dig dug saat melihat tawamu yang begitu indah? Apalagi bibir kamu saat mengunyah makanan membuatku tergoda ingin mencoba menciummu dan mencicipi.
Ketika Keenan sedang melamun tiba-tiba Elena menepuk pundaknya dengan sedikit kaget. Lalu Keenan tersadar dari lamunan dan menoleh istrinya yang tersenyum dengan mengatakan bahwa teman Adele mau berpamitan pulang dan Keenan lalu menawarkan diri mengantarkan pulang tetapi ditolak oleh Alia dengan alasan dia sudah memesan taxi online yang telah tiba di depan gerbang rumah.
Setelah kepergian gadis itu, Keenan berpamitan untuk membersihkan diri.
“Kalau begitu aku pergi bersihkan diri dulu”, ucap Keenan dan diangguki oleh Elena.
Sedangkan Elena membereskan alat makan yang kotor dengan dibantu oleh Adele.