
setelah mendapat informasi dari beberapa teman nya Daniel bisa menyimpulkan kedatangan mereka kesini, Daniel mengepalkan tangan nya
"kenapa kau setega itu" gumam Daniel
"yang paling bersalah disini adalah aku, aku pecundang tidak bisa jujur padamu" tambahnya lagi
setelah itu Daniel pergi ke kamar Hanna. dia akan jujur sekarang dia tidak ingin menyesal diakhir.
ting tong
ting tong
setelah beberapa kali bel pintu berbunyi keluarlah seseorang yang ingin dia temui, tanpa basi basi Daniel menarik tangan nya menuju atap hotel itu
"kak tanganku sakit" Hanna mengaduh
"maaf aku terlalu kencang menarikmu" Daniel melepaskan cekalan tangan nya
"sebenarnya ada apa?" tanya Hanna
"ada yang ingin ku bicarakan, sangat penting" ujar Daniel kembali menarik tangan Hanna tepatnya menggandeng
"kenapa tidak bicara disini saja? aneh sekali" Hanna heran
"sudah ikuti saja ini sangat penting" Daniel meneruskan langkahnya
setelah sampai atap Daniel menarik Hanna untuk duduk di tembok, dengan hati-hati dia mendudukan Hanna dan sekilas Daniel memandang perut Hanna yang masih rata
'disana anaku sedang tertidur, rasanya aku ingin sekali mengusapnya' batin Daniel
"kak, hei kak? kenapa malah melamun" Hanna mengibas-ngibaskan tangan nya di depan Daniel
"maaf" gugup Daniel
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hanna
"sebelumnya aku meminta maaf atas semua kesalahanku, aku memang pecundang yang tidak bisa jujur lebih awal" Daniel menggenggam tangan Hanna
"kakak bicara apa? aku tidak mengerti" Hanna semakin bingung
"dengarkan aku baik baik jangan memtong pembicaraanku sampai selesai" ucap Daniel menelisik wajah Hanna
lalu Daniel menjelaskan dari awal pertemuan mereka yang membuatnya penasaran sampai Daniel mengirim seorang penguntit untuk mengawasi Hanna
tak terlewat malam panas itupun Daniel menceritakan nya sampai hari ini pun alasan dia berada disini karna Hanna, Daniel menangis berkali kali meminta maaf dan mengucapkan penyesalan
"yang berada disini adalah anakku" Daniel mengusap perut Hanna perlahan
seperti yang Daniel minta Hanna pun diam tidak memotong cerita Daniel diapun terisak. rasa sesak mulai merambat dihatinya
Hanna melepaskan tangan nya dari genggaman Daniel perlahan dia menghapus air matanya lalu turun tanpa mengatakan sepatah katapun
Daniel mengejar dan meraih tangan Hanna kembali, tapi Hanna menepis tangan nya
"Hanna aku mohon maafkan aku" Daniel terus mengikuti langkah Hanna
"Hanna bicaralah" Daniel terus memohon dan mengucapkan penyesalan nya meminta ampun pada Hanna
sampai di depan pintu kamar Hanna menoleh pada Daniel dia menelisik wajah Daniel mata Daniel yang sudah sembab dan hidung yang memerah. tidak menggoyahkan hati Hanna
yang Hanna rasakan lebih sesak dan sakit, saat tahu dia hamil Hanna putus asa dunianya seperti berhenti disitu mimpinya hilang seketika masa depan cerah mulai meredup
"aku akan memaafkanmu, dengan satu syarat jangan pernah lagi muncul dihadapanku" ucap Hanna dingin
"tapi aku ingin bertanggung jawab atas bayi itu" Daniel berusaha membujuk
brakk
pintu tertutup rapat, Daniel hanya bisa memandang sendu pintu itu. sampai ada yang menepuk bahu Daniel dari belakang lalu dia menoleh
"kenapa wajahmu seperti itu matanu sembab hidungmu merah, apa kau habis menangis" ucap Collin heran
"Collin tolong bantu aku" pinta Daniel
"bantu apa?" Collin mengernyit
"ayo aku akan menceritakan semua" Daniel menarik tangan Collin
lalu Daniel menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang terlewatkan. Collin yang mendengar cerita Daniel mengepalkan tangan nya dan langsung membogem wajah Daniel
"bajingan, kenapa kau melakukan semua ini? apa kau puas hah?" Collin emosi
"kau memang benar-benar pecundang" Collin berkacak pinggang
"tapi kau lebih bajingan, kau membantunya untuk menggugurkan anakku" marah Daniel
"coba sekali lagi kau bilang apa?" Collin menarik kerah baju Daniel dengan emosi
"kau bilang aku bajingan, setelah aku berusaha mengorbankan semua waktuku. dia yang setiap malam menelponku sambil terisak dia mengeluh tentang perasaan takutnya dia juga tidak bisa mengatakan pada orang tuanya jika dia sedang hamil karna takut mengecewakan orang tuanya. apa kau membayangkan hancurnya dia saat itu hah? tak ada seorangpun disisinya" teriak Collin
Daniel merenungkan semua yang dikatakan Collin, dia merasa lebih menyesal lagi
"bantu aku membujuknya aku ingin bertanggung jawab, aku ingin memperbaiki semuanya" mohon Daniel
"baiklah aku akan membantumu, tapi aku tidak bisa memaksa jika dia tidak mau" Collin meredam emosinya
dikamar Hanna terus menangis Cath bingung karna Hanna tidak menjawab semua pertanyaan nya. Cath hanya bisa mengusap-ngusap punggung Hanna
"istirahatlah, kau harus memikirkan juga kandunganmu itu kau tidak boleh setres dan kelelahan" ucap Cath yang membuat Hanna menghentikan tangisnya
"aku lapar" ucap Hanna
"hah" Cath membeo karna bingung dengan kelakuan sahabatnya
"aku lapar Cath" Hanna mengguncang tubuh Cath
"oke oke mari kita pesan makanan, kau mau makan apa?" tanya Cath
lalu Hanna menyebutkan semua makanan yang di inginkan nya, Cath melongo mendengar pesanan yang di dinginkan Hanna, lalu dia memeriksa kening Hanna
"kau seperti orang kesurupan memesan makanan sebanyak itu" ucap Cath
"ishh ini keinginan bayi" kesal Hanna
"hei bisa-bisanya kau menuduh keponakanku demi keinginanmu" Cath menggeleng-geleng kepalanya
"yasudah kalau kau tidak mau memesankan nya aku akan pesan sendiri" Hanna mengambil hpnya dengan cemberut
"hei hei hei kenapa kau gampang marah begini, aku hanya bercanda" ucap Cath mencubit pipi Hanna
"sakit Cath" Hanna mengusap pipi nya
tak lama setelah itu makanan? yang mereka pesan sudah sampai di kamarnya, Hanna menatap dengan mata berbinar langsung menghantam semua makanan didepan nya
"kenapa kau malah menatapku, ayo makan" Hanna menyodorkan makanan nya
"tidak kau saja, aku sudah kenyang melihatmu makan" tolak Cath
tak lama berselah Collin datang disusul Daniel, Hanna yang melihat Daniel masuk langsung beranjak dari tempat duduknya
"Cath habiskan makanan nya aku sudah tidak berselera" Hanna pergi dari sana
"astaga apa kalian sedang pesta" Collin menatap banyak makanan di atas meja
"tidak, ini semua pesanan Hanna" jawab Cath enteng
"banyak sekali, apa dia akan menghabiskan semuanya" ucap Collin sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya
"tentu saja, dia sudah hampir setengahnya menghabiskan makanan itu" Cath menunjuk beberapa wadah yang sudah kosong
Daniel yang dari tadi mendengarkan percakapan kakak beradik itu hanya menggeleng heran, dia tidak menyangka nafsu makan ibu hamil akan semengerikan ini
"Cath ada yang ingin dia bicarakan" ucap Collin menunjuk Daniel
"apa?" kata Cath
"emmhh.." Daniel menceritakan semua tanpa terlewati dan setelah selesai dia mendapat tamparan dari Cath
"ya teruskan saja, aku memang pantas mendapatkan nya" Daniel bersimpuh
"aku menyesal Cath, aku memang pecundang" tambah Daniel
Cath dan Collin terkejut melihat seorang Daniel bersimpuh, mereka juga tidak pernah melihat Daniel menangis, Daniel yang mereka kenal adalah orang yang dingin dan keras
"hatiku sakit ketika mendengar anak ku akan hilang sebelum lahir kedunia" Daniel memukul dadanya
"aku ingin menjadi orang pertama yang memeluknya setelah lahir, aku juga ingin menjadi orang pertama yang dia panggil sebagai daddy nya" Daniel terus mengatakan penyesalan dan ke inginan nya
tanpa mereka ketahui Hanna tengah menguping pembicaraan mereka, dia ikut menangis dan merasakan sesak karna hampir saja dia membunuh anak nya sendiri