
Reza meraih sebuah pigura berukuran sedang yang terletak diatas nakas samping tempat tidurnya. Perlahan tangan kekarnya mengelus pigura tersebut. Di dalam pigura itu, terbidik sosok perempuan cantik yang tengah berdiri di samping Reza seraya mengapit lengan kekarnya mesra.
Helaan napas kasar Reza hembuskan. Sudah tiga tahun berlalu. Namun, perasaannya masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Reza seolah terjebak di lubang hitam tak kasat mata. Pria itu seolah mati rasa.
"Aku merindukanmu Aina," gumam Reza dengan sorot mata yang tidak dapat dijelaskan.
Sosok perempuan bernama Aina itu ialah mendiang istri Reza yang sudah berpulang ke pangkuan Tuhan sejak tiga tahun yang lalu. Kepergian perempuan itu memberikan luka yang dalam untuk hati Reza.
Reza kacau bahkan nyaris hilang kendali saat mendapati kabar jika sang istri telah meninggal dunia. Karena pada saat Aina meninggal, Reza sedang tidak berada di sisi perempuan itu. Reza sedang sibuk mengurus pekerjaannya di luar kota.
Perasaan bersalah sekaligus menyesal kini selalu bercongkol di hati Reza. Pria itu selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Aina. Setelah satu minggu kepergian Aina, Reza selalu mengurung diri di dalam kamar. Pria itu enggan bertemu dengan siapa pun.
"Za, Kakak boleh masuk?" Suara Rere terdengar diiringi ketukan pelan pada pintu kamar Reza.
Reza sontak meletakkan kembali pigura yang berada dalam genggamannya ke atas nakas.
"Masuk saja!" sahut Reza dari dalam kamar.
Pintu kamar terbuka secara perlahan. Terlihat sosok wanita yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Reza melangkah memasuki kamar sang adik. Rere menatap wajah Reza saat merasakan hawa tidak enak saat wanita itu memasuki kamar ini.
"Makan malam sudah siap, kamu nanti turun ya. Sudah ada Mas Ian disana," ujar Rere membuka pembicaraan.
Reza hanya mengangguk kecil. Memang keluarga Kakaknya itu sedang menginap di rumahnya. Entah berapa lama sang Kakak beserta suami dan keponakannya akan menginap disini, Reza tidak mempermasalahkan itu. Perasaan Reza menghangat, mengingat jika rumahnya kini tidak lagi sesunyi jika ia tengah sendiri.
Rere melihat raut wajah Reza yang terlihat murung tidak seperti biasanya. Wanita itu hanya mampu menghela napas pelan.
"Kamu harus makan, Za. Kakak tahu, meski pun kamu tidak berselera untuk makan, tapi kamu harus tetap mengisi perutmu. Jangan sampai kamu jatuh sakit." tutur Rere dengan suara lembut.
"Hm, nanti aku nyusul." sahut Reza.
"Ini yang Kakak khawatirkan jika kamu tinggal sendirian. Kakak khawatir kalau kamu selalu melewatkan jam makan. Bahkan Kakak melihat di lemari pendingin es, semua stok bahan makanan masih utuh sejak terakhir kali Kakak datang ke rumahmu." Rere berucap dengan nada khawatir.
Reza menatap Kakaknya. "Kakak tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri." balasnya menyakinkan sang Kakak.
Rere menghela napas lelah. "Coba saja kalau kamu memiliki pendamping, pasti semua kebutuhanmu akan terpenuhi. Kakak juga nggak perlu se-khawatir ini dengan kamu." gumam Rere yang masih dapat terdengar oleh gendang telinga Reza.
"Kak! Kakak tahu 'kan bagaimana kondisiku sekarang?" Reza menatap Kakaknya dengan raut serius.
Rere hanya bisa terdiam.
"Aku mengerti jika Kakak khawatir dengan keadaanku. Tapi, aku mohon.. Jangan paksa aku untuk mencari pendamping baru. Perasaanku masih sama. Hanya Aina yang saat ini sampai nanti aku cintai!" Reza berucap tegas sembari bangkit dari duduknya.
...----------------...
Sejak lima menit yang lalu, Nata sibuk dengan beberapa snack yang tadi dibelinya di supermarket dekat perumahan. Mulutnya sibuk mengunyah dengan tatapan lurus ke depan. Sesekali perempuan itu tertawa kecil tatkala tayangan televisi di depannya menampilkan adegan konyol.
"Aish, masa udah habis sih?!" gerutu Nata saat perempuan itu menyadari snack miliknya sudah habis tak bersisa.
"Harusnya tadi beli lebih banyak," gumamnya sendu.
Saat asik dengan tayangan di televisi, gendang telinga Nata mendengar suara ketukan pintu dari depan. Perempuan itu bangkit dari sofa dan berjalan menuju ruang depan.
Nata memutar knop pintu rumahnya dan membuka dengan perlahan. Kedua alisnya mengeryit tatkala perempuan itu melihat seorang wanita berdiri di depan rumahnya dengan tangan memegang sebuah rantang makanan.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Nata saat wanita itu tak kunjung membuka suara.
Rere-wanita yang tadi mengetuk pintu rumah Nata pun tersenyum tipis.
"Saya Rere, Kakak dari Reza yang tinggal di rumah depan. Kebetulan saya tadi memasak banyak, ini ada sedikit makanan untuk mencicipi." ujar Rere sembari menyerahkan rantang tersebut pada Nata.
Dengan ragu Nata menerima rantang pemberian Rere. Nata masih diam mencerna setiap kata yang diucapkan oleh wanita bernama Rere itu. Seketika otaknya mencerna dengan baik. Ah ya, Nata ingat! Nata pernah melihat wanita bernama Rere ini saat sedang berada di halaman rumah.
Ternyata, wanita yang Nata kira calon Reza merupakan Kakak dari pria itu. Ternyata selama ini Nata salah mengira.
"Ah, iya. Saya Nata, panggil saja Ata. Terima kasih Mbak makanannya." ujar Nata sembari menarik kedua sudut bibirnya.
Rere balas tersenyum pada Nata. Wanita itu seolah melihat sosok Aina pada diri Nata. Entah hanya perasaan Rere saja atau bukan. Wanita itu merasa kalau senyuman Nata terlihat sekilas mirip dengan senyuman Aina-adik iparnya. Senyuman mereka sangat manis.
"Kalau begitu saya permisi dulu Ata. Semoga kita bisa lebih akrab ya," ucap Rere lembut.
Nata hanya tersenyum sembari mengaggukkan kepalanya singkat. Kedua netranya menatap punggung Rere yang kian menjauh dari pandangannya.
Nata beralih menatap rantang yang kini berada di tangannya.
"Mbak Rere baik banget, beda banget sama adiknya! Udah datar, nyebelin lagi!" gumam Nata.
"T-tapi dia tampan," cicit Nata tanpa sadar.
Nata melotot saat menyadari ucapannya barusan. "Astaga Ata! Ingat, dia itu duda! Pria mesum! Hilangkan pikiran tentang dia yang tampan itu!" gerutu Nata sembari kembali memasuki rumahnya.