My Cool Duda

My Cool Duda
McD 16



Nata melenguh kecil dalam tidurnya. Tubuhnya sangat tidak nyaman. Nata mengubah posisi tidurnya. Perempuan itu perlahan membuka kelopak matanya.


Rasa pening di kepala menjadi hal pertama yang Nata rasakan. Perempuan itu meringis saat pening di kepalanya kian menjadi. Nata mencoba mendudukkan tubuhnya.


Saat Nata sudah mengumpulkan kesadarannya, perempuan itu melotot. Siluet seorang pria yang tengah tertidur memunggunginya membuat perasaan Nata campur aduk.


"Gila, apa yang udah gue lakuin?!" gumam Nata mencoba mengingat kejadian semalam.


Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap Nata, hingga membuat Nata dapat melihat jelas wajah pria itu. Nata terkejut bukan main.


"R-reza?" lirih Nata dengan tatapan tidak percaya.


Perempuan itu memeriksa pakaiannya dan bernapas lega tatkala pakaiannya masih terpasang utuh pada tubuh Nata.


"Semalam, gue tidur sama dia?" gumam Nata dengan napas memburu.


Nata tidak ingat apa yang terjadi semalam. Semua ingatannya seolah menghilang. Ah sial! Nata menyesal karena berpikir pendek mengenai minuman alkohol itu!


Nata bergegas turun dari ranjang. Perempuan itu berjalan sembari memegangi kepalanya yang masih berdenyut merasakan pening yang melandanya.


...----------------...


Penampilan Nata yang terbilang acak-acakan mendapati tatapan mencurigakan dari Nenek Arum. Beliau semalaman khawatir tatkala Nata tak kunjung pulang ke rumah.


"Dari mana? Kamu tahu, Nenek semalam khawatir menunggu kamu yang tak kunjung pulang." sambut Nenek Arum saat melihat kehadiran Nata.


Nata menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tak gatal. Ia harus menjawab apa? Tidak mungkin 'kan Nata berkata jujur kepada sang Nenek jika semalam ia mengunjungi bar? Bisa di goreng hidup-hidup Nata!


"Uhm, A-ata semalam tidur di rumah teman. Iya! tidur di rumah teman." jawabnya mencoba meyakinkan.


Nenek Arum memicingkan matanya. "Benar? Kok Nenek nggak percaya." ujarnya seraya menatap sang cucu dengan tatapan intimidasi.


Nata menelan ludahnya kasar. "Mana pernah Ata bohong! Kalau nggak percaya, Nenek tanya aja sendiri sama teman Ata," timpalnya mencoba menutupi rasa gugupnya.


Nenek Arum hanya mengangguk sekilas. "Syukur deh kalau semalam memang menginap di rumah temanmu. Nenek khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ujar beliau dengan sorot khawatirnya.


Aduh, bagaimana ini?! Nata 'kan jadi merasa sangat bersalah karena telah membohongi sang Nenek. Tapi, dia juga tidak bisa berkata jujur. Nata memilih bermain aman.


"Ata ke kamar ya, Nek." ucap Nata seraya bergegas menuju kamarnya, menghindari sang Nenek yang akan kembali bertanya.


Di dalam kamar, tak henti-hentinya perempuan itu membenturkan kepalanya pada sebuah bantal. Nata mencoba mengingat dengan keras kejadian semalam.


"Ck, kenapa lupa sih?" gerutunya saat ia tak kunjung menemukan puzzle-puzzle ingatannya.


Nata membuka matanya. "Astaga! B-bayangan apa tadi?" serunya dengan napas menggebu.


Entah kemana hilangnya kesadaran Nata, perempuan itu tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


Cup!


Bunyi kecupan terdengar nyaring. Nata mengabaikan ekspresi pria itu dan terus mengecup bibir tebal milik pria itu dengan asal-asalan.


Bibir Nata terus bergerak walau sang lawan tetap diam tidak merespon. Nata yang merasa diabaikan pun menggigit bibir pria itu-Reza dengan sedikit kesal.


"Ahk! Si*lan," umpat Reza.


Pria itu sudah susah payah menahan diri agar tidak membalas perbuatan Nata. Namun, Nata terus-menerus memancingnya dan membuat sisi lain dalam diri Reza keluar.


Pria itu menghempaskan pikiran-pikiran yang sejak tadi menahannya agar tidak membalas perbuatan Nata. Reza tidak perduli.


Pria itu dengan ganas membalas tautan bibir Nata. Reza menggerakan bibirnya dengan menggebu-gebu. Bahkan tanpa sadar, tangannya menahan kepala Nata dan memperdalam c1uman keduanya.


"Hah, hah!" napas Nata terputus-putus.


Reza menatap kedua netra Nata dengan tatapan dalam. Seberusaha keras pun ia menahannya, Reza tidak sekuat itu. Nata dengan kurang ajarnya memancing sisi lain dari diri Reza.


"Jangan salahkan saya, kamu yang memulainya lebih dulu!" gumam Reza dengan suara datarnya.


Reza kembali mencium Nata dengan perasaan menggebu. Pria itu membawa Nata menuju sebuah ruangan yang ada di dalam bar. Tak lupa Reza menutup pintu dan menguncinya agar tidak ada yang mengganggu kegiatannya.


Reza menatap Nata yang sudah berada di bawah kukungannya dengan tatapan liar. Perlahan bibirnya mengecup permukaam tulang selangka Nata.


"Ahh," Nata mend3sah tanpa perempuan itu sadari.


Nata menekan kepala Reza berharap pria itu mau menyentuhnya lebih dari ini. Rasa panas dan nikmat yang menjalar di tubuhnya membuat perempuan itu ingin melakukan hal yang lebih.


Kedua bibir Reza dan Nata saling *3*****, c1uman panas itu berlangsung lama. Keduanya terengah dengan debar jantung menggila.


Nata menahan suara d3sahannya tatkala perutnya merasakan sesuatu yang mengeras. Nata tidak tahu sesuatu itu apa. Dengan polosnya, dia menarik tubuh Reza agar lebih mendekat padanya.


Nata menggeram kecil saat bayangan semalam kembali terngiang di kepalanya. Perempuan itu mengumpati dirinya berulang kali.


"Astaga Nata! Apa yang udah lo lakuin," gerutu Nata seraya menjambak rambutnya.


"J-jadi, semalam gue ehm, m4ke out sama si duda itu?!" jerit Nata dengan wajah tidak percaya.