My Cool Duda

My Cool Duda
McD 8



Nata menatap ke samping kaca mobil. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Lima belas menit yang lalu, perempuan itu dilingkupi perasaan takut tatkala kaca mobilnya diketuk oleh seorang pria tak dikenal.


Akan tetapi, rasa takut itu luruh saat Nata membuka pintu mobilnya dan mendapati sosok Reza yang berdiri tegap di samping mobilnya. Sontak Nata menyumpah serapahi pria itu. Nata mengira jika pria yang mengetuk kaca mobilnya ialah orang yang akan berbuat jahat padanya.


Kebetulan sekali Reza mengendarai mobilnya melewati jalanan yang Nata lewati juga. Alhasil, saat melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan, Reza merasa jika pria itu tahu siapa pemilik mobil tersebut.


Nata sama sekali tidak berpikir jika pria yang mengetuk kaca mobilnya ialah Reza, alias tetangga mesumnya. Tidak ingin membuang kesempatan, Nata pun dengan terpaksa meng-iakan ajakan Reza untuk pulang bersama. Pria itu dengan wajah datarnya menawarkan tumpangan menuju rumah saat tahu mobil Nata mogok karena kehabisan bensin.


Tidak hanya itu, Reza juga sudah menelpon temannya yang memiliki sebuah bengkel dan meminta agar mobil Nata diamankan disana.


Di perjalanan menuju rumah, keadaan di dalam mobil begitu hening. Hanya terdengar suara deru mesin mobil dan musik klasik yang mengalun indah dalam perjalanan menuju rumah.


Nata mendengus sebal tatkala perempuan itu merasa mobil yang ditumpanginya tak kunjung sampai rumah. Perempuan itu seolah merasakan jika waktu berputar dua kali lipat lamanya. Ingin bermain ponsel untuk menyingkirkan rasa jenuhnya, tetapi Nata baru ingat jika baterai ponselnya lowbat.


Perempuan itu pun memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap jika ia membuka matanya, ia sudah berada di depan rumahnya.


...----------------...


Entah sudah berapa lama Nata berada di dalam mobil milik Reza. Perempuan itu melenguh kecil seraya perlahan membuka kedua kelopak matanya. Kedua matanya mengerjap kecil menyesuaikan dengan lampu mobil yang menyala.


Nata menoleh ke sekitarnya. Ternyata ia sudah sampai di halaman depan milik rumah Reza. Bisa Nata lihat di seberang sana, rumahnya terlihat sangat sepi seolah tak ada kehidupan apa pun. Nata menoleh ke sampingnya dan mendapati sosok pria yang tadi menawarkan tumpangan kepadanya tengah memejamkan kedua matanya.


Walaupun Nata tidak suka dengan raut wajah datar yang selalu pria itu tampilkan, akan tetapi Nata tidak menyangka jika pria itu masih memiliki hati untuk mengantarkannya pulang. Entahlah bagaimana nasib Nata jika perempuan itu tidak bertemu dengan Reza.


"Kenapa? Saya tidak berbuat macam-macam kepada kamu."


Ucapan yang dikatakan Reza dengan raut datarnya membuat Nata melirik ke arah pria itu. Nata terlihat salah tingkah saat Reza memergoki tingkah memalukannya tadi. Nata berpikir jika Reza masih tertidur, ternyata dugaannya salah besar. Astaga Nata!


"E-ekhem, bukan apa-apa." sangkal Nata mencoba menutupi rasa malunya.


"Mobil kamu sudah ada disana. Alamatnya di jalan xx." ucap Reza seraya membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.


Nata pun lantas membuka seatbelt yang mengunci tubuhnya. Perempuan itu meraih slin bag miliknya dan keluar dari mobil Reza.


Nata berdiri di depan Reza dengan perasaan canggung. Bagaimana pun juga, pria itu sudah berbaik hati mau menolongnya dan mengantarkannya pulang sampai rumah dengan selamat.


"Terima kasih tumpangannya," ucap Nata sembari memilin slin bag miliknya.


Reza menatap Nata datar. "Hm. Lain kali jangan berpergian sendiri saat larut malam. Terlebih kamu adalah seorang perempuan. Kalau tidak bertemu dengan saya, mungkin hal yang tidak kamu inginkan akan terjadi." tuturnya dengan nada khasnya-datar.


Nata mengangguk kecil. Perempuan itu tidak menyangkal sama sekali dengan perkataan yang Reza ucapkan tadi.


"Saya duluan." ujar Reza sembari melangkah menuju ke dalam rumah.


Nata menatap punggung tegap Reza dengan tatapan sulit diartikan.