My Cool Duda

My Cool Duda
McD 13



Saat kaki jenjang Nata memasuki rumah Reza yang memiliki dua lantai dan bergaya minimalis, perempuan itu dibuat terpukau oleh interior di dalam rumah.


Kedua netra Nata tak henti-hentinya melirik sudut-sudut rumah yang menurutnya sangat menarik perhatiannya. Nata mengakui jika dirinya terlihat norak. Tapi tak apa, perempuan itu memang benar-benar dibuat kagum dengan tata letak rumah milik tetangganya.


Rumah Reza memiliki lima buah kamar. Dua kamar berada di lantai atas. Dan tiga di lantai bawah. Kamar utama Reza ada di lantai atas, sementara itu tiga kamar yang lainnya merupakan kamar untuk tamu atau saudara jika ada yang menginap.


"Duduk Ta," ujar Rere sembari menyodorkan piring berisi pudding cokelat.


Saat ini Nata dan Rere beserta kedua putranya tengah berada di ruang keluarga. Nata memilih duduk di karpet berbulu bergabung bersama Rano-bayi gembul kesayangannya.


"Gimana? Enak puddingnya?" tanya Rere meminta pendapat dari Nata.


Nata mengangguk antusias. "Enak banget Kak! Kalau gini ceritanya, aku jadi numpang makan disini," ujarnya tergelak kecil.


Rere tersenyum sumringah. "Syukur deh kalau kamu suka. Kakak suka sedih aja kalau bikin makanan yang manis-manis, kadang suka nggak ada yang makan." ucapnya dengan raut cemberut.


Nata mengerutkan dahinya. "Lho, kenapa memangnya? Rez-ehm, M-mas Reza nggak suka makanan manis?" tebak Nata tepat sasaran.


Rere mengangguk membenarkan. "Reza sama anak-anak kurang suka sama makanan manis Ta. Paling-paling cuman suami Kakak doang yang doyan, itu pun kalau dia ada di rumah." tuturnya menjelaskan.


Nata hanya menyimak seraya memakan kembali pudding buatan Rere. Kedua mata Nata terpaku saat melihat sebuah pigura berukuran cukup besar yang terpajang di atas tembok.


"Itu istrinya Reza, namanya Aina. Aina meninggal tiga tahun yang lalu."


Nata menoleh pada Rere saat wanita itu memberitahukan sosok perempuan yang tengah mengapit lengan kekar Reza di pigura tadi.


"Ehm kalau boleh tahu, Mbak Aina meninggal karena apa ya?" tanya Nata penasaran.


Rere hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Nata. Melihat keterdiaman Rere pun, Nata mencoba memahami perasaan wanita itu. Nata pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh ya Kak, kalau boleh tahu Mas Reza itu kerja apa sih? Kok aku sering lihat dia ada di rumah terus," Nata bertanya dengan raut wajah penasarannya.


Jujur saja, perempuan itu memang benar-benar penasaran dengan pekerjaan Reza. Ia kerap kali melihat Reza berada di rumah. Bahkan pernah Nata menyimpulkan jika Reza merupakan seorang pengangguran. Saking seringnya ia melihat Reza berada di rumah.


Rere tersenyum kecil. "Dia itu punya usaha cafe di beberapa Kota." jawab Rere.


Kedua mata Nata membulat. "Wah benar Kak?" tanyanya antusias.


Siapa tahu nanti Nata bisa mendatangi cafe Reza dan mengajak kerjasama untuk mereview menu di cafe pria itu. Pikir Nata dalam hati.


"Awalnya Kakak juga nggak yakin sih kalau usaha yang Reza bangun akan berhasil. Tapi, Reza berhasil menepis keraguan Kakak. Di tahun kedua, dia bisa memperluas usahanya dengan membangun cabang cafe di beberapa Kota." lanjutnya seraya tersenyum kecil tatkala Rere mengingat kegigihan serta kerja keras sang adik.


Nata merasa kagum bukan main pada Reza saat mendengar cerita dari Rere. Namun, seketika rasa kagum itu luntur saat ingatan Nata kembali mengingat jika ia melihat Reza dengan seorang model papan atas memasuki sebuah hotel.


"Ehm, Mas Reza sudah punya pacar Kak?" Nata bertanya dengan nada ragu.


Tawa Rere mengudara mendengar pertanyaan Nata. "Mana mungkin lah Ta, dia aja dingin gitu orangnya. Semenjak kepergian Aina, Reza mana pernah lirik perempuan lain. Reza itu sangat mencintai mendiang istrinya." ujar Rere seraya mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu lepas tertawa.


Nata meringis kecil. Ia ingin percaya dengan ucapan Rere. Akan tetapi, Nata jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Reza pergi dengan seorang wanita memasuki hotel.


Otomatis pikiran Nata tertuju pada hal berbau negatif. Nata yakin jika kedua manusia berbeda gender itu pasti melakukan hal-hal yang berbau dewasa di dalam hotel.


...----------------...


Nata kalap. Perempuan itu tidak tahu waktu berbincang dengan Rere dan bermain bersama baby Rano. Nata masih betah. Tak apa, Neneknya pun pasti masih berada di rumah Pak RT. Pikir perempuan berusia dua puluh lima tahun itu.


"Ta tatata ta," pekik baby Rano seraya menepuk-nepuk pipi mulus Nata.


Nata tertawa kecil. "Apa sayang? Rano mau apa, hm?" gumamnya sembari sesekali mengecup pipi tembab Rano yang sudah kemerahan karena menjadi sasaran kecupan Nata.


Rere-Ibu dua anak itu tengah menemani Refan di kamarnya. Anak laki-laki itu berkata jika ia mengantuk dan ingin dibacakan sebuah dongeng sebelum tidur oleh sang Mommy. Rere pun menitipkan baby Rano kepada Nata.


"Wangi banget, anak ciapa ini?" tanya Nata seraya menghujani baby Rano dengan kecupan di seluruh wajahnya hingga membuat baby Rano terkikik geli.


Kedua mata bulat baby Rano menatap objek di belakang Nata. Sontak Nata membalikkan tubuhnya mengikuti arah tatapan baby Rano. Tatapan Nata bertemu dengan sepasang netra tajam milik Reza.


Nata mengerjapkan kedua matanya. Keheningan membuat perempuan itu dilanda rasa canggung. Hanya ada celotehan baby Rano yang kembali berceloteh dengan bahasa bayinya.


"Za za za za," gumam baby Rano dengan tangan menunjuk ke arah Reza.


Reza melangkah maju dan mengecup pipi baby Rano sekilas. Pria itu kembali melangkah menuju lantai atas, menghiraukan keberadaan Nata yang sudah berdiri dengan tubuh mematung.


"Gila, jantung gue!" teriak Nata dalam hati.


Aroma maskulin dari parfum milik Reza masih dapat tercium oleh indra penciuman Nata. Perempuan itu memejamkan kedua matanya mencoba mengusir desiran aneh yang menghampirinya.