My Cool Duda

My Cool Duda
McD 14



Entah sudah berapa lama Nata memejamkan kedua matanya, perempuan itu seolah dibuat tidak sadar. Nata mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Salah satu kakinya terbuka dengan kedua tangan berada di atas kepala. Memang tidak ada anggun-anggunnya sekali Nata ini.


Nata melenguh kecil seraya membuka kedua matanya. Dia mengerjapkan kedua matanya berusaha menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada.


Keningnya mengeryit tatkala melihat interior kamarnya yang berubah total. Kamar bernuansa biru muda ini terlihat seperti kamar seorang anak kecil saat Nata melihat beberapa lukisan hewan yang ada di dinding kamar.


Kedua mata perempuan itu kian melebar. Nata berusaha mendudukkan tubuhnya walau kepalanya terasa sedikit pening. Biasa, dia itu memiliki darah rendah. Jadi sudah tidak aneh jika Nata terbangun dengan kondisi kepala pening.


"Astaga, Nata! Kok lo bisa ceroboh sih," gerutunya saat mengingat kembali kejadian semalam.


Semalam, Nata kalap bermain dengan baby Rano hingga tak tahu waktu. Dan entah bagaimana ceritanya, Nata tiba-tiba terbangun di sebuah kamar yang terlihat asing baginya. Nata yakin, dia pasti ketiduran saat bermain dengan baby Rano.


Tok tok tok!


Pintu kamar yang saat ini Nata tempati diketuk pelan oleh seseorang. Nata berusaha menyadarkan kembali dirinya, menghempaskan rasa kantuk yang masih menyerangnya hingga kini.


Pintu kamar pun terbuka perlahan. Sosok wanita dengan seorang bayi di gendongannya menjadi pemandangan awal di pagi hari Nata.


"Sudah bangun? Ayo ke bawah Ta, tadi Kakak sudah buat sarapan." ajaknya menyuruh Nata agar bergegas turun ke lantai bawah.


Nata hanya mengangguk kemudian beranjak dari atas kasur. Tak lupa perempuan itu membereskan kembali tempat tidur yang sudah berubah acak-acakan. Memang, saat tidur Nata tidak bisa diam.


Di lantai bawah, tepatnya di ruang makan sudah ada Reza yang duduk seraya memangku baby Rano yang semula masih berada di gendongan sang Mommy. Reza tampak acuh dengan kehadiran Nata dan memilih bermain dengan keponakannya.


"Maaf ya Ta, Kakak hanya membuat omlet sederhana untuk sarapan pagi ini." Rere meringis menatap Nata dengan tatapan tidak enak.


Astaga! Ada apa dengan wanita itu? Jelas-jelas disini Nata yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat Rere kerepotan. Bahkan Nata tidak ingat siapa yang memindahkannya ke kamar atas saat dia tertidur di ruang keluarga semalam.


"Ehm, justru Ata yang harusnya minta maaf. Maaf sudah membuat Kak Rere repot," ujar Nata meringis kecil.


Rere menggeleng keras. "Kakak sama sekali nggak merasa direpotkan. Sudah sekarang mending kamu makan dulu sarapannya, nanti kita lanjut mengobrol." titah Rere yang dituruti oleh perempuan berusia dua puluh lima tahun itu-Nata.


...----------------...


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nata bergegas menuju wastafel dan mencuci semua peralatan dapur yang masih kotor. Perempuan itu merasa tidak enak jika ia tidak melakukan apa-apa. Sudah menumpang, dia harus tahu diri.


"Astaga Ata! Kamu nggak perlu repot-repot beresin ini!" seru Rere saat ia memasuki area dapur.


Nata menggeleng kecil. "Nggak papa Kak, sedikit kok." sahutnya yang kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Ya sudah Kakak tinggal ke depan ya," ujar Rere yang mendapat anggukan kepala dari Nata.


Setelah Nata menyelesaikan aktifitasnya, ia pun bergegas menuju ruang keluarga. Nata menghampiri Rere yang tampak asik berbincang dengan Reza.


Nata tidak tahu apa yang sedang kakak beradik itu bahas. Yang jelas, sekarang Nata hanya ingin segera pergi dari rumah ini. Nata merasa tidak enak setelah seharian penuh dirinya tinggal disini. Nata tahu diri, dia bukan siapa-siapa.


"Ehm, Kak Rere," panggil Nata menghentikan obrolan Rere dan Reza.


Rere pun menghentikkan obrolannya sejenak dengan Reza.


"Kenapa Ta?" sahut Rere saat wanita itu melihat raut tidak mengenakan yang ditampilkan oleh Nata.


"Oh iya Kak.. terima kasih juga sudah pindahin Ata ke kamar, pasti Ata berat ya?" lanjut Nata seraya meringis setelah bertanya demikian.


Rere mengerutkan keningnya. "Bukan Kakak yang angkat kamu, tapi Reza. Kakak mana kuat Ta," Rere terkekeh kecil.


Nata terdiam berusaha mencerna perkataan yang diucapkan oleh Rere. Saat itu juga tatapan Nata bersitubruk dengan sepasang netra tajam milik Reza.


Nata tidak tahu harus bersikap bagaimana. Perempuan itu seolah menjelma menjadi patung. Tenggorokannya kelu.


"Oh-ehm, m-makasih Re-ehm M-mas Reza," ucap Nata terbata.


Reza hanya diam seraya menatap perempuan yang tak lain tetangga depan rumahnya itu dengan raut datar. Telinganya berdengung tatkala pria itu mendapat panggilan baru yang terasa asing untuknya.


"Kalau gitu, aku pulang ya Kak. Maaf udah ngerepotin Kakak," ucap Nata tulus.


Rere menggeleng tidak setuju. "Sama sekali nggak, Kakak senang kamu mau main kesini. Jangan bosan-bosan ya Ta!" Rere tersenyum kecil yang dibalas Nata dengan senyuman tipis.


Setelah kepergian Nata, Rere melirik pada Reza yang masih asik terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki datar itu.


"Za, Nata cantik ya." celetuk Rere.


"Iya." sahut Reza tanpa sadar.


Rere tertawa kecil melihat ekspresi Reza yang memasang wajah kesal setelah pria itu menyadari jika dia tengah di usili oleh sang Kakak.


"Cielah, gitu aja marah!" seru Rere tatkala melihat Reza bergegas menuju lantai atas.


"Kakak harap, kamu bisa secepatnya menjemput kebahagiaan kamu lagi Za." gumam Rere saat punggung tegap Reza sudah menghilang dari pandangannya.


...----------------...


"Bagus, nggak usah pulang sekalian!" seru Nenek Arum saat melihat siluet Nata.


Nata meringis kecil. "Namanya juga ketiduran Nek, Ata 'kan nggak sadar." telak Ata mencoba membela dirinya sendiri.


Nenek Arum berkacak pinggang. "Ck, ck, anak perawan kok tidur di rumah duda sih Ta! Makanya cepat nikah! Biar bisa tinggal setiap hari bareng Reza!" tukas Nenek Arum.


Nata memutar bola matanya jengah. Lagi-lagi Neneknya itu membahas soal pernikahan. Sudah berpuluh-puluh kali Nata menjelaskan jika dirinya masih belum siap menikah.


"Kenapa dia lagi sih yang Nenek bahas, bosan Ata dengarnya!" gerutu Nata seraya mengacak rambutnya kesal.


Nenek Arum berdecak kesal melihat tingkah cucunya itu. Kalau bisa, beliau ingin minta tukar tambah cucu. Lama-kelamaan Nenek Arum bisa darah tinggi jika terus berdebat dengan Nata.


"Ata ngantuk, mau tidur." ucap Nata seraya melengos menuju kamarnya berada.


Nenek Arum menggeleng samar melihat tingkah cucunya. Tatapannya jatuh pada sebuah lembaran kertas yang saat ini berada dalam genggamannya.


Niat hati ingin memberitahu Nata tentang sesuatu hal pun beliau urungkan. Nenek Arum tidak ingin melihat wajah murung cucunya.


"Kalau begini terus, Nenek khawatir jika kamu masih sendiri Ta." bisik beliau dengan kedua mata sayunya.