My Cool Duda

My Cool Duda
McD 19



Nata kembali menjalani hari-harinya seperti sedia kala. Perempuan itu kembali bangkit melupakan sejenak rasa gundah yang akhir-akhir ini menghampirinya.


Nata baru saja membuat sebuah content bersama Sinta-teman semasa kuliahnya dulu. Sinta berkata jika ia ingin mencoba membuat content seperti Nata. Nata pun mengiakan.


Nata baru saja kembali dari luar. Perempuan itu memasuki rumahnya dengan langkah kaki ringan. Nata memanggil Nenek Arum. Tetapi, sang Nenek tak menyahut sama sekali.


"Tumben nggak nyahut, biasanya Nenek suka stand by di depan televisi," gumam perempuan itu merasa aneh dengan Neneknya.


Nata hendak mengecek Nenek Arum menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar sang Nenek, perempuan itu menjerit terkejut saat mendapati Neneknya tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar.


"Nenek!" teriak Nata diiringi raut wajah khawatir.


Nata berlari menghampiri Nenek Arum. Perempuan itu mengguncang lengan sang Nenek. Namun Nenek Arum tidak meresponnya sama sekali.


Nata kalut. Perempuan itu segera berlari keluar kamar dan mencari pertolongan dari para tetangganya. Perempuan itu tidak bisa menutupi rasa khawatirnya terhadap sang Nenek.


"Siapa pun tolong Nenek Ata!" teriak Nata saat ia sudah berada di luar rumah.


Tidak ada siapa pun di luar sana. Nata semakin dibuat panik oleh keadaan. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri rumah Reza dan mengetuk pintu rumah itu dengan tergesa.


"Mas Reza! Buka pintunya!" teriak Nata keras, berharap pria itu ada di rumah dan mau membuka pintu untuknya.


"S-saya minta tolong, tolong buka pintunya Mas!" Nata berteriak kembali.


Tenggorokkannya terasa sakit. Sejak tadi ia terus berteriak memanggil Reza, namun pria itu sepertinya sedang tidak berada di rumah. Bahu Nata melemas. Ia berbalik sembari menundukkan kepalanya dalam.


"Sedang apa di depan rumah saya?" Pertanyaan seseorang sontak membuat Nata mendongakkan kepalanya.


Kedua matanya berbinar tatkala melihat kehadiran Reza. Tanpa berkata sepatah kata pun, Nata menarik lengan Reza dan membawanya menuju rumahnya.


Reza yang mendapat perlakuan itu pun tersentak. Pria itu ingin mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi, melihat raut wajah Nata yang serius membuat pria itu mengurungkan niatnya.


Nata menghembuskan napasnya sejenak. "M-mas, saya minta tolong." ucapnya ragu.


Reza mengangkat satu alisnya.


"Nenek.. Nenek Ata nggak sadarkan diri!" jawab Nata dengan napas menggebu.


Reza terhenyak. "Dimana beliau?" tanyanya cepat.


"Nenek ada di kamar," balas Nata.


Nata melangkah menuju kamar Nenek Arum diikuti oleh Reza di belakangnya. Sesampainya di kamar sang Nenek, Reza pun lantas membopong Nenek Arum ala bridal style dan membawanya menuju mobilnya.


"Kita bawa Nenek Arum ke rumah sakit." ucap Reza yang sudah duduk di kursi kemudi.


Nata yang duduk di belakang seraya menopang tubuh Nenek Arum hanya mengangguk kecil. Perempuan itu bersyukur, Reza mau membantunya.


Setelah lima belas menit di perjalanan, mobil milik Reza pun sudah memasuki area parkiran rumah sakit. Reza membuka pintu mobil, pria itu berkata kepada suster yang lewat untuk membawakan brankar dorong untuk Nenek Arum.


Nata dan Reza ikut mendorong brankar Nenek Arum yang hendak memasuki ruang UGD. Nata tidak diperbolehkan masuk oleh beberapa suster. Nata pun memilih duduk di bangku panjang depan ruang UGD.


Sejak tadi Nata tak henti-hentinya memilin kedua tangannya. Bibirnya bergetar pelan. Jantungnya berdegup melebihi kapasitas biasanya. Nata takut. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Nenek Arum.


Hanya beliau yang saat ini sangat menyayanginya. Nata tidak ingin kembali ditinggalkan oleh orang yang disayangnya.


"Tenang, dokter sudah bertindak. Nenek Arum pasti baik-baik saja." ucap Reza saat pria itu terus-menerus melihat tingkah Nata.


Nata menggeleng kepala kecil. "Ata takut," lirihnya pelan.


Reza menghela napas.


Pintu ruang UGD terbuka, membuat Nata dan Reza bangkit dari duduknya. Nata bertanya lebih dulu kepada dokter tersebut.


"Dok, Nenek saya nggak kenapa-napa 'kan?" tanyanya cepat.


Dokter terdiam seraya menatap perempuan muda di depannya dengan raut tak terbaca. Nata yang tidak kunjung mendapat jawaban pun sontak dibuat panik bukan main.


"Dok, jawab pertanyaan saya!" sentak Nata dengan mata mulai memerah.


Dokter itu pun menghela napasnya. "Saya ingin berbicara dengan wali pasien." ucapnya.


Nata kesal. Kenapa dokter itu diam saja saat ia bertanya mengenai kondisi Neneknya. Padahal 'kan, dokter itu hanya tinggal menjawab saja.


"Saya walinya. Dokter bisa berbicara dengan saya." sela Reza membuat Nata menatapnya tak percaya.


"Tap-"


"Kamu tunggu disini. Jaga Nenek Arum, biarkan saya yang berbicara dengan dokter." perintah Reza tegas.


Nata hanya mampu melemaskan kedua bahunya. Perempuan itu memasuki ruang UGD dengan langkah kesal.


"Mari Pak ke ruangan saya." ajak dokter tersebut kepada Reza.


Reza mengangguk seraya mengikuti langkah dokter. Keduanya pun memasuki sebuah ruangan.


...----------------...


Ceklek!


Nata yang tengah memainkan jemari Nenek Arum menoleh ke arah pintu ruangan. Nenek Arum sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setengah jam yang lalu.


"Bagaimana? Apa yang dokter katakan?!" tanya Nata begitu Reza memasuki ruangan.


Reza melirik Nata sekilas, pria itu terdiam cukup lama. Nata yang merasa diabaikan pun berdecak sebal. Perempuan itu menatap Reza dengan tatapan sinis.


"Cepat katakan! Apa yang tadi lo omongin sama dokter itu?!" Nata tidak dapat menahan rasa kesalnya. Membuat perempuan itu lepas kendali dan berkata tidak sopan.


Reza menghela napas. "Nenek sakit leukemia. Stadium empat." Reza berkata dengan raut datar.


Saat itu juga dunia Nata seolah hancur. Neneknya, yang merawatnya sejak ia kecil ternyata menyidap penyakit yang mematikan. Nata terisak kecil.


"B-bohong," sahut Nata disela isakannya.


"Untuk apa saya berbohong?" Reza menaikkan satu alisnya.


Nata semakin terisak mendengar ucapan Reza. Perempuan itu tidak ingin kehilangan sang Nenek. Nata tidak tahu, bagaimana nasib hidupnya jika ia ditinggalkan oleh sang Nenek.


"Jangan tinggalin Ata," lirih Nata dengan isakan semakin keras.


"Kenapa menangis, hm?" suara lemah Nenek Arum terdengar di gendang telinga Nata.


Nata mengangkat wajahnya yang sudah kacau. Kedua matanya sembab, hidungnya memerah, suara isakan masih mengiringi tangis perempuan berusia dua puluh lima tahun itu.


"N-nenek," panggil Nata lirih.


"Perasaan, Nenek nggak punya cucu yang cengeng deh." goda Nenek Arum.


Nata kesal. Neneknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit masih saja bisa bercanda kepadanya. Nata semakin takut dibuatnya.


"K-kenapa Nenek nggak bilang hiks, kalau Nenek s-sakit," ucap Nata diiringi isakan kecil.


Nenek Arum tersenyum simpul. "Nenek nggak mau kamu kepikiran dengan kondisi Nenek." jawab beliau jujur.


Nenek Arum selama ini selalu menutupi rasa sakitnya dari sang cucu. Beliau tidak ingin membuat Nata banyak pikiran. Terhitung sudah dua tahun beliau menutupi hal ini.


"Nenek jahat," gumam Nata yang kembali menangis.


"Loh, ada nak Reza. Pasti Ata sudah merepotkan kamu ya? Maafkan dia ya," ujar Nenek Arum saat beliau menyadari ada sosok lain di dalam ruangannya.


Reza menggeleng. "Tidak sama sekali Nek," ucapnya singkat.


Nenek Arum tersenyum tipis. "Terima kasih nak Reza, sudah membawa Nenek ke rumah sakit." ujarnya tulus.


Reza mengangguk sembari tersenyum kecil.


Suara dengkuran halus mengalihkan fokus Reza dan Nenek Arum. Nenek Arum menggelengkan kepalanya kecil saat melihat cucunya yang sudah terlelap.


Nata pasti sangat kelelahan. Perempuan itu terus menangis sejak berada di ruangan Nenek Arum, hingga membuatnya tertidur tanpa sadar.