
Nata dengan wajah seriusnya, mengikuti setiap gerakan yoga yang tengah ditayangkan di televisi 42 inchi itu. Sesekali perempuan itu mengusap peluh di keningnya.
Terhitung sudah setengah jam lamanya ia melakukan aktifitas yoga. Meski pun pekerjaannya sebagai content creator yang kerap kali mencicipi berbagai macam makanan, akan tetapi Nata tidak ingin bentuk tubuhnya menjadi tidak enak dipandang.
Nata selalu menerapkan dalam dirinya, agar ia tetap menjaga bentuk tubuhnya. Kan tidak lucu kalau semisal tubuhnya yang bagus tiba-tiba menjadi melar. Nata bergidik ngeri memikirkan hal tersebut.
Nenek Arum sejak pagi sudah pergi menuju rumah tetangganya. Kalau Nata tidak salah ingat, Nenek Arum berkata kepadanya jika beliau hendak menjenguk tetangganya yang kemarin baru melahirkan.
Nata rasa sudah cukup ia mengikuti yoga hari ini. Perempuan itu meraih botol minum dan meneguknya hingga tandas. Nata mulai mengatur kembali pernapasannya agar tetap normal.
"Huft, capek juga ternyata." gumamnya seraya mengusap peluh di kening.
Nata beranjak dari atas matras yang ia beli khusus untuk melakukan aktifitas yoga. Ia berdiri mendekati jendela rumahnya. Keningnya mengerut tatkala netra cantiknya melihat pemandangan di depan rumah sana.
Tepat di seberang rumah Nata, terlihat sosok pria tampan yang tengah bermain bola bersama seorang anak laki-laki, yang Nata kira usia nya sekitar 4 tahun-an. Pria itu ialah Reza, tetangga menyebalkannya.
Tidak hanya itu, Nata pun melihat sosok seorang wanita yang tengah memangku seorang batita. Wanita itu tampak tersenyum melihat interaksi Reza dengan anak laki-laki yang baru Nata lihat hari ini.
Nata mendelik melihat pemandangan itu. "Cih, katanya duda. Taunya udah punya buntut! Mana buntutya ada dua lagi," dengus Nata seraya beranjak dari tempatnya.
...----------------...
Rere tersenyum melihat kedekatan Reza dengan putra pertamanya-Refan. Wanita itu menatap sang adik dengan tatapan sendu. Andai saja kejadian tiga tahun yang lalu tidak terjadi, pasti saat ini Reza tengah berbahagia.
Banyak sekali kata andai dan pengharapan dalam benak Rere. Namun, ia dengan segera mengenyahkan pemikiran itu. Rere yakin, Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan kepada adiknya suatu saat nanti.
"Abang capek," ujar anak laki-laki berlari menghampiri Rere.
"Minum dulu Bang," Rere menyodorkan botol minum bergambar Marvel pada anak laki-lakinya.
Refan pun langsung menerima dan meneguk air dari botol tersebut. Tak lama kemudian, Reza berjalan menghampiri Kakak serta dua keponakannya.
"Nginap?" Reza bertanya seraya meraih botol mineral dan meneguknya cepat.
Rere menggelengkan kepalanya singkat. "Hari ini Daddy anak-anak akan pulang. Paling nanti sore dia kesini." ujarnya panjang lebar.
Reza hanya mengangguk sekilas.
Rere tergelak kecil mendengar pertanyaan absurd yang dilontarkan oleh Reza. Wanita itu menjawab pertanyaan tersebut seraya menahan senyum geli.
"Kamu tenang aja, Mas Ian baik kok sama Kakak. Apalagi sama anak-anak, dia kelihatan sayang banget. Cuman ya gitu, akhir-akhir ini dia sedang disibukkan sama kerjaannya." tutur Rere diakhiri senyuman tipis.
Walau pun sikap Reza terlihat dingin dan tak tersentuh. Tapi jangan ragukan kebaikan serta ketulusan hati pria itu. Reza selalu menjaga keluarganya dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus.
"Hm, bagus deh." balas Reza yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
"Ck, kenapa dicubit?!" desis Reza tidak terima.
"Punya adik nyebelin banget sih!" gerutu Rere dengan wajah gemasnya.
Reza memutar bola matanya jengah.
...----------------...
Nata memutar bola matanya jengah saat mendengar curhatan sang Nenek yang telah kembali dari rumah tetangganya. Beliau berkata setelah melihat anak bayi tetangganya, membuat beliau ingin segera memiliki seorang cicit.
"Nek, Ata belum siap untuk menikah. Lagian kalau Ata nikah, siapa yang nemenin Nenek disini? Nenek mau ditinggal Ata? Nenek nggak takut sama penghuni rumah ini?" Ata berucap panjang lebar seraya bergidik ngeri.
Nenek Arum berdecak kesal. "Nggak, Nenek nggak takut sama sekali. Yang Nenek takutkan itu, Nenek tidak bisa melihat kamu menikah." balas Nenek Arum lugas.
Nata tidak suka mendengar Neneknya berucap seperti itu. Seolah beliau hendak pergi meninggalkannya jauh. Seperti mendiang Ibunya yang sudah meninggalkannya dulu.
"Ata janji, jika waktunya sudah tiba, Ata akan menikah Nek. Tapi nggak sekarang, jujur Ata masih belum siap." ucap Nata seraya memilin kedua tangannya.
Di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, Nata selalu digandrungi berbagai pertanyaan oleh teman-teman serta para tetangganya. Nata yang tak kunjung menikah, acap kali dijodohkan oleh sang Nenek dengan cucu temannya. Namun Nata selalu menolak dan enggan.
Nata pun ingin menikah. Akan tetapi, perempuan itu masih belum siap. Bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya. Pengkhiatan yang dilakukan oleh mantan pacarnya, membuat perempuan itu tidak mudah lagi percaya akan yang namanya cinta.
Selama dua tahun belakangan ini, Nata mulai menata hidupnya kembali yang telah hancur ruam. Perempuan itu bangkit dari keterpurukan yang menimpanya. Hingga pada akhirnya, kegigihannya mengantarkan Nata untuk menjadi seorang content creator yang sudah dikenal oleh banyak orang.
Tidak mudah bagi Nata berada dalam posisi ini. Ia harus melewati banyak rintangan dan halangan. Banyak keluh kesah dan air mata yang sudah menemaninya. Namun, pada akhirnya perempuan itu kini berhasil. Nata berhasil mewujudkan keinginannya, walau pun pada awalnya Nata tidak berniat untuk menjadi content creator.
Mungkin ini yang dinamakan takdir. Apa yang Nata sukai, belum tentu baik baginya. Dan kini Nata sudah mengerti arti perjalanan hidup sebenarnya itu seperti apa.