
Hari ini Nata hendak mengunjungi sebuah cafe yang berada tak jauh dari perumahannya. Perempuan itu akan kembali membuat content berisi sebuah review menu di cafe tersebut.
Nata menatap penampilannya di depan cermin riasnya. Nata memakai dress sebatas lutut berwarna peach. Perempuan itu mengulas senyum tipis. Hari-harinya memang tidak terlalu monoton. Tidak seperti dua tahun yang lalu.
Nata meraih slin bag miliknya dan keluar dari kamar. Langkah kakinya membawa Nata menuju ruang tengah. Disana, ia melihat sang Nenek yang tengah asik menonton sinetron kesukaannya.
"Sudah rapi aja Ta, mau pergi kemana?" tanya Nenek Arum begitu ia melihat keberadaan sang cucu.
Nata menghampiri Neneknya. "Hari ini Ata ada kerjaan Nek, nggak jauh kok. Di cafe depan sana," ujarnya sembari berpamitan kepada Nenek Arum.
Nenek Arum hanya mengangguk sekilas, kemudian melanjutkan aktifitasnya menonton sinetron.
...----------------...
Nata sudah sampai di cafe yang akan ia tuju lima menit yang lalu. Perempuan itu memesan tempat di lantai atas.
Nata ingat, kejadian beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Brian di cafe ini. Untuk itu, Nata berniat memesan di lantai atas berharap agar ia tidak bertemu dengan pria gila itu.
Selain karena alasan tersebut, Nata pun ingin menikmati pemandangan dari atas cafe. Nata butuh ketenangan saat membuat content nanti. Perempuan itu tidak terlalu suka dengan keramaian.
"Permisi Kak, mau pesan apa?" Seorang pelayan cafe datang menghampiri Nata.
Nata yang tengah melihat sekelilingmya pun menoleh pada pelayan tersebut.
"Saya pesan menu terbaik di cafe ini, ya Mbak." ucap Nata seraya tersenyum kecil.
Pelayan tersebut mengangguk. "Baik Kak, mohon ditunggu ya Kak pesanannya." Pelayan cafe tersebut pun melengos setelah mendapat anggukan kepala dari Nata.
Setelah menunggu sekitar dua puluh lima menit lamanya, akhirnya pesanan Nata pun datang. Kedua mata perempuan itu berbinar tatkala melihat susunan hidangan yang akan dicicipinya.
Nata sudah siap menyalakan ponselnya untuk membuat content. Perempuan itu pun memulai contentnya seraya menikmati hidangan menu terbaik dari cafe ini.
"Ah, ternyata enak banget." seru Nata setelah perempuan itu menghabiskan minumannya.
"Kenapa gue baru tahu tempat sebagus dan seenak ini ya?" Nata bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Nata kembali menikmati pesanannya seraya celingukan menatap sekitarnya. Pandangan matanya terhenti saat perempuan itu melihat sosok pria yang tak lain ialah tetangganya tengah berduaan dengan seorang wanita berpakaian sedikit terbuka.
Nata berdecih dalam hati, "Cih dasar! Ternyata dia udah punya gandengan. Lagaknya aja yang kayak masih single," gumam Nata yang masih memperhatikan Reza dengan seorang wanita yang duduk membelakanginya.
Nata mengerutkan dahinya dalam. "Kayak kenal, tapi siapa ya?" Nata mencoba mengingat-ingat siapa sosok wanita yang tengah duduk di hadapan Reza.
Seketka kedua matanya membola saat sebuah nama terlintas di otaknya. Nata tidak dapat menutupi tasa terkejutnya. Ia terkejut bukan main.
"Jeselyn? Model papan atas itu?!" seru Nata membuat beberapa orang di sekitarnya melirik ke arah perempuan itu.
Nata meringis kecil dan bergumam meminta maaf karena membuat orang di sekitarnya tidak nyaman dengan tingkahnya.
Perempuan itu membayar pesanannya terlebih dahulu. Nata mengikuti langkah Reza dan Jeselyn dengan berjalan mengendap-endap di belakang kedua manusia berbeda gender itu.
Saat Reza dan Jeselyn memasuki sebuah mobil yang Nata yakini ialah mobil milik Reza, Nata pun ikut memasuki mobil miliknya dan mengemudikan mobil tersebut.
...----------------...
Nata tidak tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang. Perempuan itu seolah tengah menjalanlan misinya sebagai detektif yang mengikuti seseorang secara diam-diam.
Mobil yang dikendarai Reza memasuki area hotel. Sontak Nata menghentikkan mobilnya secara mendadak membuat beberapa kendaraan yang ada di belakang mobil Nata berseru menyalakan klakson.
"Aduh," Nata meringis seraya kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area hotel.
...----------------...
Di perjalanan menuju rumah, Nata tak henti-hentinya berpikir ada hubungan apa Reza dengan model papan atas itu. Nata yakin, Reza pasti bukan orang sembarangan. Buktinya model sejenis Jeselyn yang dikabarkan sangat pemilih dalam segala hal, terlihat sangat senang dan menikmati makan siangnya dengan Reza.
Nata tidak sadar mobil yang dikendarainya sudah memasuki area perumahan. Perempuan itu memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah. Nata pun keluar dari mobil.
"Loh Nenek mau kemana?" Nata bertanya saat ia melihat Nenek Arum hendak pergi.
"Nenek mau ke rumah Pak RT dulu Ta, biasa ada arisan mendadak." sahut beliau seraya bergegas menuju rumah Pak RT yang berjarak lima rumah dari rumahnya.
"Perlu Ata antar nggak?" tawar Nata berbasa-basi.
"Nenek bukan anak TK yang perlu diantar segala," balas Nenek Arum membuat Nata memasang wajah cemberut.
"Sudah ya Ta, Nenek mau berangkat dulu!" Nata menatap punggung Neneknya yang kian menjauh dari pandangan matanya.
"Ta ta ta ta!" celotehan seorang bayi membuat Nata mengalihkan tatapannya dan menatap bayi yang tak lain anak Rere dengan kedua mata berbinar.
"Ya ampun Rano! Kamu kok sendirian aja? Anak bayi nggak boleh jauh-jauh dari Mommy-nya!" seru Nata seraya membawa Rano ke dalam gendongannya.
Rano tertawa kecil seraya menepuk wajah Nata dengan kedua tangan mungilnya. Nata dibuat gemas sekali dengan tingkah bayi sepuluh bulan itu. Sesekali Nata memberikan kecupan ringan di pipi tembab Rano.
"Rano! Mommy cariin ternyata kamu kabur kesini ya!" seru Rere berlari kecil menghampiri Nata dan putranya.
Nata menatap Rere bingung. "Kabur? Maksudnya gimana Kak?" tanya perempuan itu tidak mengerti.
"Ini lho Re, Rano tadi Kakak tinggal ke dalam sebentar buat nge cek Abangnya. Eh pas Kakak balik lagi dia udah nggak ada. Untungnya ada kamu, Kakak nggak tahu lagi kalau kamu nggak ada disini. Pasti anak bayi ini udah kabur ke rumah seberang." tutur Rere dengan napas menggebu.
Nata terkekeh kecil mendengar penjelasan Rere. Nata tidak terbayang bagaimana jika ia berada di posisi Rere. Mengurus dua anak yang masih terbilang kecil sekaligus, membuat Nata takjub dengan Rere.
"Ayo masuk dulu Ta, tadi Kakak buat pudding cokelat. Kamu suka pudding 'kan?" tanya Rere.
Nata tersenyum miring, "Kalau itu, Ata nggak bisa nolak. Ata itu pecinta makanan manis garis keras!" serunya yang dibalas kekehan kecil dari Rere.