My Cool Duda

My Cool Duda
McD 18



Hari pernikahan Arthur-Papa Nata semakin hari semakin dekat. Bahkan, kemarin malam pria itu mengirimkan beberapa dress baru untuk dipakai Nata ke acara pernikahannya.


Nata pun semakin tidak mood dibuatnya. Perempuan itu sering kali dibuat kesal oleh tingkah sang Papa. Papanya itu sangat tidak mengerti perasaannya.


Banyak rasa takut dalam diri Nata. Perempuan itu takut jika perhatian sang Papa teralihkan oleh istri serta anak barunya. Nata tidak ingin hal itu terjadi.


Cukup masa kecilnya saja yang dulu diabaikan oleh Arthur. Nata sebenarnya sangat ingin diperhatikan oleh pria itu. Hanya saja, gengsinya setinggi langit. Nata akan bersikap acuh jika sedang bersama Arthur.


"Kenapa lagi sih, Ta? Nenek perhatikan dari tadi, kamu menggerutu terus." Nenek Arum berucap sembari menatap cucunya heran.


Nata menghela napas sejenak, "Ata nggak mau Papa menikah lagi." ucapnya jujur.


Nenek Arum diam mendengarkan perkataan cucunya.


"Ata.. Ata nggak mau Papa direbut sama Tante itu," Nata menjeda ucapannya.


"Ata takut Papa nggak sayang Ata lagi," lirihnya dengan wajah murung.


Nenek Arum menatap cucunya dengan raut wajah tidak dapat diartikan. Beliau mengerti perasaan cucunya, beliau pun ikut sedih jika harus melihat wajah murung Nata terus-menerus.


"Ata, ini yang terbaik untuk kita. Papamu pasti sudah memikirkannya jauh-jauh waktu. Nenek yakin, ada kebaikan dibalik kejadian ini." ucap Nenek Arum berharap Nata mau menerima keputusan sang Papa.


Nata menggeleng keras. "Ata nggak bisa Nek. Seberapa keras pun Ata berusaha untuk menerima, tapi hati Ata tetap menolak." tutur Nata dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Nenek Arum hanya bisa menghela napas mendengar ucapan cucunya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Nata. Tapi, bagaimana pun juga Arthur pasti tetap teguh pada keputusannya.


"Jangan terlalu membenci Papamu, Ata." ujar Nenek Arum.


Nata mengepalkan kedua tangannya. Hidungnya kembang kempis mendengar ucapan Nenek Arum.


"Nenek yakin, pasti mendiang Mamamu sedih melihat sikapmu ini." ujar beliau sembari beranjak meninggalkan Nata seorang diri.


...----------------...


Saat ini Reza tengah berada di salah satu cafe miliknya. Pria itu tengah melihat data pencapaiaan cafe bulan ini. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan kecil.


Reza bangga dengan dirinya sendiri. Pria itu benar-benar membuktikan kepada dunia jika ia mampu nengembangkan usahanya.


Reza yakin pasti mendiang kedua orang tuanya bangga melihat keberhasilannya diatas sana. Mengingat hal itu, Reza jadi merindukan keduanya. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak berjumpa.


"Ma, Pa, apa kabar? Reza rindu kalian." bisik pria itu lirih.


Kedua orang tua Reza meninggal tepat tiga tahun yang lalu. Keduanya meninggal karena kecelakaan saat berada di luar Kota. Kedua orang tua Reza sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun naas, nyawa keduanya tidak dapat tertolong.


Reza hancur. Ia seolah terjebak di lubang tak kasat mata. Pria itu harus kehilangan kedua orang tuanya diwaktu yang bersamaan. Namun, saat itu Reza masih memiliki Aina sebagai sumber hidupnya.


Tapi, Reza kembali dibuat hancur. Semesta seolah tak mengizinkan ia bernapas dengan lega di dunia ini. Tujuh hari setelah kedua orang tuanya meninggal, Reza harus kembali kehilangan seseorang yang sangat disayanginya.


Kepergian Aina meninggalkan luka yang teramat sangat dalam di hati Reza. Pria itu lemah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ditinggalkan oleh orang tuanya sekaligus sang istri membuatnya tidak berdaya.


Reza seolah tidak memiliki gairah hidup lagi. Pria itu putus asa. Reza tidak sanggup menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Aina.


Akan tetapi Rere-sang Kakak, dengan gigih memberikan semangat dan support kepada Reza. Wanita itu tanpa lelah menyemangati Reza dan memberi arahan kepada adiknya agar tidak berputus asa.


Akhirnya Reza bangkit. Pria itu kembali bisa berpikir jernih. Reza kembali fokus mengembangkan usahanya dan menjalani hari-harinya, walau kentara raut wajahnya menunjukkan ia tak bahagia.


Reza tak tahu, jika tidak ada Rere, mungkin pria itu masih terjebak di lubang yang sama. Reza bersyukur memiliki Kakak seperti Rere. Wanita kuat yang selalu menghiburnya tatkala ia dibalut kesedihan.


...----------------...


Nata menyeruput coffe dengan wajah datar. Perempuan itu tengah mencari ketenangan. Entah mengapa, akhir-akhir ini perasaannya sangat tidak enak sekali. Seolah-olah akan terjadi sesuatu. Tapi Nata tidak tahu sesuatu itu apa.


Nata ingin menjernihkan pikirannya. Ia ingin menghempaskan sejenak beban-beban yang berada di pundaknya.


"Loh, dia? Jangan-jangan pemilik cafe ini Rez-Mas Reza," gumam Nata tatkala netranya melihat keberadaan Reza yang tengah berjalan menuju sebuah ruangan.


Nata mengendikkan bahunya acuh. "Ya ampun Ta, biar pun dia memang pemilik cafe ini, nggak usah dipikirkan." gerutunya dengan suara pelan.


Nata termenung kembali mengingat pesan yang dikirimkan oleh Papanya beberapa jam yang lalu. Beliau berpesan jika Nata harus menghadiri pernikahannya. Nata yang memang tidak ingin datang, memilih mengabaikan pesan itu dan memilih pergi menuju cafe yamg ditempatinya sekarang.


"Hai, lo Nata 'kan?" sapa seseorang yang entah sejak kapan sudah duduk di depan Nata.


"Ehm, siapa ya?" tanya Nata ragu, jelas ia harus bertanya pasalnya Nata tidak kenal dengan perempuan itu.


Perempuan yang duduk di depan Nata terkekeh kecil. "Gue Sinta, teman kampus lo dulu." jawabnya dengan nada riang.


Kening Nata mengernyit mencoba mengingat-ingat temannya yang bernama Sinta. Namun hasilnya tetap sama, Nata tidak menemukan ingatan apa pun.


"Wajar sih lo nggak ingat, dulu lo jarang bersosialisasi sama anak-anak yang lain, termasuk gue." ujar Sinta memaklumi tingkah Nata.


Nata meringis kecil, "Sorry," gumamnya merasa tidak enak.


Sinta menganggukkan kepalanya maklum. "Udah lama juga ya, kita nggak ketemu. Lo sekarang kerja dimana?" tanyanya dengan suara tetap bersemangat.


"Ehm, gue kerja di rumah." ucap Nata sedikit kikuk.


Bagaimana pun juga, Nata harus mencoba bersosialisasi dengan orang lain. Perempuan itu ingin memperluas pertemanannya. Walau pun Nata memiliki banyak pengikut dan penggemar, tapi tetap saja Nata masih harus beradaptasi lebih dulu.


"Oh buka usaha ya?" tanya Sinta lagi.


Nata menggeleng samar. "Bikin content gitu," sahut Nata pelan.


Kedua mata Sinta melotot. "Wah hebat! Lo keren banget Ta," pujinya dengan wajah berbinar.


Nata tersipu. "Thanks, Sin." ujarnya tulus.


Sinta mengangguk kecil. "Kalau boleh tahu, lo suka bikin content yang kayak gimana?" tanya perempuan itu penasaran.


Jelas Sinta penasaran. Nata-manusia paling anti bersosialisasi tiba-tiba menjadi seorang content creator. Sinta yakin, pasti tidak mudah bagi Nata saat membuat content tersebut, dan berada di posisi sekarang. Sinta salut dengan Nata.


"Gue suka review makanan, sama make up." balas Nata mencoba terbuka dengan temannya.


"Oh gitu.. Kapan-kapan kita hangout bareng ya!" ajak Sinta dengan penuh antusias.


Nata hanya mengangguk kecil.


...----------------...


Sepulang dari cafe, perasaan Nata berangsur lebih baik dari sebelumnya. Perempuan itu senang, akhirnya ia memiliki teman dalam artian yang sesungguhnya; bisa diajak main, berbincang, dan lain sebagainya.


Nata dapat melupakan pikiran-pikiran yang sempat membuatnya stress sejenak. Perempuan itu bersenandung kecil saat hendak memasuki rumah.


Langkahnya terhenti saat Nata melihat ke arah rumah seberangnya. Nata melihat sosok Rere yang tengah memasukkan beberapa koper. Tak hanya itu, ia pun melihat sosok pria yang Nata yakini ialah suami dari Rere.


"Kak Rere," panggil Nata membuat Rere yang tengah memasukkan barang-barangnya, menghentikkan kegiatannya sejenak.


"Loh Ata, habis dari luar ya?" tanya Rere saat melihat penampilan Nata yang tampak berbeda.


Nata mengangguk sekilas. "Iya Kak, habis dari cafe depan tadi." balasnya mengiakan tebakan Rere.


"Kak Rere mau kemana? Kok sampai bawa koper segala." Nata tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


Rere tersenyum kecil. "Kakak mau pulang Ta, kebetulan suami Kakak juga lagi ambil cuti. Jadi sekalian aja Kakak minta jemput," tuturnya.


Raut wajah Nata berubah cemberut. "Yah, Nata ditinggal dong," ujarnya tidak semangat.


Rere terkekeh kecil melihat respon yang diberikan Nata. Wanita itu sudah menganggap Nata seperti adik kandungnya sendiri.


"Kamu tenang saja, nanti kapan-kapan Kakak main lagi kesini." ujar Rere meyakinkan.


"Benar 'kan Kak?" Nata memicingkan matanya.


Rere menganggukkan kepala. "Kakak nggak bohong," ucapnya.


Nata mengangguk sekilas. Tatapannya beralih menatap baby Rano yang sejak tadi berada dalam gendongan Daddynya.


"Baby, sampai ketemu nanti. Jangan lupain aku, oke?" ujar Nata sembari mengusap pipi gembul baby Rano.


"Ta ta," sahut bayi sepuluh bulan itu.


Nata tersenyum kecil. Ah, tidak. Nata sangat merana saat mengetahui jika Rere akan pulang kembali ke rumahnya. Nata pasti akan merasakan kesepian lagi.