My Cool Duda

My Cool Duda
McD 10



Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita memang sangat menyakitkan dan menyesakkan dada. Terlebih jika kita kehilangan orang yang sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan kita ke dunia.


Nata, perempuan itu termenung di depan sebuah nisan yang tak lain ialah tempat peristirahatan terakhir sang Ibu. Nata kehilangan sosok Ibu sejak ia masih belum mengenal apa arti dunia yang sebenarnya.


Nata sangat merindukan Ibunya. Walaupun hanya diberi waktu singkat, akan tetapi Nata ingat bagaimana rupa dan hangatnya pelukan beliau. Nata kadang kala bertanya dalam benaknya, kenapa Tuhan memanggil Ibunya begitu cepat?


Apakah ia tidak diperbolehkan hidup bahagia dengan Ibunya? Nata menghela napas singkat. Ingatannya berputar kembali disaat ia masih belum mengerti apa pun.


Papanya-Arthur saat ditinggalkan oleh Ibu Nata untuk selama-lamanya, pria itu menggila. Arthur bagai manusia tak terkendali. Pria itu enggan berada dalam rumahnya, bahkan ia mengabaikan sosok Nata kecil yang saat itu masih haus akan kasih sayang.


"Aish, ngapain sih mikirin itu lagi!" gumam Nata sembari mencoba menghempaskan ingatan tentang masa lalunya.


"Ma, Ata udah besar sekarang. Mama nggak kangen sama Ata?" tanya Nata seraya mengusap nisan sang Ibu dengan perasaan membuncah.


"Sebenernya Ata kangen banget sama Mama. Ata pengen banget ketemu Mama dan peluk Mama lama," bisik Nata dengan wajah sayu.


Nata kembali memejamkan kedua matanya tatkala merasakan sudut hatinya berdenyut. "Ata pamit ya Ma, Ata pasti akan sering kesini. Mama jangan bosen ya liat Ata dari atas sana," Nata terkekeh kecil.


Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu bangkit dari duduknya. Tatapannya menatap sekitar area pemakaman yang tampak sepi. Nata pun membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.


Saat dipertengahan jalan menuju keluar area pemakaman, Nata melihat sosok pria yang belakangan ini seringkali muncul dalam pikirannya. Nata mengeryitkan dahinya melihat pria itu tampak berbicara sendiri di depan sebuah nisan yang tidak Nata ketahui.


"Ngapain? Kamu ngikutin saya?" pertanyaan bernada introgasi itu membuat Nata tersentak kaget.


Nata mendongak menatap sosok pria yang tingginya lebih jauh darinya. "Enak aja! Jangan geer deh," sangkal perempuan itu dengan wajah jengkel.


Reza mengendikkan bahunya acuh. "Maling mana ada ngaku." ucapnya sembari berjalan meninggalkan Nata.


Nata menggertakkan giginya kesal. "Dasar nyebelin! Duda sok keren! Cih," gerutu Nata sembari berjalan meninggalkan area pemakaman.


...----------------...


Saat ini Nata tengah berada di salah satu cafe yang berada tidak jauh dari area perumahannya. Perempuan itu menyeruput secangkir coffe yang beberapa saat lalu ia pesan.


Sesekali matanya melirik interior cafe yang menurutnya sangat menarik perhatian. Jujur, Nata baru pertama kali datang ke cafe ini. Padahal jarak dari cafe dengan perumahannya tidak terlalu jauh. Akan tetapi, Nata baru sekarang datang ke tempat ini.


"Siapa ya pemilik cafe nya? Pengen deh review menu yang ada disini. Kayaknya bakal rame," gumam Nata sembari tersenyum membayangkan.


Bangku di depan Nata ditarik oleh seseorang. Saat Nata mendongak untuk menatap wajah orang itu, tiba-tiba Nata terpaku. Jantungnya berdetak cepat melebihi kapasitasnya. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi kening perempuan itu.


"Hai Nata, long time no see!" ujar pria yang duduk di depan Nata.


"M-mau apa lo kesini?!" seru Nata tanpa sadar kedua tangannya mencengkram cangkir coffe yang tadi di minumnya.


Pria itu tampak tertawa kecil melihat reaksi Nata yang terbilang cukup berlebihan. "Calm babe. Aku nggak akan apa-apa in kamu kok," jawabnya seraya terkekeh kecil.


Nata meneguk ludahnya kasar. "Dasar be*ebah gila!" umpat Nata tidak suka melihat tawa pria itu.


"Wah! Nataku sangat nakal. Jangan berbicara kasar, aku nggak suka!" tukas pria itu sembari meraih kedua tangan Nata.


"Lepas!" seru Nata mencoba melepaskan.


"Tenang sayang," timpal pria itu seraya mengelus punggung tangan Nata lembut.


Wajah Nata memerah menahan marah. "Lepas sia*an!" bentak Nata yang sudah tidak dapat mengontrol emosinya.


Nata dan pria itu kini menjadi pusat perhatian di dalam cafe. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Tak ayal ada beberapa orang yang sudah siap siaga dengan ponselnya untuk merekam aksi yang menurut mereka akan menyenangkan-viral.


"Gue bilang lepas! Lo tuli hah?!" sentak Nata kembali mencoba melepaskan tangannya dari cekalan pria gila itu.


"Jangan mimpi! Aku nggak akan pernah sekali pun lepasin kamu!" sahut pria itu dengan wajah menahan marah.


Nata kesal. Kenapa dari sekian banyak orang yang ada di sekitarnya tidak ada seorang pun yang membantunya sama sekali? Mereka malah asik memperhatikan tanpa mau membantunya.


"Lepaskan tangan dia!" ujar seorang pria yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Nata.


Nata menoleh pada pria itu. Entah mengapa, perasaannya menjadi lega. Nata berharap banyak pada pria itu.


"Siapa lo berani suruh gue?! Jangan ikut campur urusan orang lain!" seru pria yang kini mendapat tatapan benci dari Nata.


Reza menatap pria itu datar. "Jangan membuat keributan." ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Sebuah ide terlintas begitu saja di otak Nata.


"Sayang, kamu kemana aja hah? Kamu nggak lihat ada pria gila yang tiba-tiba samperin aku? Aku takut sayang," rengek Nata dengan wajah memelas.


Reza mengerutkan keningnya tidak mengerti saat Nata berkata seperti itu kepadanya. Pria itu tidak salah mendengar 'kan?


"S-sayang?!" seru pria bernama Brian-pria yang tadi menghampiri Nata.


"Iya! Mau apa lo? Sekarang, tunangan gue udah datang. Lo jangan macam-macam!" ancam Nata sembari merangkul lengan bisep Reza tanpa izin.


Reza melirik lengannya yang dipeluk secara tiba-tiba oleh Nata. Ada perasaan asing yang hinggap di relung hati pria itu.


"Kok kamu diem aja sih?!" gerutu Nata sembari melotot berharap Reza mau membantunya untuk kali ini.


Reza menatap Nata seperkian detik. Pria itu beralih menatap Brian dengan wajah datarnya.


"Jangan ganggu tunangan saya." ucapnya membuat Brian mengetatkan rahangnya dan pergi meninggalkan Nata dan Reza dengan perasaan dongkol.


Nata tersenyum puas tatkala Brian menghilang dari pandangannya. Perempuan itu masih belum sadar dengan situasi sekarang. Bahkan lengannya masih setia mengapit lengan berotot Reza.


"Ekhem!"


"Mau sampai kapan kamu peluk lengan saya?" Pertanyaan tidak bernada itu menyadarkan Nata dari lamunannya.


Perempuan itu tersentak seraya melepaskan lengan Reza. Nata terlihat tampak salah tingkah. Astaga Nata, apa yang kamu lakukan?! Teriak Nata dalam hati.