My Cool Duda

My Cool Duda
McD 17



Reza meringis tertahan saat pria itu membuka kedua matanya. Perlahan ia mendudukkan tubuhnya. Reza menyandarkan punggung atletisnya pada sandaran ranjang.


Salah satu tangannya terangkat guna memijat keningnya yang terasa sedikit pening. Reza menggeram saat menyadari jika ia tengah bertelanjang dada.


"Apa yang terjadi?" bisiknya dengan wajah meringis menahan pening yang datang menyerangnya.


Reza mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam. Setelah ingatannya terkumpul, pria itu lantas mengumpat.


"Aish, si*lan!" umpat Reza dengan wajah kesal.


Reza ingat, semalam telah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Nata. Namun, Reza bernapas lega tatkala ia tidak melanjutkan kegiatan semalam ke tahap yang lebih jauh.


Reza kalap. Pria itu tidak tahan dengan kecupan yang diberikan Nata. Sekuat apa pun Reza menahan, pria itu tidak bisa menyangkalnya jika dirinya pun ingin.


Setelah kepergian Aina-Mendiang istirnya, Reza tidak pernah melirik perempuan mana pun. Reza tidak pernah bermain dengan perempuan lain untuk memenuhi hasrat semata. Reza sangat menjaga perasaan Aina.


Akan tetapi, entah apa yang merasukinya semalam. Reza seolah dibutakan oleh kabut gairah. Reza tidak tahan melihat Nata yang seolah menggodanya.


Perasaan bersalah hadir dalam relung hati pria itu. Reza menyesal. Dia merasa telah mengkhianati mendiang istrinya karena telah bermain dengan perempuan lain.


"Maaf 'kan aku Aina," bisik Reza lirih.


Reza berjanji dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama terulang kembali. Reza akan melupakan kejadian semalam. Pikirannya terus dipenuhi oleh wajah Aina.


...----------------...


Rere menatap sang adik dengan tatapan aneh. Tidak biasanya adiknya itu berada di dalam rumah seharian penuh. Biasanya, Reza akan pergi untuk mengontrol beberapa cafe dan akan pulang saat sore hari.


"Kamu kenapa sih, Za? ada masalah di cafe?" tanya Rere yang sudah tidak tahan melihat tingkah adiknya.


Reza yang tengah menonton sebuah film action hanya melirik Kakaknya sekilas. Pria itu kembali menatap layar televisi di depannya. Rere yang merasa diabaikan pun berdecak sebal.


"Kalau ada yang nanya tuh dijawab, bukan diam aja. Aneh, padahal 'kan bicara gratis, nggak perlu bayar." gumam Rere misuh-misuh.


Reza berdecak, "Berisik." ujarnya membuat Rere memejamkan kedua matanya mencoba menahan rasa kesalnya.


"Tumben si Ata nggak main ke rumah. Kakak juga belum lihat dia lagi belakangan ini. Kamu tahu nggak, dia kemana Za?" Rere bertanya dengan nada penasaran.


Pasalnya sudah tiga hari Nata tidak pernah berkunjung lagi ke rumah ini. Biasanya, perempuan itu tidak pernah absen main disini. Apalagi kalau sudah disuguhi dengan makanan berbau manis.


Reza menoleh, "Nggak." jawabnya ketus.


Rere mengeryitkan dahi. "Kemana ya? Rasanya sepi kalau nggak ada Ata," gumam wanita yang sudah memiliki dua anak itu.


Reza berdecak. "Ck, bisa jangan bahas dia terus?" pintanya dengan nada sarkas.


Rere menatap Reza aneh. "Lho, memangnya kenapa? Kamu ada masalah sama Ata?" Rere memicingkan kedua matanya.


Reza mengendikkan bahunya acuh. Pria itu kembali fokus menatap film action. Sontak Rere yang kembali diabaikan pun memilih membantu putranya yang tengah menggambar-Refan.


...----------------...


Sudah tiga hari berlalu. Tapi, Nata masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Perempuan itu memilih berdiam diri di dalam kamar dan enggan keluar rumah.


Satu-satunya alasan terkuat Nata bersikap seperti ini ialah karena Reza. Nata tidak ingin bertemu dengan pria itu. Nata jelas malu bukan main. Harga dirinya seolah tercoreng di mata pria itu.


"Ck, udah tiga hari. Tapi masih aja kepikiran," gumam Nata dengan wajah nelangsa.


Nenek Arum pun dibuat heran dengan tingkah cucunya yang tidak seperti biasa berdiam diri di dalam rumah. Bahkan beliau dibuat terkejut saat melihat Nata tengah membersihkan rumah ; seperti menyapu, mengepel, dan lain sebagainya.


Jelas beliau heran dengan tingkah cucunya. Pasalnya Nata sama sekali tidak pernah melakulan hal tersebut jika tidak disuruh terlebih dahulu.


Sebenarnya Nata sangat rindu dengan bayi gembul yang akhir-akhir ini menjadi teman mainnya-baby Rano. Akan tetapi, nyali Nata tidak seberani itu untuk datang kembali ke rumah tetangganya. Apalagi jika harus bertemu dengan Reza. Membayangkannya saja Nata enggan.


Suara bel rumah yang dipencet sebanyak tiga kali berbunyi nyaring. Nata berdecak pelan. Perempuan itu tengah enak-enakan rebahan di sofa yang ada di ruang tengah.


"Sebentar!" sahut Nata dari dalam rumah.


Nata pun dengan langkah gontai berjalan menuju pintu utama. Perempuan itu membuka pintu tersebut. Nata tersenyum menyambut orang yang tadi memencet bel rumahnya.


"Kak Rere, masuk Kak.." ujar Nata seraya mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam rumah.


"Lho, kok repot-repot Kak." Nata meringis tidak enak.


"Nggak kok, kebetulan tadi Kakak habis bikin cake. Eh ternyata bikinnya terlalu banyak, ya sudah Kakak kasih ke kamu." balas Rere terkekeh kecil.


"Oh iya, kamu kemana aja Ta? Sudah tiga hari lho kamu nggak main ke rumah. Kakak jadi kesepian," tutur Rere dengan wajah sedih.


Nata meringis kecil. Astaga! Dia harus menjawab apa? Tidak mungkin 'kan Nata berkata jika ia tidak ingin bertemu dengan Reza. Padahal, Nata sangat ingin sekali bermain dengan baby Rano lagi.


"Ata ada di rumah Kak, kebetulan lagi banyak endors. Jadi agak sibuk, maaf belum sempat main ke rumah lagi," jawab Nata tidak sepenuhnya berbohong.


Memang benar, selama tiga hari berada di dalam rumah, Nata kebanjiran endors dari beberapa produk ternama. Nata bersyukur, ia jadi mempunyai kegiatan saat di rumah.


Rere mengangguk percaya. "Kalau kamu senggang, nanti ke rumah ya Ta. Kita bikin donat!" ajak Rere dengan antusias.


Nata mengangguk antusias. Perempuan itu bersyukur dipertemukan dengan sosok wanita seperti Rere. Rere sangat baik kepadanya. Nata baru pertama kali dekat dengan orang yang tidak memiliki ikatan darah sekali pun dengannya.


Karena memang Nata ini tidak memiliki banyak teman. Bahkan temannya pun hanya bisa di hitung jari. Nata ini tipikal orang yang malas bersosialisasi.


Akan tetapi, Nata akan merubah sikapnya yang dulu. Nata akan berusaha memperbaiki sikapnya. Nata pun ingin seperti orang lain. Memiliki banyak teman, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.


Kedua perempuan berbeda usia itu pun berbincang mengenai banyak hal. Sesekali mereka tertawa tatkala mendengar cerita lucu. Tidak ada rasa canggung yang menghampiri keduanya.


...----------------...


Entah sudah berapa lama Nata dan Rere berbincang. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Akan tetapi, keduanya masih asik berbincang tanpa beban sedikit pun.


"Ekhem," dehaman seseorang membuat Nata dan Rere menghentikan obrolannya sejenak.


Keduanya menatap Reza, yang berdiri menjulang tinggi dengan satu tangan menggendong baby Rano. Satu tangan lainnya menggenggam tangan Refan.


"Ya ampun, anak Mommy kenapa nangis hm?" tanya Rere menghampiri Refan yang sudah memasang wajah sembab.


Nata terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya seakan susah digerakkan. Lidahnya pun kelu. Nata terus menatap ke arah Rere yang tengah menenangkan Refan. Nata tidak ingin bersitatap dengan Reza.


"Ta tatata tata!" oceh baby Rano memberontak dari gendongan Reza.


"Kenapa, hm?" suara Reza membuat bulu kuduk Nata meremang.


Perempuan itu meneguk ludahnya kasar. Nenek, Ata harus apa?! Jeritnya dalam hati. Nenek Arum saat ini sedang tidak ada di rumah.


"Ta!" Baby Rano menjerit keras seolah meminta digendong oleh Nata.


"Kenapa Ano? Kok teriak-teriak?" Rere menatap putra keduanya, tangannya masih sibuk mengelus punggung kecil Refan hingga membuat anak laki-laki itu tertidur di pelukan sang Mommy.


"Ta," rengek baby Rano.


Reza menghela napas pelan. Pria itu mendekatkan baby Rano kepada Nata. Nata yang didekati oleh Reza pun seketika mematung.


Melihat keterdiaman Nata, membuat Reza berdecak sebal. Pria itu tanpa kata langsung memindahkan baby Rano ke pangkuan Nata.


"Eh," Nata tersentak saat baby Rano sudah berada di pangkuannya.


Saat itu juga netra Nata bersitatap dengan netra tajam milik Reza. Nata dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Reza lama-lama.


"Ata, Kakak ke rumah dulu ya. Kasihan Refan sudah mengantuk berat. Za, Kakak titip Rano." ucap Rere sembari menggendong tubuh Refan.


Nata yang ditinggalkan bertiga dengan Reza dan baby Rano pun hanya dapat mengangguk pasrah.


Keheningan melanda membuat suasana di dalam rumah menjadi sangat tegang. Nata benar-benar canggung jika berduaan dengan Reza. Ah tidak, bertiga. Ada baby Rano yang kini berceloteh seraya mengemut jemari mungilnya.


"Kejadian waktu itu, gu-saya minta maaf. Saya salah." ucap Nata mencoba berinisiatif memecah keheningan yang melanda.


Reza hanya melirik sekilas. Pria itu terlihat enggan membahas. Membuat Nata berdecak sebal dan mengumpatinya dalam hati.


"Sa-saya nggak sadar. Kalau boleh minta, saya juga nggak pengin kejadian malam itu terjadi." lanjut Nata, berharap Reza mau membuka suara.


"Hm," sahut Reza malas.


Nata menahan rasa kesal. Sungguh, Reza itu benar-benar pria yang sangat menyebalkan. Kalau boleh, Nata ingin sekali menjambak rambut pria itu.