
Mentari pagi sudah menjemput hari dengan teriknya. Suara dering alarm yang berbunyi nyaring sejak lima menit yang lalu tidak mampu membangunkan sosok perempuan yang masih asik bergelung dengan selimutnya.
Bukannya terganggu oleh suara alarm, Nata malah semakin memeluk erat guling kesayangannya dan memejamkan matanya erat. Memang, kebiasaan Nata itu bangun di siang hari. Nata jarang sekali bangun di pagi hari. Bahkan bisa dihitung jari jika perempuan itu bangun pagi-pagi.
Tok tok tok!
"Nata bangun! Ini sudah siang nak!" teriakan Nenek Arum menggelegar di penjuru rumah.
"Dasar kebo," cibir Nenek Arum.
Wanita paruh baya itu berdecak sebal saat sang cucu tak kunjung bangun dan membukakan pintu kamarnya. Tidak ingin memicu hipertensi, beliau pun beranjak dari kamar Nata menuju halaman depan.
Sesampainya di halaman depan rumah, Nenek Arum melihat tetangga depan rumahnya, yang tak lain Reza. Pria itu terlihat tengah menyirami tanaman dengan gaya kasualnya.
"Pagi nak Reza.." sapa Nenek Arum seraya tersenyum.
Mendengar namanya disebut, Reza pun mendongakkan kepalanya dan mendapati sosok wanita paruh baya di depan rumahnya. Ia balas tersenyum seraya mengangguk singkat.
"Nenek baru tahu kalau nak Reza suka memelihara tanaman juga." tutur Nenek Arum membuka pembicaraan.
Reza tersenyum simpul. "Sebenarnya saya tidak menyukai tanaman." balasnya pelan.
Kening Nenek Arum mengeryit tidak paham seolah meminta penjelasan dari pria tampan di hadapannya.
"Mendiang istri saya yang menyukai tanaman. Saya hanya melakukan hal yang dia suka," ucap Reza seraya kembali melanjutkan kegiatan menyiramnya menggunakan selang air.
Nenek Arum mengangguk paham. Beliau pun kembali mengajak Reza berbincang-bincang ringan. Agaknya, beliau menyukai sikap Reza yang sangat sopan. Nenek Arum sangat berharap jika suatu saat nanti, Nata menemukan pendamping hidupnya yang sama persis seperti Reza.
...----------------...
"Hoam," Nata menguap lebar seraya melangkah menuju halaman depan rumah.
Kedua netranya celingukan kesana-kemari mencari keberadaan sang Nenek. Perempuan itu menghentikan langkahnya saat melihat Neneknya tengah berbincang dengan tetangga mesumnya.
"Aku cariin, ternyata Nenek ada disini." dengus Nata seraya menatap Reza dengan tatapan sinis.
Reza tidak menghiraukan keberadaan Nata, dia kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Astaga Ata, jam segini kamu baru bangun?" Nenek Arum berdecak pelan.
"Kamu itu perempuan, seharusnya bangun lebih awal. Bagaimana nanti jika kamu sudah berumah tangga? Nenek kasihan pada suamimu nanti. Lihat nak Reza, dia pagi-pagi sudah rajin menyirami tanaman. Tidak seperti kamu yang selalu malas bangun pagi." Nenek Arum berceloteh panjang lebar seraya berkacak pinggang.
Nata menggaruk telinganya yang tak gatal. Kedua telinganya memanas tatkala sang Nenek membandingkannya dengan pria yang Nata ketahui bernama Reza itu. Nata tidak terima sang Nenek membandingkannya dengan pria mesum itu.
"Nenek nggak tahu aja, kalau kelakuan dia lebih-lebih dari aku!" gumam Nata nyaris berbisik.
Nata kembali mengingat kejadian saat di cafe. Saat dimana, ia hendak terjatuh. Namun, kedua tangan pria itu dengan nakalnya menempel di kedua pay*daranya.
Aish, sial! Pekik Nata dalam hati.
Nata tidak menghiraukan ocehan Nenek Arum. Perempuan itu kembali memasuki rumah dengan mulut berkomat-kamit. Nenek Arum hanya mampu menggelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah laku cucunya.
Reza menggeleng kecil. "Tidak papa, Nek." sahutnya samar.
...----------------...
Nata tersenyum sumringah tatkala perempuan itu tengah membaca kolom komentar di akun pribadi miliknya. Tidak terasa, kurang lebih sudah dua tahun perempuan itu menggeluti dunia maya. Ternyata menjadi content creator tidak buruk-buruk amat.
Sebenarnya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Nata melanjutkan studinya di salah satu kampus terkenal yang ada di Indonesia. Perempuan itu mengambil jurusan Psikologi. Namun setelah lulus dan mendapati gelar S1, Nata tidak berniat untuk melamar pekerjaan menjadi psikolog.
Bukan tanpa alasan Nata memilih jurusan tersebut. Nata tertarik dengan ilmu psikologi. Perempuan itu bisa belajar banyak hal. Salah satunya dalam hal memanusiakan manusia.
Salah satu alasan perempuan itu belum juga menikah ialah karena ia belum siap secara mental. Nata tidak ingin gegabah. Dia tidak ingin salah dalam perkara mencari pasangan hidup. Nata ingin memiliki keluarga yang harmonis. Nata juga mempunyai mimpi, jika nanti ia memiliki anak, ia tidak akan membiarkan anaknya merasakan apa yang dirasakannya saat Nata kecil.
"Tidak baik melamun seperti itu."
Suara seseorang membuat Nata menoleh ke sampingnya dan menemukan Reza yang tengah duduk di bangku panjang taman yang berara di perumahan ini.
Nata mendengus sebal. "Suka-suka gu-saya lah!" seru Nata seraya memutar bola matanya.
Setelah kejadian pagi tadi, Nata langsung mendapati ceramahan panjang lebar dari Nenek Arum. Beliau meminta Nata agar berucap dan bersikap lebih sopan kepada Reza. Terlebih, Reza dan Nata terpaut usia 4 tahun. Otomatis, Nata harus bersikap lebih sopan kepada pria itu.
"Lo-em, kamu ngikutin saya ya?" Nata memicingkan kedua matanya seraya menatap Reza dengan tatapan curiga.
Reza mengendikkan bahunya acuh. "Ini taman umum. Siapa pun bebas berada disini." balas Reza dengan raut datar andalannya.
Nata berdecih tidak percaya. Perempuan itu terus menatap Reza dengan tatapan permusuhan. Nata tidak akan lupa dengan pertemuan pertamanya dengan pria itu.
"Kejadian waktu itu, saya tidak sengaja." Tanpa ada angin dan hujan, Reza memulai pembicaraan dengan Nata.
Nata terdiam sejenak mencerna perkataan pria datar itu. Tak berselang lama, kedua matanya membola.
"Nggak sengaja lo-em kamu bilang?!" seru Nata tidak terima.
Reza mengangguk membenarkan.
Nata terkekeh sinis. "Dasar mesum! Gu-saya tahu kamu sengaja ngelakuin itu 'kan?" tuduh Nata seraya menunjuk wajah Reza tidak sopan.
Reza menghela napas jengah. Pria itu merasa perempuan di depannya sangat menyebalkan dan cerewet.
"Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan!" tukas Nata dengan wajah menahan kesal.
"Terserah. Intinya, saya rasa kita tidak ada urusan lagi. Saya sudah meluruskan kejadian waktu itu."
"Saya permisi." Reza melengos pergi dari hadapan Nata tanpa menunggu jawaban Nata terlebih dahulu.
Nata melongo tak percaya dengan tingkah pria itu.
"Dasar nyebelin! Duda mesum!" teriak Nata sembari menatap punggung tegap Reza yang kian menjauh dari pandangannya.