
Mentari siang sudah pergi digantikan oleh indahnya langit di malam hari. Malam ini di kediaman Nata, tengah ramai oleh kedatangan beberapa tetangga yang memang sengaja diundang oleh Nenek Arum.
Memang tidak aneh lagi dengan lingkup kehidupan di perumahan ini. Setiap malam minggu, seringkali mereka berkumpul makan malam bersama di rumah Nenek Arum. Bukan tanpa alasan tentunya. Nenek Arum hanya ingin mempererat jalinan silaturahmi dengan para tetangganya.
Sejak dua puluh menit yang lalu, Nata hanya diam dengan memasang wajah juteknya. Perempuan itu tidak terlihat seperti biasanya yang selalu antusias jika sedang berkumpul dengan para tetangganya.
Hanya satu alasan kuat yang dapat membuat Nata seperti ini. Apalagi kalau bukan karena kehadiran Reza. Pria datar nan cuek itu turut menghadiri ajakan Nenek Arum sore tadi. Reza pikir, tidak ada salahnya ia ikut berkumpul dengan para tetangganya.
"Jadi nak Reza ini tinggal sendirian toh?" tanya seorang wanita paruh baya yang kerap disapa Ibu Susi.
Reza menganggukkan kepalanya singkat seraya tersenyum tipis. Ingat sangat tipis bahkan nyaris tidak terlihat. Nata hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat sosok pria itu.
"Kirain saya kamu itu sudah punya istri. Eh ternyata masih sendiri, mau tidak Ibu jodohkan dengan putri Ibu?" Ibu Susi kembali bertanya dengan wajah antusiasnya.
Nata tergelak kecil mendengar pertanyaan konyol yang dilayangkan oleh Ibu Susi.
"Astaga Bu, Bu.. Ibu mau jodohin dia sama anak Ibu yang masih sekolah menengah pertama itu? Hati-hati lho Bu, jangan mau jodohin anaknya sama cowok mesum kayak dia!" ujar Nata membuat suasana yang awalnya hangat menjadi sangat panas dan mencekam.
Nenek Arum menepuk paha Nata gemas hingga membuat cucunya itu meringis tidak terima.
"Apasih Nek? Ata 'kan bilang sesuai fakta," ujarnya tidak terima.
Sementara itu Reza yang sejak tadi namanya diseret-seret oleh Nata hanya menatap perempuan itu dengan raut wajah datar tidak terbaca. Menurutnya, Nata terlalu naif dan percaya diri.
"Maafkan Ata ya, nak Reza. Cucu saya itu emang suka bicara yang tidak-tidak. Jangan diambil hati," ujar Nenek Arum menatap Reza dengan tatapan tidak enak.
Reza mengangguk singkat, "Tidak papa." jawabnya.
Suasana yang mencekam pun kembali hangat saat Ibu Susi dan suaminya kembali mengalihkan pembicaraan.
...----------------...
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para tetangga yang berdatangan ke rumah pun sudah bergegas pulang sejak lima menit yang lalu. Kini hanya tersisa Nata, Nenek Arum, serta Reza.
Pria itu tidak diperbolehkan pulang lebih dulu oleh Nenek Arum. Nenek Arum ingin mengenal Reza lebih dalam lagi. Nenek Arum pun bertanya banyak hal kepada Reza.
Reza terkesiap mendengar pertanyaan tersebut. "Ah, ya benar." jawabnya kikuk.
Nata yang masih berada di sana pura-pura tidak perduli dengan percakapan sang Nenek dan pria yang dicapnya sebagai pria mesum. Namun sebenarnya Nata kepo dengan percakapan yang dibincangkan oleh Reza dan Neneknya.
"Lalu istri nak Reza kemana? Dia nggak ikut nak Reza pindah kesini?" tanya Nenek Arum lagi.
Reza terdiam. "Istri saya sudah meninggal." ucapnya pelan.
Nata mendongak menatap netra tajam Reza yang kebetulan tengah menatap ke arahnya juga.
'Jadi, dia duda?' Nata menerka-nerka dalam hatinya.
"Maaf nak Reza, Nenek tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa, saya mengerti." potong Reza sebelum Nenek Arum menyelesaikan perkataannya.
Nenek Arum pun menganggukkan kepalanya pelan. Tiba-tiba saja, terlintas di kepalanya jika beliau hendak menjodohkan cucunya dengan Reza.
"Bagaimana kalau nak Reza dengan Ata saja? Nenek yakin, Ata pasti bisa merubah sikapnya jika dia hidup dengan nak Reza." tutur Nenek Arum dengan senyum merekah.
Kedua mata Nata melotot sempurna mendengar ucapan konyol yang diucapkan oleh Neneknya. Gila saja, baru pertama bertemu Neneknya malah berniat menjodohkannya dengan pria mesum itu?! Tidak! Teriak Ata dalam batinnya.
"Ah maaf, jangan pikirkan ucapan Nenek. Tadi Nenek tiba-tiba berucap tanpa berpikir panjang terlebih dahulu." tukas Nenek Arum saat beliau melihat Reza yang hanya diam sejak tadi.
Reza mengangguk kecil. "Kalau begitu, saya permisi pulang dulu. Terima kasih atas jamuannya." ujar Reza tulus seraya menarik kedua sudur bibirnya tipis.
Nenek Arum balas tersenyum. Setelah kepergian Reza, Nata mulai mengoceh dan mengomel perkara yang diucapkan oleh Nenek Arum tadi.
"Aku nggak mau ya Nek, kalau Nenek jodohin aku sama dia!" Nata melipat kedua tangannya di depan dada dengan kesal.
Nenek Arum mengendikkan bahunya acuh. "Makanya, cepat bawa calonmu ke hadapan Nenek kalau kamu tidak mau Nenek jodohkan dengan Reza." balas beliau seraya melengos pergi dari hadapan Nata.
Nata menatap kepergian Neneknya dengan wajah cengo.