
Nata menggeliat kecil seraya mengerjapkan kedua matanya. Perempuan itu beranjak menuju ruang tengah. Ia sangat bosan setelah seharian penuh berada di dalam rumah.
Langkah Nata terhenti saat ia melihat sebuah surat undangan yang tergeletak diatas meja. Tangannya terulur mengambil surat undangan tersebut.
Kedua matanya dengan jeli melihat nama seseorang yang tidak asing baginya tertera dalam surat undangan itu. Nata menggeram marah. Dia merobek surat undangan tersebut hingga tak berbentuk.
Entahlah, rasanya Nata tengah dikhianati oleh sang Papa karena pria itu tega menduakan mendiang Mamanya. Ya, nama pria yang tertera di surat undangan itu ialah Arthur-Papa Nata.
"Ya ampun, dasar nakal! Kenapa kamu sobek undangannya?" pekik Nenek Arum saat beliau melihat sobekan kertas dimana-mana.
Nata mengendikkan bahunya acuh. "Mata Ata sakit lihat surat itu. Jadi, Ata sobek deh." sahutnya ringan.
Nenek Arum menggelengkan kepalanya. Memang ada-ada saja tingkah cucunya ini. Nenek Arum selalu dibuat mengelus dada dengan tingkah Nata.
"Datanglah nanti," Perkataan Nenek Arum menghentikkan langkah Nata yang hendak beranjak dari ruang tengah.
Nata berbalik menatap sang Nenek dengan raut tidak percaya. Apa Nata tidak salah mendengar? Neneknya menyuruh dia agar datang ke pernikahan pria itu?
"Nggak! Ata nggak sudi hadir kesana!" sarkasnya seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Ata! Bagaimana pun Arthur, dia masih Papamu! Kamu harus menghormati dia!" timpal Nenek Arum menasehati.
Nata terkekeh kecil. "Nenek kayaknya senang lihat Ata menderita?" tanyanya diiringi tawa sumbang.
Nata menepuk dadanya berulang kali, "Disini, hati Ata sakit Nek! Ata nggak bisa lihat dia menikah sama wanita lain! Nenek nggak paham gimana perasaan Ata." tutur Nata seraya melengos meninggalkan Nenek Arum yang masih terdiam dengan wajah sendu.
"Maksud Nenek bukan seperti itu," bisik beliau yang ditelan oleh serpaan angin.
...----------------...
Nata stress.
Pikirannya terus dipenuhi oleh bayang-bayang pernikahan sang Papa. Dia benar-benar tidak sudi menginjakkan kaki barang sejengkal pun di pernikahan pria itu.
Dentuman musik yang terdengar nyaring kini memasuki gendang telinga Nata. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu mengangkat gelas kecil berisi minuman alkohol berkadar sedang. Nata meminumnya dalam sekali teguk.
Rasa asing sekaligus panas seolah membakar tenggorokan Nata. Nata tidak pernah meminum alkohol sekali pun. Baru kali ini dia pertama kali meminum minuman tersebut.
"Ahh," Nata melenguh tatkala rasa panas kembali menjalar di kerongkongannya.
Kepalanya serasa diputar-putar. Perlahan kesadaran perempuan itu kian menipis.
"Dasar pria nggak tahu diri!" racau Nata ditengah kesadarannya.
Nata sedang berada di sebuah bar. Perempuan itu merasa buntu dengan pikirannya. Nata tahu jika ia sangat kekanakan di usianya yang sudah dewasa. Tapi tak apa, Nata berhak penuh atas hidupnya. Ia tidak akan memikirkan pendapat orang lain terhadap hidupnya.
Kepala Nata tak bisa diam. Perempuan itu mengikuti irama musik yang berdentum semakin keras. Pandangannya sedikit buram. Nata beranjak dari meja bar menuju lautan manusia yang saling berjoget ria.
Nata ikut menggerakkan tubuhnya tak tentu arah. Perempuan itu seolah diambang batas kesadarannya. Nata seolah hilang kendali. Padahal, perempuan itu hanya meminum tiga gelas berukuran kecil. Namun, efeknya memang sedashyat itu.
Nata tidak sadar saat seorang pria menarik tangannya pelan. Nata hanya diam seraya mengikuti langkah pria itu. Nata tidak berdaya. Kesadarannya kian menipis.
"Cantik, mari kita bersenang-senang!" bisik pria yang membawa Nata.
Belum sempat pria itu menyentuh Nata, sebuah pukulan mengenai perut pria itu membuatnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Pria itu mengumpat kesal.
"Si*lan!" umpatnya seraya berdiri hendak membalas pria yang tiba-tiba memukulnya.
Namun pria itu kalah telak. Dia memilih kabur dari pada melawan pria yang menyerangnya tadi.
"Ck, menyusahkan." Pria yang menolong Nata berdecak sebal.
Nata mendongak menatap wajah pria itu. "K-kamu?" gumamnya dengan kedua mata menyipit.
Nata tersenyum lebar. Rasa pening di kepalanya kian bertambah. Perempuan itu melangkah mendekati pria yang tadi menolongnya dengan langkah sempoyongan.
Entah kemana hilangnya kesadaran Nata, perempuan itu tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Cup!
Bunyi kecupan terdengar nyaring. Nata mengabaikan ekspresi pria itu dan terus mengecup bibir tebal milik pria itu dengan asal-asalan.
"Si*lan," umpat pria yang menolong Nata dengan lirih.