My Cool Duda

My Cool Duda
McD 1



Seorang perempuan cantik terlihat tengah melakukan rutinitas seperti biasanya. Ia adalah seorang content creator terkenal yang selalu me-review berbagai macam makanan dan make up. Nata Ayudia namanya, perempuan cantik yang tahun ini genap menginjak usia 25 tahun.


Saat ini Nata tengah berada di salah satu Cafe terkenal yang ada di Kota kelahirannya. Sudah ada berbagai macam hidangan mulai dari makanan berat, hingga ringan yang berada di atas mejanya.


Tanpa berlama-lama lagi, Nata pun memulai rutinitasnya sebagai seorang content creator. Perempuan itu memejamkan kedua matanya tatkala lidahnya merasakan bumbu rempah-rempah bercampur gurih dari makanan yang tadi dimakannya.


Setelah mencicipi beberapa hidangan yang telah di pesannya, perempuan berusia 25 tahun itu pun memberikan review mengenai hidangan tadi. Nata merasa puas dengan berbagai hidangan yang tadi di pesannya.


Nata beranjak dari duduknya hendak menuju kasir saat dirasa ia sudah selesai dengan kegiatannya. Setelah melakukan pembayaran, tiba-tiba Nata mendapati panggilan alam.


"Permisi Mbak, toilet di sebelah mana ya?" tanya Nata kepada salah satu pelayan cafe tersebut.


"Lurus saja Mbak, nanti belok ke kanan." jawab pelayan cafe.


Nata pun bergegas menuju toilet setelah mendapat intruksi dari pelayan tersebut setelah mengucapkan terima kasih.


"Ah, lega banget!" gumam Nata setelah ia menyelesaikan panggilan alamnya.


Sebelum ia beranjak dari toilet, Nata mengeluarkan beberapa make up miliknya. Tangannya mulai beraksi memperbaiki tatanan make up di wajahnya. Setelah dirasa cukup, perempuan itu pun beranjak keluar dari toilet.


Namun, semesta agaknya tidak berpihak pada Nata. Lantai toilet yang sedikit licin membuat langkah Nata tidak seimbang. Perempuan itu memejamkan kedua tangannya saat merasakan tubuhnya akan limbung ke depan.


Lima detik berlalu.


Nata tidak merasakan sakit apa pun. Perlahan kedua matanya terbuka. Nata terkejut bukan main saat menyadari seorang pria berada di bawah tubuhnya. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi masalahnya. Nata semakin melotot saat merasakan ada yang menyentuh pay*daranya.


"Kyaaa! Dasar mesum!!" teriak Nata seraya memukuli pria itu dengan brutal.


Nata masih memukuli pria itu dengan sekuat tenaga. Nata tidak terima tatkala pria itu memegang pay*daranya seenak jidat.


Napas Nata terngah-engah saat tangan pria itu terangkat menghentikan aksi Nata yang memukulinya. Nata menatap penuh benci pada pria itu.


"Hati-hati." ujar pria itu seraya melengos meninggalkan Nata yang masih terdiam dengan wajah kesalnya.


"Apa dia bilang? Hati-hati? Dasar pria mesum!" desis Nata seraya menatap punggung tegap pria itu dengan tatapan permusuhan.


...----------------...


"Kok lama banget sih? Aku tungguin dari tadi," tukas seorang wanita dengan suara kesalnya.


Reza menoleh sekilas pada wanita itu. "Hm, maaf." gumamnya sehalus kapas.


"Ck, punya adik satu cueknya minta ampun deh!" gerutu wanita itu seraya menggelengkan kepalanya heran.


"Refan mana?" tanya Reza seraya celingukan mencari keponakannya.


"Dia ikut Daddy nya. Bosen katanya nungguin Om nya dari tadi." jawab Rere seraya menekankan setiap katanya.


Reza hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Kakak perempuannya. Melihat respon sang adik, Rere hanya mampu menghela napas lelah.


"Mau sampai kapan kamu kayak gini?" tanya Rere menatap Reza dengan sendu.


Reza yang tengah memeriksa pekerjaannya pun menghentikan kegiatannya sejenak. Pria itu menatap wajah Kakak perempuannya dengan tatapan sulit diartikan.


"Kamu boleh bilang Kakak bawel. Tapi, ini juga demi kebaikan kamu Rez. Sudah tiga tahun kamu hidup seperti ini. Kamu nggak kasihan lihat Kakak?" tutur Rere seraya menatap Reza.


Reza mengepalkan kedua tangannya hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Jujur saja, Reza pun ingin menjalani hidupnya dengan tenang. Tidak ingin terus-menerus terjebak dalam lubang hitam yang selalu menghantuinya hingga kini.


"Kakak yakin, kamu pasti bisa melewati ini semua." Rere tersenyum diakhir ucapannya.


Reza menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya. Kedua matanya terpejam. Pikirannya kembali berputar pada kejadian tiga tahun yang lalu. Dimana, tahun itu adalah awal mula kehancuran hidup Reza dimulai.