My Cool Duda

My Cool Duda
McD 11



Nata merutuki kebodohan yang dilakukannya beberapa saat yang lalu. Perempuan itu sudah tidak punya wajah lagi untuk bertemu dengan Reza.


Entahlah, Nata pun bingung dengan dirinya sendiri. Perempuan itu melakukan hal di luar nalarnya. Padahal Nata hanya ingin meminta bantuan Reza agar ia terlepas dari gangguan Brian.


Hari ini begitu sial bagi Nata. Perempuan itu sedari tadi terus menggerutu mengumpati dirinya sendiri akibat tindakan bodoh yang telah dilakukannya.


Nata menghela napas sejenak. "Tenang Ata, lo nggak salah. Lo cuman berusaha nyelametin diri lo dari gangguan pria gila itu." gumam Nata seraya mengatur kembali napasnya agar tetap normal.


"Arghh! Tapi tetap aja, gue malu!" seru Nata putus asa.


Langkah Nata terhenti saat perempuan itu tiba di depan halaman rumahnya. Di gazebo dekat tanaman sang Nenek, Nata melihat beliau tengah berbincang dengan seorang wanita yang Nata ketahui bernama Rere, yang tak lain ialah Kakak Reza.


Nata pun menghampiri Neneknya. "Ata pulang," ucapnya sembari mendudukkan pantatnya di tepi gazebo.


Nenek Arum dan Rere serentak menoleh pada perempuan berusia dua puluh lima tahun itu. Rere tersenyum menyambut kedatangan Nata, yang dibalas senyum tipis oleh perempuan itu.


"Loh ini siapa Nek? Gemas banget.." Nata terpaku melihat sosok bayi berusia sepuluh bulan yang tampak tenang dalam pangkuan Rere.


Rere tersenyum sejenak, "Halo Tante, kenalin nama aku Rano.." ujar Rere menirukan suara anak kecil sembari melambaikan tangan mungil tersebut.


Nata menggigit pipinya dalam menahan rasa gemas yang menghampirinya. Perempuan itu terus menatap Rano hingga membuat bayi sepuluh bulan itu balik menatap ke arahnya. Tak lama kemudian, Rano tertawa kecil tatkala Nata memasang ekspresi wajah konyol.


Nenek Arum tersenyum haru melihat tingkah cucu semata wayangnya. Wanita paruh baya itu membayangkan jika suatu saat nanti, Nata akan memiliki anak dan merawatnya dengan baik serta penuh kasih sayang.


"Coba kamu gendong, kayaknya Rano pengin digendong sama kamu deh Ta." Rere menyerahkan tubuh Rano ke pangkuan Nata.


"Boleh Mbak?" tanya Nata antusias.


Rere mengangguk. "Boleh banget! Oh ya, panggil aku Kak aja ya, jangan Mbak. Biar kita makin akrab," pinta Rere yang mendapat anggukan kepala dari Nata.


Nata pun dengan perasaan senang langsung menerima tidak menolak. Nata tertawa geli tatkala Rano sudah berada di atas pangkuannya.


Perempuan itu terus mengajak Rano bermain hingga membuat bayi tersebut mengoceh tak jelas menanggapi celotehan yang diberikan Nata.


Kening Nata mengeryit tidak paham. "Cocok apa Kak?" tanyanya bingung.


"Udah cocok punya anak." jawab Rere sembari tersenyum geli.


Nata mengerjapkan kedua matanya dengan wajah cengo.


...----------------...


Nata menatap bayi mungil yang kini terlelap pulas diatas kasur di ruang tengah dengan perasaan hangat. Rano-bayi berusia sepuluh bulan itu merengek tidak ingin ikut pulang dengan sang Mommy-Rere.


Nata tersenyum geli saat mengingat kembali rengekan Rano. Perempuan itu benar-benar dibuat gemas berkali-kali lipat dengan tingkah Rano.


Padahal keduanya baru bertemu hari ini. Namun Rano dan Nata seolah memiliki ikatan batin yang membuat keduanya terlihat dekat. Padahal Rano merupakan tipikal bayi yang tidak suka jika ada orang asing didekatnya.


"Lucu 'kan Ta?" tanya Nenek Arum, beliau ikut bergabung bersama Nata memperhatikan wajah Rano yang masih terlelap.


Nata mengangguk membenarkan. "Lucu banget! Ata sampai gemas pengin gigit pipinya yang mirip bakpau," sahutnya sembari terkikik kecil.


Nenek Arum tersenyum bahagia melihat sorot kebahagian terpancar di kedua manik mata cucunya.


"Makanya cepat nikah sana! Terus kasih Nenek cicit. Kamu nggak tahu aja, Nenek suka kesepian kalau ditinggal kamu keluar." keluh Nenek Arum.


Nata memutar bola matanya. "Nggak sekarang juga Nek," ujarnya malas.


"Kalo nggak sekarang, kapan? Nunggu Nenek nggak ada dulu?" tanya Nenek Arum sarkas.


Nata mendelik tidak suka mendengar perkataan sang Nenek. "Pokoknya Nenek tenang aja, nggak usah pikiran masalah cicit. Nanti juga Ata kasih Nenek cicit kok!" tutur Nata seraya membenarkan posisi tidur Rano.


"Hm. Kalau bisa lima sekaligus!" pinta Nenek Arum seraya melengos pergi meninggalkan Nata.


Nata menatap punggung Neneknya yang sudah tidak lagi sekuat dulu dengan tatapan cengo. Apa katanya? Lima?! Neneknya itu memang ada-ada saja. Dikasih hati kok malah minta jantung. Nata menggelengkan kepalanya kecil.