My Cool Duda

My Cool Duda
McD 6



Nata membuka knop pintu kamarnya dan perlahan kaki jenjangnya memasuki kamar tersebut. Nuansa cat berwarna putih tulang beserta pernak-pernik menghiasi kamar milik Nata.


Perempuan itu mendudukkan pantatnya di sebuah kursi depan meja riasnya. Setelah kembali dari taman beberapa menit yang lalu, Nata terpikirkan untuk kembali membuat content. Namun, kali ini Nata ingin membuat content yang sedikit berbeda.


Entah ada angin dari mana, perempuan itu ingin membagi ilmu psikologi yang ia ketahui dan pahami untuk contentnya. Dan Nata sangat berharap ide kali ini akan berhasil membuat orang-orang terinspirasi dengan contentnya.


Ponsel Nata berdenting menandakan jika ada notifikasi masuk pada benda persegi itu. Nata segera mengeceknya. Raut wajahnya berubah datar tatkala ia mendapati sebuah pesan dari orang dikenalnya.


Papa


Pukul tujuh malam datanglah ke restoran xx. Pakai dress yang nanti Papa kirim.


Nata kembali mematikan ponselnya setelah membaca pesan tersebut. Dia sama sekali tidak berniat untuk membalasnya. Nata tahu jika sikapnya ini sangat tidak sopan. Tetapi, Nata memiliki alasan tersendiri kenapa ia bersikap seperti ini.


...----------------...


Ting tong!


"Ya, sebentar!" sahut Nata dari dalam rumah.


Ceklek!


"Maaf Pak, cari siapa ya?" tanya Nata saat netranya melihat sosok laki-laki yang ia tebak, ialah seorang kurir.


"Ini ada paket untuk Mbak, tolong tanda tangani suratnya terlebih dahulu." sahut kurir tersebut.


Kening Nata mengernyit heran. Perasaan perempuan itu tidak memesan paket apa pun. Tidak ingin membuang waktu, Nata pun lantas menandatangani surat yang diberikan kurir itu dan menerima paket tersebut.


"Kalau begitu saya permisi Mbak." ujar kurir tersebut seraya beranjak menuju motor miliknya.


"Ah, iya." sahut Nata sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


Nenek Arum tengah duduk santai di ruang tengah sembari menonton siaran televisi ditemani secangkir teh. Beliau memanggil Nata saat melihat cucunya berjalan hendak menuju kamar.


"Kamu beli paket apa Ata?" tanya Nenek Arum penasaran.


Nata menghentikkan langkahnya. "Ata nggak beli apa-apa Nek. Ini dikirim orang, tapi Ata nggak tahu siapa yang kirimnya." ujar perempuan itu seraya duduk bergabung disamping Neneknya.


"Dress?" gumam Nata dengan wajah kebingungan.


"Kamu mau kencan Ata?" pekik Nenek Arum dengan suara antusias.


Nata menggeleng keras. "Siapa yang mau kencan?" bantah perempuan itu.


"Terus, kalau bukan mau kencan, dress itu untuk apa?" Nenek Arum bertanya seraya menatap wajah cucunya dengan gemas.


Ingatan Nata kembali pada pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya. Perempuan itu mendengus kasar lalu meletakkan dress tersebut diatas meja.


"Loh, kenapa wajahnya masam gitu?" tanya Nenek Arum.


"Ata baru ingat, kalau dress itu dikirim dari pria itu." ucap Nata jutek sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Nenek Arum hanya mengangguk paham.


"Tadi dia kirim Ata pesan. Ata disuruh datang pukul tujuh malam ke restoran xx," ujar Nata jujur.


"Hm, pergilah. Mungkin Ayahmu rindu dengan putrinya." sahut Nenek Arum.


Nata menggelengkan kepalanya. "Ata nggak mau pergi. Ata nggak mau ketemu sama dia." tolaknya sembari membuang wajah ke arah lain.


Nenek Arum hanya terdiam melihat respon yang diberikan cucunya. Kedua mata sayunya menatap Nata dengan tatapan sulit diartikan.


...----------------...


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Nata menatap penampilan dirinya di depan cermin riasnya dengan wajah datar. Sebenarnya ia tidak berniat untuk menghadiri ajakan sang Ayah. Akan tetapi, Nenek Arum terus membujuk cucunya itu agar menghadiri permintaan sang Ayah.


Nata pun melangkah keluar dari kamar. Setiap sudut ruangan terlihat sangat sepi dan sunyi. Satu jam yang lalu, Nenek Arum berkata kepadanya jika beliau akan menginap di rumah salah satu tetangga mereka. Kalau tidak salah ingat, di rumah tetangganya itu tengah diadakan acara kumpul-kumpul bersama.


Nata menutup pintu rumah dan tak lupa menguncinya. Saat tubuhnya berbalik, tatapan Nata bertemu dengan netra tajam milik seseorang. Reza, pria itu berdiri di seberang rumah Nata memakai kemeja berwarna putih yang dimasukkan ke dalam, dipadukan celana kain berwarna hitam.


Untuk seperkian detik Nata terpana melihat ketampanan Reza yang terlihat sangat mempesona. Perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran gila tersebut.


Nata pun mulai memasuki mobil miliknya dan mengendarainya dengan kecepatan sedang.