My Cool Duda

My Cool Duda
McD 7



Nata memarkirkan mobil miliknya di parkiran khusus restoran xx. Perempuan itu meraih slin bag diatas dashboar mobil dan menyampirkan slin bag tersebut di bahunya.


Suara ketukan heels milik Nata terdengar berirama saat kaki jenjangnya mulai memasuki area restoran. Nata berjalan menuju lantai atas, ruangan yang sudah dipesan oleh Papanya.


Sesampainya di lantai atas, kedua mata Nata celingukan mencari meja yang sudah di pesan sang Papa. Tatapan matanya berhenti di salah satu meja yang sudah ditempati oleh tiga orang dewasa.


Nata melangkah mendekati meja tersebut. Salah satu tangannya menarik kursi dan menduduki kursi tersebut dengan gerakan sarkas.


"Akhirnya kamu datang juga. Papa pikir, kamu tidak akan datang seperti malam-malam sebelumnya." Kehadiran Nata disambut oleh suara seorang pria yang saat ini duduk tepat di depan Nata.


Nata mendengus mendengarnya. "Terpaksa." jawab perempuan itu lugas.


Pria yang menjabat sebagai Papa kandung Nata itu hanya mampu tersenyum tipis. Tidak apa jika putrinya hadir dengan keadaan terpaksa. Nata datang dan bertemu dengannya saja itu sudah lebih dari cukup untuk pria tersebut.


"Kita makan terlebih dahulu, setelah itu ada yang akan Papa sampaikan." ujar pria itu kepada Nata.


Nata hanya mengangguk malas menanggapi ucapan sang Papa. Perempuan itu dengan sigap meraih sebuah piring yang sudah berisi cake kesukaannya. Tidak munafik, Nata memang pecinta makanan manis garis keras. Apa pun makanan yang berbau manis, ia akan menyukainya.


Papa Nata mencoba menahan senyumnya melihat tingkah putri semata wayangnya itu. Perasaannya menghangat tatkala melihat Nata dengan lahap memasukkan potongan cake ke dalam mulutnya.


Dua puluh menit berlalu. Nata sudah menyelesaikan acara makannya. Perempuan itu meraih ponselnya dan memainkannya. Rasa bosan dan jenuh kini melingkupi perasaan Nata. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berdoa dalam hati agar acara makan malam hari ini cepat selesai.


"Ekhem," Papa Nata berdeham membuat Nata menghentikkan kegiatan bermain ponselnya.


Perempuan itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Papanya seolah menunggu apa yang akan pria itu katakan kepadanya.


"Nata, sebelumnya kenalkan ini Tante Tiara dan anaknya Sheila. Tante Tiara ini teman dekat Papa." ujar Papa Nata.


"Terus?" sahut Nata terdengar malas menanggapi.


Papa Nata menghela napas sejenak. "Papa akan menikah dengan Tante Tiara." ucapnya dengan nada lugas.


Nata terkekeh kecil. Melihat respon yang diberikan putrinya, Papa Nata pun sontak bertanya.


"Kamu setuju 'kan kalau Papa menikah lagi? Papa yakin, Tante Tiara akan menjadi Ibu yang baik untuk kamu." tutur Papanya seraya tersenyum.


Nata berdecih. "Terserah. Kalau pun Papa mau menikah lagi, aku nggak perduli. Toh, sekarang aku tinggal dengan Nenek. Aku nggak akan ikut campur urusan Papa." Nata berucap seraya menatap sepasang mata yang sangat mirip dengannya itu.


"Nata! Siapa yang mengajarkanmu berbicara tidak sopan seperti itu hah?! Papa tidak suka dengan sikapmu!" bentak Papa Nata seraya menatap putrinya tajam.


"Sudah Mas, tidak papa. Mungkin Nata masih syok mendengar kabar pernikahan kita." ujar seorang wanita mencoba menenangkan Papa Nata-Arthur.


Nata bangkit dari duduknya. "Papa lupa? Aku nggak pernah sama sekali diajarkan sopan santun oleh orang tuaku sendiri. Jadi, salah siapa kalau aku bersikap seperti ini?" Nata berucap dengan napas menggebu.


Papa Arthur terdiam menatap sorot kebencian yang terpancar pada sepasang bola mata putrinya. Kedua netra tajam pria itu mendadak sayu. Hatinya berdenyut nyeri tatkala pria itu mendapatkan tatapan seperti itu dari putri semata wayangnya.


"Aku pergi, terima kasih makanannya." ucap Nata seraya bergegas pergi meinggalkan ketiga orang dewasa yang sama-sama saling diam membisu.


...----------------...


Nata berjalan menuju parkiran dengan mulut berkomat-kamit. Berulang kali ia mengucapkan kalimat makian pada dirinya karena lepas kendali. Seharusnya, tadi ia diam saja saat mendengar ucapan Papanya.


Namun, Nata hilang kendali. Perempuan itu tidak bisa menahan amarahnya saat mendapati bentakan dari pria yang seharusnya menjadi cinta pertamanya.


Nata mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Jalanan Kota di malam hari cukup sepi, membuat perempuan itu berani untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Hingga tiba-tiba, mobil milik Nata berhenti di pertengahan jalan menuju rumahnya. Nata mengumpat saat menyadari jika ia lupa mengisi bensin mobilnya.


"Ah, sial! Kenapa bisa lupa sih," gumam Nata seraya membenturkan kepalanya pada stir mobil.


Rasanya hari ini merupakan hari tersial bagi Nata. Mobil Nata berhenti tepat di jalanan yang cukup sepi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang.


Nata masih tetap dalam posisinya. Kepalanya masih bersandar pada stir mobil. Kedua matanya terpejam. Pikirannya kembali mengingat saat Papanya berucap akan menikah kembali. Jujur saja, sebenarnya Nata sangat tidak setuju jika Papanya menikah lagi dengan orang lain.


Nata tidak bisa membayangkannya jika hal itu sampai terjadi. Nata teringat akan mendiang Ibunya. Nata merasa kalau Papanya menikah lagi, sama saja halnya dengan mengkhianati sang Ibu.


Tok tok tok!


Nata membuka kedua matanya. Suara ketukan dari kaca mobilnya membuat perempuan itu seketika meneguk ludahnya kasar. Perlahan Nata mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping. Jantungnya berdegup kencang saat perempuan itu melihat siluet tubuh seorang pria.


"N-nenek, Ata takut.." gumam Nata dengan suara nyaris tak terdengar.